Iris Tao/Nicole Hao/Epochtimes Hong Kong

Ribuan pengunjuk rasa memadati kantor perwakilan Beijing di Hong Kong setelah pawai damai pada Minggu 21 Juli.  Aksi kali ini memprotes langsung kepada rezim Komunis Tiongkok dalam protes berbulan-bulan terkati penolakan RUU ekstradisi yang kontroversial.

Laporan Epochtimes Hong Kong, menjelang sore, ketika pengunjuk rasa mulai meninggalkan bangunan, polisi datang untuk membubarkan massa. Sempat terjadi kebuntuan, polisi merespon dengan menembakkan  gas air mata dan peluru karet. 

Lewat tengah malam, sebagian besar pengunjuk rasa akhirnya beranjak pergi. Para pengunjuk rasa sebelumnya telah mengerumuni jalan-jalan di pulau utama Hong Kong pada  Minggu sore. 

Mereka kembali menyerukan penarikan penuh terhadap Rancangan Undang-Undang ekstradisi. Pengunjuk rasa juga menyerukan penyelidikan independen terhadap penggunaan kekuatan polisi dalam demonstrasi baru-baru ini.

Penyelenggara pawai, Civil Human Rights Front -CHRF- mengatakan, lebih dari 430.000 massa bergabung dalam pawai hari Minggu itu.  Sementara itu, pihak kepolisian memperkirakan kerumunan masa hanya berjumlah 138.000 orang.  CHRF telah menyelenggarakan beberapa demonstrasi sebelumnya yang dihadiri oleh jutaan orang.

RUU yang ditangguhkan sejak itu, mengusulkan agar orang-orang dapat diekstradisi ke daratan Tiongkok untuk diadili.  Banyak penduduk Hong Kong menilainya sebagai langkah terbaru dalam perjalanan tanpa henti menuju kontrol daratan Tiongkok.

Pawai pada hari Minggu itu, sebagian besar demonstran dari kalangan anak muda. Mereka berpakaian hitam, mulai berkumpul di Victoria Park sekitar pukul tiga sore waktu setempat. Massa lalu berbaris menuju Wan Chai, area komersial yang sibuk. Banyak yang memegang kipas dan payung, sementara yang lainnya menempelkan kain pendingin di dahi mereka, untuk melawan teriknya matahari.  

Para pengunjuk rasa berbaris menentang RUU ekstradisi yang kontroversial di Hong Kong pada 21 Juli 2019. Spanduk besar yang diperlihatkan di sini mengutuk polisi karena menyalahgunakan kekuatan. (Yu Kong / The Epoch Times)

Banyak massa yang memakai topeng untuk melindungi identitas mereka. Para pengunjuk rasa membawa poster-poster dan meneriakkan slogan-slogan yang menegaskan kembali tuntutan utama mereka: 

“Carrie Lam harus mundur,” “Bebaskan semua martir yang ditangkap” dan “Tidak ada perusuh, hanya tirani,” mengacu pada karakterisasi polisi sebelumnya dalam protes sebagai biang kerusuhan. Mereka juga menuntut hak pilih universal dalam memilih pejabat Hong Kong.

Ada sekelompok lansia yang bergabung dalam pawai. Mereka menggelari diri mereka sendiri sebagai“kelompok berambut perak.” Beberapa hari lalu, mereka mengadakan pawai anti ekstradisi untuk mengekspresikan dukungan kepada anak-anak muda yang berada di garis depan dalam aksi protes.

CHRF menjadikan pembentukan penyelidikan independen sebagai tema utama pawai. CHRF mengatakan cara itu paling efektif bagi administrasi Lam untuk menenangkan sentimen publik yang memanas terhadap pemerintah kota. “Warga Hongkong tidak lagi percaya pada pemerintahan Lam,” kata Jimmy Sham dari CHRF.  

Emblem Komunis Tiongkok di Kantor Penghubung Beijing di Hong Kong terlihat diolesi dengan cat hitam setelah pawai damai terhadap RUU ekstradisi yang kontroversial pada 21 Juli 2019. (Yu Kong / The Epoch Times)

Jimmy Sham menambahkan, komite investigasi independen harus dibentuk untuk mengungkap kebenaran tentang apa yang terjadi dalam bentrokan. Ketika tuntutan itu menjadi kenyataan, maka masa depan Hong Kong dapat memberikan harapan.

Para pengunjuk rasa dan banyak dari masyarakat marah atas penggunaan kekuatan polisi selama protes 12 Juni di depan markas pemerintah. Ketika itu, polisi menembakkan gas air mata, peluru karet, untuk membubarkan para pengunjuk rasa. Akibatnya, lebih dari 80 luka-luka warga sipil.

Dalam beberapa pekan terakhir, demonstrasi massa sempat bentrok. Kali ini memicu pertikaian dengan polisi, yang terakhir adalah bentrokan pada 14 Juli di dalam sebuah pusat perbelanjaan mewah di distrik Sha Tin.

Sham juga berterima kasih kepada kelompok spiritual, Falun Gong. Mereka mengadakan pawai di daerah yang sama,  memulai demonstrasi sebelumnya untuk mengakomodasi protes anti ekstradisi. Falun Gong dalam pawainya, sebagai rangkaian seruan penghentian penindasan Komunis Tiongkok terhadap Falun Gong yang telah berlangsung selama 20 tahun. 

Aksi Bentrok

CHRF awalnya merencanakan pawai berakhir di Pengadilan Tinggi Hong Kong. Akan tetapi polisi menolak usulan tersebut, dengan alasan masalah keamanan.  Namun ribuan orang berbaris melewati kawasan Wan Chai yang berbuah perselisihan singkat dengan polisi. Kelompok lain berjalan lebih jauh ke barat menuju Kantor Penghubung Hong Kong, yang merupakan kantor perwakilan Beijing di kota itu. 

Tanda pintu masuk Kantor Penghubung Tiongkok di Hong Kong ditutupi oleh grafiti yang dilukis oleh para pengunjuk rasa setelah pawai damai terhadap RUU ekstradisi yang kontroversial di Hong Kong pada 21 Juli 2019. (Yu Kong / The Epoch Times)

Sekitar pukul 7 malam, para pengunjuk rasa tiba ke lokasi. Dalam aksi pertama untuk langsung menegur pemerintahan Beijing.  Pengunjuk rasa berhasil merusak lambang Partai Komunis Tiongkok dengan cat hitam. Sementara yang lain melemparkan telur ke pintu masuk bangunan. Beberapa grafiti yang dicat semprot di dinding bangunan.

Para pengunjuk rasa kemudian menduduki jalan-jalan utama. Massa pun berhadapan dengan petugas polisi yang ditempatkan di luar gedung pemerintah. “Pulihkan Hong Kong; ini saatnya untuk revolusi, “teriak mereka.

Sekitar jam 9:30 malam waktu Hong Kong, pengunjuk rasa dan polisi anti huru hara berkumpul di Connaught Road. Polisi bergerak maju dan memperingatkan bahwa mereka akan menggunakan kekuatan untuk membubarkan massa. Sekitar pukul 10.45 malam, polisi menembakkan gas air mata, diikuti oleh beberapa putaran tembakan peluru karet.

 

Dalam perkembangan terpisah, sekelompok triad atau kejahatan terorganisir berpakaian putih muncul di dalam stasiun kereta api di distrik barat laut Yuen Long.  Mereka memegang tongkat dan menyerang pengunjuk rasa, jurnalis, dan orang yang lewat tanpa pandang bulu. 

South China Morning Post melaporkan bahwa setidaknya 45 orang terluka. Polisi tiba setengah jam setelah serangan itu. Warga berang  dengan menuduh polisi membiarkan kekerasan itu terjadi. (asr)

Biro Epoch Times Hong Kong berkontribusi dalam laporan ini.

Share

Video Popular