Erabaru.net. Untuk sebagian besar dalam beberapa dekade terakhir, perlombaan senjata global hanya terkonsentrasi pada perolehan senjata nuklir.

Sebelumnya senjata ini dinilai sebagai pencegah ideal perlawanan terhadap pasukan musuh.

Namun, perlombaan senjata baru sedang dimulai. Kali ini, sejumlah negara di dunia sedang berusaha berlomba-lomba mengembangkan rudal hipersonik tercepat yang mereka bisa. Kecepatannya melebihi dari kecepatan suara.

Sementara perlombaan senjata sebelumnya adalah tentang kekuatan destruktif, akan tetapi sekarang bergeser tentang kecepatan.

Perlombaan senjata baru

Ketika kita berbicara tentang senjata hipersonik hari ini, kita merujuk pada dua jenis spesifik  yaitu, hypersonic glide vehicles  (HGV) dan hypersonic cruise missiles (HCM).

HGV diluncurkan dengan rudal dan ditembakkan pada ketinggian tinggi – sekitar 40 km atau lebih tinggi.

Kecepatan dan ketinggiannya memungkinkan rudal ini untuk mempertahankan kecepatan hipersonik – tanpa tenaga mesin – sambil ‘meluncur’ di atas atmosfer ke target sasaran.

Misil dapat bermanuver selama lintasan mereka sehingga sulit untuk memprediksi lokasi target sasaran rudal ini.

HCM adalah rudal jelajah yang mencapai kecepatan hipersonik,  hal demikian disampaikan oleh George Nacouzi, enginering senior di organisasi riset dan analisis RAND Coporation dalam pernyataan yang dikutip dari airforce-technology.com.

Sejauh ini terkait Amerika Serikat, Rusia dan Tiongkok adalah  negara-negara yang menjadi ancaman paling serius. Negara-negara ini memiliki sumber daya dan pengetahuan teknologi untuk mengembangkan senjata hipersonik yang dapat membuat aset militer AS rentan.

Rusia telah memiliki rudal Kinzhai yang diklaim dapat melakukan perjalanan dengan kecepatan hingga Mach 12 atau 12 kali kecepatan suara.

Militer negara itu juga mengembangkan 3K22 Tsirkon HCM, yang diyakini memiliki kecepatan lebih rendah di sekitar Mach 6 atau enam kali kecepatan suara.

Namun, bahaya sebenarnya tampaknya adalah HGV  Balistik Antarbenua yakni inter-continental ballistic missile atau ICBM rudal si Sang Pembalap.

Rudal ini dikatakan sangat kuat sehingga Putin sendiri menyebut Avangard “yang Tak Terkalahkan.”

Avangard, juga dikenal sebagai ‘Objekt 4202,’ adalah sistem rudal boost-glide hipersonik yang seharusnya menggabungkan rudal balistik berkinerja tinggi dengan kendaraan peluncur tak berawak. Teknologi ini untuk peningkatan signifikan dalam kemampuan manuver dan kecepatan tinggi yang berkelanjutan.

Teknologi ini memungkinkan rudal Avangard untuk melakukan perjalanan hingga 20 Mach atau sekitar 24.700 km per jam.  Melansir dari nationalinterest.org, kecepatan ini dimungkinkan oleh penggunaan ‘material komposit baru’ untuk tetap berada dalam kisaran stabil pada 1.600 hingga 2.000 derajat Celcius.

Pada September 2018, Tiongkok menguji tiga rudal hipersonik sekaligus. Model yang diperkecil, dengan nama kode D18-1S, D-18-2S, dan D18-3S, tampaknya mencapai kecepatan hipersonik.

Sebulan sebelumnya, penerbangan eksperimental peluncur hipersonik bernama Starry Sky 2 mencapai kecepatan Mach 6.

Apa yang membuat pengembangan rudal hipersonik Beijing menjadi sorotan adalah bahwa Tiongkok mungkin menjadi berani dengan senjata seperti itu.  Bahkan mencoba mempertaruhkan klaim di  Laut Cina Selatan atau bahkan menyerbu Taiwan.

Sedangkan Militer India juga disebut sedang mengembangkan rudal hipersonik ini. Cikal bakalnya, India sudah meluncurkan kendaraan mini hipersonik yang disebut Hypersonic Technology Demonstrator Vehicle (HSTDV).

Sorotan yang menjadi masalah utama adalah rudal hipersonik milik India mempunyai kemampuan untuk membawa hulu ledak nuklir. Tentunya dikhawatirkan memicu ketegangan dengan negara tetangganya, Pakistan.

Rudal hipersonik Amerika

AS juga sudah mengembangkan pesawat uji hipersonik dengan kecepatan sekitar 4.500 mph pada tahun 1959. Tetapi minat Amerika terhadap teknologi ini berkurang pada tahun-tahun berikutnya, yang memungkinkan negara-negara seperti Rusia dan Tiongkok mulai untuk mengejar ketinggalan mereka.

Namun, pemerintahan Trump tampaknya telah memahami ancaman itu. Trump telah mengusulkan mengalokasikan US $ 3 miliar untuk mengembangkan senjata hipersonik dan sistem pertahanan untuk menghadapi risiko keamanan yang dihadapi negara itu.

“Rusia dan Tiongkok sangat cepat dalam hipersonik saat ini; kita akan bergerak cepat untuk memastikan kita bisa melakukan itu, ” kata Jenderal John Hyten, kepala Komando Strategis AS, mengatakan dalam sebuah pernyataan dikutip dari Space War.

Tahun lalu, Pentagon memberikan Lockheed Martin kontrak US $ 1,4 miliar untuk mengembangkan rudal hipersonik.

Pada bulan Januari tahun ini, Angkatan Udara A.S. berhasil menguji coba rudal Lockerson dari bomber B-52. Perusahaan itu mengharapkan rudal akan selesai pada tahun 2022 mendatang. (asr)

Sumber : Secretchina, airforce-technology.com, nationalinterest.org dan hitekno.com

Share

Video Popular