3. Tujuan: Menghancurkan Pendidikan di Timur dan Barat

Demi merusak pendidikan di Barat, komunisme dapat menunggu ratusan tahun jika perlu dan mencapai tujuannya selama perubahan beberapa generasi melalui pendidikan progresivisme. Tiongkok memiliki tradisi kebudayaan yang mendalam selama 5.000 tahun. Namun, karena kondisi sejarah tertentu pada saat komunis berkuasa, komunis dapat memanfaatkan mental rakyat Tiongkok untuk mencari kesuksesan dan keuntungan instan dengan cepat. Hal ini mendorong rakyat Tiongkok untuk mengadopsi cara-cara radikal yang dengan cepat memisahkan mereka dari tradisi hanya dalam beberapa dekade. Dengan cara ini, komunisme mencapai tujuannya merusak pendidikan dan kemanusiaan di Tiongkok.

Pada awal abad ke-20, ketika pendidikan progresivisme John Dewey mulai menggerogoti Amerika Serikat, pengikutnya yang beretnis Tionghoa kembali ke Tiongkok dan menjadi pelopor pendidikan Tiongkok modern. Meriam Inggris telah menghancurkan harga diri rakyat Tiongkok, dan para intelektual Tiongkok sangat ingin menemukan cara untuk memperkuat bangsa. Komunis mengeksploitasi kondisi ini untuk memicu Gerakan Kebudayaan Baru yang menolak tradisi Tiongkok.

Gerakan Kebudayaan Baru, yang menyerang kebudayaan, adalah latihan untuk Revolusi Kebudayaan tahun 1960-an. Gerakan Kebudayaan Baru memiliki tiga perwakilan utama: murid John Dewey, Hu Shi; Chen Duxiu, salah satu pendiri Partai Komunis Tiongkok; dan Lu Xun, yang kemudian dipuji oleh Mao Zedong sebagai “komandan kepala Revolusi Kebudayaan Tiongkok.” Li Dazhao, pendiri Partai Komunis Tiongkok lainnya, juga mengadopsi peran penting dalam pergerakan kebudayaan periode selanjutnya.

Mengkritik Tiongkok karena kesalahan jalur pembangunan tradisionalnya, Gerakan Kebudayaan Baru mengaitkan kelemahan Tiongkok yang menumpuk selama seratus tahun terakhir dengan kebudayaan Konfusius tradisional dan menganjurkan penghapusan Konfusianisme. Kebudayaan tradisional dipandang sebagai “kebudayaan lama,” sementara semua kebudayaan Barat diperlakukan sebagai kebudayaan baru. Kepercayaan tradisional dikritik karena tidak menganut ide-ide sains dan demokrasi.

Gerakan Kebudayaan Baru adalah cikal bakal dari gerakan 4 Juni yang meradang, dan memulai gelombang pertama subversi menyeluruh terhadap etika dan nilai-nilai tradisional. Pada saat yang sama, Gerakan Kebudayaan Baru meletakkan dasar bagi Marxisme untuk menginvasi Tiongkok dari Barat, yang memungkinkan Marxisme untuk berakar, tumbuh, dan tumbuh.

Di bidang pendidikan, salah satu kerugian terbesar yang ditimbulkan oleh Gerakan Kebudayaan Baru adalah kampanye untuk mempromosikan vernakularisasi bahasa Mandarin yang tertulis. Seperti yang dianjurkan oleh Hu Shi, di sekolah dasar, guru mengubah bahasa Mandarin menjadi bahasa Mandarin yang tertulis secara verbal. Akibatnya, setelah satu generasi, mayoritas rakyat Tiongkok sulit membaca dan memahami bahasa Mandarin yang klasik. Ini berarti bahwa Buku Perubahan, Sejarah Musim Semi dan Musim Gugur, Dao De Jing, Klasik Batin Kaisar Kuning (Huangdi Neijing), dan buku tradisional lainnya kini tidak dapat diakses oleh siswa biasa. Sebaliknya, buku tersebut diperlakukan sebagai konten esoterik untuk penelitian khusus para sarjana. Peradaban yang gemilang selama 5.000 tahun di Tiongkok diubah menjadi hiasan belaka.

Dalam perkembangan kebudayaan Tiongkok, diatur secara Ilahi bahwa bahasa klasik Mandarin yang tertulis dipisahkan dari bahasa lisan. Selama perjalanan sejarah Tiongkok, ada banyak asimilasi skala besar berbagai kelompok etnis dan banyak relokasi pusat gravitasi kebudayaan Tiongkok; dengan demikian, bahasa yang diucapkan terus berubah.

Tetapi, karena pemisahan antara bahasa lisan dengan bahasa klasik Mandarin yang digunakan dalam penulisan, bahasa klasik Mandarin sebagian besar tetap tidak berubah. Siswa Dinasti Qing masih dapat membaca dan memahami Dinasti Song, Dinasti Tang, dan bahkan Dinasti pra-Qin yang klasik. Ini memungkinkan kebudayaan dan kesusastraan tradisional Tiongkok untuk ditransmisikan, tanpa terputus, selama ribuan tahun.

Namun, komunisme menyebabkan rakyat Tiongkok terputus dari akar kebudayaannya melalui bahasa. Pada saat yang sama, dengan menggabungkan bahasa tertulis dengan bahasa lisan, menjadi lebih mudah untuk bercampur kata-kata dan frasa yang menyimpang, sehingga mendorong rakyat Tiongkok menjauh dari tradisinya.

Kampanye melek huruf dan mempopulerkan kebudayaan dalam pendidikan dasar yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok sebelum dan sesudah berdirinya menjadikan para pendengarnya sebagai tawanan cuci otak secara langsung dan eksplisit. Misalnya, beberapa frasa pertama yang dipelajari oleh siswa di kelas melek huruf dan tahun pertama sekolah dasar adalah propaganda seperti “Mao Zedong Ketua Partai Komunis Tiongkok yang Abadi,” “masyarakat lama yang jahat,” dan “imperialisme Amerika Serikat yang jahat” – frasa yang sepenuhnya mencerminkan etos perjuangan berbasis kebencian kelas yang dituntut oleh Partai Komunis Tiongkok.

Dibandingkan dengan ide-ide menyimpang yang bercampurbaur oleh pendidikan progresivisme ke dalam buku anak-anak (seperti Heather Memiliki Dua Orang Ibu), meskipun berbeda dalam metode, kedua gerakan tersebut pada dasarnya merupakan bentuk indoktrinasi ideologis yang dikenakan pada anak muda. Anak-anak Tiongkok yang dididik dengan cara ini tumbuh untuk membela rezim tirani Partai Komunis Tiongkok atas inisiatifnya sendiri, menjelek-jelekkan dan menipu rakyat yang berbicara mengenai nilai-nilai universal. Anak-anak yang dididik di lingkungan Barat tumbuh menjadi bagian dari gerombolan mahasiswa yang marah yang mencegah pembicara berbicara mengenai nilai-nilai tradisional dan menuduh pembicara tersebut telah melakukan diskriminasi.

Tidak lama setelah membentuk rezimnya, Partai Komunis Tiongkok memulai kampanye reformasi pemikirannya melawan para intelektual, dengan fokus pada kampus universitas dan sekolah menengah umum. Tujuan utamanya adalah untuk mereformasi perspektif intelektual mengenai kehidupan, memaksa siswa untuk mengabaikan prinsip moral tradisional, dan melepaskan filosofi meningkatkan diri terlebih dahulu sebelum memperluasnya ke keluarga, negara, dan dunia. Ini menggunakan pandangan berbasis kelas Marxis mengenai dunia dan kehidupan, dari perspektif kelas “sosial rendah.”

Profesor generasi tua, khususnya, harus berulang kali mengkritik dirinya sendiri, mengaku melakukan kesalahan, dan menerima informasi, dipantau, dan dikritik oleh kolega dan mahasiswanya. Bahkan profesor generasi tua dibuat untuk mengakui dan melenyapkan “pemikiran kontra-revolusioner” dalam pikiran bawah sadarnya sendiri, yang disebut agresi terhadap kelas sosial rendah. Tentu saja, hal ini jauh lebih intens daripada pelatihan sensitivitas hari ini. Beberapa profesor generasi tua tidak dapat menerima penghinaan dan tekanan tersebut, dan bunuh diri. [58] Selanjutnya, Partai Komunis Tiongkok mulai menyesuaikan fakultas dan departemen di universitas. Partai Komunis Tiongkok sangat mengurangi, meggabungkan, atau menghilangkan departemen seperti filsafat, sosiologi, dan yang terkait dengan kemanusiaan, dengan hanya menyisakan banyak universitas yang komprehensif dengan fakultas sains dan teknik bergaya Soviet.

Hal ini terjadi karena Partai Komunis Tiongkok tidak dapat mentolerir ancaman terhadap pemerintahan tirani dari perspektif ideologis independen mengenai politik dan masalah sosial. Ini terkait dengan fakultas yang terkait dengan kemanusiaan, yang memiliki kebebasan akademik di zaman Republik Tiongkok.

Pada saat yang sama, studi mengenai politik dan filsafat Marxis diwajibkan bagi semua siswa. Seluruh proses selesai dalam waktu dua hingga tiga tahun. Di Barat, komunisme mengambil seluruh generasi untuk membangun disiplin baru dengan tujuan indoktrinasi ideologis dan suntikan pemikiran Marxis ke universitas. Meskipun kecepatannya sangat berbeda antara keduanya, mereka mencapai hasil yang sama.

Pada tahun 1958, Partai Komunis Tiongkok memulai revolusi pendidikannya, yang memiliki fitur penting sebagai berikut:

Pertama, pendidikan ditekankan sebagai alat yang harus digunakan dalam pelayanan kelas sosial rendah. Di bawah kepemimpinan Komite Partai, siswa diorganisasi untuk menyiapkan kurikulum dan bahan ajar. Di Universitas Peking, 60 siswa di departemen bahasa Mandarin menulis risalah 700.000 karakter yang disebut Sejarah Sastra Tiongkok hanya dalam waktu 30 hari. [59]

Ini sepenuhnya mencontohkan keyakinan inti pendidikan progresivisme bahwa metode pengajaran harus “berpusat pada siswa,” berfokus pada “pembelajaran eksplorasi” dan “pembelajaran kooperatif” —yaitu, apa yang harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya semua harus dibahas dan diputuskan oleh siswa sendiri. Tujuannya jelas: Menghilangkan “kepercayaan takhayul” pada tokoh-tokoh otoritas (yang dimaksudkan untuk menanamkan sikap menentang tradisi), memperbesar egoisme siswa, dan meletakkan dasar untuk pemberontakan selama Revolusi Kebudayaan yang akan datang.

Kedua, pendidikan dan tenaga kerja produktif harus disatukan. Setiap sekolah memiliki pabriknya sendiri, dan selama puncak Lompatan Jauh ke Depan, para guru dan siswa melebur baja dan mengolah tanah. Bahkan sebuah universitas yang sebelumnya fokus pada disiplin sosial, seperti Universitas Renmin Tiongkok, yang mengoperasikan 108 pabrik. Dikatakan bahwa ini adalah cara untuk membiarkan siswa “pembelajaran dengan cara melakukan,” tetapi, pada kenyataannya, siswa tidak belajar apa pun.

Dalam Revolusi Kebudayaan berikutnya, siswa dimobilisasi untuk menghancurkan semua bentuk warisan kebudayaan yang terkait dengan kebudayaan tradisional, baik berwujud atau tidak berwujud (lihat Bab Enam untuk rinciannya). Ini lagi-lagi menggemakan gerakan kontra-kebudayaan yang terjadi di Barat. Setelah Revolusi Kebudayaan dimulai, Mao Zedong merasa bahwa situasi “intelektual borjuis” yang memerintah sekolah tidak boleh berlanjut.

Pada tanggal 13 Juni 1966, Partai Komunis Tiongkok mengumumkan akan mereformasi penerimaan di universitas dan memulai “kampanye tindakan korektif”: Ujian masuk universitas dihapuskan, dan sejumlah besar siswa “buruh-petani-tentara” didaftarkan.

Film Mendobrak Ide Lama, yang diproduksi selama Revolusi Kebudayaan, merefleksikan alasan reformasi ini: “Seorang pemuda yang tumbuh di pertanian miskin tidak cukup melek huruf, tetapi kapalan di tangannya akibat kerja keras di bidang pertanian membuatnya memenuhi syarat untuk mendaftar.” Seorang kepala sekolah berkata,“ Dapatkah anda menyalahkan kami karena angka melek hurufnya yang rendah? Tidak! Hutang ini harus diselesaikan dengan kaum Nasionalis, pemilik tanah, dan kelas kapitalis [penindas]!”

Di Barat, ada seorang profesor yang menerbitkan sebuah makalah yang mengklaim bahwa ujian matematika menyebabkan diskriminasi ras (karena siswa dari kelompok etnis minoritas tertentu memiliki nilai matematika lebih rendah dibandingkan dengan siswa kulit putih). [60] Profesor lain menerbitkan sebuah makalah yang mengatakan standar matematika berdasarkan skor yang lebih tinggi yang dicapai oleh siswa laki-laki menyebabkan diskriminasi gender terhadap siswi saat berpegang pada standar yang sama. [61] Siswa yang memenuhi syarat untuk masuk universitas berdasarkan kapalan yang dimilikinya dan menghubungkan skor matematika yang lebih rendah dengan ras dan diskriminasi gender adalah metode yang digunakan komunisme untuk meredam siswa dan menghambat pertumbuhan intelektualnya.

Setelah Revolusi Kebudayaan, Tiongkok kembali mengadakan ujian masuk universitas. Sejak saat itu, mempersiapkan ujian masuk universitas adalah tujuan akhir dari pendidikan SD hingga SMU. Di bawah sistem pendidikan yang bermanfaat ini, banyak siswa menjadi mesin yang hanya belajar cara lulus ujian, tanpa kemampuan untuk berpikir secara mandiri untuk dirinya sendiri atau untuk membedakan yang benar dari yang salah. Pada saat yang sama, filsafat, politik, dan ekonomi Marxis tetap dipaksakan menjadi bahan ujian wajib.

Dalam benak siswa yang terputus dari tradisi, standar benar dan salah, serta baik dan jahat, semua dievaluasi sesuai dengan standar komunis. Maka setelah serangan teroris 9/11 terjadi, banyak siswa bersorak. Siswa sekolah dasar menyatakan bahwa mereka ingin menjadi pejabat yang korup ketika mereka dewasa. Mahasiswi melacurkan diri dan menjadi ibu pengganti demi mendapatkan uang tunai. Komunisme telah membajak generasi muda.

Kesimpulan: Kembali ke Pendidikan Tradisional

Sistem pendidikan memikul masa depan suatu negara, suatu bangsa, dan peradaban manusia itu sendiri. Sistem pendidikan adalah upaya jangka panjang yang dampaknya meluas selama berabad-abad atau bahkan ribuan tahun. Melihat kembali seratus tahun yang lalu, sistem pendidikan Amerika Serikat telah hancur oleh penyusupan dan pengaruh ideologi komunis.

Orangtua dan guru terbelenggu dan tidak dapat memberi pendidikan yang baik untuk siswa. Sekolah, yang seharusnya menumbuhkan bakat siswa, malah memanjakan siswa dan menyesatkannya. Seluruh masyarakat sangat khawatir mengenai kurangnya moralitas siswa, tingkat keterampilan yang rendah, psikologi rapuh, dan kebiasaan buruk, serta tren kacau, anti-tradisional, dan anti-sosial yang masyarakat tangkap. Hal ini untuk menyaksikan kekuatan iblis melahap keturunan dan masa depan umat manusia.

Di antara 45 tujuan yang tercantum dalam buku klasik tahun 1958 berjudul Kaum Komunis Yang Telanjang, tujuan untuk pendidikan adalah sebagai berikut: “Dapatkan kendali atas sekolah. Gunakan sekolah sebagai sabuk transmisi untuk sosialisme dan propaganda Komunis saat ini. Permudah kurikulum. Dapatkan kendali atas asosiasi guru. Masukkan kebijakan partai dalam buku teks.”[62]

Melihat pendidikan Amerika Serikat, tujuan ini tidak hanya tercapai, tetapi situasinya menjadi lebih buruk. Karena kekuatan politik dan ekonomi Amerika Serikat, maka kebudayaan Amerika Serikat adalah objek kekaguman dan persaingan oleh negara di seluruh dunia.

Sebagian besar negara menggunakan Amerika Serikat sebagai model untuk reformasi pendidikan. Konsep pengajaran, bahan pengajaran, metode pengajaran, dan praktik manajemen sekolah di Amerika Serikat telah mempengaruhi banyak negara. Jadi, sampai batas tertentu, mengubah pendidikan Amerika Serikat sama saja dengan mengubah pendidikan di seluruh dunia.

Baik pada awal Penciptaan dan ketika peradaban manusia rusak, ada makhluk tercerahkan atau orang suci dilahirkan. Makhluk atau orang suci yang tercerahkan ini sebenarnya adalah sekelompok orang yang dikenal sebagai “guru.” Misalnya, Socrates, pendiri peradaban Yunani kuno, adalah seorang pendidik.

Dalam Injil, Yesus juga menyebut dirinya seorang guru. Buddha Sakyamuni memiliki sepuluh nama, salah satunya adalah “guru surga dan manusia.” Konfusius adalah seorang pendidik, dan Lao Zi adalah guru Konfusius. Mereka memberitahu manusia bagaimana menjadi manusia, bagaimana menghormati Tuhan, bagaimana bergaul dengan orang lain, dan bagaimana meningkatkan moralitas.

Makhluk dan orang suci yang tercerahkan ini adalah pendidik terbesar umat manusia. Kata-kata mereka telah membentuk peradaban besar dan menjadi klasik mendasar dari semua peradaban. Nilai-nilai yang mereka ajarkan, dan cara mereka meningkatkan moralitas, memungkinkan setiap individu untuk mencapai spiritual dan kesehatan yang penting.

Individu dengan pikiran sehat sangat penting untuk kesehatan sosial. Tidak mengherankan bahwa para pendidik terhebat ini sampai pada kesimpulan yang sama: Tujuan pendidikan adalah menumbuhkan karakter yang baik.

Pendidikan klasik Timur dan Barat, yang telah dipraktikkan selama ribuan tahun, mewarisi kebudayaan yang telah diberikan Tuhan kepada manusia serta mempertahankan pengalaman dan sumber daya yang begitu berharga.

Menurut semangat pendidikan klasik, bakat dan integritas adalah kriteria penting untuk menilai keberhasilan pendidikan. Dalam proses menghidupkan kembali tradisi pendidikan manusia, harta pendidikan klasik adalah layak untuk pelestarian, eksplorasi, dan pembelajaran.

Rakyat dengan nilai moral yang tinggi mampu memerintah sendiri. Ini adalah norma sosial yang diharapkan oleh para Pendiri Amerika. Mereka yang bermoral luhur akan menerima berkat Tuhan, dan melalui ketekunan dan kebijaksanaan, akan mendapatkan kelimpahan materi dan kepuasan rohani.

Lebih penting lagi, rakyat dengan moralitas tinggi memungkinkan masyarakat berkembang biak dan bertahan selama beberapa generasi. Ini adalah ajaran makhluk tercerahkan dan orang suci, pendidik terbesar umat manusia, mengenai bagaimana rakyat saat ini dapat kembali ke tradisi.

Lanjut baca Bab Tiga Belas

Referensi:

[1] A Nation at Risk, https://www2.ed.gov/pubs/NatAtRisk/risk.html.

[2] Ibid.

[3] Mark Bauerlein, The Dumbest Generation: How the Digital Age Stupefies Young Americans and Jeopardizes Our Future (New York: Jeremy P. Tarcher/Penguin, 2008), Chapter One.

[4] John Taylor Gatto, Dumbing Us Down: The Hidden Curriculum of Compulsory Schooling (Gabriola Island, BC, Canada: New Society Publishers, 2005), 12.

[5] Charles J. Sykes, Dumbing Down Our Kids: Why American Children Feel Good about Themselves but Can’t Read, Write, or Add (New York: St. Martin’s Griffin, 1995), 148–9.

[6] Thomas Sowell, Inside American Education (New York: The Free Press, 1993), 4.

[7] Charlotte Thomson Iserbyt, The Deliberate Dumbing Down of America: A Chronological Paper Trail (Ravenna, Ohio: Conscience Press, 1999), xvii.

[8] Robin S. Eubanks, Credentialed to Destroy: How and Why Education Became a Weapon (invisibleserfscollar.com, 2013), 48.

[9] Ibid., 49.

[10] Ibid., 45–46.

[11] “Ten Most Harmful Books of the 19th and 20th Centuries,” Human Events, May 31, 2005, http://humanevents.com/2005/05/31/ten-most-harmful-books-of-the-19th-and-20th-centuries/.

[12] Mortimer Smith, And Madly Teach: A Layman Looks at Public School Education (Chicago: Henry Regnery Company, 1949). See also: Arthur Bestor, Educational Wastelands: The Retreat from Learning in Our Public Schools, 2nd ed. (Champaign, Illinois: University of Illinois Press, 1985).

[13] John A. Stormer, None Dare Call It Treason (Florissant, Missouri: Liberty Bell Press, 1964), 99.

[14] I. L. Kandel, “Prejudice the Garden toward Roses?” The American Scholar, Vol. 8, No. 1 (Winter 1938–1939), 77.

[15] Christopher Turner, “A Conversation about Happiness, Review – A Childhood at Summerhill,” The Guardian, March 28, 2014, https://www.theguardian.com/books/2014/mar/28/conversation-happiness-summerhill-school-review-mikey-cuddihy.

[16] Alexander Neil, Summerhill School: A Radical Approach to Child Rearing (New York: Hart Publishing Company, 1960), Chapter 3.

[17] Ibid., Chapter 7.

[18] Joanne Lipman, “Why Tough Teachers Get Good Results,” The Wall Street Journal, September 27, 2013, https://www.wsj.com/articles/why-tough-teachers-get-good-results-1380323772.

[19] Daisy Christodoulou, Seven Myths about Education (London: Routledge, 2014).

[20] Diane West, The Death of the Grown-Up: How America’s Arrested Development Is Bringing down Western Civilization (New York: St. Martin’s Press, 2008), 1–2.

[21] Fred Schwartz and David Noebel, You Can Still Trust the Communists… to Be Communists (Socialists and Progressives too) (Manitou Springs, CO: Christian Anti-Communism Crusade, 2010), back cover.

[22] Stein v. Oshinsky, 1965; Collins v. Chandler Unified School District, 1981.

[23] John Taylor Gatto, The Underground History of American Education: A Schoolteacher’s Intimate Investigation into the Problem of Modern Schooling (The Odysseus Group, 2000), Chapter 14.

[24] Diane Ravitch, “Education after the Culture Wars,” Dædalus 131, no. 3 (Summer 2002), 5–21.

[25] Steven Jacobson, Mind Control in the United States (1985), 16, https://archive.org/details/pdfy-6IKtdfWsaYpENGlz.

[26] “Inside a Public School Social Justice Factory,” The Weekly Standard, February 1, 2018, https://www.weeklystandard.com/katherine-kersten/inside-a-public-school-social-justice-factory.

[27] History Social-Science Framework (Adopted by the California State Board of Education, July 2016, published by the California Department of Education, Sacramento, 2017), 431, https://www.cde.ca.gov/ci/hs/cf/documents/hssfwchapter16.pdf.

[28] Ibid., p. 391.

[29] Stanley Kurtz, “Will California’s Leftist K-12 Curriculum Go National?” National Review, June 1, 2016, https://www.nationalreview.com/corner/will-californias-leftist-k-12-curriculum-go-national/.

[30] Phyllis Schlafly, ed., Child Abuse in the Classroom (Alton, Illinois: Pere Marquette Press, 1984), 13.

[31] Herbert Marcuse, Eros and Civilization: A Philosophical Inquiry into Freud (Boston: Beacon Press, 1966), 35.

[32] B. K. Eakman, Cloning of the American Mind: Eradicating Morality through Education (Lafayette, Louisiana: Huntington House Publishers, 1998), 109.

[33] William Kilpatrick, Why Johnny Can’t Tell Right from Wrong and What We Can Do about It (New York: Simon & Schuster, 1992), 16–17.

[34] Thomas Sowell, Inside American Education: The Decline, the Deception, the Dogmas (New York: The Free Press, 1993), 36.

[35] Ibid., Chapter 3.

[36] “Death in the Classroom,” 20/20, ABC Network, September 21, 1990, https://www.youtube.com/watch?v=vbiY6Fz6Few.

[37] Sowell, Inside American Education: The Decline, the Deception, the Dogmas, 38.

[38] Kilpatrick, Why Johnny Can’t Tell Right from Wrong and What We Can Do about It, 32.

[39] “We Teach Children Sex … Then Wonder Why They Have It,” Daily Mail, August 1, 2004, http://www.dailymail.co.uk/debate/article-312383/We-teach-children-sex–wonder-it.html.

[40] “Focus on Youth with ImPACT: Participant’s Manual,” Centers for Disease Control and Prevention, https://effectiveinterventions.cdc.gov/docs/default-source/foy-implementation-materials/FOY_Participant_Manual.pdf?sfvrsn=0.

[41] Robert Rector, “When Sex Ed Becomes Porn 101,” The Heritage Foundation, August 27, 2003, https://www.heritage.org/education/commentary/when-sex-ed-becomes-porn-101.

[42] Norman K. Risjord, Populists and Progressives (Rowman & Littlefield, 2005), 267.

[43] Madeline Gray, Margaret Sanger (New York: Richard Marek Publishers, 1979), 227–228.

[44] Rebecca Hersher, “It May Be ‘Perfectly Normal,’ But It’s Also Frequently Banned,” National Public Radio, September 21, 2014, https://www.npr.org/2014/09/21/350366435/it-may-be-perfectly-normal-but-its-also-frequently-banned.

[45] Kilpatrick, Why Johnny Can’t Tell Right from Wrong and What We Can Do about It, 53.

[46] Maureen Stout, The Feel-Good Curriculum: The Dumbing Down of America’s Kids in the Name of Self-Esteem (Cambridge, Massachusetts: Perseus Publishing, 2000), 1–3.

[47] Ibid., 17.

[48] B. K. Eakman, Educating for the ‘New World Order’ (Portland, Oregon: Halcyon House, 1991), 129.

[49] “Teacher of the Year Ceremony,” C-Span, https://www.c-span.org/video/?39846-1/teacher-year-ceremony

[50] Sol Stern, “How Teachers’ Unions Handcuff Schools,” The City Journal, Spring 1997, https://www.city-journal.org/html/how-teachers%E2%80%99-unions-handcuff-schools-12102.html.

[51] Troy Senik, “The Worst Union in America: How the California Teachers Association Betrayed the Schools and Crippled the State,” The City Journal, Spring 2012, https://www.city-journal.org/html/worst-union-america-13470.html.

[52] Kilpatrick, Why Johnny Can’t Tell Right from Wrong and What We Can Do about It, 39.

[53] Samuel Blumenfeld and Alex Newman, Crimes of the Educators: How Utopians Are Using Government Schools to Destroy America’s Children (Washington D. C.: WND Books, 2015), Chapter 14.

[54] Schlafly, Child Abuse in the Classroom, 14.

[55] Valerie Strauss, “A serious Rant about Education Jargon and How It Hurts Efforts to Improve Schools,” Washington Post, November 11, 2015, https://www.washingtonpost.com/news/answer-sheet/wp/2015/11/11/a-serious-rant-about-education-jargon-and-how-it-hurts-efforts-to-improve-schools/?utm_term=.8ab3d85e9e45.

[56] Stormer, None Dare Call It Treason, 104–106.

[57] Regarding the criticism of “common core,” see Duke Pesta, “Duke Pesta on Common Core – Six Years Later,” https://www.youtube.com/watch?v=wyRr6nBEnz4, and Diane Ravitch, “The Common Core Costs Billions and Hurts Students,” New York Times, July 23, 2016, https://www.nytimes.com/2016/07/24/opinion/sunday/the-common-core-costs-billions-and-hurts-students.html.

[58] There are many such cases. For examples, readers to refer to Zhou Jingwen, Ten Years of Storm: The True Face of China’s Red Regime [風暴十年:中國紅色政權的真面貌], (Hong Kong: shi dai pi ping she [時代批評社], 1962). Web version available in Chinese at https://www.marxists.org/chinese/reference-books/zjw1959/06.htm#2

[59] Luo Pinghan, “The Educational Revolution of 1958,” Literature History of the Communist Party, Vol. 34

[60] Robert Gearty, “White Privilege Bolstered by Teaching Math, University Professor Says,” Fox News, October 24, 2017, http://www.foxnews.com/us/2017/10/24/white-privilege-bolstered-by-teaching-math-university-professor-says.html.

[61] Toni Airaksinen, “Prof Complains about ‘Masculinization of Mathematics,’” Campus Reform, August 24, 2017, https://www.campusreform.org/?ID=9544.

[62] W. Cleon Skousen, The Naked Communist (Salt Lake City: Izzard Ink Publishing, 1958, 2014), Chapter 12.

BACA SEBELUMNYA 

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Pengantar

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita: Pendahuluan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab I – Strategi Iblis untuk Menghancurkan Kemanusiaan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab II – Awal Komunisme Eropa

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab III – Pembunuhan Massal di Timur

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab IV – Mengekspor Revolusi

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab V – Infiltrasi ke Barat (Bagian I)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab V – Infiltrasi ke Barat (Bagian II)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VI – Pemberontakan Terhadap Tuhan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VII – Penghancuran Keluarga (Bagian I)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VII – Penghancuran Keluarga (Bagian II)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VIII – Bagaimana Komunisme Menabur Kekacauan dalam Politik (I)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VIII – Bagaimana Komunisme Menabur Kekacauan dalam Politik (II)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab IX – Perangkap Ekonomi Komunis (Bagian I)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab IX – Perangkap Ekonomi Komunis (Bagian II)

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab X – Menggunakan Hukum untuk Kejahatan

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab XI – Menodai Seni

 

 

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab XII – Menyabotas Pendidikan (Bagian I)

Share

Video Popular