- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Cahaya Lilin Menyinari Kenangan untuk Jiwa-Jiwa yang Hilang Selama 20 Tahun Berlangsungnya Penindasan di Tiongkok

Eva Pu – The Epochtimes

Senja meredup, malam temaram tiba. Ketika itu, ratusan lilin berbentuk bunga lotus menerangi langit malam di New York, Amerika Serikat, pada 15 Juli. 

Saat itu sekelompok praktisi meditasi berkostum kuning duduk dalam hening di depan Konsulat Tiongkok di New York.  Alas bundar kuning mereka dengan rapi disejajarkan dalam barisan panjang di sepanjang tepian sungai.

Di sekeliling mereka, bendera berwarna-warni bertuliskan huruf mandarin menyerukan diakhirinya penganiayaan brutal di Tiongkok. 

“Akhiri 20 Tahun Penganiayaan terhadap Falun Gong.” Demikian yang tercantum dalam tulisan itu.

Mereka adalah praktisi Falun Gong yang pertama kali diperkenalkan kepada publik pada tahun 1992. Ajaran moral dan manfaat kesehatannya mendapatkan daya tarik luas di kalangan masyarakat Tiongkok.  Sekitar 70 juta hingga 100 juta pada tahun 1999 mengikuti latihan ini. 

[1]
Praktisi Falun Gong berkumpul di depan konsulat Tiongkok untuk memperingati peringatan 20 tahun penganiayaan di Tiongkok, di New York, N.Y., pada 15 Juli 2019. (Larry Dye / The Epoch Times)

Dikarenakan latihan Falun Gong lebih populer, maka dianggap sebagai ancaman oleh rezim komunis ateis di Tiongkok. Hingga kemudian, Komunis Tiongkok meluncurkan kampanye brutal terhadap kelompok itu pada tahun 1999 silam. 

Praktik kekejaman yang dilakukan yakni mengumpulkan praktisi di pusat pencucian otak, penjara, kamp kerja paksa, dan rumah sakit jiwa. Praktisi Falun Gong ini disiksa dan dipaksa untuk melepaskan keyakinan mereka.

“Dalam satu kebencian, mengubah seluruh masyarakat melawan anggota masyarakat yang terhormat,” kata Christine Lin, Direktur Kreatif di Friends of Falun Gong dalam rapat umum tersebut.

Christine Lin mengatakan : “Di Tiongkok, jika Anda termasuk orang  yang ditargetkan oleh Komunis Tiongkok,  dapat merusak segalanya untuk Anda. Kontrol sosial, pengawasan teknologi tinggi, dan pemerintahan  teror bersatu untuk membentuk realitas hidup yang menyesakkan di Tiongkok. ”

Minghui.org, situs web berbasis di Amerika Serikat yang didedikasikan untuk mendokumentasikan penganiayaan terhadap Falun Gong, telah mengkonfirmasi lebih dari 4.200 kematian. Mereka yang tewas terjadi selama kampanye penganiayaan. Meskipun jumlah sebenarnya tidak diketahui karena sensor yang ketat di Tiongkok.

Penyintas Penindasan Brutal

Dikarenakan memegang teguh keyakinannya, Hu Zhiming yang berusia 47 tahun, seorang mantan perwira angkatan udara Tiongkok dari Beijing, dicopot dari jabatannya. Dia harus menghabiskan selama delapan dari sepuluh tahun berikutnya dalam tahanan.

Selama dua tahun antara 2002 dan 2004, sebagian besar waktu Hu dihabiskan di sel seluas 900 cm lebih  di Penjara Tilanqiao di Shanghai, Tiongkok. 

Di sel itu, dua narapidana mengawasinya siang dan malam. Ia sering jadi sasaran pemukulan dan penganiayaan. 

Dia dipaksa duduk di kursi plastik yang dia gambarkan sebagai “seukuran telapak tangannya.” Ia pun tidak dibiarkan bergerak sama sekali. Larangan tidur juga diberlakukan kepada dirinya.

“Begitu saya menutup mata, orang-orang yang mengawasi kami akan membuka mata saya dengan tangan mereka,” kata Hu kepada The Epoch Times.

[2]
Hu Zhiming pada acara tersebut memperingati 20 tahun penganiayaan terhadap Falun Gong di Tiongkok, di New York, N.Y., pada 16 Juli 2019. (Eva Fu / The Epoch Times)

Pada kesempatan lain, para sipir memaksa Hu dan para tahanan lainnya untuk mengemas sabun batangan dari merek populer Bee & Flower yang berbasis di Shanghai. Dia mengatakan telah melihat  sabun yang sama dijual di toko kelontong lokal di New York.

Hu kemudian dibebaskan pada 2004. Akan tetapi dikarenakan mendistribusikan beberapa CD yang menjelaskan tentang penganiayaan, ia kembali dikirim ke penjara di Liaoning pada tahun berikutnya. Dia memulai mogok makan sebagai bentuk protes terhadap penahanan. 

Para penjaga menggunakan segala macam metode untuk membuat hidupnya sengsara agar menyerah. Dia diikat ke tempat tidur dan dicekokkan dengan larutan dengan pipa melalui hidungnya. Mereka menyalakan lampu ultraviolet kepada dirinya yang membakar kulitnya. Akibatnya, menyebabkan kerusakan pada matanya. Para penjaga  mengirimnya kembali ke kamar pasien yang tertular penyakit.  Ancamannya agar dia ikut tertular.

Kesehatan Hu memburuk. Dia mengalami kesulitan bahkan ketika ingin berbaring di tempat tidur. Tubuhnya menjadi sangat kurus.  Sehingga orang bisa mendekap pinggangnya dengan kedua tangan. 

Berpikir ia akan menuju kematian, perawat di rumah sakit diperintahkan untuk memeriksanya setiap dua jam untuk memeriksa apakah ia masih hidup. Dia meninggalkan penjara pada bulan September 2009.  Tetapi dia menyaksikan dua praktisi lainnya tewas  karena suntikan obat dan pemukulan.

Pada Tahun Baru Imlek 2010 silam, Hu lolos dari pengawasan polisi dan berjalan ke perbatasan Tiongkok. Di sana, seorang pemandu wisata membantu membawanya ke sebuah negara.  Ia mengajukan suaka ke PBB. Pada 2012, ia diberikan suaka oleh Amerika Serikat.

Terpisah dengan Keluarga

Pada rapat umum, beberapa praktisi berdiri berjajar memegang plakat buatan tangan untuk menyoroti penganiayaan yang terjadi terhadap keluarga mereka di Tiongkok.

Praktisi asal Liaoning, Xiao Yanbing mengatakan bahwa suaminya, Yu Chunsheng, yang berusia 61 tahun, telah ditahan oleh rezim Komunis Tiongkok sejak 19 Juni lalu. 

Menurut Xiao, suaminya ditangkap ketika di Kereta yang bertolak dari Shenyang.  Sejak itu, ia dipindahkan ke sebuah pusat penahanan lokal. Belum ada informasi lebih lanjut mengenai suaminya.  Keluarganya ditolak untuk mengunjunginya.

Suaminya adalah seorang profesor di Universitas Shenyang Ligong selama beberapa dekade. Ia mengepalai departemen teknik mesin sebelum komite Partai Komunis Tiongkok setempat memecatnya karena keyakinannya. Dia sebelumnya telah ditahan dua kali. Ia mengalami penyiksaan terus-menerus selama bertahun-tahun.

[3]
Xiao Yanbing menyerukan pembebasan suaminya, Yu Chunsheng, yang telah ditahan. Aksi digelar di New York., pada 15 Juli 2019. (Eva Fu / The Epoch Times)

“Karena hanya percaya kepada Sejati-baik-Sabar dan karena berusaha untuk menjadi orang baik, warga negara yang luar biasa seperti suami saya masih bisa dirampas kebebasan pribadinya. Menghadapi penganiayaan yang bahkan lebih kejam. Ini bukan hanya tragedi bagi keluarga saya – ini adalah tragedi sosial,” kata Xiao di rapat umum.

Xiao berbicara tentang siksaan itu. Ia memikirkan penyiksaan apa yang mungkin menimpa pria yang telah dinikahinya selama 35 tahun. 

“Putraku belum melihat ayahnya selama 11 tahun sejak dia datang ke luar negeri,” kata Xiao kepada The Epoch Times. 

“Saya harus memaksakan diri untuk tidak berpikir bersama setiap kali saya menemukan foto-foto penyiksaan, hanya dengan melihat mereka memberikan rasa sakit yang tajam di hati saya,” ujar Xiao. 

Melawan Kebohongan dengan Kebenaran

Daripada hanya larut dalam emosi, para praktisi dengan orang-orang terkasih mereka yang ditahan di Tiongkok, mengatakan, mereka telah berusaha untuk melawan penganiayaan dengan cara damai. Mereka menelpon pejabat Komunis Tiongkok.  Selain itu, berbicara dengan turis dari Tiongkok. Tujuannya, menyampaikan kepada mereka wawasan yang tidak tersedia di lingkungan yang sangat ketat di Tiongkok.

“Saya merasa sedih untuk mereka yang menganiaya praktisi Falun Gong, Banyak dari mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mereka tidak seburuk itu,” kata Xiao. 

Xiao menambahkan, putranya telah menelpon dan menulis surat ke penjara. Apa yang dilakukannya untuk memberitahu mereka informasi sebenarnya. Sehingga mereka dapat berhenti melakukan dosa terhadap orang yang tidak bersalah.

Praktisi asal Shandong, Zhang Yi mengatakan bahwa publikasi secara luas merupakan alat untuk mengekspos para pelaku kejahatan hak asasi manusia.

“Namun Partai Komunis Tiongkok berusaha untuk memblokade internet dan mengatur pers, mereka tidak pernah berhasil memblokir fakta sebenarnya. Ini bukan alasan untuk melakukan kejahatan,” kata Zhang, sambil menyerukan pembebasan terhadap ibunya, Zhang Aili yang berusia 65 tahun.

[4]
Praktisi Falun Gong, Zhang Yi di konsulat Tiongkok pada peringatan 20 tahun penganiayaan di Tiongkok, di New York, pada 15 Juli 2019. (Eva Fu / The Epoch Times)

“Praktisi Falun Gong tidak hanya membela hak-hak kepercayaan mereka sendiri, mereka juga memperjuangkan hak-hak dasar dan kebebasan untuk kelompok lain yang mendekam di bawah keberutalan rezim dan untuk orang-orang Tiongkok secara keseluruhan,” kata penyelenggara acara, Yi Rong. 

Dia mencatat bahwa lebih dari 337 juta orang telah bergabung dengan gerakan akar rumput untuk keluar dari Partai Komunis Tiongkok dan afiliasinya. Banyak dari mereka menggunakan nama samaran.

“Mungkin 20 tahun yang lalu, tidak ada yang akan berpikir bahwa Falun Gong dapat bertahan sampai hari ini, ini adalah bukti bahwa paksaan dan kekuasaan tidak dapat menaklukkan kepercayaan,” kata komentator politik yang berbasis di A.S. Li Tianxiao  pada rapat umum tersebut.

[5]
Komentator politik Li Tianxiao berbicara di rapat umum untuk memperingati 20 tahun penganiayaan terhadap Falun Gong, di New York, pada 15 Juli 2019. (Larry Dye / The Epoch Times)

Sedangkan  Lin menambahkan :  “Banyak orang di antara hadirin saat ini selamat dari penganiayaan terburuk. Yang lain tidak secara pribadi mengalami kengerian itu, tetapi hadir di acara-acara seperti ini setiap tahun. Mereka semua gigih dalam advokasi mereka. Ini adalah cara untuk melawan rezim jahat — memerangi kebohongan dengan kebenaran telah terbukti sangat berdampak. Walaupun sebagai warga negara biasa, kita memiliki kekuatan yang luar biasa.” (asr)

[6]
Seorang gadis cilik memperingati peringatan 20 tahun penganiayaan Falun Gong di New York, pada 15 Juli 2019. (Larry Dye / The Epoch Times)