Olivia Li – The Epochtimes

Media pemerintahan Komunis Tiongkok secara gencar meluncurkan serangan terhadap 22 negara di dunia.  Negara-negara ini sebelumnya  secara bersama-sama menandatangani surat yang mengutuk penahanan massal etnis Uighur dan minoritas lainnya di Daerah Otonomi Uighur Xinjiang.

Dalam surat itu, Komunis Tiongkok dilaporkan menahan setidaknya satu juta etnis Uighur dan Muslim lainnya di kamp-kamp pendidikan ulang. Tempat penahanan ini digambarkan sebagai “kamp konsentrasi” oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia.

Duta besar untuk PBB dari 18 negara Eropa, Jepang, Kanada, Australia dan Selandia Baru ikut menandatangani surat tersebut yang dirilis pada 10 Juli.  Surat ini dikirim kepada presiden Dewan Hak Asasi Manusia, Coly Seck, dan Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia, Michelle Bachelet.

The Global Times, juru bicara Komunis Tiongkok, meluncurkan serangan balik secara membabibuta pada 11 Juli  lalu. 

Serangan ini sebagai pembalasan terhadap negara-negara yang berbicara tegas menentang perlakuan tidak manusiawi oleh komunis Tiongkok terhadap kelompok Uighur dan kelompok minoritas Muslim di Xinjiang.

“Ke-22 negara ini tidak mewakili dunia, mereka hanyalah segelintir,” demikian judul editorial Global Times.

Artikel itu menyatakan bahwa banyak negara berkembang, termasuk mayoritas negara Muslim diklaim memahami dan mendukung kebijakan Komunis Tiongkok untuk menjaga stabilitas di Xinjiang.

“Semua 22 negara yang menandatangani pernyataan bersama adalah negara-negara maju, termasuk tiga negara Baltik kecil yang selalu menggemakan negara-negara Barat karena motivasi geopolitik.” 

Artikel itu menulis, “Total populasi di negara-negara ini bertambah hingga hanya 500 juta orang. Mereka hanya merupakan sebagian kecil dari populasi dunia. Pemerintah di negara-negara ini menolak untuk menghormati realitas keragaman di dunia. 

Artikel itu menuduh atas dasar kesombongan dan kebanggaan yang luar biasa, mereka sebenarnya membagi dunia menjadi dua kelompok yang saling berhadapan: beberapa ‘negara istimewa’ versus negara berkembang yang luas. 

Media komunis Tiongkok ini mengklaim bahwa negara-negara Eropa secara tidak langsung bertanggung jawab atas serangan teroris di Xinjiang pada tahun-tahun sebelumnya.  

Laporannya juga menuding beberapa organisasi yang menganjurkan kemerdekaan Xinjiang bermarkas besar di beberapa kota di Eropa. 

Lebih jauh koran pro Komunis Tiongkok ini menuduh beberapa negara Eropa memberikan kepada etnis Uighur tempat perlindungan, tempat berkumpul dan bantuan untuk menyebarkan suara mereka. Bahkan negara-negara ini dituduh secara tidak langsung mendukung serangan teroris berdarah di Xinjiang pada tahun-tahun sebelumnya. 

Apa benar yang dituduhkan media komunis Tiongkok ini atau propaganda belaka?  Editorial Koran Komunis Tiongkok ini juga menyerang negara-negara Barat dengan tuduhan sangat egois. Mereka juga dituduh mengabaikan hak-hak kelangsungan hidup dan pembangunan negara-negara berkembang

Padahal bukti penyiksaan dan pemenjaraan paksa terhadap sejumlah tahanan-tahanan Uighur, sudah diungkapkan oleh kesaksian mantan tahanan secara gamblang.  

Memang, Propaganda Komunis Tiongkok memberikan nama baru terhadap  kamp-kamp pendidikan ulang ini sebagai pusat pendidikan kejuruan. 

Rezim Komunis Tiongkok bersembunyi di balik tindakan ekstrem dengan dalih mencegah “ekstremisme” agama dan “kegiatan teroris.” Komunis Tiongkok berdalih hanya memastikan “kesatuan etnis” dan keamanan nasional. 

Namun demikian, mantan tahanan menggambarkan pertanda kematian, penyiksaan dan cuci otak setiap hari terhadap yang disebut sebagai “pusat pendidikan kejuruan” ini.

Menurut laporan dari Amnesty International pada September 2018, mantan tahanan bernama, Kairat Samarkan, dikirim ke kamp tahanan pada Oktober 2017. 

Samarkan bersaksi bahwa ia disiksa — ia dipaksa mengenakan belenggu di lengan dan kakinya dan dipaksa berdiri dalam sebuah posisi tegak selama 12 jam. 

Tahanan hati nurani ini mengatakan ada hampir 6.000 orang yang ditahan di kamp yang sama. Sejumlah tahanan dipaksa untuk menyanyikan lagu-lagu patriotik dan mempelajari pidato Partai Komunis Tiongkok. 

Mirisnya, mereka dilarang berbicara satu sama lain dan dipaksa untuk menyanyikan “Hidup Xi Jinping” sebelum makan.  

Samarkan kepada Amnesty International mengatakan bahwa penganiayaan yang dideritanya mendorongnya untuk mencoba bunuh diri sesaat sebelum pembebasan.

Mihrigul Tursun, seorang Muslim Uighur yang sebelumnya ditahan di sebuah kamp pendidikan ulang di Xinjiang, memberikan kesaksian pada audiensi yang diadakan oleh Komisi Eksekutif-Kongres AS untuk Tiongkok pada November 2018. 

Tursun bertemu dan menikahi suaminya, seorang warga Mesir, ketika dia belajar bahasa Inggris di Mesir. 

Setelah melahirkan anak kembar tiga — dua laki-laki dan satu perempuan — pada bulan Maret 2015, ia kesulitan mengurus anak-anaknya dan membutuhkan bantuan orangtuanya yang tinggal di Urumqi, ibu kota Xinjiang. 

Ketika Tursun kembali ke Xinjiang, dia diinterogasi di bandara Urumqi tentang apa yang telah dia lakukan di Mesir. Dia kemudian diborgol dan dibawa ke pusat penahanan. Dia tidak diizinkan bersama anak-anak bayinya dalam hampir tiga bulan.

Tursun dibebaskan sementara ketika salah satu putranya meninggal di rumah sakit — yang baru berusia empat bulan.

Tursun mengatakan, ketika dia kembali ke pusat penahanan, dia menjalani berbagai bentuk penyiksaan, seperti diikat ke kursi, dan diinterogasi selama empat hari berturut-turut. Dia juga dilarang tidur. Setelah beberapa bulan disiksa, dia mulai mengalami kejang-kejang. 

“Saya pikir saya lebih baik mati daripada menjalani siksaan ini. Saya memohon kepada mereka untuk membunuh saya, ”katanya dalam pernyataannya.

Tursun juga mengatakan dia menyaksikan kematian sembilan tahanan lainnya dalam waktu tiga bulan. Ketika itu, dirinya dikurung di sel yang menampung 68 tahanan wanita. 

Beberapa waktu lalu, Direktur majalah online ‘Bitter Winter’ Marco Respinti mengungkapkan, tangan hitam Komunis Tiongkok yang selama belasan tahun digerakkan untuk mengambil paksa organ tubuh dari praktisi Falun Gong, mulai dipertanyakan tampaknya sudah diarahkan untuk warga etnis muslim Uighur.

Informasi terakhir menyebutkan bahwa sedikitnya 1 juta orang warga etnis Uighur telah ditangkap dan dijebloskan ke dalam “kamp pendidikan ulang.” Kamp ini tak lain adalah kamp konsentrasi.  Mereka diambil sampel darahnya untuk mengumpulkan data sitogenetika dan DNA.

‘Bitter Winter’ adalah majalah yang melaporkan tentang kebebasan beragama dan situasi hak asasi manusia di daratan Tiongkok. Media ini telah berulang kali menguak kondisi internal dalam kamp konsentrasi di Xinjiang.

Data yang ditemukan oleh para peneliti cukup mengejutkan. Menanggapi pernyataan ini, Marco Respinti mengatakan : “Komunis menyangkal pengambilan organ secara hidup-hidup, tetapi pihaknya memiliki bukti yang menunjukkan mereka telah melakukannya dan masih terus berlangsung. Dimulai dari praktisi Falun Gong dan sekarang meluas ke etnis lain atau kelompok agama lain, terutama warga Uighur.”

Presiden Asosiasi Bantuan Uyghur, Halmurat Harri pernah mengatakan : “Beberapa waktu lalu, ada sebuah perusahaan raksasa AS yang bergerak di bidang biologis, mereka menghentikan penjualan produk terhadap Xinjiang. Ini dapat dipastikan memiliki hubungan dengan masalah tersebut. Komunis Tiongkok sekarang menjebloskan jutaan warga etnis Uighur di kamp konsentrasi, sangat mungkin terjadi pengambilan organ paksa di dalam sana.”

Halmurat Harri mengatakan : dirinya tidak akan percaya bahwa Komunis Tiongkok sangat peduli terhadap kesehatan para warga Uighur. Mereka mengumpulkan sejumlah besar sampel DNA Uighur, tentunya ada tujuan lain. Sangat mungkin bahwa warga etnis Uighur ini akan digunakan sebagai sumber organ baru. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular