- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Viral Aplikasi Wajah Tua FaceApp dari FBI Diminta Investigasi Hingga Arab Saudi Peringatkan Warganya

Erabaru.net. Viral aplikasi foto saat menjadi tua. Netizen pun beramai-ramai  membagikan foto tua mereka. Bahkan ada netizen bercanda ketika dia bangun tidur, ia pun mengeluhkan teman-temannya yang mendadak menjadi tua. 

Meski netizen beramai-ramai bersuka ria dengan wajah tua, soal keamanan data menjadi sorotan. Tentunya, FaceApp membantah tuduhan itu. 

Sejumlah pakar privasi memperingatkan, persyaratan layanan perusahaan yang berbasis di Rusia itu dapat menimbulkan risiko keamanan data bagi konsumen.

FaceApp adalah aplikasi yang dimiliki oleh startup Lab Wireless Rusia. Layanan ini menggunakan kecerdasan buatan untuk mengubah selfie yang diunggah oleh penggunanya. Aplikasi, yang tersedia di App Store Apple dan Google Play store, memang menjadi sensasi media sosial minggu-minggu ini.

Banyak pengguna dan selebriti di AS termasuk komedian Kevin Hart dan penyanyi Carrie Underwood, memposting foto mereka yang diedit menggunakan FaceApp. Tak ketinggalan para pesohor di Indonesia mengikuti trend ini. 

Ketika menjadi viral, pakar privasi data mencatat bahwa persyaratan layanan dan privasi FaceApp memberikan hak kepada perusahaan untuk foto yang diunggah, termasuk untuk potensi penggunaan komersial. Bahkan, mengajukan pertanyaan tentang bagaimana FaceApp menggunakan dan menyimpan data. 

Melansir dari foxbusiness.com, FaceApp disoroti oleh Pemimpin Minoritas Senat AS, Chuck Schumer.  Ia menyerukan kepada Komisi Perdagangan Federal dan FBI untuk menyelidiki praktik-praktik FaceApp. Ia mengangkat pertanyaan tentang hubungan perusahaan dengan pemerintah Rusia.

Perusahaan teknologi di seluruh dunia telah menghadapi pengawasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini terkait praktik data mereka dalam beberapa bulan terakhir. Sorotan ini terjadi setelah skandal Cambridge Analytica, di mana sebuah perusahaan Inggris secara tidak tepat mengakses data hingga 87 juta pengguna Facebook. 

Meskipun belum ada bukti yang muncul bahwa FaceApp menyalahgunakan foto atau data-data lainnya, para ahli mengatakan publik harus berhati-hati saat menggunakan layanan ini.  Dikarenakan luasnya dari akses FaceApp dan potensi penggunaan data masih belum jelas.

Gary Davis, kepala keamanan konsumen McAfee mengatakan : “Saat ini, tidak ada yang menunjukkan bahwa aplikasi tersebut mengambil foto untuk maksud jahat. Namun, penting bagi konsumen untuk menyadari bahwa negara-negara tertentu telah menunjukkan sedikit perhatian terhadap privasi orang yang menggunakan teknologi yang berbasis di sana, ”

Menurut Davis, “Selalu terbaik untuk berbuat salah dengan berhati-hati atas data pribadi dan berpikir dengan hati-hati tentang apa yang Anda unggah atau bagikan.”

Dilansir  foxbusiness.com, Davis menyarankan pengguna yang khawatir harus menahan diri dari mengaktifkan aplikasi yang meminta akses untuk data pribadi.  Ia menambahkan, praktik keamanan yang baik adalah dengan hanya berbagi data pribadi, termasuk foto pribadi, ketika itu benar-benar diperlukan. 

Sementara itu, The National Cybersecurity Authority -NCA- sebuah otoritas keamanan Siber Arab Saudi seperti diwartakan oleh Arabnews, telah memperingatkan agar warganegaranya tidak menggunakan aplikasi  pengubah wajah tua itu. 

Kekhawatiran Cybersecurity terkait bagaimana foto-foto itu dapat disalahgunakan. NCA bahkan telah memperingatkan agar tidak menggunakannya serta menekankan untuk tidak memberikannya akses ke gambar pribadi.

Muhammad Khurram Khan, seorang profesor keamanan dunia maya di King Saud University mengatakan: “Saat ini banyak orang yang tampaknya terobsesi dengan beberapa aplikasi ponsel cerdas. Hanya digunakan untuk bersenang-senang atau hiburan. Namun, tanpa rasa khawatir atau mengetahuinya bisa membahayakan privasi mereka dan dapat digunakan untuk tujuan jahat yang tidak diketahui.”

Tak hanya FaceApp,  aplikasi seperti Candy Crush dan Angry Birds juga digunakan untuk mengumpulkan data pribadi, termasuk daftar kontak, email, dan informasi sensitif lainnya dari smartphone.

Muhammad Khurram Khan menambahkan, aplikasi pembocor data ini memiliki bahaya keamanan dan privasi terbesar bagi pengguna yang mengunduhnya. Bahkan, memberikan akses dan kontrol ke data pribadi, foto, mikrofon dan kamera, yang dapat digunakan untuk menguping atau memantau kegiatan mereka.

Menurut ketentuan layanan FaceApp, pengguna memberikan perusahaan “lisensi abadi, tidak dapat dibatalkan, tidak eksklusif, bebas royalti, di seluruh dunia, dibayar penuh, lisensi sub-lisensi yang dapat ditransfer untuk menggunakan” konten, termasuk foto, tanpa memberikan pemberitahuan atau kompensasi.

Sifat klausa yang terbuka dapat menimbulkan risiko bagi pengguna dari waktu ke waktu, menurut Privacy International yang berbasis di Inggris. “Orang-orang benar khawatir dengan ketentuan penggunaan seperti yang dimiliki FaceApp – sebagaimana seharusnya dengan aplikasi yang serupa,” kata Privacy International dalam unggahan di blognya. 

Privacy International memaparkan ; “Tidak jelas bagaimana FaceApp menyimpan, menggunakan, atau memanipulasi data orang, termasuk peta biometrik rinci wajah mereka, dan bisa berubah dari waktu ke waktu karena insentif keuntungan dan teknologi yang berubah.”

Dalam pernyataan untuk TechCrunch, FaceApp membantah mereka mengakses perpustakaan foto para penggunanya tanpa izin atau menjual data ke pihak ketiga. 

FaceApp menyatakan melakukan sebagian besar pemrosesan foto di cloud. Mereka juga hanya mengunggah foto yang dipilih oleh pengguna untuk diedit. FaceApp menegaskan mereka tidak pernah mentransfer foto-foto lain dari telepon ke cloud.

Pihak perusahaan menyatakan, sebagian besar foto yang diunggah ke server FaceApp dihapus dalam waktu 48 jam sejak tanggal pengunggahan. 

“Meskipun tim inti terletak di Rusia, data pengguna tidak ditransfer ke Rusia,” kata perusahaan itu.

Tahun lalu, Uni Eropa menerapkan Peraturan Perlindungan Data Umum atau General Data Protection Regulation  untuk menetapkan standar privasi data bagi perusahaan dalam ruang lingkup ini.   Anggota parlemen Amerika Serikat, sedang mempertimbangkan apakah akan mengejar peraturan yang sama.

Elizabeth Potts Weinstein, seorang pengacara berbasis di Silicon Valley, mencatat bahwa kebijakan privasi FaceApp adalah “tidak sesuai dengan General Data Protection Regulation. (asr) 

Sumber : foxbusiness.com, Arabnews.com, TechCrunch