- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab XIV – Kebudayaan Populer : Kegemaran yang Bobrok

Roh komunisme tidak lenyap dengan disintegrasi Partai Komunis di Eropa Timur

The Epoch Times menerbitkan serial khusus terjemahan dari buku baru berbahasa Tionghoa berjudul Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita

Daftar ISI : 

Pengantar

1 – Kebudayaan Partai Komunis

2- Subversi Komunisme terhadap Kebudayaan Masyarakat Barat

3- Kebudayaan Pop dan Kekacauan Sosial

Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

Pengantar

Tuhan menciptakan manusia, dan selama perjalanan sejarah yang panjang, meletakkan kebudayaan ortodoks bagi umat manusia untuk hidup. Meskipun bangsa-bangsa di dunia memiliki kebudayaan yang berbeda, intinya adalah sangat konsisten.

Semua kelompok etnis di Timur dan Barat mementingkan nilai-nilai keikhlasan, kebaikan, kedermawanan, keadilan, moderat, kerendahan hati, keberanian, sifat tidak mementingkan diri sendiri, dan kebajikan sejenis yang dimiliki setiap negara untuk menghargai dan mengajar keturunan mereka melalui karya klasik mereka. Yang umum dari kebajikan ini adalah penghormatan kepada Tuhan dan kesetiaan terhadap perintah Tuhan — karena Tuhanlah yang menurunkan kebudayaan dan kode perilaku yang harus dimiliki dan diwujudkan oleh umat manusia. Ini adalah asal nilai-nilai universal.

Para Pendiri Amerika Serikat sangat mementingkan moralitas dan etiket. Pada tahun-tahun awalnya, Presiden George Washington secara pribadi menyalin seratus sepuluh Aturan Peradaban & Perilaku yang Layak dalam Perusahaan dan Percakapan. [1] Meskipun beberapa hal tertentu dapat berubah dari waktu ke waktu, ada banyak prinsip universal yang terkandung dalam aturan tersebut: Bahwa seseorang harus hormat saat berbicara mengenai dewa dan hal-hal terkait dengan dewa, serta menegakkan moralitas, menghormati orang lain, bersikap sederhana, memperlakukan orang dengan tepat, memperhatikan moralitas publik, tidak membahayakan perasaan dan minat orang lain, berperilaku sopan di semua kesempatan, berpakaian rapi dan menunjukkan selera yang baik, menahan diri untuk tidak melakukan pembalasan, menahan diri untuk tidak berbicara buruk mengenai orang lain di belakang orang tersebut, belajar dari yang bijak dan baik, dengarkan hati nurani, dan sebagainya.

Demikian pula, tiga belas kebajikan oleh Benjamin Franklin adalah kesederhanaan, keheningan, keteraturan, resolusi, berhemat, rajin, ketulusan, keadilan, moderat, kebersihan, ketenangan, kesucian, dan kerendahan hati. Semangat tersebut sepenuhnya sesuai dengan seratus sepuluh peraturan George Washington. [2]

Sebelum tahun 1950-an, standar moral kebanyakan orang secara umum memenuhi standar umum yang terhormat. Rakyat di Timur dan Barat mempertahankan banyak tradisi dan kebiasaan yang seharusnya dimiliki manusia. Bahkan di Tiongkok setelah tahun 1949, walaupun komunisme telah mulai merusak warisan Tiongkok, membantai elit, dan merusak moralitas secara sistematis, masyarakat Tiongkok masih mempertahankan banyak kebajikan tradisional yang berpengaruh sebelum Partai Komunis Tiongkok merebut kekuasaan.

Dengan perluasan kamp komunis, kaum komunis semakin mempromosikan rencananya. Terutama setelah tahun 1960-an, moral rakyat di Timur dan Barat semakin merosot.

Revolusi Kebudayaan Partai dimulai pada tahun 1966 dengan kampanye selama satu dekade untuk membasmi Empat Tua, diikuti oleh gerakan kontra-kebudayaan Amerika Serikat pada tahun 1960-an dan gerakan anti-tradisional – terutama dipromosikan oleh kaum muda – menyebar ke seluruh dunia. Semua ini adalah peristiwa global yang dibuka untuk tujuan menghancurkan tradisi dan menyebabkan umat manusia menyimpang dari standar moral yang telah lama dipegang.

Gerakan politik dan kebudayaan ini telah meninggalkan bekas luka yang mendalam di dunia saat ini. Sejak saat itu, fondasi kebudayaan tradisional masyarakat Tiongkok telah sepenuhnya hancur, dan moralitas telah merosot dengan cepat. Dalam masyarakat Barat, musik rock, penyalahgunaan narkoba, seks bebas dan bersetubuh dengan siapa saja, homoseksualitas, kebudayaan hippie, dan kekosongan spiritual telah terjadi, yang secara serius merusak fondasi tradisi Barat.

Setelah kaum radikal muda kontra-kebudayaan menemukan dirinya menarik tuas-tuas di masyarakat, mereka melanjutkan gerakannya dengan cara lain. Seni dan sastra Avant-garde, ideologi modern, dan konsep yang menyimpang semuanya disatukan. Dengan bantuan televisi, komputer, internet, telepon seluler, dan berbagai media massa, seluruh umat manusia dengan cepat menyimpang dari kebudayaan dan cara hidup tradisional, menuju ke arah jurang penyimpangan dan kebobrokan.

Jika kita melihat dunia, terutama dalam beberapa dekade terakhir, penurunan moralitas manusia dan kemerosotan hampir setiap aspek kebudayaan populer dan kehidupan sosial adalah mengejutkan untuk dilihat. Setelah Partai Komunis Tiongkok menghancurkan kebudayaan tradisional Tiongkok secara mendalam melalui mobilisasi politik yang tiada henti-hentinya, Partai Komunis Tiongkok menciptakan sistem kebudayaan Partai Komunis Tiongkok yang jahat.

Generasi muda yang tumbuh dalam kebudayaan Partai Komunis Tiongkok ini dan tidak tahu apa-apa mengenai kebudayaan tradisional Tiongkok, yang diilhami secara Ilahi. Dengan perkecualian beberapa segmen masyarakat di Barat yang berpegang pada tradisi dan menolak untuk dihasut dan dihancurkan, adalah adil untuk mengatakan bahwa komunisme hampir berhasil mencapai tujuannya menghancurkan kebudayaan manusia di seluruh dunia.

1. Kebudayaan Partai Komunis

Setelah “reformasi dan keterbukaan” Partai Komunis selama tahun 1980-an, rakyat Tiongkok mengejutkan warganegara lain dengan perilakunya saat mereka pergi ke luar negeri. Pada saat itu, banyak orang Barat mempertahankan kesan bahwa rakyat tradisional Tiongkok sebagai orang yang lembut, sopan, sederhana, baik hati, pekerja keras, dan sederhana. Namun, setelah puluhan tahun mengalami pencucian otak dan transformasi oleh Partai Komunis Tiongkok, rakyat Tiongkok benar-benar telah berubah. Mereka menjadi kasar dan berbicara dengan kencang. Mereka tidak akan antri atau hormat dan diam di depan umum. Mereka merokok di depan papan petunjuk dilarang merokok. Mereka berpakaian jorok, meludah di trotoar, dan membuang sampah. Mereka siap mengambil keuntungan dari orang lain.

Dalam beberapa tahun terakhir, perilaku beberapa turis Tiongkok juga telah mengejutkan dunia. Mereka memanjat dan merusak peninggalan kebudayaan dan situs bersejarah, membiarkan anak-anak buang air kecil di depan umum, tidak mau menyiram toilet setelah menggunakannya, mengambil barang secara gratis, mengambil dan membuang makanan di kafetaria, terlibat perkelahian akibat sedikit perbedaan pendapat, dan membuat masalah di bandara, menyebabkan jadwal pesawat menjadi terlambat.

Apa yang terjadi pada rakyat Tiongkok? Apa yang terjadi dengan negeri Tiongkok?

Jawabannya sebenarnya adalah sangat sederhana. Revolusi kelas sosial rendah yang dipimpin oleh Partai Komunis Tiongkok menampar label “kelas yang mengeksploitasi” yaitu orang yang menjunjung tinggi moralitas tradisional, peradaban, dan perilaku. Partai Komunis Tiongkok menggambarkan kebiasaan kaum kelas sosial rendah sebagai revolusioner dan baik, menyerukan para intelektual Tiongkok untuk berguling-guling di lumpur dan menumbuhkan kapalan di tangan mereka, dan menggambarkan kutu di tubuh sebagai “serangga revolusioner.” Dari pemimpin Partai Komunis Tiongkok hingga kader biasa, semua menjadi bangga bersumpah karena hal tersebut menunjukkan kesadaran kelas mereka, komitmen terhadap revolusi, dan kedekatan dengan massa.

Dengan demikian, Partai Komunis Tiongkok memaksa rakyat untuk meninggalkan apa pun yang anggun dan beradab dan sebagai gantinya menerima gaya hidup kasar para penjahat kelas sosial rendah. Oleh sebab itu sebuah negara dengan sejarah yang begitu panjang, terkenal dengan tata krama yang baik, dimerosotkan menjadi negara dengan keadaan kacau, di mana semua orang bersaing demi ketenaran dan kekayaan. Partai Komunis Tiongkok mengubah Tiongkok menjadi sebuah kamp konsentrasi yang vulgar, sebuah ruang pamer kebudayaan komunis.

Dapat dikatakan bahwa kebudayaan Partai Komunis adalah penemuan utama yang berfungsi untuk memerosotkan umat manusia. Istilah “kebudayaan partai” mengacu pada cara berpikir, berbicara, dan berperilaku yang disebabkan oleh nilai-nilai Partai Komunis. Ideologi yang membimbing kebudayaan Partai Komunis adalah ateisme dan materialisme, termasuk konsep komunis yang ditanamkan Partai Komunis kepada mereka yang berada di bawah kekuasaannya, yang mencakup segala macam elemen kebudayaan yang menyimpang, serta aspek terburuk dari zaman kuno yang dimasukkan ke dalam paket baru.

Sejak merebut kekuasaan, Partai Komunis Tiongkok telah menggunakan banyak cara untuk menghancurkan kebudayaan tradisional, membangun dan memperkuat kebudayaan Partai Komunis Tiongkok, serta secara efektif menggunakan kebudayaan Partai Komunis Tiongkok untuk mengubah pemikiran rakyat Tiongkok.

Di bawah kendali dan penyusupan kebudayaan Partai Komunis, semua bidang kehidupan — termasuk sastra, seni, dan pendidikan — telah merosot. Kebudayaan Partai Komunis menunjukkan karakteristik ideologis Partai Komunis: Ateisme, filosofi perjuangan, serta penolakan untuk percaya bahwa dewa yang hadir di mana-mana dan penolakan untuk percaya bahwa ada keadilan di dunia. [3]

Sebaliknya, Partai Komunis ingin bertarung dengan surga, bumi, dan umat manusia. Partai Komunis menanamkan serangkaian standar baik dan jahat secara licik, dan memutarbalikkan cara berpikir rakyat. Indoktrinasi ini didukung oleh kekerasan negara. Subjek Partai Komunis kemudian secara tidak kasat mata dipengaruhi oleh apa yang rakyat lihat dan dengar secara terus-menerus, sejak mereka dilahirkan, karena Partai Komunis memonopoli semua sumber daya sosial. Mesin propaganda yang terus-menerus berputar memaksa rakyat untuk membaca karya-karya para pemimpin komunis, sementara kaum elit yang dipilih disuruh menghasilkan buku teks, literatur, film, berita, dan sebagainya yang semuanya ada untuk lebih jauh menanamkan kebudayaan Partai Komunis.

Hanya butuh beberapa dekade bagi komunisme untuk membuat rakyat Tiongkok berpikir selaras dengan pemikiran Partai Komunis Tiongkok, berbicara selaras dengan bahasa Partai Komunis Tiongkok, berhenti percaya pada dewa, bertindak tanpa memperhatikan konsekuensinya, dan berani melakukan apa saja. Hampir setiap interaksi interpersonal mungkin melibatkan penipuan, dan tidak ada sanksi apa pun untuk hal tersebut. Bahasa Partai Komunis Tiongkok yang seperti zombie dan kebohongan siap-pakai adalah luar biasa.

Lima puluh tahun yang lalu, selama Revolusi Kebudayaan, Pengawal Merah terbenam dalam kebudayaan Partai Komunis Tiongkok. Kini Pengawal Merah sudah tua dan telah membawa kebiasaan ganas seperti itu kepada generasi muda. Anak-anak dan remaja yang dibesarkan dalam kebudayaan Partai Komunis Tiongkok adalah licik dan dewasa melebihi usia mereka. Mereka tahu segalanya buruk sejak usia muda. Anggota generasi muda tidak percaya kepada Tuhan, tidak bermoral dan sombong. Pengekangan dan moralitas seksual telah runtuh. Ketika terpancing atau marah, mereka mungkin menyerang dengan kejam. Dengan demikian mereka berkontribusi pada penghancuran moralitas. Rakyat Tiongkok yang telah kehilangan akar tradisionalnya telah mempelajari semua bagian terburuk dari gerakan kontra-kebudayaan Barat.

Kebudayaan Partai Komunis Tiongkok telah membuat rakyat Tiongkok saat ini jauh dari nilai-nilai universal. Akal budi, gagasan, dan perilaku rakyat Tiongkok telah mengalami perubahan dan penyimpangan yang mendalam, yaitu menyimpang dari keluarga, sosial, pendidikan, dan hubungan kerja yang normal, dan sering tidak sesuai dengan rakyat dari masyarakat non-komunis dan sulit untuk mereka pahami.

Partai Komunis Tiongkok kini berbicara mengenai memulihkan kebudayaan tradisional, tetapi apa yang dipulihkannya bukanlah kebudayaan tradisional yang sebenarnya. Yang dimaksud hanyalah kebudayaan Partai Komunis Tiongkok dengan penampilan tradisional, tidak ada kehadiran aspek terpenting dari tradisi Tiongkok – kepercayaan pada dewa.

Di bawah bimbingan kebudayaan Partai Komunis Tiongkok ini, rakyat Tiongkok bahkan memanfaatkan dewa untuk menghasilkan uang. Kuil Nenek di Kabupaten Yi, Provinsi Hebei, adalah sangat populer, dan dikatakan bahwa rakyat dapat menemukan semua “dewa” yang ingin mereka sembah di sana. Jika seseorang ingin menjadi pejabat pemerintah, ada yang disebut “dewa pejabat” untuk disembah. Demikian pula, ada “dewa kekayaan” yang terdiri dari uang kertas, “dewa belajar,” dan bahkan “dewa mobil” yang memegang setir. Administrator Kuil Nenek telah menyombongkan diri, “Bila ada dewa yang kurang, buat saja dewa yang baru.” [3]

Tiongkok modern juga terlibat dalam gerakan yang seharusnya menghidupkan kembali tradisi, tetapi mengingat kemerosotan moral masa kini, seberapa mudah Tiongkok modern untuk benar-benar kembali ke tradisi? Meskipun banyak karya seni dan sastra merekapitulasi kisah-kisah kuno, isinya dinodai oleh ide-ide kontemporer. Aktor mengenakan pakaian tradisional tetapi terlibat dalam drama kontemporer; dengan demikian kebudayaan tradisional menjadi bagian luar dan makna sebenarnya lebih jauh dikaburkan. Sebagai contoh, drama istana yang ditetapkan di kekaisaran Tiongkok telah populer dalam beberapa tahun terakhir, tetapi drama tersebut berputar di sekitar lingkungan yang penuh kecemburuan dan intrik – tampilan perjuangan dan kebencian yang melekat dalam komunisme daripada refleksi realitas sejarah.

Bahkan adaptasi Perjalanan Ke Barat yang dengan sewenang-wenang telah membuat Sun Gokong merangkul dan jatuh cinta pada iblis yang sebenarnya ia kalahkan dalam novel klasik tersebut. Yang lebih menakutkan adalah banyak orang – terutama anak muda yang tidak tahu apa-apa mengenai kebudayaan tradisional Tiongkok – menganggap semua ini sebagai kebudayaan tradisional Tiongkok. Ini adalah konsekuensi dari pembusukan Partai Komunis Tiongkok terhadap kebudayaan Ilahi sejati Tiongkok, menggantikannya dan mengindoktrinasi publik dengan kebudayaan Partai Komunis Tiongkok selama beberapa dekade. Oleh karena itu, rakyat Tiongkok berpikir bahwa etos perjuangan itu adalah kebudayaan tradisional, dan bahwa seni, sastra, dan drama yang dipenuhi oleh ide kebudayaan Partai Komunis Tiongkok, tetapi berkedok kebudayaan tradisional Tiongkok, adalah hal yang nyata.

Kebudayaan Partai Komunis Tiongkok menyebabkan rakyat tidak percaya pada dewa. Krisis integritas adalah konsekuensi paling langsung: Penipuan, barang palsu, makanan beracun, korupsi, dan banyak lagi semuanya telah menjadi fenomena umum. Apa yang disebut kebudayaan Shanzhai adalah contoh khas dari krisis integritas ini. “Kebudayaan Shanzhai” mengacu pada pemalsuan produk atau merek yang terkenal, terutama asing. Hal itu sama dengan pencurian dan penipuan. Istilah ini telah menjadi sangat terkenal sehingga Kamus Tiongkok-Inggris Oxford memasukkannya sebagai kata baru. [4]

Perilaku Shanzhai di Tiongkok tidak hanya mencakup produk palsu, tetapi juga seluruh toko. Toko Apple palsu telah terbukti ada berulang kali di Tiongkok. [5] Toko Apple palsu secara teliti dilengkapi dengan semua hiasan toko Apple asli: Bagian depan kaca, meja pajangan kayu-ringan, tangga baja, poster iPad dan produk Apple lainnya, serta dinding aksesori yang tertata rapi dengan logo Apple warna putih. Staf toko Apple palsu mengenakan kaus biru tua yang khas dengan logo Apple dan bahkan tampak meyakinkan bahwa mereka bekerja di toko Apple asli. Dalam suasana sosial yang ditandai dengan kejenakaan seperti itu, beberapa orang Tiongkok tidak berhenti untuk kepentingannya dan tidak takut hukuman dari Surga atau manusia. Berbohong dan pemalsuan menjadi bagian kebudayan arus utama. Mereka yang menolak pemalsuan dianggap sebagai orang aneh.

Kebudayaan Partai Komunis Tiongkok juga merusak bahasa, yang mencakup penggunaan kata-kata dan frasa hiperbolik. Restoran diberi nama Surga Di Atas Surga, Dinasti Dari Segala Dinasti, Raja dari Segala Raja, dan sejenisnya. Gaya sastra menjadi sombong, dan dalam propaganda resmi, frasa seperti “yang pertama di dunia,” “yang paling tangguh dalam sejarah,” “Amerika Serikat adalah penakut,” “Jepang terperanjat,” “penyesalan Eropa,” dan sejenisnya secara teratur muncul.

Berita di WeChat, aplikasi media sosial Tiongkok yang populer, dan media online adalah penuh dengan tajuk utama. Berikut ini adalah contoh khas: “Kekuatan ilmiah dan teknologi Tiongkok melampaui Amerika Serikat dan menempati urutan pertama di dunia.” “Tiongkok kembali menjadi juara dunia, secara pribadi mengalahkan blue chips Amerika Serikat dan sepenuhnya menaklukkan Apple.” “Sesuatu yang besar akan terjadi. Senjata ajaib di Tiongkok lagi-lagi membuat Amerika Serikat menjadi takut, dunia tertegun, Jepang benar-benar takut.” “Tiongkok adalah No. 1 di dunia di bidang lain! Menyelesaikan perubahan besar dalam sejarah hanya dalam tiga puluh tahun, membuat Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan kagum.” “Huawei mengumumkan telah menciptakan chip 5G pertama di dunia, yang mengejutkan dunia!”

Film propaganda Awesome, My Country! dan serial khusus program televisi bernama Great, My Country! juga penuh dengan nada dan makna yang berlebihan. Mereka membuatnya seolah-olah seluruh dunia menyerah kepada Tiongkok. Mereka menyampaikan sikap harum propaganda yang digunakan selama Lompatan Jauh Ke Depan, ketika Partai Komunis Tiongkok mengklaim Tiongkok akan melampaui Inggris, mengejar ketinggalan dengan Amerika Serikat, dan menghasilkan 50.000 pon makanan per hektar.

Gelombang baru yang dilebih-lebihkan adalah manifestasi yang nyata dari “etos yang palsu, dibesar-besarkan, kosong” (seperti yang dikenal di Tiongkok) dari kebudayaan Partai Komunis Tiongkok di era online.

Pertanyaan mendasarnya adalah masih satu integritas. Reformasi dan keterbukaan melalui tahun 1980-an hingga 1990-an membawa perubahan bagi Tiongkok dalam bentuk aspek terburuk dari kebudayaan Barat kontemporer, seperti seks bebas, penyalahgunaan narkoba, homoseksualitas, permainan komputer, dan sejenisnya. Program hiburan di televisi menjadi vulgar. Seluruh masyarakat telah menjadi istana kesenangan untuk mengumbar nafsu material dan duniawi.

Komunisme telah mengubah rakyat Tiongkok menjadi lebih rendah daripada manusia, dan mengubah Tiongkok, negara yang dulunya beradab, megah, dan indah, menjadi tempat yang tidak beradab.

2. Subversi Komunisme terhadap Kebudayaan Masyarakat Barat

Negara-negara Barat di dunia bebas telah dikenal dengan masyarakatnya yang beradab, di mana para pria adalah sopan serta para wanita adalah berbudi luhur dan anggun, dan di mana orang memperlakukan satu sama lain dengan jujur dan bersahabat.

Komunisme telah menerapkan pengaturan di negara-negara Barat untuk menumbangkan dan menyabot peradaban ini. Meskipun komunisme tidak dapat menggunakan kekerasan dan totaliterisme untuk secara langsung merusak peradaban Barat dan kebudayaan masyarakat Barat seperti yang terjadi di Tiongkok, komunisme telah, seperti di Tiongkok, memprovokasi pikiran dan perilaku yang negatif dan memberontak pada masyarakat Barat untuk merusak tradisi, menghancurkan moral publik, dan merusak moralitas individu.

Setelah Sekutu menang dalam Perang Dunia II, sama seperti publik yang senang, satu kelompok sudah bekerja keras di bidang ideologi dan kebudayaan. Sementara merefleksikan perang dan gelombang baru ideologi yang akan datang, mereka membantu membawa perubahan sistematis dari tradisi yang menghubungkan manusia dengan yang Ilahi.

Di Amerika Serikat, Beat Generation, yang muncul setelah Perang Dunia II, merujuk pada sekelompok penulis Amerika pasca-perang pada tahun 1950-an. Mereka adalah nenek moyang dari seni dan gerakan sastra yang tujuannya adalah untuk merusak masyarakat. Sementara mereka secara tepat membenci beberapa kemunafikan kerusakan moral dalam masyarakat pada saat itu, tanggapan mereka adalah secara sinis menolak dan menjungkirbalikkan semua moralitas tradisional.

Sebagian besar anggota Beat Generation adalah nihilis dan sinis. Mereka menganjurkan kebebasan yang tidak terkendali; memberi kekuasaan penuh atas ide-ide pribadinya sendiri mengenai dunia; menolak kebajikan tradisional; mempelajari pseudo-mistisisme, narkoba, dan kejahatan; dan menjalani kehidupan tanpa kedisplinan yang disengaja. Upaya kritik radikal mereka terhadap masyarakat borjuis dan kapitalis selaras dengan dorongan ideologis komunisme di Barat, dan dengan demikian mereka dengan mudah menjadi alat komunisme.

Banyak anggota Beat Generation memang sangat dipengaruhi oleh ideologi komunis dan sosialis. Misalnya, Jack Kerouac, pendiri Beat Generation, menulis cerita pendek “Kelahiran Seorang Sosialis” sebelum ia menjadi terkenal. Cerita pendek tersebut mengenai pemberontakannya terhadap masyarakat kapitalis. [6] Perwakilan lain dari Beat Generation, Allen Ginsberg, kemudian secara terbuka menjadi seorang komunis (lihat Bab 11 buku ini) dan mendukung pedofilia. Karya-karya mereka menolak kaidah tradisional, sengaja tidak terorganisir, dan menggunakan bahasa yang vulgar. Kelompok ini adalah keberangkatan besar pertama dari aturan dan prinsip-prinsip tradisi, dan mereka mewakili dalam bentuk baru lahir gerakan kontra-kebudayaan yang akan menelan Barat pada tahun 1960-an.

Pada tahun 1960-an tampak perluasan dan perpanjangan dari apa yang telah diusulkan oleh Beat Generation, dengan subkultur seperti hippie, punk, goth, dan banyak lagi. Kecenderungan kontra-kebudayaan ini menemukan khalayak yang bersemangat di daerah-daerah perkotaan di Barat, menggoda satu generasi muda demi kekerasan, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, pakaian yang tidak sesuai aturan, keterasingan kebudayaan, dan akhirnya kecenderungan ke arah kegelapan dan kematian.

Pada tahun 1968, Beat Generation mencapai klimaksnya sekitar waktu pembunuhan Martin Luther King Jr dan Robert Kennedy, serta semakin sengitnya Perang Vietnam. Pada musim semi tahun 1968, sekitar 2.000 kaum hippie berkumpul di Golden Gate Park di San Francisco selama beberapa hari dan malam, mengekspresikan perlawanannya terhadap masyarakat dengan cara berperilaku aneh, musik rock-and-roll, lagu, puisi, telanjang, dan penggunaan narkoba.

Pada musim panas tahun 1969, lebih dari 400.000 orang berkumpul dengan cara yang sama di festival Woodstock, yang diadakan di sebuah pertanian di barat laut New York City. Mereka meneriakkan slogan-slogan “cinta,” “kebebasan,” dan “perdamaian.” Diiringi dengan rock-and-roll, ratusan ribu orang terlibat dalam pesta pora dan kesenangan yang liar, yang semuanya berkontribusi untuk menyeret para peserta dan masyarakat ke dalam kekasaran, kemerosotan, dan penurunan moral. Woodstock adalah acara kebudayaan yang bermakna untuk tahun 1960-an, dan selama beberapa dekade berikutnya, Central Park di New York, Golden Gate Park di San Francisco, dan Woodstock semuanya menjadi simbol kontra-kebudayaan orang Amerika Serikat.

Persis saat kontra-kebudayaan di Amerika Serikat lepas landas, kekacauan yang melibatkan jutaan orang terjadi di Prancis, yang kini dikenal sebagai peristiwa Mei ‘68. Peristiwa tersebut dimulai oleh para mahasiswa muda yang marah memberontak terhadap moralitas dan kebudayaan tradisional.

Pada waktu itu, sekolah-sekolah memberlakukan pemisahan ketat antara asrama mahasiswa dengan mahasiswi, dan kaum LGBT dilarang datang dan pergi secara bebas dari kamar masing-masing. Penghapusan ketentuan ini dan tuntutan hak atas aktivitas seksual di asrama mahasiswa menjadi salah satu tujuan utama protes awal. Pemberontakan mahasiswa kemudian menemukan dukungan dari partai sosialis dan komunis di Perancis. Dengan demikian, generasi muda, melalui kekacauan dan pemberontakan, bergerak menghancurkan prinsip-prinsip moral dan pengekangan yang ditetapkan dan dianugerahkan untuk umat manusia sejak zaman kuno.

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa pada akhir tahun 1960-an, ada dua pusat revolusi: Satu adalah Beijing, tempat Revolusi Kebudayaan berada dalam masa puncaknya; yang lainnya adalah Paris, tempat peristiwa Mei ‘68 mengguncang dunia, di mana banyak orang menyebutnya sebagai Revolusi Kebudayaan Barat. Pada saat itu, mahasiswa Tiongkok berbaris dengan slogan dan spanduk untuk mendukung pemberontak mahasiswa Prancis, sementara di Paris yang nun jauh di sana, “Pengawal Merah Barat” mengenakan topi militer hijau dan seragam dengan ban lengan merah untuk mendukung Maois di Tiongkok. Mereka mengangkat potret besar Mao Zedong saat parade, dan “tiga M” —Marx, Mao, dan Marcuse — menjadi andalan ideologis mereka. [7]

Jepang juga memulai gerakan kontra-kebudayaannya pada tahun 1960-an. Jepang (Zengakuren, Himpunan Mahasiswa Seluruh Jepang) yang dibentuk dan diorganisir oleh Partai Komunis Jepang, memiliki pengaruh luas di kalangan mahasiswa pada saat itu. Mereka pada gilirannya dikendalikan dan diorganisir oleh Partai Komunis dan dimobilisasi sebagai reaksi terhadap kegiatan Pengawal Merah di Tiongkok. Himpunan Mahasiswa Seluruh Jepang mengorganisir banyak demonstrasi kontra-kebudayaan di Jepang bersama dengan organisasi mahasiswa sayap Kiri lainnya, seperti Tentara Merah Jepang (Nihon Sekigun) dan Dewan Perjuangan Bersama Semua Kampus, dan bahkan mengancam masyarakat Jepang dengan kekerasan. [8]

Kekacauan serupa juga terjadi di beberapa negara Amerika Latin dan Amerika Tengah. Misalnya, di bawah pengaruh Partai Komunis Kuba, gerakan mahasiswa Plaza de las Tres Culturas di Mexico terlibat dalam mobilisasi skala kecil, dan kelompok mahasiswa sayap Kiri lainnya mengirim telegraf kepada para mahasiswa di Paris untuk mendukung kejenakaan Mei ‘68.

Banyak orang yang mungkin menganggap rangkaian tindakan di atas sebagian besar adalah kebetulan belaka. Namun, dari sudut pandang yang lebih tinggi, seluruh gerakan kontra-

kebudayaan baik di Timur maupun Barat adalah bagian pengaturan komunisme untuk merongrong moralitas masyarakat. Tradisi dan nilai-nilai moral yang ditinggalkan bagi manusia oleh Tuhan telah melalui ribuan tahun sejarah, tetapi di bawah pengaruh gerakan komunis secara global ini, tradisi dan nilai-nilai moral tersebut telah menderita kerusakan yang luar biasa.

Gerakan kontra-kebudayaan semuanya telah membangkitkan ketidakpuasan dan mencambuk masyarakat menjadi hiruk-pikuk untuk merusak moralitas dan ide-ide tradisional. Kebudayaan tradisional Tiongkok yang berusia 5.000 tahun telah hancur ketika Empat Tua diserang dalam Revolusi Kebudayaan.

Musik rock Barat, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, aborsi, pakaian yang tidak konvensional, dan seni avant-garde semuanya merupakan penyimpangan dari norma-norma tradisional dan keyakinan ortodoks. Selain itu, adat istiadat yang menyimpang, seperti homoseksualitas dan bersetubuh dengan siapa saja, semuanya menjadi populer, membawa dampak negatif yang langgeng bagi seluruh masyarakat Barat. Kemuliaan kebudayaan Ilahi sebagian besar telah dibuang di Barat, dan peradaban Barat telah kehilangan kemegahan dan kemilauannya.

3. Kebudayaan Pop dan Kekacauan Sosial

Dengan diserang dan ditumbangkannya kebudayaan tradisional, unsur negatif dari ideologi anti-tradisional mulai meresap dan membawa kekacauan. Bagian berikut ini bertujuan mengungkap kekacauan yang terjadi pada masyarakat Amerika Serikat kontemporer oleh kebudayaan yang menyimpang ini. Dengan Amerika sebagai pemimpin de facto dalam nada kebudayaan populer secara global, penyimpangan produksi kebudayaan Amerika Serikat telah memiliki dampak negatif yang sangat besar pada dunia.

Seperti yang disebutkan, beberapa negara yang secara tradisional konservatif dengan kebudayaan tradisional yang mendalam, seperti Tiongkok dan Jepang, mendapati kebudayaan populer Amerika Serikat yang telah menyimpang sebagai sesuatu yang tidak dapat ditolak dan berusaha mencontohnya. Hasilnya adalah asusila, perilaku yang tidak terkendali, dan etos pemberontak, anti-sosial, dan amoral yang penuh dengan sinisme, mengumbar diri sendiri, dan kemerosotan menyebar di seluruh dunia.

a. Hip-Hop dan Rock-and-Roll

Fokus musik tradisional adalah pada manusia yang beradab, menumbuhkan kebajikan, dan membantu manusia menjadi sehat baik secara mental maupun fisik. Efeknya adalah harmoni sosial, serta harmoni antara manusia dengan alam. Musik yang indah yang merayakan kemuliaan Tuhan dipromosikan, sementara musik tanpa nada, yang kacau, atau tidak senonoh adalah terkutuk. Tetapi kini, kebudayaan populer penuh dengan produksi musik yang sangat merusak, di mana hip-hop dan rock-and-roll menjadi contoh yang mencolok.

Hip-hop muncul di New York pada tahun 1970-an. Dimulai di jalanan, pertama-tama memengaruhi komunitas kulit hitam, kemudian orang Amerika Latin dan orang Amerika Jamaika. Pemain hip-hop, atau rapper, menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap masyarakat dan politik melalui sajaknya. Banyak penduduk di komunitas miskin, yang tidak terlibat dalam kegiatan produktif, bergabung. Oleh karena itu, hip-hop, dan praktik terkaitnya seperti break dance dan graffiti, berasal dari kemiskinan dan kebosanan. Rap berfokus pada topik seperti kekerasan, senjata, pornografi, kecabulan, kebobrokan, rasisme, dan kemiskinan, yang semuanya dimuliakan dalam lirik berirama yang dinyanyikan dengan irama.

Selama beberapa dekade terakhir, rap dan break dance telah diekspor dari New York dan menjadi kegemaran global. Hip-hop telah menjadi bagian kebudayaan populer di Asia, Eropa, dan banyak kota di Afrika. Terlepas dari kerusakan moral yang jelas akibat dari musik ini, dengan fokus pada bersetubuh dengan siapa saja, pembunuhan, kekerasan, dan narkoba, hip-hop telah mendapatkan pengakuan dunia dan bahkan dirayakan di bioskop-bioskop terkenal di dunia.

Dalam pertunjukan musikal Broadway Hamilton, kehidupan Alexander Hamilton, Menteri Keuangan pertama Amerika Serikat, diungkap. Musikal tersebut menjadi hit instan dalam bisnis pertunjukan Amerika Serikat dan telah memenangkan banyak penghargaan. Ditampilkan di Kennedy Center di Washington selama hampir tiga bulan. Pertunjukan tersebut mencatat rekor box office di Broadway, dan kadang tiket mahal hanya dapat dibeli setelah menunggu dalam antrian online selama berjam-jam. [9]

Asal usul rock-and-roll lebih awal daripada hip-hop, menelusuri kembali ke tahun 1940-an. Tidak seperti hip-hop, yang memberikan irama yang diucapkan secara berirama, rock-and-roll menggunakan drum dan gitar di latar belakang vokalnya. Rock-and-roll terkait erat dengan Beat Generation, dan banyak penyanyi rock terinspirasi oleh Beat Generation, di mana kedua kelompok ini sering bergaul dan berkolaborasi.

Pada tahun 1960-an, rock-and-roll telah menjadi musik tema kontra-kebudayaan. Rock-and-roll membawa pendengar ke keadaan pikiran yang gila dan tidak rasional. Nyanyian histeris yang diiringi dengan permainan gitar listrik yang menyimpang dan drum yang intens membuat para pendengar menikmati insting dan hasrat sensualnya. Dengan alasan yang dikesampingkan, sifat iblis yang biasanya dihilangkan karena tuntutan peradaban menjadi dilepaskan – dalam banyak kasus, pendengar hanya menyerahkan dirinya ke kendali kekuatan tingkat-rendah.

Lebih buruk lagi, nihilisme menjadi sikap dominan rock, sementara banyak subgenre rock mendorong perilaku merusak lainnya. Psychedelic rock mendorong penggunaan narkoba, misalnya, sementara beberapa psychedelic dan lainnya, bentuk-bentuk rock yang lebih gelap menyerukan pemberontakan, bunuh diri, kekerasan, dan homoseksualitas, atau mendorong bersetubuh dengan siapa saja, perzinahan, dan menolak pernikahan. Lirik menganjurkan kecabulan atau hawa nafsu, atau senang memuji kejahatan dan mengutuk yang Ilahi.

Sebagai contoh, beberapa yang disebut superstar rock membenarkan pelecehan seksual terhadap gadis-gadis di bawah umur dengan lirik populer mereka, yang membuat hadirin peka terhadap kebudayaan pelecehan seksual dan bersetubuh dengan siapa saja. Beberapa lirik penuh perselisihan, seperti “Hei! Sebut namaku si Pengacau/Aku akan berteriak dan menjerit/Aku akan membunuh Raja, aku akan mencerca semua pelayannya” (dari “Street Fighting Man”oleh The Rolling Stones). Satu lagu berjudul “Simpati untuk Iblis.” Satu album oleh kelompok psychedelic rock berjudul disebut “Permintaan Setan yang Mulia.” Sebuah lagu terkenal berjudul “Jalan Menuju Neraka”: “Hai Setan/Saya menunaikan tugas saya…saya di jalan raya menuju neraka.” Beberapa lagu rock memuji sosialisme dan komunisme. Misalnya, lagu “Imagine” yang terkenal menantang pendengarnya untuk membayangkan masyarakat komunis yang bebas dari surga, neraka, agama, negara, dan kepemilikan pribadi.

Bahkan kelompok agama merasa sulit untuk menolak dampak negatif rock-and-roll. Musik gereja Kristen ditujukan untuk memuji Tuhan, sementara musik rock-and-roll ditampilkan karena kesenangannya dalam kejahatan. Namun karena popularitas rock-and-roll, musik modern gereja-gereja Kristen mengadopsi unsur-unsur rock untuk menarik perhatian para kaum muda, sehingga melahirkan apa yang disebut Musik Kristen Kontemporer. [10]

Yang menyertai rock-and-roll adalah perzinahan, kekerasan, kebobrokan, penyalahgunaan narkoba, korupsi, dan oposisi terhadap kepercayaan pada dewa apa pun. Tingkah laku yang rusak yang dilarang oleh moralitas dan kepercayaan tradisional semuanya muncul bersamaan dengan munculnya musik rock.

b. Penyalahgunaan Narkoba

Penyalahgunaan narkoba telah menjadi masalah global selama beberapa dekade terakhir. Pada tahap awal, akar penyalahgunaan narkoba dalam skala besar di Barat adalah kontra-kebudayaan. Dalam kampanye melawan moralitas borjuis, kaum hippie berusaha mendekonstruksi dan merusak semua tradisi serta untuk menegakkan kepercayaan, standar moral, dan gaya hidup mereka sendiri.

Pengalaman mengkonsumsi asam lisergat dietilamida (LSD) dan jamur halusinasi psilocybin dianggap sebagai penjelajahan spiritual mereka, sementara mereka menggunakan amfetamin atau kokain sebagai upper serta heroin dan barbiturat sebagai downer, semuanya ini dimaksudkan untuk menyingkirkan mereka dari dunia dan membawa mereka ke dimensi lain.

Banyak anggota muda dari gerakan kontra-kebudayaan memiliki ketertarikan yang kuat pada filosofi Timur dan praktik kultivasi, tetapi psychedelic menjadi jalan pintas bagi mereka untuk mencari wawasan karena mereka tidak perlu bagi menanggung tantangan mengolah pikiran atau sakit fisik saat meditasi.

Sebaliknya, dengan hanya mengonsumsi asam lisergat dietilamida, mereka akan mengalami pseudo-spiritual, meskipun tidak menghubungkan mereka dengan sesuatu yang nyata. Pada kenyataannya, narkoba semacam itu hanya menempatkan tubuh mereka di tangan entitas tingkat-rendah, sama sekali tidak terkait dengan praktik kultivasi ortodoks yang sejati. Yang memalukan adalah bahwa pengalaman ini menuntun banyak orang dengan aspirasi spiritual sejati ke jalan yang serong.

Banyak penyanyi pop dan bintang rock meninggal dalam usia 20-an dan 30-an, sering akibat overdosis. Di Amerika Serikat kontemporer, perang terpanjang dan paling menyedihkan mungkin adalah perang terhadap narkoba. Amerika Serikat telah mendedikasikan dirinya untuk menangkap dan memantau jutaan penyelundup narkoba selama beberapa dekade. Pejabat pemerintah telah berulang kali memperingatkan terhadap narkoba, namun penggunaan narkoba ilegal masih terus berlangsung. Sejak tahun 2000, lebih dari 300.000 orang Amerika Serikat meninggal akibat overdosis opioid. Pada tanggal 26 Oktober 2017, Presiden Donald Trump menyatakan krisis opioid sebagai darurat kesehatan masyarakat, dan menguraikan cara-cara di mana ia akan memerangi masalah tersebut. [11]

Menurut laporan tahun 2017 oleh National Institute on Drug Abuse for Teens atau Institut Nasional Penyalahgunaan Narkoba untuk Remaja, penggunaan ganja di kalangan pelajar merajalela: 45 Persen siswa kelas 12 mengatakan mereka pernah menggunakan ganja, dan 37,1 persen dari mereka menggunakannya pada tahun lalu; 71 persen pelajar SMU percaya bahwa sering menggunakan ganja adalah tidak berbahaya. [12]

Menggunakan ekstasi dan merokok ganja telah menjadi standar di kalangan kaum muda, sementara narkoba yang lebih baru dan lebih kuat terus bermunculan. Heroin yang dicampur dengan fentanyl, misalnya, jauh lebih kuat daripada heroin itu sendiri. Dosis heroin yang mematikan adalah 30 miligram setara dengan hanya 3 miligram fentanyl. [13] Fentanyl bahkan disebut sebagai senjata kimia. Namun fentanyl yang merusak dengan kecepatan yang mengerikan sedang membanjiri jalan-jalan di Amerika Serikat, membunuh lebih banyak orang daripada opioid lain, hanya karena sangat mudah menimbulkan overdosis.

Menurut National Institute of Drug Abuse atau Institut Penyalahgunaan Obat Nasional, pada tahun 2016, di antara 65.000 orang yang meninggal akibat overdosis, 20.000 kasus disebabkan oleh fentanyl. [14] Penyelundupan fentanil dari Tiongkok telah banyak dilaporkan. Pada bulan Juli 2018, otoritas pelabuhan di Philadelphia melakukan inspeksi rutin ketika mereka menemukan dan menyita 110 pon fentanil dalam kargo dari Tiongkok, dengan harga jual di jalan-jalan Amerika Serikat sebesar usd 1,7 juta. [15]

Di Tiongkok, penyalahgunaan narkoba juga bagaikan kanker di masyarakat. Produksi dan penyalahgunaan narkoba, terutama narkoba sintetis, telah merajalela. Penjualan narkoba di internet juga di luar kendali. Menurut laporan Komisi Kendali Narkotika Nasional Tiongkok pada tahun 2015, jumlah pengguna obat terlarang melebihi empat belas juta orang. Jumlah sebenarnya mungkin lebih tinggi karena pengguna narkoba semakin mencakup pekerja profesional, pekerja lepas, penghibur, dan pegawai negeri. [16]

Laporan Situasi Narkotika Tiongkok tahun 2017 dari Komisi Kendali Narkotika Nasional Tiongkok menunjukkan bahwa Departemen Narkotika Tiongkok telah memecahkan 140.000 kasus narkoba, menghancurkan 5.534 kelompok penyelundupan narkoba, menangkap 169.000 tersangka perdagangan manusia, menyita 89,2 ton narkoba, dan melakukan 870.000 penggerebekan, yang mengungkap 340.000 pengguna narkoba baru. [17]

Menggunakan narkoba dapat membuat manusia menjadi kehilangan akal. Zat-zat ini seringkali sangat membuat kecanduan, membuat manusia kehilangan nyawanya akibat overdosis, menghancurkan keluarganya, merusak kariernya, dan menyabot reputasi dan persahabatannya. Beberapa pengguna narkoba menjadi penjahat. Menggunakan dan memperdagangkan narkoba membahayakan individu, keluarga, dan seluruh negara, dan karenanya menjadi satu lagi fenomena kelam yang mengganggu masyarakat modern.

c. Pornografi

Dari semua bentuk revolusi yang diminta oleh komunis, yang paling menyeluruh mungkin adalah revolusi seksual. Jika perebutan kekuasaan politik menandai sebuah revolusi melawan komponen-komponen nyata masyarakat, maka seks bebas adalah revolusi komunis yang dihasut dalam diri manusia.

Panseksualisme Freud, sebuah teori yang menganggap semua keinginan dan minat berasal dari naluri seks, memberikan dasar teoretis untuk seks bebas, sementara munculnya kontrasepsi oral mulai memisahkan jenis kelamin dari reproduksi. Revolusi seksual menyerang moralitas tradisional, dan membawa serta mempromosikan feminisme radikal, aborsi, seks pranikah, dan gerakan homoseksual. Semua ini membawa dampak yang sangat besar dan mengerikan pada tatanan sosial yang ditetapkan bagi manusia oleh Tuhan, dan hadir dengan banyak penyakit sosial.

Seks bebas membentuk gagasan yang menyimpang bahwa berpartisipasi dalam seks rekreasi dan perdagangan seks adalah hak asasi manusia yang mendasar. Hal tersebut menghancurkan etika dan pengekangan seksual tradisional, dan memungkinkan seks menjadi suatu permainan dan bentuk hiburan. Hal itu mengubah manusia menjadi alat seks belaka dan membuka pintu air bagi pornografi untuk menyusup dan menyabotase masyarakat.

Pada tahun 1950-an, Majalah Playboy berperan sangat penting dalam membantu kesenangan seksual, dan membuat bisnis dari pornografi. Sementara slogan “bercinta, bukan perang,” muncul di era anti-perang, film dewasa telanjang bulat pertama, Blue Movie, muncul pada tahun 1969. Era 15 tahun (1969–1984) “bergaya porno,” disertai dengan musik rock dan penolakan terhadap semua tradisi, muncul di Barat.

Ukuran industri pornografi saat ini adalah mengkhawatirkan. Di seluruh dunia, industri pornografi melakukan bisnis sekitar USD 100 miliar per tahun, di mana USD 10 miliar hingga USD 12 miliar di Amerika Serikat saja. [18] Pada tahun 1970-an, film porno hanya tersedia di bioskop dewasa yang kumuh. Pada awal tahun 1980-an, VHS (sistem video rumah) telah membawa pornografi ke jutaan rumah tangga, sementara penyebaran internet pada akhir tahun 1990-an, dan kemudian era telepon pintar, membawa pornografi sesuai permintaan.

Industri porno di Jepang telah dinormalisasi sebagai bagian masyarakat, di mana rak majalah penuh dengan majalah dan komik dewasa terlihat di supermarket, dan program televisi larut malam menampilkan aktor porno. Aktris porno dikemas sebagai idola remaja dan secara terbuka muncul di media. Industri porno Jepang telah membawa pengaruh serius dan negatif terhadap seluruh Asia.

Pengenalan internet dan telepon pintar telah membawa perubahan besar pada industri pornografi. Total konten pornografi yang mungkin dialami orang dewasa pada tahun 1980-an kini dapat diakses oleh seorang anak hanya dalam beberapa menit. Dulu, anak-anak biasa bermain sepak bola dan permainan lain sepulang sekolah, tetapi kini anak-anak menonton film porno. Seorang bocah laki-laki Inggris berusia 12 tahun menjadi sangat kecanduan porno online sehingga ia memperkosa saudara perempuannya. [19] Seorang jaksa penuntut umum yang terlibat dalam kasus itu mengatakan, “Kasus-kasus seperti ini akan semakin muncul di pengadilan karena akses kaum muda sekarang menuju pornografi yang menggambarkan tingkah laku seksual secara eksplisit.”

Konsekuensi dari anak-anak yang terpapar pada pornografi mencakup kecanduan perilaku seksual; perkembangan dini dari aktivitas dan minat seksual; meningkatnya frekuensi kejahatan seks; menurunkan nilai-nilai moral; keyakinan bahwa seks tidak terkait dengan perkawinan dan hubungan, dan sebaliknya seks hanyalah layanan yang dapat dibeli sesuai permintaan; keyakinan bahwa perilaku seksual yang terlihat dalam porno adalah hal yang umum; dan normalisasi kerusakan moral dan penyimpangan seksual semacam itu.

Di sebagian besar negara Eropa, pelacuran adalah legal, dan banyak orang Eropa menganggapnya sebagai pekerjaan lain. Pada tahun 1969, Denmark menjadi negara pertama yang melegalkan pelacuran. Norwegia, yang sebelumnya memiliki batasan ketat untuk pelacuran di seluruh Eropa, melegalkannya pada tahun 2006. [20] Bahkan pembelian seks di Denmark kadang dapat disubsidi oleh pemerintah. Misalnya, jika seseorang yang cacat mengajukan permintaan dan disetujui, maka ia dapat mengunjungi rumah bordil sementara wajib pajak membayar tagihannya – untuk melindungi “persamaan hak” si cacat tersebut. [21] Proposal ini sebenarnya pertama kali didukung oleh pendiri sosialisme utopis, Charles Fourier, pada abad ke-19.

Tiongkok, sebuah masyarakat yang dulu dicirikan dengan pantang dan pengekangan, dan bahkan tempat di mana diskusi mengenai seks adalah hal yang tabu, juga bergabung dengan gelombang revolusi seksual. Dari semua kebijakan Partai Komunis Tiongkok dalam paket reformasi dan pembukaannya, yang paling “sukses” – jauh melampaui pembukaan ekonomi atau sistem politik – pastilah adalah kebijakan seks bebas. Dalam kurun waktu 30 tahun, telah terjadi transformasi total dari “disiplin revolusioner” menjadi “seks bebas.” Pelacuran merajalela di Tiongkok, dan semakin banyak simpanan yang dimiliki pengusaha kaya atau pejabat korup, maka semakin tinggi status sosial pengusaha kaya atau pejabat korup tersebut.

Tiongkok dianggap sebagai pabrik dunia, tetapi juga mengekspor sejumlah besar pelacur, termasuk ke Jepang, Malaysia, Timur Tengah, Amerika Serikat, Eropa, dan Afrika. Perkiraan pada tahun 2018 menunjukkan bahwa ada 13.000 hingga 18.500 pelacur Tiongkok di negara-negara sub-Sahara dan Afrika Selatan. [22]

Negara-negara Asia Tenggara dan Amerika Selatan adalah tidak berbeda. Banyak kota telah menjadi tujuan utama pariwisata seks, sebuah praktik yang, walaupun ilegal, telah menjadi begitu merajalela untuk berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Bahkan di negara-negara Islam, seperti Mesir, Tunisia, dan Sudan, industri pornografi — yang dilarang oleh Islam — diam-diam berjalan lancar.

Konsekuensi paling langsung dari masyarakat yang dibanjiri pornografi adalah penghancuran keluarga dan perkawinan, oleh karena itu pornografi disebut sebagai “pembunuh keluarga yang pendiam.” Melihat pornografi menyebabkan ketidaktertarikan dalam hubungan keluarga yang sehat, di mana sambil memenuhi hasrat dan nafsu birahi, pornografi menciptakan dorongan seksual yang seringkali hanya dapat dipenuhi melalui hubungan di luar nikah atau lebih buruk. [23]

Selama sidang Senat pada tahun 2004, Dr. Pat Fagan mempresentasikan data yang menunjukkan bahwa, menurut sebuah jajak pendapat pengacara perceraian dan ikatan perkawinan, 56 persen kasus perceraian mencakup satu pihak yang memiliki “minat obsesif pada situs-situs porno.” [24]

Selama pertemuan tahunan Asosiasi Sosiologis Amerika Serikat pada tahun 2016, sebuah makalah penelitian yang disajikan menunjukkan dua kali lipat dalam kasus perceraian di antara pernikahan di mana satu pihak menonton pornografi dibandingkan dengan satu pihak yang tidak menonton pornografi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa jika suami menonton film porno, tingkat perceraian meningkat dari 5 persen menjadi 10 persen, sedangkan jika istri menonton film porno, tingkat perceraian meningkat dari 6 persen menjadi 18 persen. Semakin muda usianya, maka semakin besar kemungkinan terjadinya perceraian. [25]

Sebelum tahun 1950-an, semua negara di Timur dan Barat memandang seks sebelum menikah sebagai suatu yang tidak senonoh dan bertentangan dengan perintah yang Tuhan tinggalkan bagi umat manusia. Baik tekanan sosial maupun opini publik bertindak untuk menekan kegiatan tersebut. Jika seorang pria dan wanita muda benar-benar mengandung seorang anak sebelum menikah, mereka diharapkan untuk bertanggung jawab, menikah, dan membesarkan anak tersebut bersama-sama sebagai sebuah keluarga. Pada saat itu, mayoritas orang percaya bahwa jika seorang pria menghamili seorang wanita, maka satu-satunya hal yang layak untuk dilakukannya adalah menikah dengan wanita tersebut. [26] Jika seseorang melakukan kesalahan, ia diharapkan bertanggung jawab atas kesalahan tersebut.

Namun, akibat pembusukan moral dan meningkatnya seks bebas sejak tahun 1960-an, kehamilan di luar nikah telah meningkat secara drastis. Semua ini terjadi tepat ketika industri porno mulai memiliki dampak yang lebih besar pada kesadaran publik. Pada tahun 1964, di sebagian besar negara maju, kehamilan sebelum menikah biasanya kurang dari 10 persen; pada tahun 2014, hampir sepertiga. Di Amerika Serikat, kehamilan di luar nikah rata-rata mencapai 40 persen, mencapai 71 persen di antara orang Afrika-Amerika. Di antara 140 juta bayi baru lahir di tahun 2016, sekitar 15 persen, atau 21 juta bayi, lahir di luar nikah. [27]

Keluarga dengan orangtua tunggal, kehamilan di luar nikah, dan perceraian seringkali terkait erat dengan kemiskinan. Keluarga seperti itu kemudian menambah beban pada sistem kesejahteraan sosial.

d. Video game

Kini banyak anak yang menghabiskan berjam-jam bermain video game. Pengembang video game membuat game semakin realistis, dinamis, dan interaktif. Video game yang mereka buat juga semakin berisi konten kekerasan dan erotis. Anak-anak, dan bahkan orang dewasa, mudah kecanduan bermain game, yang telah menjadi penyebab sakit kepala yang utama bagi orangtua, sekolah, dan bahkan pemerintah.

Kini video game merupakan bentuk kebudayaan populer yang menyertai manusia dari masa kanak-kanak hingga dewasa, tetapi kebudayaan macam apa itu? Itu adalah kebudayaan penghancuran, tidak ada bedanya dengan narkoba. Mereka yang kecanduan video game tidak dapat melihat kekurangannya dengan cara yang bijaksana dan obyektif. Mereka hanya menganggap permainan itu adalah menyenangkan dan menarik serta tidak akan menyerah sampai mereka menang, maju ke tingkat berikutnya, mengalahkan bos, dan sebagainya.

Selain itu, hampir semua video game saat ini, mulai dari citra hingga plot, adalah menganjurkan kekerasan dan pembunuhan, atau mengandung konten erotis atau berdarah dingin. Sederhananya, pesan-pesan tersebut menyampaikan daya tarik pada sifat iblis dalam diri manusia. Semua ini adalah tidak pantas dan berbahaya bagi remaja dan kaum muda yang masih tumbuh dewasa. Memberi perasaan kegembiraan akibat melakukan pembunuhan, perusakan, kekerasan, dan pertempuran dapat membuat kaum muda menjadi tidak peka, memperkenalkan mereka pada pikiran dan perilaku yang tidak sehat, dan bahkan dapat berkontribusi pada beberapa kejahatan yang dilakukan.

Game online bahkan lebih membuat ketagihan. Di masa lalu, game digunakan untuk menghabiskan waktu ketika orang sendirian dan merasa bosan. Saat ini, game online telah menjadi olahraga di mana pemain berusaha untuk berpartisipasi dan bersaing satu sama lain. Game online dengan demikian telah menjadi kegiatan sosial dalam dan dari dirinya sendiri, terutama untuk anak-anak. Karena sejumlah besar pemain berinteraksi dalam permainan, mereka bersaing dan menjadi terpesona dalam dunia virtual permainan.

Sejumlah besar energi dan modal diinvestasikan dalam permainan semacam itu, dan anak-anak yang tidak memainkannya mungkin menjadi anak yang aneh di lingkaran pertemanan mereka. Dengan demikian, hampir bertentangan dengan kehendak orangtua, orangtua dipaksa untuk mengizinkan anak-anaknya untuk bergabung dengan komunitas game online, kemudian menyaksikan anak-anaknya menderita kecanduan. Video game memakan waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, kegiatan di luar ruangan, dan interaksi interpersonal yang normal. Sebaliknya, anak-anak berubah menjadi tawanan video game.

Seorang sarjana berbagi pengalaman khas dari keluarganya sendiri: Putranya yang berusia 12 tahun diizinkan bermain video game hanya beberapa jam di akhir pekan setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Tetapi jika anak itu diizinkan untuk melakukan apa yang ia inginkan, maka ia akan bermain hampir sepanjang waktu, melewatkan waktu mandi dan makan untuk bermain game. Penelitian cendekiawan menunjukkan bahwa video game datang untuk menduduki dan mendominasi semua waktu luang kaum muda. Dewasa muda, terutama yang berpenghasilan rendah dan dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah, semakin menemukan kebahagiaannya dalam permainan video, mengurangi waktu yang mereka habiskan untuk pekerjaannya dan di dunia nyata. [28] Ini adalah fenomena umum di Amerika Serikat dan negara maju lainnya.

Sarjana ini telah mengamati tren dalam masyarakat saat ini di mana video game membuat orang dewasa muda bergantung pada orangtuanya untuk mendukung mereka secara finansial karena orang dewasa muda menolak untuk memasuki pasar kerja. Ketika orang dewasa muda ini menjadi orangtua, permainan video tidak akan membantu mereka mencari nafkah, dan tidak mungkin mereka akan dapat meningkatkan keterampilannya atau menemukan pekerjaan yang lebih baik, karena mereka menghabiskan begitu banyak waktu untuk bermain game saat mereka masih muda. Anak-anak mereka tidak dapat mengandalkan orangtuanya sendiri untuk memperoleh bimbingan. Video game dengan demikian telah mencapai titik merusak kehidupan manusia normal.

Video game adalah obat spiritual. Video game berbeda dari narkoba seperti heroin, yang dilarang di seluruh dunia. Namun, pengembangan video game adalah industri utama. Apa konsekuensi dari ini? Perusahaan memproduksi narkoba yang menghancurkan generasi berikutnya, dan negara-negara yang merangkul game menyabot masa depan mereka sendiri.

Munculnya internet dan telepon seluler telah membuka pasar yang lebih luas untuk industri video game. Perusahaan riset Newzoo, dalam Laporan Global Pasar Games pada bulan April 2018, memperkirakan bahwa para gamer di seluruh dunia akan menghabiskan USD 137,9 miliar untuk game-game pada tahun 2018, mewakili peningkatan 13,3 persen dari tahun sebelumnya. Lebih dari setengah pendapatan game diproyeksikan berasal dari segmen seluler. Pendapatan game digital akan mencapai 91 persen dari pasar global.

Laporan tersebut juga meramalkan bahwa pasar game akan mempertahankan pertumbuhan dua digit dalam dekade berikutnya. Sementara tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto di banyak negara sedang berjuang dalam satu digit, industri game terus meningkat. Game mobile sendiri diperkirakan akan mencapai usd 100 miliar pada tahun 2021. Menurut laporan tersebut, diprediksikan tiga negara teratas di pasar game global adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang, di mana Tiongkok menyumbang 28 persen dari pasar. [29]

Rakyat yang percaya pada Tuhan harus tahu bahwa Tuhan menciptakan manusia dan meletakkan cara bagaimana manusia harus hidup, termasuk bentuk hiburan yang tepat. Ketika umat manusia berjalan di jalan yang benar, maka manusia akan menerima pembebasan, tetapi ketika manusia berpaling dari Tuhan dan melintasi jalan yang jahat, maka manusia akan ditinggalkan dan dihancurkan.

Permainan tradisional, termasuk kegiatan olahraga dan kegiatan luar ruangan lainnya, dibatasi oleh lingkungan alam, cuaca, peralatan, dan kekuatan fisik. Pemain biasanya tidak menderita kecanduan pada bentuk hiburan dan aktivitas tradisional ini. Video game tidak memiliki batasan seperti itu. Pemain diundang dan dibujuk untuk membenamkan diri dalam dunia virtual game tanpa henti, tanpa tidur atau istirahat. Di atas kenyataan bahwa game semacam itu jarang memiliki sesuatu yang meneguhkan untuk menganjurkan pemain, berarti bahwa pemain yang bermain game semacam itu semakin lama berada di bawah pengaruh faktor negatif.

e. Kebudayaan Kekerasan

Di Amerika Serikat, dari tahun 1960 hingga 2016, total populasi meningkat 1,8 kali, sementara jumlah total kejahatan tumbuh 2,7 kali dan jumlah kejahatan dengan kekerasan tumbuh 4,5 kali. [30]

Menurut penulis dan ahli kriminologi Grant Duwe, dalam lima puluh tahun sebelum insiden penembakan menara Universitas Texas yang terjadi pada tahun 1966, hanya ada dua puluh lima penembakan massal di mana empat orang atau lebih terbunuh. Sejak itu, penembakan massal menjadi lebih mematikan dari waktu ke waktu. [31] Dari penembakan massal Killeen di Texas pada tahun 1991 yang menewaskan dua puluh tiga orang, hingga penembakan massal Las Vegas yang membantai lima puluh delapan orang pada tahun 2017, setiap insiden lebih mengejutkan.

Insiden teroris di seluruh dunia meningkat dari 650 insiden per tahun pada tahun 1970 menjadi 13.488 insiden pada tahun 2016, meningkat dua kali lipat. Sejak serangan teroris 11 September pada 2001, serangan teroris meningkat 160 persen. [32]

Tindakan kekerasan di dunia nyata mencerminkan apa yang sekarang kita alami dalam kehidupan sehari-hari: Perendaman dalam kebudayaan kekerasan. Tidak hanya musik intens heavy metal yang penuh dengan kekerasan, tetapi sebagian besar hiburan, termasuk film, televisi, dan video game, menggambarkan atau berpusat di sekitar kekerasan. Banyak produksi film dan televisi menggambarkan mafia, geng, dan bajak laut secara positif, membuat stereotip negatif ini terlihat menarik dan terhormat, sehingga orang tidak lagi merasa jijik dengan hal semacam itu, tetapi orang mulai bercita-cita untuk melakukan kejahatan dan bergabung dengan geng.

Munculnya video game memberi orang-orang saluran lain untuk pemuliaan kekerasan, yang interaktif dan memungkinkan para pemain sendiri untuk menggunakan kekerasan dalam dunia game. Bukannya indoktrinasi kekerasan searah melalui film dan televisi, pemain mengalami kekerasan untuk dirinya sendiri melalui permainan ini, yang berisi adegan kepala yang dipenggal dan anggota badan yang terpotong-potong, dengan semburan darah di mana-mana — semua melebihi batas normal di film dan televisi.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2013, para peneliti menganalisis film yang diproduksi antara tahun 1985 hingga 2012 dan menemukan bahwa jumlah kekerasan senjata di film PG-13 meningkat dua kali lipat. [33] Sebuah studi lanjutan menunjukkan bahwa tren ini terus berlanjut hingga hari ini. [34] Pada tahun 2008, Pusat Penelitian Pew menemukan bahwa 97 persen anak muda antara usia 12 tahun hingga 17 tahun bermain video game, dan dua pertiga dari mereka bermain game yang berisi konten kekerasan. [35]

Menghadapi masalah meningkatnya kekerasan di masyarakat, para ahli, cendekiawan, dan masyarakat umum terus mengusulkan teori dan solusi, mulai dari pembatasan yang lebih ketat melalui undang-undang dan penegakan hukum yang lebih kuat, hingga menyediakan konseling psikologis bagi masyarakat. Tetapi solusi semacam itu sama saja dengan memotong cabang-cabang pohon beracun tanpa menyentuh akarnya.

Dengan sengaja mendorong kejenuhan kebudayaan populer dengan kekerasan dan kejahatan, unsur-unsur komunis menyebabkan semakin banyak orang menjadi peka terhadap konten semacam ini, dengan beberapa orang terpancing untuk meniru konten semacam itu, menyebabkan kekerasan menjadi kenyataan di masyarakat. Dengan merusak dan menghancurkan kebudayaan tradisional dan mengubah moralitas manusia, komunisme menjauhkan manusia dari yang Ilahi dengan meminta manusia untuk mengejar kepuasan dari keinginan materialnya yang tidak terbatas. Ini adalah penyebab mendasar dari masalah masyarakat.

f. Gaya Berbusana yang Bobrok

Di permukaan masyarakat saat ini, berbagai bentuk pakaian, perilaku, dan unsur-unsur kebudayaan populer lainnya yang aneh semuanya tampaknya menjadi bagian “kebebasan berekspresi” atau “tren mode,” tetapi, pada kenyataannya, lebih daripada itu. Menelusuri fenomena ini ke sumbernya, menjadi jelas bahwa unsur-unsur negatif berada di balik semua hal semacam itu. Namun, dengan berlalunya waktu, orang menjadi terbiasa dengan unsur negatif tersebut dan tidak lagi menganggapnya aneh, dengan mengarahkan faktor-faktor negatif ini menjadi bagian yang diterima dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini adalah beberapa contohnya.

Saat ini, masyarakat sudah terbiasa dengan wanita yang memiliki gaya rambut pendek, seperti bob. Gaya bob ini berasal dari para Flapper di Barat selama tahun 1920-an. Dipengaruhi oleh gelombang pertama gerakan hak wanita dan gerakan seks bebas (lihat Bab 7), para Flapper mengenakan gaun pendek, memotong rambutnya menjadi pendek, mendengarkan musik jazz, memakai make-up tebal, minum anggur yang kuat, dan sembrono terhadap seks. Mengenakan rambut pendek adalah cara bagi Flapper untuk mengekspresikan penghinaan mereka terhadap peran gender tradisional dan mengejar “emansipasi” wanita.

Setelah gaya rambut bob menjadi populer, penyanyi opera terkenal menulis: “Model rambut bob adalah kondisi pikiran dan bukan hanya cara baru untuk mendandani kepala saya…Saya menganggap menyingkirkan rambut panjang yang saya miliki sebagai salah satu dari sekian banyak belenggu yang telah disingkirkan wanita dalam perjalanannya menuju kebebasan.”[36] Selama Depresi Hebat di tahun 1930-an, gaya rambut bob secara bertahap tidak disukai. Namun, pada tahun 1960-an, ketika pemberontakan terhadap norma-norma tradisional menjadi trendi lagi, gaya rambut pendek seperti itu membuat wanita kembali mencintainya.

Demikian pula, gaya rambut panjang pria pada saat itu berasal dari beatnik dan hippie. [37] Meskipun rambut panjang untuk pria dapat ditelusuri kembali ke zaman kuno, pria di Barat memiliki rambut pendek dalam beberapa dekade sejak Perang Dunia I. Pada tahun 1960-an, gerakan kontra-kebudayaan mempromosikan rambut panjang untuk pria sebagai bentuk pemberontakan.

Pada tahun 1920-an hingga 1960-an, masyarakat arus utama sangat anti terhadap kaum muda yang berpakaian anti-tradisional. Seiring waktu, masyarakat menjadi terbiasa dengan tren anti-tradisional, dan dalam pandangan progresif, hal ini disebabkan oleh peningkatan toleransi sosial. Namun, dalam tradisi Timur dan Barat, perbedaan antara pria dengan wanita tercermin tidak hanya dalam fisik dan peran mereka yang berbeda dalam masyarakat dan keluarga, tetapi juga dalam pakaian, gaya rambut, gaya bicara, dan perilaku mereka.

Seiring dengan disintegrasi perbedaan kelas dalam masyarakat, komunisme bertujuan untuk menghilangkan perbedaan seksual antara pria dan wanita. Demikian pula, gerakan homoseksual dan feminis menggunakan slogan “kesetaraan” untuk mengaburkan perbedaan gender dalam peran sosial dan keluarga. Tren mode androgini semakin mengaburkan dan membalikkan perbedaan dalam berpakaian. Faktor-faktor ini berfungsi untuk mempersiapkan jalan bagi penerimaan sosial yang lebih luas dari apa yang secara tradisional dianggap praktik seksual dan gaya hidup yang menyimpang, dan lebih jauh berkontribusi pada melemahkan moralitas tradisional.

Moralitas Timur dan Barat, selama ribuan tahun, pada dasarnya termasuk perbedaan antara pria dan wanita, dan gagasan bahwa pria dan wanita, yin dan yang, masing-masing memiliki tempat. Komunisme akan membalikkan yin dan yang manusia, dengan tujuan merusak moralitas, memunculkan keterpusatan pada diri sendiri, dan mendorong pengabaian norma-norma tradisional.

Mengingat tujuan jahat ini, manusia dapat melihat bahwa meskipun berbagai mutasi dalam berpakaian mungkin tampak modis dan populer di permukaan, hal tersebut sebenarnya dimaksudkan untuk merusak cara hidup manusia yang tepat.

Misalnya, popularitas celana dengan model rendah di pinggang saat ini, yang dianggap seksi oleh mereka yang berusaha menjadi modis, adalah contoh sederhana perusakan moral manusia. Pendahulu celana dengan model rendah di pinggang adalah hip-huggers, dipopulerkan selama kontra-kebudayaan pada tahun 1960-an dan lazim tampil di disko pada tahun 1970-an. Sebuah gaya yang mengikuti adalah “bum pants” yang tidak senonoh pada tahun 1990-an, yang memaparkan bokong. [38]

Tanda kemerosotan kebudayaan yang lain adalah fenomena groupie, yang populer di kalangan anak muda dan produk sampingan lain dari kontra-kebudayaan. Pada tahun 1960-an, musik rock adalah populer di Barat, dan beberapa gadis muda yang terobsesi dengan bintang rock mengikuti penampilan bintang rock tersebut dan membentuk kelompok penggemar untuk menyediakan layanan pribadi dan seksual, termasuk terlibat dalam seks kelompok dengan anggota band. [39] Para gadis muda tersebut menjadi korban mode. Kini para gadis muda mengagumi bintang-bintang yang menganjurkan merobohkan pembatas yang membedakan antara jenis kelamin — termasuk pria bintang yang berperilaku seperti wanita, dan sebaliknya. Semua ini merongrong kebudayaan populer dan mengaburkan perbedaan antara pria dengan wanita.

Ada juga subkultur punk yang dianggap modis. Mirip dengan gerakan hippies, punk memberontak terhadap tradisi dan mempromosikan nihilisme. Kebanyakan hippie adalah anak muda pemberontak terhadap tradisi sosial dari keluarga tradisional kelas menengah, sementara kebanyakan punk adalah anak muda pemberontak terhadap tradisi sosial dari keluarga tradisional kelas bawah. Dengan demikian, banyak band punk juga menganjurkan sosialisme. [40]

Untuk mengekspresikan sikap anti-tradisionalis mereka yang menyeluruh, punk sering menunjukkan gaya rambut yang aneh, termasuk gaya rambut mohawk, atau mengenakan pakaian compang-camping penuh paku dan gesper. Mereka mewarnai rambutnya, kulitnya ditato, menindik seluruh tubuhnya, dan kadang memperlihatkan bagian tubuh yang bagi rata-rata orang cenderung untuk tetap tersembunyi. Punk sering tidak membuat perbedaan gender dalam berpakaian. Beberapa wanita punk mengenakan pakaian pria dan sebaliknya. Punk memberikan inspirasi bagi banyak tren mode saat ini.

Punk mendukung hedonisme, itulah sebabnya satu slogan punk yang populer adalah “hidup dalam waktu singkat, mati muda, dan meninggalkan mayat yang elok.” Hal ini sepenuhnya mencerminkan tragedi hilangnya kepercayaan pada Tuhan dan tertipu untuk jatuh ke jurang hedonisme dan materialisme. Individu dan masyarakat harus waspada dengan nihilisme yang menyedihkan ini, tetapi tidak berlaku untuk punk.

Selain itu, ada segala macam tanda-tanda kekacauan dan ketidakbermaknaan lain dalam masyarakat saat ini: Tampilan gambar hantu atau setan pada pakaian atau dalam musik yang populer; pilihan gambar jelek untuk tato; mainan dan ornamen anak-anak yang aneh; karya sastra, film, dan televisi yang penuh dengan iblis, hantu, dan kengerian supernatural — produk yang banyak dikonsumsi masyarakat; dan konten yang merusak dan nihilistik ditemukan di internet. Kini, bahkan penggemar sepak bola, misalnya, secara teratur mengadakan kerusuhan dan pemberontakan, yang mendatangkan malapetaka. Semua tanda kemerosotan ini menunjuk pada kekuatan negatif dan gelap yang telah menjadi pengaruh dominan pada masyarakat luas.

Kesimpulan

Setiap orang berhak untuk mengejar kebahagiaan — tetapi harus dalam parameter moral. Mengejar kesenangan secara berlebihan, di luar batas normal, secara tak terhindarkan akan membawa penderitaan, malapetaka, dan kesedihan.

Kebudayaan tradisional umat manusia tidak melarang kepuasan keinginan yang wajar. Namun, kebudayaan tradisional mengajarkan manusia untuk mengendalikan keinginannya dan memilih gaya hidup sehat. Kebudayaan tradisional menghargai keharmonisan dengan alam, kerja tradisional, hubungan keluarga yang harmonis, masyarakat sipil yang sehat, dan partisipasi dalam pemerintahan sendiri dan manajemen negara, serta seni tradisional, sastra, olahraga, dan hiburan. Semua ini membawa kebahagiaan dan kepuasan, memberi manfaat bagi tubuh dan pikiran setiap manusia, serta masyarakat pada umumnya.

Namun, tujuan akhir komunisme adalah untuk menghancurkan umat manusia. Salah satu langkah dalam proses ini adalah kerusakan moralitas dan meniadakan Tuhan dari kebudayaan manusia. Oleh karena itu, tujuan akhir komunisme adalah bahwa apa pun rezim politiknya, kebudayaan populer dan gaya hidup diresapi dengan kenegatifan dan kegelapan. Dalam beberapa dekade terakhir, kebudayaan populer seperti itu telah diciptakan di Timur dan Barat.

Kegilaan masyarakat modern telah menyebabkan banyak manusia meninggalkan kebudayaan dan moralitas tradisional. Manusia menuruti keinginannya, mengejar kesenangan tanpa batas. Keterpusatan pada diri sendiri, hedonisme, dan nihilisme telah menjadi hal yang umum, diterima, dan bahkan modis. Inilah kebudayaan yang memimpin dunia saat ini, dan manusia telah melupakan tujuan sebenarnya dari keberadaannya.

Seks, narkoba, musik rock, dan video game merangsang dan memperbesar hasrat. Banyak manusia yang menikmati hal-hal ini untuk menghindari kesengsaraan dan kekecewaan hidup, tetapi manusia tidak pernah berhenti untuk merenung. Kecanduan ini hanya membawa kepuasan sesaat, diikuti oleh lebih banyak nyeri dan bencana. Penyalahgunaan narkoba menyebabkan penyakit, kematian, dan gangguan kepribadian; hubungan seksual yang kacau menghancurkan keluarga, membuat manusia kehilangan kepercayaan dan kehangatan; dan video game membuat manusia kehilangan dirinya di dunia yang palsu. Pecandu merasa bahwa mereka berada dalam karnaval kesenangan, tetapi pada kenyataannya, mereka hanya dieksploitasi oleh kekuatan luar, karena satu-satunya hal yang menunggu mereka adalah kematian fisik dan pembusukan spiritual.

Hal yang sama berlaku untuk masyarakat dan negara. Ketika sejumlah besar rakyat kecanduan hasrat dan kesenangan, bencana sudah dekat.

Tuhan menciptakan umat manusia dan memberikan kehendak bebas bagi setiap manusia. Manusia seharusnya tidak menyalahgunakan kebebasannya dan terus menapak di jalan kebobrokan.

Sebaliknya, manusia harus memanfaatkan kebebasannya itu dan memilih untuk kembali ke kebudayaan dan cara hidup tradisional. Tuhan selalu menjaga dan melindungi manusia. Tetapi apakah umat manusia dapat kembali ke jalan yang benar sepenuhnya tergantung pada pilihan setiap manusia.

Lanjut Baca Bab Lima Belas.

Referensi:

[1] “George Washington’s Rules of Civility and Decent Behavior in Company and Conversation,” Foundations Magazine, http://www.foundationsmag.com/civility.html [1].

[2] Benjamin Franklin, The Autobiography and Other Writings on Politics, Economics, and Virtue (Cambridge: Cambridge University Press, 2004), 68–69.

[3] Xue Fei, “‘If a god is missing, just make one’: Chaos at the grandmother temple, Hebei.” The Epoch Times Chinese edition, August 10, 2017, http://www.epochtimes.com/gb/17/8/9/n9513251.htm [2], [In Chinese] [4] “Oxford Dictionary Adds Popular Chinese Terms,” China Daily, September 6, 2010, http://www.chinadaily.com.cn/business/2010-09/06/content_11259791.htm [3].

[5] Loretta Chao, “The Ultimate Knock-Off: A Fake Apple Store,” The Wall Street Journal, July 21, 2011, https://blogs.wsj.com/chinarealtime/2011/07/21/the-ultimate-knock-off-a-fake-apple-store/ [4].

[6] Jack Kerouac, “The Birth of a Socialist,” Atop an Underwood: Early Stories and Other Writings (New York: Penguin, 2000).

[7] Roberto Franzosi, review of “Power and Protest: Global Revolution and the Rise of Détente,” by Jeremi Suri, American Journal of Sociology, 111 (5), 1589.

[8] Meredith Box and Gavan McCormack, “Terror in Japan,” The Asia-Pacific Journal: Japan Focus, 2 (6), June 25, 2004, https://apjjf.org/-Meredith-Box–Gavan-McCormack/1570/article.pdf [5].

[9] Georgia Wallen, “The Seven Stages of the ‘Hamilton’ Kennedy Center Queue,” The Washington Post,  March 30, 2018, https://www.washingtonpost.com/opinions/the-seven-stages-of-the-hamilton-kennedy-center-queue/2018/03/30/c1ae15fc-31f8-11e8-8bdd-cdb33a5eef83_story.html [6].

[10] Amy D. McDowell, “Contemporary Christian Music,” Oxford Music and Art Online, https://doi.org/10.1093/gmo/9781561592630.article.A2234810 [7].

[11] “The Opioid Crisis,” https://www.whitehouse.gov/opioids/ [8].

[12] Drug Facts: Marijuana, National Institute on Drug Abuse for Teens, https://teens.drugabuse.gov/drug-facts/marijuana [9].

[13] Allison Bond, “Why Fentanyl Is Deadlier than Heroin, in a Single Photo,” Stat News, September 29, 2016, https://www.statnews.com/2016/09/29/why-fentanyl-is-deadlier-than-heroin/ [10].

[14] “Overdose Death Rates,” National Institute on Drug Abuse, September 2017, https://www.drugabuse.gov/related-topics/trends-statistics/overdose-death-rates [11].

[15] Amanda Hoover, “110 Pounds of Fentanyl Seized at Port in Shipment from China,” New Jersey, July 2, 2018, https://www.nj.com/news/index.ssf/2018/07/110_pounds_of_fentanyl_found_in_philadelphia_port.html [12].

[16] “China Drug Report: More than 14 million drug users nationwide,” BBC Chinese-language website, June 24, 2015,  http://www.bbc.com/zhongwen/simp/china/2015/06/150624_china_drugs_report [13]. [In Chinese] [17] Zhang Yang, “China’s Drug Situation Report 2017: Released: 140,000 Drug Criminal Cases Cracked Across China,” People’s Daily Online, June 26, 2018. http://yuqing.people.com.cn/n1/2018/0626/c209043-30088689.html [14]. [In Chinese] [18] “Things Are Looking Up in America’s Porn Industry,NBC News, January 20, 2015, https://www.nbcnews.com/business/business-news/things-are-looking-americas-porn-industry-n289431 [15].

[19] “Boy, 12, Repeatedly Raped Sister after Becoming Fascinated with Internet Porn,” New Zealand, November 7, 2016, https://www.nzherald.co.nz/world/news/article.cfm?c_id=2&objectid=11743460 [16].

[20] Lars Gravesen, “Taxpayers Foot Bill for Disabled Danes’ Visits to Prostitutes,” Telegraph, October 2, 2005,  https://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/europe/denmark/1499735/Taxpayers-foot-bill-for-disabled-Danes-visits-to-prostitutes.html [17].

[21] Inga Margrete Ydersbond, “The ‘Promiscuous’ and the ‘Shy’: Denmark and Norway: A Historic Comparative Analysis of Pornography Legislation,” The NPPR Working Paper Series: The Politics of Commercial Sex, March 2012, https://www.duo.uio.no/bitstream/handle/10852/34447/NPPRWP201201.pdf?sequence=1 [18].

[22] Takudzwa Hillary Chiwanza, “Thousands of Chinese Prostitutes Are Flocking to Africa for Lucrative Fortunes,” The African Exponent, May 7, 2018, https://www.africanexponent.com/post/8965-chinese-prostitutes-have-joined-the-scramble-for-africas-fortunes [19].

[23] Pat Fagan, “The Effects of Pornography on Individuals, Marriage, Family and Community,” Issue Brief, The Family Research Council, accessed October 6, 2018, https://downloads.frc.org/EF/EF11C36.pdf [20].

[24] Jill Manning, Senate testimony, November 10, 2005, referencing J. Dedmon, “Is the Internet Bad for Your Marriage? Online Affairs, Pornographic Sites Playing Greater Role in Divorces,” 2002, press release from The Dilenschneider Group, Inc.,  14, https://s3.amazonaws.com/thf_media/2010/pdf/ManningTST.pdf [21]

[25] David Shultz, “Divorce Rates Double When People Start Watching Porn,Science, August 26, 2016, http://www.sciencemag.org/news/2016/08/divorce-rates-double-when-people-start-watching-porn [22].

[26] George Akerlof, Janet Yellen and Michael Katz, “An Analysis of Out-of-Wedlock Childbearing in the United States,” Explorations of Pragmatic Economics (Oxford: Oxford University Press, 2005), 120.

[27] Joseph Chamie, “Out-of-Wedlock Births Rise Worldwide,” YaleGlobal Online, March 16, 2017, https://yaleglobal.yale.edu/content/out-wedlock-births-rise-worldwide [23].

[28] Mark Aguiar, Mark Bils, Kerwin Kofi Charles and Erik Hurst, “Leisure Luxuries and the Labor Supply of Young Men,” National Bureau of Economic Research, Working Paper No. 23552 issued in June 2017, p. 1, http://www.nber.org/papers/w23552 [24].

[29] Tom Wijman, “Mobile Revenues Account for More Than 50% of the Global Games Market as It Reaches $137.9 Billion in 2018,” Newzoo, April 30, 2018, https://newzoo.com/insights/articles/global-games-market-reaches-137-9-billion-in-2018-mobile-games-take-half/ [25].

[30] “United States Crime Rates 1960–2017,” Compiled by DisasterCenter.com from: FBI UCS Annual Crime Reports, http://www.disastercenter.com/crime/uscrime.htm [26].

[31] Bonnie Berkowitz, Denise Lu and Chris Alcantara, “The Terrible Numbers That Grow with Each Mass Shooting,” Washington Post,  June 29, 2018, https://www.washingtonpost.com/graphics/2018/national/mass-shootings-in-america/?utm_term=.f63cc1b03c0b [27].  

[32] Global Terrorism Database (GTD), University of Maryland, https://www.start.umd.edu/gtd/.

[33] Jacque Wilson and William Hudson, “Gun Violence in PG-13 Movies Has Tripled,” CNN, November 11, 2013, http://www.cnn.com/2013/11/11/health/gun-violence-movies/index.html [28].

[34] Assil Frayh, “Gun Violence Keeps Rising in PG-13 Movies, Study Says,” CNN, January 20, 2017,  https://www.cnn.com/2017/01/20/health/gun-violence-pg-13-movies-study/index.html [29].

[35] “Violent Video Games and Young People,” Harvard Mental Health Letter, 27, no. 4 (October 2010), http://affectsofvideogames.weebly.com/uploads/6/4/3/3/6433146/medical_journal.pdf [30]

[36] Mary Garden (1874–1967). “Why I Bobbed My Hair.” Pictorial Review (April 1927).

[37] “Long Hair for Men,” Encyclopedia of Fashion, http://www.fashionencyclopedia.com/fashion_costume_culture/Modern-World-Part-II-1961-1979/Long-Hair-for-Men.html [31].

[38] “Hip Huggers,” Encyclopedia of Fashion,
http://www.fashionencyclopedia.com/fashion_costume_culture/Modern-World-Part-II-1961-1979/Hip-Huggers.html [32].

[39] Kathryn Bromwich, “Groupies Revisited: The Women with Triple-A Access to the 60s,” The Guardian, November 15, 2015, https://www.theguardian.com/music/2015/nov/15/groupies-revisited-baron-wolman-rolling-stone-pamela-des-barres [33].

[40] David Ensminger, Left of the Dial: Conversations with Punk Icons (Oakland, Calif.: PM Press), 47;Neil Eriksen, “Popular Culture and Revolutionary Theory: Understanding Punk Rock,” https://www.marxists.org/history/erol/periodicals/theoretical-review/19801802.htm [34].

 

BACA SEBELUMNYA 

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Pengantar [35]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita: Pendahuluan [36]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab I – Strategi Iblis untuk Menghancurkan Kemanusiaan [37]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab II – Awal Komunisme Eropa [38]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab III – Pembunuhan Massal di Timur [39]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab IV – Mengekspor Revolusi [40]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab V – Infiltrasi ke Barat (Bagian I) [41]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab V – Infiltrasi ke Barat (Bagian II) [42]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VI – Pemberontakan Terhadap Tuhan [43]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VII – Penghancuran Keluarga (Bagian I) [44]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VII – Penghancuran Keluarga (Bagian II) [45]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VIII – Bagaimana Komunisme Menabur Kekacauan dalam Politik (I) [46]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab VIII – Bagaimana Komunisme Menabur Kekacauan dalam Politik (II) [47]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab IX – Perangkap Ekonomi Komunis (Bagian I) [48]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab IX – Perangkap Ekonomi Komunis (Bagian II) [49]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab X – Menggunakan Hukum untuk Kejahatan [50]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab XI – Menodai Seni [51]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab XII – Menyabotas Pendidikan (Bagian I) [52]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab XII – Menyabotase Pendidikan (Bagian II) [53]

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab XIII – Membajak Media [54]