3- Asal Komunis Ekstremisme Agama

Serangan teroris pada tanggal 11 September 2001, menandai perubahan yang sangat besar dalam hubungan dunia. Osama bin Laden beserta al-Qaeda miliknya menempati berita utama saat ancaman ekstremis atas nama agama semakin menonjol.

Bagi sebagian besar orang di seluruh dunia, serangan 11 September tersebut adalah suatu tragedi yang mengejutkan. Tetapi, di Tiongkok, di bawah sensor Partai Komunis Tiongkok, reaksinya sangat berbeda.

Dari forum dan ruang bincang-bincang internet hingga kantin universitas, sejumlah besar rakyat Tiongkok yang mendukung teroris, memberi komentar seperti “Pekerjaan yang bagus!” dan “Kami sangat mendukung tindakan keadilan melawan Amerika Serikat.”

Berdasarkan survei terhadap 91.701 orang di NetEase, suatu website utama di Tiongkok, hanya 17,8 persen responden yang sangat menentang serangan teroris tersebut, sedangkan sebagian besar rakyat Tiongkok memilih “menentang Amerika Serikat” atau “yang terbaik akhirnya datang” sehubungan dengan tragedy tersebut.[10]

Rakyat Tiongkok yang bersuka ria atas serangan teroris tersebut tidak pernah bertemu dengan Osama bin Laden dan sejenisnya, tetapi akar pemikiran mereka yang beracun adalah sama.
Rakyat Tiongkok telah diracuni oleh propaganda komunis dan kebudayaan Partai Komunis Tiongkok sejak kecil. Namun, secara logika, seseorang akan bertanya-tanya apa yang mungkin terjadi dengan Osama bin Laden, yang telah bertempur melawan Uni Soviet di Afganistan.

Sumber ideologis ekstremisme ala Osama bin Laden dapat ditelusuri kembali kepada Sayyid Qutb, pelopor terorisme di Mesir, seorang pria yang dapat digambarkan sebagai Karl Max untuk jihadis [11] dan seorang yang sering dijuluki sebagai “godfather jihad modern.”[12]

a-Sayyid Qutb: Karl Max untuk Ekstremisme

William McCants, ahli kontra-terorisme dan mantan peneliti di Pusat Pembasmian Terorisme di West Point, telah mengamati bahwa ekstremis sering merujuk pada ajaran Sayyid Qutb saat menjelaskan motivasinya, dan bahwa banyak ekstremis tersebut menganggap dirinya sebagai penerus ajaran Sayyid Qutb.[13]

Ayman al-Zawahiri, pemimpin al-Qaeda yang meninggal setelah kematian Osama bin-Laden, menganggap pemikiran Sayyid Qutb sebagai pemicu api ekstremisme jihad.
Pada tahun 2016, ahli Timur Tengah bernama Hassan Hassan menerbitkan sebuah laporan Sumbangan Carnegie untuk Perdamaian Internasional yang disebut: The Sectarianism of the Islamic State: Ideological Roots and Political Context.

Menjelang akhir laporan tersebut, Hassan Hassan mengutip kesimpulan yang populer dari doktrin inti kelompok teroris ISIS: “Negara Islam dirancang oleh Sayyid Qutb, diajarkan oleh Abdullah Azzam, diperkenalkan pada dunia oleh Osama bin Laden, dijadikan kenyataan oleh Abu Musab al-Zarqawi, dan dilaksanakan oleh al-Baghdadis: Abu Omar dan Abu Bakr.”[4]

Osama bin Laden dan kemudian ISIS mengadopsi dan memperluas ideologi Sayyid Qutb. Singkatnya, Qutbisme adalah bujukan kekerasan untuk menghancurkan akar masyarakat lama, atau “jahiliya,” yang menyerukan agar para pelaku jihad untuk menyerahkan nyawanya demi suatu ideologi yang akan mengantar pada pembebasan manusia.[15] Gaya bombastis ini mengingatkan pada tulisan Karl Max dan Vladimir Lenin, dan dengan alasan yang bagus: Sayyid Qutb adalah anggota Partai Komunis pada masa mudanya, dan dalam gagasannya tertanam retorika Marxisme-Leninisme.

Robert R.Reilly, rekan senior Komite Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat, mengatakan bahwa Sayyid Qutb sebenarnya adalah penghubung Internasional Komunis untuk Ikhwanul Muslim Mesir dan Partai Komunis Mesir.[16]

Lahir pada tahun 1906, Sayyid Qutb mempelajari sosialisme dan sastra pada akhir tahun 1920-an hingga 1930-an. Sejak tahun 1950, ia telah belajar selama dua tahun di Amerika Serikat, dan bergabung dengan Ikhwanul Muslim setelah ia kembali ke Mesir.[17] Sayyid Qutb selalu berhubungan dengan letnan tentara Gamal Abdel Nasser, pemimpin Gerakan Perwira Bebas yang berhaluan sosialis.

Pada tahun 1952, Gamal Abdel Nasser melancarkan kudeta militer yang menggulingkan dinasti Muhammad Ali, monarki pro-Barat. Dikatakan bahwa kudeta revolusi-sosialis ini direncanakan oleh Sayyid Qutb dan Ikhwanul Muslim beserta Gamal Abdel Nasser. Namun, Sayyid Qutb berharap Gamal Abdel Nasser akan mendirikan rezim Islam, sebaliknya Gamal Abdel Nasser melakukan sekularisasi, dan pada tahun 1954 mulai menindas Ikhwanul Muslim.

Sayyid Qutb dan Ikhwanul Muslim bersiap untuk membunuh Gamal Abdel Nasser. Rencana tersebut gagal, dan Sayyid Qutb dituduh melakukan percobaan pembunuhan berencana dan dipenjara.

Selama tiga tahun di penjara, Sayyid Qutb disiksa dengan kejam. Belakangan, keadaan menjadi lebih longgar, dan ia diizinkan untuk menulis. Ia menulis dua karya terpenting saat berada di penjara — Fi Zilal al-Qur’an (Di Bawah Naungan Al-Qur’an) dan Ma’alim fi’l-Tariq (Milestone).
Dua buku ini, yang meliput pandangan Sayyid Qutb mengenai Al-Qur’an, sejarah Islam, Mesir, dan masyarakat Barat, menguraikan sepenuhnya pembelaannya akan ekstremisme anti-sekuler, anti-Barat.

Sayyid Qutb pernah satu kali dibebaskan sebentar dari penjara. Ia tidak mengambil kesempatan tersebut untuk meninggalkan Mesir dan dipenjara lagi. Pada tahun 1966, Sayyid Qutb dihukum karena keterlibatannya dalam konspirasi untuk membunuh Gamal Abdel Nasser dan dieksekusi dengan cara digantung.

Pemikiran subversif Sayyid Qutb menganugerahkan konsep jihad Islam dengan interpretasi baru. Mendengar kata jihad, banyak orang langsung berpikir mengenai “perang suci.”
Dalam bahasa Arab, jihad berarti berjuang atau bertarung. Bagi umat Islam arus utama, jihad dapat diartikan sebagai konflik internal atau kesempurnaan-diri) atau jihad defensif.[18]
Sayyid Qutb memperluas definisi jihad untuk memasukkan penggunaan kekerasan yang proaktif dan tidak terkendali dalam “perang suci” jihad dan meletakkan dasar teoretisnya.[19] Sayyid Qutb dengan bangga berjalan menuju tiang gantung dan menjadi martir agama.

Filosofi Sayyid Qutb menyatakan bahwa sistem sosial apa pun yang mematuhi hukum atau etika sekuler adalah “masyarakat lama” yang anti-Islam — jahiliya (ketidaktahuan akan kebenaran agama, awalnya merujuk pada masyarakat sebelum penyebaran Islam). Bahkan masyarakat yang mengklaim dirinya sebagai umat Islam masih mungkin menjadi jahiliyah. Sayyid Qutb menganggap sistem sosial Mesir tempat ia tinggal menjadi sistem di mana jahiliya adalah dominan, dan oleh karena itu harus ditumbangkan.[20]

Menurut Sayyid Qutb, jahiliyah adalah penghalang terbesar bagi Muslim dan non-Muslim, yang mencegah mereka dari memenuhi nilai-nilai dan hukum Islam. Ia mengklaim bahwa masyarakat lama telah dipaksakan pada rakyat dan dalam proses tersebut, telah merampas kebebasan rakyat. Rakyat yang diperbudak ini — analog dengan kelas buruh dalam Marxisme — memiliki hak untuk melakukan jihad untuk menggulingkan penindasan jahiliyah.

Sayyid Qutb menganjurkan jihad sebagai sarana pembebasan bagi seluruh umat manusia, Muslim maupun non-Muslim. [21] Ketika buku-buku Sayyid Qutb dipublikasikan, banyak pemimpin Islam berpikir Sayyid Qutb telah bertindak terlalu jauh dan menganggap ide-idenya sebagai ajaran sesat. [22]

Sayyid Qutb lebih lanjut meminjam konsep Marxis mengenai “kesadaran palsu,” yang mengacu pada penerimaan massa rakyat terhadap cita-cita dan kebudayaan penguasa. Konsep ini berpendapat bahwa ini mencegah massa rakyat merasakan penindasan dan menggulingkan kapitalisme demi sosialisme. Bagi Sayyid Qutb, mereka yang hidup di bawah jahiliya tidak menyadari bahwa mereka adalah budak, itulah sebabnya mereka tidak terlibat dalam jihad untuk membebaskan dirinya sendiri. [23]

“Apa yang harus dilakukan?” Seperti yang Vladimir Lenin taruh di pamfletnya. Sayyid Qutb memiliki pertanyaan yang sama, jadi ia mencari solusi bagi Vladimir Lenin.

b-Pelopor Leninis Jihad

Tulisan Sayyid Qutb penuh dengan kosakata yang akrab bagi mahasiswa Marxisme-Leninisme, seperti “pelopor,” “negara,” “revolusi,” dan sejenisnya. Situasi dan tantangan yang dihadapi Vladimir Lenin pada saat menulis pamfletnya Apa yang harus dilakukan? mencerminkan keadaan yang dihadapi oleh Sayyid Quthb saat ia merumuskan ideologinya yang radikal. Vladimir Lenin menaruh semua harapan pada partai pelopor kelas sosial bawah untuk revolusi yang sukses. Sayyid Qutb menyalin teori ini dan menggantikan partai politik Leninis dengan organisasi ekstremis agama.

Vladimir Lenin sangat menekankan pentingnya organisasi dan pelopor. Ia mengidentifikasi perbedaan yang jelas antara spontanitas dengan kesadaran, dan memperkenalkan gagasan pembangunan partai.

Menurut Vladimir Lenin, dengan hanya tindakan spontan, buruh hanya dapat membuat tuntutan yang dangkal, seperti kenaikan gaji dan delapan jam hari kerja, tetapi mereka tidak memiliki kesadaran yang dibutuhkan untuk membebaskan umat manusia.

Vladimir Lenin percaya bahwa pelopor eksternal (biasanya kaum intelektual borjuis, yang memiliki hak istimewa pendidikan) dituntut untuk menghasut dan mengindoktrinasi buruh, sehingga mereka menyadari bahwa revolusi adalah satu-satunya jalan keluar dan mencapai pemahaman bahwa hanya dengan membebaskan semua umat manusia, maka diri mereka dibebaskan.
Untuk sepenuhnya memanfaatkan barisan depan, sebuah partai politik yang sangat erat diperlukan untuk mengatur kegiatan mereka secara total dan memberi mereka peluang untuk bergerilya sebagai revolusioner profesional. Partai politik ini, partai politik kelas sosial bawah, adalah pelopor kelas sosial bawah. [24]

Glenn E. Robinson, seorang profesor di Sekolah Pascasarjana Angkatan Laut di Monterey, California, dan seorang peneliti di Pusat Studi Timur Tengah, Universitas California-Berkeley, mengatakan mengenai Islam radikal: “Meskipun untuk alasan yang jelas para ahli ideologi jihad tidak mengutip Vladimir Lenin sebagai inspirasi, konsep dan logika mereka, terutama Sayyid Qutb, mengkhianati pengaruh ini. Setelah dididik di Mesir pada tahun 1940-an, Sayyid Qutb pasti akan terpapar dengan tulisan-tulisan Vladimir Lenin. Dua konsep utama dari Sayyid Qutb berasal langsung dari Vladimir Lenin: jama’ah (pelopor) dan manhaj (program).”[25]

Mengambil inti Leninisme, Sayyid Qutb menganjurkan organisasi Islam sebagai versi partai pelopor Leninis.”Sayyid Qutb membuat argumen yang persis sama untuk dunia Islam,” tulis Glenn E. Robinson.

“Mayoritas umat Islam terlalu terperangkap dan rusak oleh sistem pemerintahan yang tidak adil dan anti-Islam untuk mengetahui bagaimana dan kapan harus mengangkat senjata melawan negara. Pelopor kader jihad yang berdedikasi diperlukan untuk mengorganisir tindakan langsung terhadap negara.”[26] Juga,“desakan Vladimir Lenin pada sentralitas pelopor yang memiliki program yang terperinci dan koheren untuk melakukan dan kemudian mengkonsolidasikan revolusi juga bergema, dengan sebuah nada Islami, dalam tulisan-tulisan Sayyid Qutb.”[27]

Bagi Sayyid Qutb, pelopor ini, yang terdiri dari apa yang ia sebut “Umat Islam sejati” – atau ekstremis – memiliki misi revolusioner untuk membebaskan semua umat Islam dan seluruh peradaban manusia. Barisan depan harus menyerang keras umat Islam yang palsu, mengikuti ideologi Islam sebagaimana ditentukan oleh interpretasi Sayyid Qutb, membangun negara baru berdasarkan Islamisme, dan menggunakan kekerasan untuk memaksakan Islam di seluruh dunia.

Selain pelopor, teori Sayyid Qutb juga termasuk “kesetaraan sosial,” penghapusan kelas, aktivitas anti-pemerintah, dan pembebasan umat manusia. [28] Semua poin ini menggemakan tujuan komunisme yang dinyatakan.

Setelah kematian Sayyid Qutb, saudaranya Muhammad Qutb terus-menerus menerbitkan buku-bukunya. Buku Ma’arakat ul-Islam war-Ra’samaaliyyah, yang diterbitkan pada tahun 1993, kembali mengungkap inspirasi komunis Sayyid Qutb. Sayyid Qutb secara terang-terangan menyatakan bahwa Islam adalah “aqidah unik, konstruktif, dan positivis, yang telah dibentuk dari agama Kristen dan Komunisme bersama-sama, [dengan] memadukan dalam cara-cara yang paling sempurna dan yang terdiri dari semua tujuan (yaitu, agama Kristen dan Komunisme) dan menambahkan harmoni, keseimbangan dan keadilan.”[29]

c-Inti Komunis Ekstremisme Agama

Perjuangan kelas adalah ide Marxis lain yang sentral bagi ekstremisme agama. Karl Marx menghabiskan seluruh hidupnya mencoba untuk menghasut konflik antara kelas sosial bawah dengan kaum borjuis untuk mempertajam konflik ke titik yang tidak dapat kembali ke titik awal dan akhirnya “menyelesaikan” konflik tersebut melalui revolusi. Ekstremis agama beroperasi dengan cara yang hampir sama.

Apakah dengan cara menghancurkan World Trade Center di Manhattan terjadi sesuatu untuk membantu mewujudkan dunia Islam bersatu yang diinginkan oleh Sayyid Qutb? Benar-benar tidak. Itu hanyalah sarana untuk memperburuk konflik antara dunia Barat dengan umat Islam.

Di Barat, serangan teroris menghasut kebencian terhadap umat Islam, dan yang sebaliknya terjadi di negara-negara Islam. [30] Metode para ekstremis mencerminkan promosi konflik antara kelas sosial bawah dengan kaum borjuis oleh Karl Marx dan Vladimir Lenin, untuk menciptakan kondisi yang diperlukan untuk meluncurkan revolusi.

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa teori-teori Sayyid Qutb memiliki kemiripan yang lebih besar dengan komunisme daripada dengan Islam tradisional. Sementara para ekstremis Islam menyatakan oposisi agama terhadap komunisme, pada kenyataannya, mereka menyerap inti doktrin revolusioner komunis yang murni.
Seperti yang dicatat oleh seorang penulis, “Argumen yang dibuat di sini adalah bahwa musuh nyata yang menghadapi dunia bebas tetap Komunisme dan bahwa Islamis radikal tidak lebih dari Komunisme yang terselubung dalam pakaian tradisional Islam.” [31]

Tidak hanya di dunia Islam di mana ekstremisme kekerasan telah diperkenalkan. Gerakan kontra-kebudayaan Barat menyebarkan ideologi Kiri di seluruh dunia, dan beserta jajaran teroris Vladimir Lenin.

Sejarawan politik Finlandia Antero Leitzinger percaya bahwa terorisme modern lahir antara tahun 1966 hingga 1967, berkembang pada saat yang sama dengan gerakan komunis internasional.
Menurut Antero Leitzinger, ini bukanlah kebetulan. Pada tahun 1960-an, ketika gerakan mahasiswa radikal mengamuk di Barat, banyak mahasiswa asing hasil pertukaran pelajar dari dunia Islam menjadi terhubung dengan pemikiran Kiri dan membawa konsep Kiri seperti revolusi kekerasan kembali ke negaranya. [32]

Pada tahun 1974, Abdallah Schleifer, seorang profesor riset media di Universitas Amerika di Kairo, bertemu Ayman al-Zawahiri, yang kemudian menjadi orang kedua dalam komando al-Qaeda.
Ayman Al-Zawahiri, yang sedang belajar ilmu kedokteran di Universitas Kairo pada saat itu, membual bahwa kelompok-kelompok ekstremis Islam merekrut anggota terbanyak dari lembaga elit, seperti fakultas kedokteran dan teknik.

Abdallah Schleifer menjawab bahwa ia tidak terkejut: Selama tahun 1960-an, fakultas – fakultas ini memiliki konsentrasi kaum Marxis muda tertinggi. Ia mencatat bahwa Islamisme hanyalah tren baru yang berkembang dalam pemberontakan mahasiswa tahun 1960-an.

Abdallah Schleifer mengenang: “Saya berkata,” Dengar, Ayman, saya adalah seorang mantan Marxis. Saat anda berbicara, saya merasa seperti kembali ke Partai tersebut. Saya tidak merasa seolah-olah saya berbicara dengan seorang umat Islam tradisional.” [33]

Sangat mengherankan bahwa banyak orang mengaitkan ekstremisme Islam dengan fasisme (Islamofasisme), dan karena berbagai alasan, gagal menyebutkan asal usul komunisnya.
Fasisme adalah bentuk nasionalisme dan tidak memiliki latar belakang agama tertentu. Ketika mempertimbangkan ekstremisme Islam dalam hal pendekatan dan doktrinnya secara keseluruhan, menjadi jelas bahwa ia memiliki lebih banyak kesamaan dengan komunisme.
d.Sayyid Qutb dan Kebangkitan Terorisme

Tulisan-tulisan Sayyid Qutb memengaruhi banyak orang muda Arab, termasuk sarjana Palestina dan kemudian salah satu pendiri al-Qaeda, Abdullah Yusuf Azzam. [34] Laporan Komisi 11 September menguraikan pengaruh Sayyid Qutb pada pandangan dunia Osama bin Laden, dan juga menyebut Abdullah Yusuf Azzam secara langsung sebagai “seorang murid Sayyid Qutb.” [35]

Muhammad Qutb, adik Sayyid Qutb, juga merupakan salah satu pemancar utama pandangan Sayyid Qutb. Muhammad Qutb kemudian pergi ke Arab Saudi dan menjadi profesor yang melakukan penelitian mengenai Islam, dan pada saat yang sama, juga bertanggung jawab untuk mengedit, menerbitkan, dan mempromosikan teori-teori almarhum kakaknya.

Osama bin Laden membaca buku-buku Sayyid Qutb saat ia masih mahasiswa, dan ia akrab dengan Muhammad Qutb, yang secara teratur menghadiri kuliah umum mingguan hingga yang terakhir. Mantan pejabat CIA yang mengawasi kelompok yang bertanggung jawab atas Osama bin Laden, Michael Scheuer, juga peneliti senior di The Jamestown Foundation, menggambarkan Muhammad Qutb sebagai mentor Osama bin Laden. [36]

Pemimpin kedua Al-Qaeda yang disebutkan di atas, Ayman al-Zawahiri, juga seorang murid fanatik Sayyib Qutb. [37] Saat masih muda, Ayman al-Zawahiri berulang kali mendengar dari pamannya mengenai karakter Sayyid Qutb dan betapa hebatnya ia menderita di penjara. [38] Setelah kematian Sayyid Qutb, Ayman al-Zawahiri menulis dalam memoarnya: “Rezim Gamal Abdel Nasser berpikir bahwa gerakan Islam menerima pukulan mematikan dengan dieksekusinya Sayyid Qutb dan pasukannya.

Pada tahun Sayyid Qutb digantung, Ayman al-Zawahiri, yang saat itu berusia 15 tahun, membantu membentuk sel militan bawah tanah yang bertekad untuk “mewujudkan visi Sayyid Qutb.” [40] Setelah itu, Ayman al-Zawahiri bergabung dengan Jihad Islam Mesir dan kemudian menjadi mentor Osama bin Laden dan seorang anggota al-Qaeda yang penting. Setelah Osama bin Laden terbunuh, Ayman al-Zawahiri menjadi pemimpin al-Qaeda.

Glenn E. Robinson, pakar Timur Tengah yang disebut di atas, mengatakan bahwa di dunia Islam Sunni, Sayyid Qutb adalah pemikir terpenting yang menekankan jihad dengan kekerasan. [41] Secara virtual, semua konsep dan inovasi kelompok jihad Sunni dapat ditemukan di buku-buku Sayyid Qutb. [42] Meskipun berbagai kelompok jihad berbeda bentuk, mereka semua memiliki satu kesamaan, yaitu, penggunaan kekerasan di bawah panji-panji agama untuk mewujudkan tujuan politiknya. [43]

Pembunuhan Presiden Mesir Anwar Sadat pada tahun 1981 oleh Jihad Islam Mesir, dan serangan kelompok teroris Al-Gamma al-Islamiyah terhadap pejabat pemerintah, intelektual sekuler, Kristen Mesir, dan turis pada 1990-an adalah semua langkah dalam kampanye berisi visi Sayyid Qutb. [44]

Kelompok-kelompok jihad radikal yang mengejar ideologi Sayyid Quthb dikategorikan sebagai teroris jihad Salafi. Robert Manne, profesor politik di Universitas La Trobe, Melbourne, Australia, menyebut Sayyid Qutb “bapak jihadisme Salafi” dan “cikal bakal Negara Islam.” [45]

Dalam bukunya The Mind of the Islamic State: ISIS dan Ideologi Kekhalifahan, ia menulis: “Lima puluh tahun setelah eksekusi Sayyid Qutb , inilah yang menjadi tradisi jihadisme Salafi, pikiran Negara Islam. Tidak ada lagi tonggak untuk dilewati. Kami akhirnya mencapai gerbang neraka. ”[46]

Laporan Ancaman Persisten: Evolusi al Qa’ida dan Pelaku Jihad Salafi Lainnya oleh Rand Corporation di Amerika menguraikan pengaruh Sayyid Qutb pada pelaku jihad Salafi, dan pada saat yang sama mendaftarkan lebih dari 40 kelompok jihad Salafi. Mereka aktif di hampir semua benua. [47]

Melihat berbagai organisasi Islam ekstremis yang ada, meskipun organisasi tersebut tidak memiliki visi bersatu dan diberikan untuk pertikaian ideologis, ada satu sifat yang umum bagi mayoritas organisasi tersebut: Bentuk jihad agresif Sayyid Qutb. Mereka pada dasarnya mewarisi karya Sayyid Qutb, yang merupakan revolusi komunis dalam bentuk yang berbeda.

e. Bagaimana Komunisme Telah Menjadi Korban bagi Muslim Biasa

Laporan 2011 mengenai Terorisme yang diterbitkan oleh Pusat Penanggulangan Kontra Terorisme Amerika Serikat menyatakan bahwa “dalam kasus di mana afiliasi agama korban terorisme dapat ditentukan, umat Islam menderita antara 82 persen hingga 97 persen dari kematian terkait terorisme selama lima tahun terakhir.” [48]

Laporan resmi mengenai Terorisme 2016 mencantumkan total 11.072 serangan teroris yang menyebabkan 25.621 kematian total untuk tahun itu saja. Selain itu, serangan teroris sangat mungkin terjadi di negara-negara dan wilayah mayoritas umat Islam:

“Meskipun serangan teroris terjadi di 104 negara pada tahun 2016, mereka sangat terkonsentrasi secara geografis. Lima puluh lima persen dari semua serangan terjadi di lima negara (Irak, Afghanistan, India, Pakistan, dan Filipina), dan 75 persen dari semua kematian akibat serangan teroris terjadi di lima negara (Irak, Afghanistan, Suriah, Nigeria, dan Pakistan). “[49]

Sebaliknya, serangan teroris menghasilkan lebih sedikit kematian di negara-negara Barat.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Institut Cato pada bulan September 2016, Terorisme dan Imigrasi: Analisis Risiko, menyatakan bahwa teroris kelahiran asing yang memasuki negara itu, baik sebagai imigran atau turis, bertanggung jawab atas 3.024 dari 3.432 pembunuhan yang disebabkan oleh teroris di Amerika Serikat sejak tahun 1975 hingga akhir 2015. Jumlah ini termasuk 2.983 orang yang tewas dalam serangan 11 September. [50] Rata-rata 74 orang Amerika Serikat terbunuh dalam serangan teroris setiap tahun.

Terlepas dari kenyataan bahwa kelompok-kelompok ekstremis beroperasi atas nama Islam, korban terbesar adalah masyarakat Islam. Ini karena, apapun alasan dangkal, motivasi terorisme yang sebenarnya adalah keinginan untuk membunuh dan menghancurkan.

Share

Video Popular