- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Kisah Sirnanya Kebahagian Seniman Pasutri Karena Penahanan Paksa dan Penyiksaan

Joan Delaney – The Epochtimes

Semula pasangan suami istri, Huang Guangyu dan He Wenting ingin  mengasah keterampilan mereka sebagai seniman setelah menikah. Mereka pun ingin mempraktikkan keyakinan mereka dalam damai.

Huang dan He menikah pada 2012 silam. Mereka membangun rumah di sebuah desa dekat Guangzhou College Town di Tiongkok selatan. Huang Guangyu sudah menjadi pelukis ulung, setelah lulus dari Akademi Seni Rupa Guangzhou dengan jurusan lukisan cat minyak. Dia kemudian melanjutkan untuk memamerkan karya-karyanya beberapa kali.

Istrinya, He Wenting adalah seorang penulis dan penyair.  Meskipun dia belum terlatih secara formal dalam seni, dia telah melukis sejak usia muda.  Dia telah belajar  di bawah bimbingan pelukis terkenal Li Zhengtian.

Mereka mencintai budaya tradisional Tiongkok. Mereka mulai mengekspresikannya dengan menggunakan teknik melukis minyak ala Barat, sementara itu menyempurnakan bakat mereka.

Tetapi hanya dua tahun setelah mereka menikah, mereka dikirim ke penjara. Ini  dikarenakan mereka meningkatkan kesadaran tentang kampanye penganiayaan terhadap Falun Gong – khususnya, mendistribusikan informasi tentang cara melewati blokade internet rezim Komunis Tiongkok.

[1]
He Wenting (kiri) dan Huang Guangyu. (Minghui.org)

Falun Gong [2] juga disebut Falun Dafa [2], adalah disiplin spiritual Tiongkok yang diturunkan dari zaman kuno berdasarkan prinsip-prinsip Sejati-Baik-Sabar.

Pada 20 Juli 1999, Komunis Tiongkok melancarkan kampanye penganiayaan brutal terhadap praktisi Falun Gong yang berlanjut hingga hari ini. Penyiksaan dan penindasan ini telah mengakibatkan penderitaan dan kematian yang tak terhitung.

‘Semuanya Berubah dalam Semalam’

Pada Desember 2013, Huang dan He ditangkap secara ilegal dan rumah mereka yang damai digeledah.

Mereka ditahan sampai Agustus berikutnya, ketika mereka dijatuhi hukuman penjara tiga tahun. Pemenjaraan ini menghancurkan harapan dan impian pasangan muda itu.

[3]
Lukisan oleh He Wenting. (Minghui.org)

Sungguh mengerikan dengan situasi di penjara.  Dia ingin membiarkan dunia mengetahui dan mulai secara diam-diam mendokumentasikan di atas selembar kertas tisu penyiksaan dan penghinaan yang dia alami.

[4]
Lukisan karya Huang Guangyu. (Minghui.org)

“Cahaya terang menghantam dinding di depanku. Menghitung hari-hari sejak saya di sini, saya merasa seolah-olah diriku telah menumpahkan banyak lapisan kulit. Sebelum datang ke sini, saya berada di tempat tidur saya yang hangat dan nyaman dan membuat semua orang iri: pernikahan yang bahagia, pekerjaan yang ideal, masa depan yang cerah, dan saya mengekspresikan diri dengan kuas saya. Semuanya berubah dalam semalam,” tulis He Wenting dikutip dari Minghui.org.

“Bagaimana saya ingin melukis lagi, semua yang saya lalui: tabung makanan, borgol, jendela besi, logo pada seragam! Saya melihat dengan jelas memar di tanganku, darah kering di bibirku, kakiku yang telanjang, kotoran di rambutku, air mata mengalir di pipiku lagi,” ungkapnya.  

[5]
Ilustrasi makan paksa dari seorang praktisi Falun Gong. (Minghui.org)

Dia menggambarkan bagaimana dia dimasukkan ke dalam sel gelap dan diborgol serta dibelenggu. Ia menggambarkan betapa dinginnya dirinya tidak bisa tidur di malam hari.

“Tempat tidurnya sangat tipis. Saya gemetar karena kedinginan dan tidak bisa tidur. Seorang penjaga laki-laki berteriak di luar: ‘Tidak ada selimut untuk [praktisi] Falun Gong yang tidak menyebutkan namanya!’

Dia melakukan mogok makan untuk memprotes penganiayaannya dan dicekok secara brutal. Memberi makan paksa tahanan hati nurani Falun Gong yang melakukan mogok makan adalah hal biasa dan menjadi bentuk penyiksaan lainnya.

Menurut laporan Minghui, beberapa praktisi telah meninggal dunia karena dicekok paksa untuk makan.

“Setiap pagi saya diikat untuk dicekoki. Lima hingga enam penjaga laki-laki dan tahanan laki-laki menjepit saya di tempat tidur dan mendorong selang makanan melalui hidung saya. Saya hampir pingsan karena rasa sakit yang luar biasa, dan terus-menerus muntah. Saya mendengar jeritan menyakitkan saya sendiri. Di masa lalu, saya hanya membaca tentang penyiksaan makan secara online, sekarang saya mengalaminya sendiri,” tulisnya.

[6]
Lukisan oleh He Wenting dengan buku-buku puisinya di atas meja. (Minghui.org)

Tidak ada yang diketahui tentang keadaan Huang di penjara, tetapi sangat mungkin ia mengalami penganiayaan dan penyiksaan.

Menurut Pusat Info Falun Dafa, mungkin fitur yang paling menonjol dari kampanye melawan Falun Gong adalah penggunaan penyiksaan yang ekstrem.

Minghui mencatat bahwa dari lebih dari 3.400 kematian yang dikonfirmasi dari pengikut Falun Gong di Tiongkok antara tahun 1999 dan 2016, sebagian besar berasal dari penyiksaan.

[7]
Gagasan untuk lukisan ini oleh Huang Guangyu datang kepadanya dalam mimpi. (Minghui.org)

Ketika Dia dibebaskan pada November 2016, dia berhasil menyelundupkan selembar kertas tisu yang dia gunakan sebagai buku harian. Huang juga dibebaskan pada waktu itu. Tidak banyak yang diketahui tentang kehidupan mereka sejak saat itu. (asr)

Rekomendasi : 

Atau Menyukai video Ini :