- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab XV – Akar Terorisme Adalah Komunisme

Roh jahat komunisme tidak lenyap dengan disintegrasi Partai Komunis di Eropa Timur

Pengantar

Pada pagi hari tanggal 11 September 2001, teroris membajak pesawat penumpang dan menerbangkan pesawat tersebut ke menara kembar World Trade Center di New York, serta ke Pentagon di Washington, yang menewaskan hampir sekitar 3,000 orang.

Ini adalah yang pertama kalinya sejak serangan Jepang ke Pearl Harbour yang mempermalukan Amerika Serikat di wilayahnya sendiri.

Serangan 11 September tersebut berdampak pada seluruh dunia. Amerika Serikat meluncurkan “perang terhadap teroris” secara global, yang menggulingkan rezim di Afganistan dan pemimpin diktator Irak Saddam Hussein.

Sejak peristiwa tersebut, masyarakat menjadi akrab dengan gerakan teroris dan perwakilannya, seperti al-Qaeda dan Osama bin Laden. Namun, hanya beberapa orang saja yang menyadari adanya hubungan erat antara terorisme dengan komunisme.
Istilah “terorisme” dan “teroris” pertama kali muncul pada tahun 1795 sebagai rujukan untuk Pemerintahan Teror selama Revolusi Prancis, yang mendasari fondasi gerakan komunis (lihat Bab Dua).[1]

Dalam dunia modern, terorisme terutama muncul dalam tiga bentuk: Terorisme negara di bawah rezim komunis; aktivitas teroris yang dilakukan di luar negeri oleh agen rezim komunis, yang bertujuan untuk menyebarkan revolusi kekerasan; dan ekstremisme yang banyak menganut ideologi dan metode komunisme.

1. Terorisme Negara Di Bawah Rezim Komunis

Abad komunis adalah berupa kebohongan, kekerasan, dan pembunuhan. Khususnya, terorisme telah menjadi alat penting bagi komunis untuk menyebarkan ideologinya ke seluruh dunia.
Tak diragukan lagi, bangkitnya rezim komunis mengakibatkan pergerakan mesin negara untuk memaksakan kebrutalan yang mengerikan. Penindasan yang disponsori pemerintah adalah terorisme negara.

Vladimir Lenin mengandalkan terorisme dalam mengambilalih kekuasaan di Rusia. Pada tahun 1918, Felix Dzerzhinsky, yang dianggap oleh Vladimir Lenin sebagai pahlawan revolusi atas perannya sebagai direktur Komisi Luar Biasa Seluruh-Rusia (Cheka), berkata dengan gamblang, ”Kami siap mendukung teror yang terorganisir — hal ini harus diakui secara jujur.”[2] Penganut Marxis bernama Karl Kautsky, yang pada tahun 1919 menerbitkan Terorisme dan Komunisme, memberikan tinjauan pemahaman mengenai apa yang akan terjadi di bawah kediktatoran kelas sosial rendah yang dibangkitkan oleh Vladimir Lenin.

Meneliti kekerasan Revolusi Prancis, Vladimir Kautsky menyimpulkan bahwa kaum Bolshevik yang diciptakan oleh Vladimir Lenin telah mewarisi karakter teroris kaum Jacobin dan akan meneruskannya.[3]

Yuri N. Afanasyev, sejarahwan Rusia menyalahkan Vladimir Lenin atas kebijakan pendiriannya mengenai teror negara, kekerasan, dan pelanggaran hukum. “Kekerasan sebenarnya adalah keseluruhan sejarah kami,” kata Yuri N. Afanasyev.[4]

Menyertai berdirinya Uni Soviet, rezim komunis Joseph Stalin, Mao Zedong, Pol Pot, Fidel Castro, Eric Honecker, Nicolae Ceausescu, Kim Il Sung, dan penguasa lalim lainnya semuanya mengandalkan pembunuhan untuk mempertahankan kekuasaannya. Kekerasan dan barbarism teror negara yang mereka lakukan telah dibahas dalam bab-bab sebelumnya.
Kekerasan dan pembunuhan adalah satu komponen agenda teroris komunisme. Bahkan yang lebih parah adalah cara komunisme menggunakan gabungan kekuatan politik dan semangat agama untuk mencuci otak rakyat dengan kebudayaan partai komunis, yang menyemai bibit penipuan, kebencian, dan kekerasan untuk diwariskan dari generasi ke generasi.

2- Bagaimana Rezim Komunis Mengekspor Teror

Saat memberlakukan terorisme negara pada rakyatnya sendiri, rezim komunis mendukung organisasi teroris di luar negeri dengan tujuan memicu revolusi atau menggoyahkan negara musuh.
Ahli anti-komunis Brian Crozier, pendiri dan direktur Institut Studi Konflik, menghabiskan beberapa puluh tahun untuk mempelajari hubungan antara komunisme dengan terorisme, dan menerbitkan banyak buku dan makalah yang merinci temuannya. Ia menjabat sebagai pembantu pemimpin anti-komunis seperti Ronald Reagan dan Margaret Thatcher dalam menganalisis penggunaan teror oleh blok komunis.[5]

Stanislav Lunev, mantan perwira Direktorat Intelijen Utama dalam militer Uni Soviet yang membelot ke Barat, menuduh Direktorat Intelijen Utama sebagai salah satu mentor utama teroris di seluruh dunia.[6]

Banyak kelompok ekstrimis yang menggelar serangan anti-Amerika Serikat — di antaranya Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina, pasukan komando Tentara Merah Jepang, Brigade Merah Italia, Faksi Tentara Merah Jerman, penyelundup senjata Turki, dan gerilyawan Amerika Selatan — didukung oleh KGB Uni Soviet.

Pada tahun 1975, Richard Welch, direktur kantor CIA di Athena, dibunuh oleh kaum Marxis Yunano.[7] Pada tahun 1979, komandan tertinggi NATO bernama Jenderal Alexander Haig menjadi sasaran serangan oleh Faksi Tentara Merah dekat Brussels. Tiga pengawalnya terluka saat bom meledak di bawah kendaraan mereka, yang mengikuti kendaraan sang Jenderal.
Pada bulan September 1981, Jenderal Frederick J.Kroesen, komandan Kelompok Tentara Pusat NATO, terluka di Heidelberg, Jerman Barat saat itu, ketika anggota Faksi Tentara Merah menembaki roket anti-tank ke mobil lapis baja yang ditumpanginya.

Namun, bentuk terorisme modern yang paling berpengaruh adalah Islam radikal yang dipelihara oleh blok Uni Soviet sebagai sarana untuk mengacaukan dunia Islam.
Pada paruh pertama abad ke-20, Timur Tengah adalah wilayah kolonial Barat. Saat rakyat Timur Tengah memperoleh kemerdekaannya, Uni Soviet mengambil kesempatan untuk mempengaruhi rakyat di sana.

Kini, Timur Tengah dalam situasi yang rumit dan kacau akibat pertentangan di antara kelompok, konflik Arab-Israel, Perang Dingin, politik di pusaran minyak, dan benturan peradaban antara wilayah kebudayaan Barat dengan kebudayaan Islam.

Dengan latar belakang inilah Uni Soviet melakukan penyusupannya ke wilayah umat Islam. Sekilas, hal ini tampaknya bertentangan. Ada yang mengikuti iman Abraham dan percaya pada Tuhan, sedangkan Marxisme-Leninisme adalah ateis dan bertujuan untuk melenyapkan agama. Bagaimana mungkin mereka dapat berdamai?

Gerakan komunis menyerupai wabah yang menyebar melalui semua vektor yang tersedia. Meskipun gagal, komunisme membuat kemajuan pertamanya di dunia Islam tak lama setelah Revolusi Oktober.

Pada bulan Juni 1920, kaum Bolshevik membantu pembentukan rezim Uni Soviet di Provinsi Gilan di Iran, yang dikenal sebagai Republik Sosialis Soviet Persia atau Republik Soviet Gilan.
Rezim Soviet melakukan serangkaian reformasi radikal, yang mencakup kebijakan untuk mengambilalih kekayaan tuan tanah, yang disertai oleh program propaganda anti-agama. Tindakan-tindakan ini terbukti sangat tidak populer, dan rezim Soviet digulingkan pada bulan September tahun berikutnya.

Kemudian, konsep “sosialisme Islam” mulai berlaku. Perwakilannya mencakup memimpin Gerakan Pembebasan Palestina (PLO) dari tahun 1969 hingga pada tahun 2004, dan Gamal Abdel Nasser, yang menjadi Presiden Mesir yang kedua dari tahun 1954 hingga kematiannya pada tahun 1970. Gerakan Pembebasan Palestina yang didukung oleh Uni Soviet dan Partai Komunis Tiongkok, terlibat dalam aktivitas perlawanan yang meluas.

Aljazair, Yaman Selatan, dan Afganistan berada di bawah cengkraman komunis untuk waktu yang bervariasi selama Perang Dingin. Pada tahun 1979, Uni Soviet menyerbu Afganistan dan menjajah negara tersebut selama 10 tahun dalam upaya menopang rezim komunis rezim komunis terakhir yang tersisa di dunia Islam.

Mempromosikan komunisme di suatu daerah dengan kepercayaan agama yang dipegang teguh adalah tantangan yang luar biasa. Upaya Uni Soviet untuk secara langsung mengekspor revolusi sosialis ke dunia Islam terbukti sangat tidak berhasil. Namun, walaupun komunisme itu sendiri gagal mengendalikan wilayah tersebut, komunisme telah banyak berpengaruh dalam pembentukan dan perkembangan ekstremisme kontemporer.

Ion Mihai Pacepa, seorang mantan jenderal bintang-dua di negara komunis Rumania, di mana ia menjadi penasihat Presiden Nicolae Ceausescu, pejabat kepala dinas intelijen negara, dan sekretaris negara Kementerian Dalam Negeri, menjadi pembelot peringkat-tertinggi dari blok Uni Soviet saat ia melarikan diri ke Amerika Serikat pada bulan Juli 1978.

Dalam artikelnya berjudul “Jejak Rusia,” Ion Mihai Pacepa mengungkapkan sejumlah besar rahasia sebagai orang dalam mengenai dukungan komunis untuk terorisme di Timur Tengah.[8] Ia mengutip Aleksandr Sakharovsky, kepala intelijen Uni Soviet untuk negara asing, yang mengatakan, “Dalam dunia masa kini, saat senjata nuklir menjadikan kekuatan militer menjadi usang, terorisme seharusnya menjadi senjata utama kita.”

Delapan puluh dua pembajakan pesawat terjadi pada tahun 1969 saja. Banyak pembajakan tersebut dilakukan oleh Gerakan Pembebasan Palestina dengan dukungan komunis Uni Soviet dan Partai Komunis Tiongkok. Ion Mihai Pacepa ingat saat ia mengunjungi kantor Aleksandr Sakharovsky, ia memperhatikan lautan bendera merah kecil menghiasi sebuah peta dunia. Setiap bendera mewakili sebuah pesawat yang dibajak.

Aleksandr Sakharovsky membual kepada Ion Mihai Pacepa bahwa taktik pembajakan pesawat adalah temuannya sendiri. Antara tahun 1968 hingga 1978, setiap minggu direktorat keamanan Rumania melakukan pengiriman pasokan militer untuk teroris Palestina di Lebanon melalui udara. Arsip-arsip dari pembubaran Jerman Timur menunjukkan bahwa pada tahun 1983, Badan Intelijen Asing Jerman Timur mengirim amunisi senilai usd 1.877.600 untuk senapan serbu Kalashnikov untuk organisasi- organisasi teroris Lebanon. Cekoslovakia memberi 1.000 ton Semtex-H, suatu bom plastik yang tidak berbau, kepada teroris agama.

Pada awal tahun 1970-an, Yuri Andropov, yang saat itu menjabat sebagai kepala KGB dan kemudian menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Soviet, memulai kampanye propaganda terselubung yang direncanakan secara teliti untuk menabur benih kebencian anti-Semit dan anti-Amerika Serikat ke seluruh dunia Arab dan Islam. Untuk karyanya ini, Yuri Andropov dikenal sebagai “bapak era disinformasi.”[9]

3- Asal Komunis Ekstremisme Agama

Serangan teroris pada tanggal 11 September 2001, menandai perubahan yang sangat besar dalam hubungan dunia. Osama bin Laden beserta al-Qaeda miliknya menempati berita utama saat ancaman ekstremis atas nama agama semakin menonjol.

Bagi sebagian besar orang di seluruh dunia, serangan 11 September tersebut adalah suatu tragedi yang mengejutkan. Tetapi, di Tiongkok, di bawah sensor Partai Komunis Tiongkok, reaksinya sangat berbeda.

Dari forum dan ruang bincang-bincang internet hingga kantin universitas, sejumlah besar rakyat Tiongkok yang mendukung teroris, memberi komentar seperti “Pekerjaan yang bagus!” dan “Kami sangat mendukung tindakan keadilan melawan Amerika Serikat.”

Berdasarkan survei terhadap 91.701 orang di NetEase, suatu website utama di Tiongkok, hanya 17,8 persen responden yang sangat menentang serangan teroris tersebut, sedangkan sebagian besar rakyat Tiongkok memilih “menentang Amerika Serikat” atau “yang terbaik akhirnya datang” sehubungan dengan tragedy tersebut.[10]

Rakyat Tiongkok yang bersuka ria atas serangan teroris tersebut tidak pernah bertemu dengan Osama bin Laden dan sejenisnya, tetapi akar pemikiran mereka yang beracun adalah sama.
Rakyat Tiongkok telah diracuni oleh propaganda komunis dan kebudayaan Partai Komunis Tiongkok sejak kecil. Namun, secara logika, seseorang akan bertanya-tanya apa yang mungkin terjadi dengan Osama bin Laden, yang telah bertempur melawan Uni Soviet di Afganistan.

Sumber ideologis ekstremisme ala Osama bin Laden dapat ditelusuri kembali kepada Sayyid Qutb, pelopor terorisme di Mesir, seorang pria yang dapat digambarkan sebagai Karl Max untuk jihadis [11] dan seorang yang sering dijuluki sebagai “godfather jihad modern.”[12]

a-Sayyid Qutb: Karl Max untuk Ekstremisme

William McCants, ahli kontra-terorisme dan mantan peneliti di Pusat Pembasmian Terorisme di West Point, telah mengamati bahwa ekstremis sering merujuk pada ajaran Sayyid Qutb saat menjelaskan motivasinya, dan bahwa banyak ekstremis tersebut menganggap dirinya sebagai penerus ajaran Sayyid Qutb.[13]

Ayman al-Zawahiri, pemimpin al-Qaeda yang meninggal setelah kematian Osama bin-Laden, menganggap pemikiran Sayyid Qutb sebagai pemicu api ekstremisme jihad.
Pada tahun 2016, ahli Timur Tengah bernama Hassan Hassan menerbitkan sebuah laporan Sumbangan Carnegie untuk Perdamaian Internasional yang disebut: The Sectarianism of the Islamic State: Ideological Roots and Political Context.

Menjelang akhir laporan tersebut, Hassan Hassan mengutip kesimpulan yang populer dari doktrin inti kelompok teroris ISIS: “Negara Islam dirancang oleh Sayyid Qutb, diajarkan oleh Abdullah Azzam, diperkenalkan pada dunia oleh Osama bin Laden, dijadikan kenyataan oleh Abu Musab al-Zarqawi, dan dilaksanakan oleh al-Baghdadis: Abu Omar dan Abu Bakr.”[4]

Osama bin Laden dan kemudian ISIS mengadopsi dan memperluas ideologi Sayyid Qutb. Singkatnya, Qutbisme adalah bujukan kekerasan untuk menghancurkan akar masyarakat lama, atau “jahiliya,” yang menyerukan agar para pelaku jihad untuk menyerahkan nyawanya demi suatu ideologi yang akan mengantar pada pembebasan manusia.[15] Gaya bombastis ini mengingatkan pada tulisan Karl Max dan Vladimir Lenin, dan dengan alasan yang bagus: Sayyid Qutb adalah anggota Partai Komunis pada masa mudanya, dan dalam gagasannya tertanam retorika Marxisme-Leninisme.

Robert R.Reilly, rekan senior Komite Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat, mengatakan bahwa Sayyid Qutb sebenarnya adalah penghubung Internasional Komunis untuk Ikhwanul Muslim Mesir dan Partai Komunis Mesir.[16]

Lahir pada tahun 1906, Sayyid Qutb mempelajari sosialisme dan sastra pada akhir tahun 1920-an hingga 1930-an. Sejak tahun 1950, ia telah belajar selama dua tahun di Amerika Serikat, dan bergabung dengan Ikhwanul Muslim setelah ia kembali ke Mesir.[17] Sayyid Qutb selalu berhubungan dengan letnan tentara Gamal Abdel Nasser, pemimpin Gerakan Perwira Bebas yang berhaluan sosialis.

Pada tahun 1952, Gamal Abdel Nasser melancarkan kudeta militer yang menggulingkan dinasti Muhammad Ali, monarki pro-Barat. Dikatakan bahwa kudeta revolusi-sosialis ini direncanakan oleh Sayyid Qutb dan Ikhwanul Muslim beserta Gamal Abdel Nasser. Namun, Sayyid Qutb berharap Gamal Abdel Nasser akan mendirikan rezim Islam, sebaliknya Gamal Abdel Nasser melakukan sekularisasi, dan pada tahun 1954 mulai menindas Ikhwanul Muslim.

Sayyid Qutb dan Ikhwanul Muslim bersiap untuk membunuh Gamal Abdel Nasser. Rencana tersebut gagal, dan Sayyid Qutb dituduh melakukan percobaan pembunuhan berencana dan dipenjara.

Selama tiga tahun di penjara, Sayyid Qutb disiksa dengan kejam. Belakangan, keadaan menjadi lebih longgar, dan ia diizinkan untuk menulis. Ia menulis dua karya terpenting saat berada di penjara — Fi Zilal al-Qur’an (Di Bawah Naungan Al-Qur’an) dan Ma’alim fi’l-Tariq (Milestone).
Dua buku ini, yang meliput pandangan Sayyid Qutb mengenai Al-Qur’an, sejarah Islam, Mesir, dan masyarakat Barat, menguraikan sepenuhnya pembelaannya akan ekstremisme anti-sekuler, anti-Barat.

Sayyid Qutb pernah satu kali dibebaskan sebentar dari penjara. Ia tidak mengambil kesempatan tersebut untuk meninggalkan Mesir dan dipenjara lagi. Pada tahun 1966, Sayyid Qutb dihukum karena keterlibatannya dalam konspirasi untuk membunuh Gamal Abdel Nasser dan dieksekusi dengan cara digantung.

Pemikiran subversif Sayyid Qutb menganugerahkan konsep jihad Islam dengan interpretasi baru. Mendengar kata jihad, banyak orang langsung berpikir mengenai “perang suci.”
Dalam bahasa Arab, jihad berarti berjuang atau bertarung. Bagi umat Islam arus utama, jihad dapat diartikan sebagai konflik internal atau kesempurnaan-diri) atau jihad defensif.[18]
Sayyid Qutb memperluas definisi jihad untuk memasukkan penggunaan kekerasan yang proaktif dan tidak terkendali dalam “perang suci” jihad dan meletakkan dasar teoretisnya.[19] Sayyid Qutb dengan bangga berjalan menuju tiang gantung dan menjadi martir agama.

Filosofi Sayyid Qutb menyatakan bahwa sistem sosial apa pun yang mematuhi hukum atau etika sekuler adalah “masyarakat lama” yang anti-Islam — jahiliya (ketidaktahuan akan kebenaran agama, awalnya merujuk pada masyarakat sebelum penyebaran Islam). Bahkan masyarakat yang mengklaim dirinya sebagai umat Islam masih mungkin menjadi jahiliyah. Sayyid Qutb menganggap sistem sosial Mesir tempat ia tinggal menjadi sistem di mana jahiliya adalah dominan, dan oleh karena itu harus ditumbangkan.[20]

Menurut Sayyid Qutb, jahiliyah adalah penghalang terbesar bagi Muslim dan non-Muslim, yang mencegah mereka dari memenuhi nilai-nilai dan hukum Islam. Ia mengklaim bahwa masyarakat lama telah dipaksakan pada rakyat dan dalam proses tersebut, telah merampas kebebasan rakyat. Rakyat yang diperbudak ini — analog dengan kelas buruh dalam Marxisme — memiliki hak untuk melakukan jihad untuk menggulingkan penindasan jahiliyah.

Sayyid Qutb menganjurkan jihad sebagai sarana pembebasan bagi seluruh umat manusia, Muslim maupun non-Muslim. [21] Ketika buku-buku Sayyid Qutb dipublikasikan, banyak pemimpin Islam berpikir Sayyid Qutb telah bertindak terlalu jauh dan menganggap ide-idenya sebagai ajaran sesat. [22]

Sayyid Qutb lebih lanjut meminjam konsep Marxis mengenai “kesadaran palsu,” yang mengacu pada penerimaan massa rakyat terhadap cita-cita dan kebudayaan penguasa. Konsep ini berpendapat bahwa ini mencegah massa rakyat merasakan penindasan dan menggulingkan kapitalisme demi sosialisme. Bagi Sayyid Qutb, mereka yang hidup di bawah jahiliya tidak menyadari bahwa mereka adalah budak, itulah sebabnya mereka tidak terlibat dalam jihad untuk membebaskan dirinya sendiri. [23]

“Apa yang harus dilakukan?” Seperti yang Vladimir Lenin taruh di pamfletnya. Sayyid Qutb memiliki pertanyaan yang sama, jadi ia mencari solusi bagi Vladimir Lenin.

b-Pelopor Leninis Jihad

Tulisan Sayyid Qutb penuh dengan kosakata yang akrab bagi mahasiswa Marxisme-Leninisme, seperti “pelopor,” “negara,” “revolusi,” dan sejenisnya. Situasi dan tantangan yang dihadapi Vladimir Lenin pada saat menulis pamfletnya Apa yang harus dilakukan? mencerminkan keadaan yang dihadapi oleh Sayyid Quthb saat ia merumuskan ideologinya yang radikal. Vladimir Lenin menaruh semua harapan pada partai pelopor kelas sosial bawah untuk revolusi yang sukses. Sayyid Qutb menyalin teori ini dan menggantikan partai politik Leninis dengan organisasi ekstremis agama.

Vladimir Lenin sangat menekankan pentingnya organisasi dan pelopor. Ia mengidentifikasi perbedaan yang jelas antara spontanitas dengan kesadaran, dan memperkenalkan gagasan pembangunan partai.

Menurut Vladimir Lenin, dengan hanya tindakan spontan, buruh hanya dapat membuat tuntutan yang dangkal, seperti kenaikan gaji dan delapan jam hari kerja, tetapi mereka tidak memiliki kesadaran yang dibutuhkan untuk membebaskan umat manusia.

Vladimir Lenin percaya bahwa pelopor eksternal (biasanya kaum intelektual borjuis, yang memiliki hak istimewa pendidikan) dituntut untuk menghasut dan mengindoktrinasi buruh, sehingga mereka menyadari bahwa revolusi adalah satu-satunya jalan keluar dan mencapai pemahaman bahwa hanya dengan membebaskan semua umat manusia, maka diri mereka dibebaskan.
Untuk sepenuhnya memanfaatkan barisan depan, sebuah partai politik yang sangat erat diperlukan untuk mengatur kegiatan mereka secara total dan memberi mereka peluang untuk bergerilya sebagai revolusioner profesional. Partai politik ini, partai politik kelas sosial bawah, adalah pelopor kelas sosial bawah. [24]

Glenn E. Robinson, seorang profesor di Sekolah Pascasarjana Angkatan Laut di Monterey, California, dan seorang peneliti di Pusat Studi Timur Tengah, Universitas California-Berkeley, mengatakan mengenai Islam radikal: “Meskipun untuk alasan yang jelas para ahli ideologi jihad tidak mengutip Vladimir Lenin sebagai inspirasi, konsep dan logika mereka, terutama Sayyid Qutb, mengkhianati pengaruh ini. Setelah dididik di Mesir pada tahun 1940-an, Sayyid Qutb pasti akan terpapar dengan tulisan-tulisan Vladimir Lenin. Dua konsep utama dari Sayyid Qutb berasal langsung dari Vladimir Lenin: jama’ah (pelopor) dan manhaj (program).”[25]

Mengambil inti Leninisme, Sayyid Qutb menganjurkan organisasi Islam sebagai versi partai pelopor Leninis.”Sayyid Qutb membuat argumen yang persis sama untuk dunia Islam,” tulis Glenn E. Robinson.

“Mayoritas umat Islam terlalu terperangkap dan rusak oleh sistem pemerintahan yang tidak adil dan anti-Islam untuk mengetahui bagaimana dan kapan harus mengangkat senjata melawan negara. Pelopor kader jihad yang berdedikasi diperlukan untuk mengorganisir tindakan langsung terhadap negara.”[26] Juga,“desakan Vladimir Lenin pada sentralitas pelopor yang memiliki program yang terperinci dan koheren untuk melakukan dan kemudian mengkonsolidasikan revolusi juga bergema, dengan sebuah nada Islami, dalam tulisan-tulisan Sayyid Qutb.”[27]

Bagi Sayyid Qutb, pelopor ini, yang terdiri dari apa yang ia sebut “Umat Islam sejati” – atau ekstremis – memiliki misi revolusioner untuk membebaskan semua umat Islam dan seluruh peradaban manusia. Barisan depan harus menyerang keras umat Islam yang palsu, mengikuti ideologi Islam sebagaimana ditentukan oleh interpretasi Sayyid Qutb, membangun negara baru berdasarkan Islamisme, dan menggunakan kekerasan untuk memaksakan Islam di seluruh dunia.

Selain pelopor, teori Sayyid Qutb juga termasuk “kesetaraan sosial,” penghapusan kelas, aktivitas anti-pemerintah, dan pembebasan umat manusia. [28] Semua poin ini menggemakan tujuan komunisme yang dinyatakan.

Setelah kematian Sayyid Qutb, saudaranya Muhammad Qutb terus-menerus menerbitkan buku-bukunya. Buku Ma’arakat ul-Islam war-Ra’samaaliyyah, yang diterbitkan pada tahun 1993, kembali mengungkap inspirasi komunis Sayyid Qutb. Sayyid Qutb secara terang-terangan menyatakan bahwa Islam adalah “aqidah unik, konstruktif, dan positivis, yang telah dibentuk dari agama Kristen dan Komunisme bersama-sama, [dengan] memadukan dalam cara-cara yang paling sempurna dan yang terdiri dari semua tujuan (yaitu, agama Kristen dan Komunisme) dan menambahkan harmoni, keseimbangan dan keadilan.”[29]

c-Inti Komunis Ekstremisme Agama

Perjuangan kelas adalah ide Marxis lain yang sentral bagi ekstremisme agama. Karl Marx menghabiskan seluruh hidupnya mencoba untuk menghasut konflik antara kelas sosial bawah dengan kaum borjuis untuk mempertajam konflik ke titik yang tidak dapat kembali ke titik awal dan akhirnya “menyelesaikan” konflik tersebut melalui revolusi. Ekstremis agama beroperasi dengan cara yang hampir sama.

Apakah dengan cara menghancurkan World Trade Center di Manhattan terjadi sesuatu untuk membantu mewujudkan dunia Islam bersatu yang diinginkan oleh Sayyid Qutb? Benar-benar tidak. Itu hanyalah sarana untuk memperburuk konflik antara dunia Barat dengan umat Islam.

Di Barat, serangan teroris menghasut kebencian terhadap umat Islam, dan yang sebaliknya terjadi di negara-negara Islam. [30] Metode para ekstremis mencerminkan promosi konflik antara kelas sosial bawah dengan kaum borjuis oleh Karl Marx dan Vladimir Lenin, untuk menciptakan kondisi yang diperlukan untuk meluncurkan revolusi.

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa teori-teori Sayyid Qutb memiliki kemiripan yang lebih besar dengan komunisme daripada dengan Islam tradisional. Sementara para ekstremis Islam menyatakan oposisi agama terhadap komunisme, pada kenyataannya, mereka menyerap inti doktrin revolusioner komunis yang murni.
Seperti yang dicatat oleh seorang penulis, “Argumen yang dibuat di sini adalah bahwa musuh nyata yang menghadapi dunia bebas tetap Komunisme dan bahwa Islamis radikal tidak lebih dari Komunisme yang terselubung dalam pakaian tradisional Islam.” [31]

Tidak hanya di dunia Islam di mana ekstremisme kekerasan telah diperkenalkan. Gerakan kontra-kebudayaan Barat menyebarkan ideologi Kiri di seluruh dunia, dan beserta jajaran teroris Vladimir Lenin.

Sejarawan politik Finlandia Antero Leitzinger percaya bahwa terorisme modern lahir antara tahun 1966 hingga 1967, berkembang pada saat yang sama dengan gerakan komunis internasional.
Menurut Antero Leitzinger, ini bukanlah kebetulan. Pada tahun 1960-an, ketika gerakan mahasiswa radikal mengamuk di Barat, banyak mahasiswa asing hasil pertukaran pelajar dari dunia Islam menjadi terhubung dengan pemikiran Kiri dan membawa konsep Kiri seperti revolusi kekerasan kembali ke negaranya. [32]

Pada tahun 1974, Abdallah Schleifer, seorang profesor riset media di Universitas Amerika di Kairo, bertemu Ayman al-Zawahiri, yang kemudian menjadi orang kedua dalam komando al-Qaeda.
Ayman Al-Zawahiri, yang sedang belajar ilmu kedokteran di Universitas Kairo pada saat itu, membual bahwa kelompok-kelompok ekstremis Islam merekrut anggota terbanyak dari lembaga elit, seperti fakultas kedokteran dan teknik.

Abdallah Schleifer menjawab bahwa ia tidak terkejut: Selama tahun 1960-an, fakultas – fakultas ini memiliki konsentrasi kaum Marxis muda tertinggi. Ia mencatat bahwa Islamisme hanyalah tren baru yang berkembang dalam pemberontakan mahasiswa tahun 1960-an.

Abdallah Schleifer mengenang: “Saya berkata,” Dengar, Ayman, saya adalah seorang mantan Marxis. Saat anda berbicara, saya merasa seperti kembali ke Partai tersebut. Saya tidak merasa seolah-olah saya berbicara dengan seorang umat Islam tradisional.” [33]

Sangat mengherankan bahwa banyak orang mengaitkan ekstremisme Islam dengan fasisme (Islamofasisme), dan karena berbagai alasan, gagal menyebutkan asal usul komunisnya.
Fasisme adalah bentuk nasionalisme dan tidak memiliki latar belakang agama tertentu. Ketika mempertimbangkan ekstremisme Islam dalam hal pendekatan dan doktrinnya secara keseluruhan, menjadi jelas bahwa ia memiliki lebih banyak kesamaan dengan komunisme.
d.Sayyid Qutb dan Kebangkitan Terorisme

Tulisan-tulisan Sayyid Qutb memengaruhi banyak orang muda Arab, termasuk sarjana Palestina dan kemudian salah satu pendiri al-Qaeda, Abdullah Yusuf Azzam. [34] Laporan Komisi 11 September menguraikan pengaruh Sayyid Qutb pada pandangan dunia Osama bin Laden, dan juga menyebut Abdullah Yusuf Azzam secara langsung sebagai “seorang murid Sayyid Qutb.” [35]

Muhammad Qutb, adik Sayyid Qutb, juga merupakan salah satu pemancar utama pandangan Sayyid Qutb. Muhammad Qutb kemudian pergi ke Arab Saudi dan menjadi profesor yang melakukan penelitian mengenai Islam, dan pada saat yang sama, juga bertanggung jawab untuk mengedit, menerbitkan, dan mempromosikan teori-teori almarhum kakaknya.

Osama bin Laden membaca buku-buku Sayyid Qutb saat ia masih mahasiswa, dan ia akrab dengan Muhammad Qutb, yang secara teratur menghadiri kuliah umum mingguan hingga yang terakhir. Mantan pejabat CIA yang mengawasi kelompok yang bertanggung jawab atas Osama bin Laden, Michael Scheuer, juga peneliti senior di The Jamestown Foundation, menggambarkan Muhammad Qutb sebagai mentor Osama bin Laden. [36]

Pemimpin kedua Al-Qaeda yang disebutkan di atas, Ayman al-Zawahiri, juga seorang murid fanatik Sayyib Qutb. [37] Saat masih muda, Ayman al-Zawahiri berulang kali mendengar dari pamannya mengenai karakter Sayyid Qutb dan betapa hebatnya ia menderita di penjara. [38] Setelah kematian Sayyid Qutb, Ayman al-Zawahiri menulis dalam memoarnya: “Rezim Gamal Abdel Nasser berpikir bahwa gerakan Islam menerima pukulan mematikan dengan dieksekusinya Sayyid Qutb dan pasukannya.

Pada tahun Sayyid Qutb digantung, Ayman al-Zawahiri, yang saat itu berusia 15 tahun, membantu membentuk sel militan bawah tanah yang bertekad untuk “mewujudkan visi Sayyid Qutb.” [40] Setelah itu, Ayman al-Zawahiri bergabung dengan Jihad Islam Mesir dan kemudian menjadi mentor Osama bin Laden dan seorang anggota al-Qaeda yang penting. Setelah Osama bin Laden terbunuh, Ayman al-Zawahiri menjadi pemimpin al-Qaeda.

Glenn E. Robinson, pakar Timur Tengah yang disebut di atas, mengatakan bahwa di dunia Islam Sunni, Sayyid Qutb adalah pemikir terpenting yang menekankan jihad dengan kekerasan. [41] Secara virtual, semua konsep dan inovasi kelompok jihad Sunni dapat ditemukan di buku-buku Sayyid Qutb. [42] Meskipun berbagai kelompok jihad berbeda bentuk, mereka semua memiliki satu kesamaan, yaitu, penggunaan kekerasan di bawah panji-panji agama untuk mewujudkan tujuan politiknya. [43]

Pembunuhan Presiden Mesir Anwar Sadat pada tahun 1981 oleh Jihad Islam Mesir, dan serangan kelompok teroris Al-Gamma al-Islamiyah terhadap pejabat pemerintah, intelektual sekuler, Kristen Mesir, dan turis pada 1990-an adalah semua langkah dalam kampanye berisi visi Sayyid Qutb. [44]

Kelompok-kelompok jihad radikal yang mengejar ideologi Sayyid Quthb dikategorikan sebagai teroris jihad Salafi. Robert Manne, profesor politik di Universitas La Trobe, Melbourne, Australia, menyebut Sayyid Qutb “bapak jihadisme Salafi” dan “cikal bakal Negara Islam.” [45]

Dalam bukunya The Mind of the Islamic State: ISIS dan Ideologi Kekhalifahan, ia menulis: “Lima puluh tahun setelah eksekusi Sayyid Qutb , inilah yang menjadi tradisi jihadisme Salafi, pikiran Negara Islam. Tidak ada lagi tonggak untuk dilewati. Kami akhirnya mencapai gerbang neraka. ”[46]

Laporan Ancaman Persisten: Evolusi al Qa’ida dan Pelaku Jihad Salafi Lainnya oleh Rand Corporation di Amerika menguraikan pengaruh Sayyid Qutb pada pelaku jihad Salafi, dan pada saat yang sama mendaftarkan lebih dari 40 kelompok jihad Salafi. Mereka aktif di hampir semua benua. [47]

Melihat berbagai organisasi Islam ekstremis yang ada, meskipun organisasi tersebut tidak memiliki visi bersatu dan diberikan untuk pertikaian ideologis, ada satu sifat yang umum bagi mayoritas organisasi tersebut: Bentuk jihad agresif Sayyid Qutb. Mereka pada dasarnya mewarisi karya Sayyid Qutb, yang merupakan revolusi komunis dalam bentuk yang berbeda.

e. Bagaimana Komunisme Telah Menjadi Korban bagi Muslim Biasa

Laporan 2011 mengenai Terorisme yang diterbitkan oleh Pusat Penanggulangan Kontra Terorisme Amerika Serikat menyatakan bahwa “dalam kasus di mana afiliasi agama korban terorisme dapat ditentukan, umat Islam menderita antara 82 persen hingga 97 persen dari kematian terkait terorisme selama lima tahun terakhir.” [48]

Laporan resmi mengenai Terorisme 2016 mencantumkan total 11.072 serangan teroris yang menyebabkan 25.621 kematian total untuk tahun itu saja. Selain itu, serangan teroris sangat mungkin terjadi di negara-negara dan wilayah mayoritas umat Islam:

“Meskipun serangan teroris terjadi di 104 negara pada tahun 2016, mereka sangat terkonsentrasi secara geografis. Lima puluh lima persen dari semua serangan terjadi di lima negara (Irak, Afghanistan, India, Pakistan, dan Filipina), dan 75 persen dari semua kematian akibat serangan teroris terjadi di lima negara (Irak, Afghanistan, Suriah, Nigeria, dan Pakistan). “[49]

Sebaliknya, serangan teroris menghasilkan lebih sedikit kematian di negara-negara Barat.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Institut Cato pada bulan September 2016, Terorisme dan Imigrasi: Analisis Risiko, menyatakan bahwa teroris kelahiran asing yang memasuki negara itu, baik sebagai imigran atau turis, bertanggung jawab atas 3.024 dari 3.432 pembunuhan yang disebabkan oleh teroris di Amerika Serikat sejak tahun 1975 hingga akhir 2015. Jumlah ini termasuk 2.983 orang yang tewas dalam serangan 11 September. [50] Rata-rata 74 orang Amerika Serikat terbunuh dalam serangan teroris setiap tahun.

Terlepas dari kenyataan bahwa kelompok-kelompok ekstremis beroperasi atas nama Islam, korban terbesar adalah masyarakat Islam. Ini karena, apapun alasan dangkal, motivasi terorisme yang sebenarnya adalah keinginan untuk membunuh dan menghancurkan.

4- Dukungan Partai Komunis Tiongkok terhadap Terorisme

Partai Komunis Tiongkok telah lama mendukung kegiatan teroris di luar negeri, termasuk yang dilakukan oleh pemimpin teroris Palestina Yasser Arafat. Membantu merintis taktik pembajakan maskapai penerbangan komersial, Yasser Arafat menargetkan pasukan Amerika Serikat dan menjadi inspirasi bagi Osama bin Laden.

a-Dukungan Partai Komunis Tiongkok terhadap Aktivitas Yasser Arafat

Yasser Arafat memulai Gerakan Pembebasan Nasional Palestina (FATAH) pada tahun 1959 dan mendirikan negara Palestina pada bulan November 1988. Sampai kematiannya pada tahun 2004, ia adalah tokoh terkemuka dari berbagai organisasi militan Palestina.

Yasser Arafat kemungkinan adalah favorit Partai Komunis Tiongkok di Timur Tengah. Yasser Arafat mengunjungi Tiongkok 14 kali dan bertemu hampir setiap pemimpin komunis Tiongkok, termasuk Mao Zedong, Zhou Enlai, Deng Xiaoping, dan Jiang Zemin.

Pada tahun 1964, Yasser Arafat mendirikan al-‘Asifah (“Badai”), sayap militer FATAH, setelah itu ia segera pergi ke Beijing untuk bertemu dengan perdana menteri Tiongkok Zhou Enlai. Zhou Enlai mengingatkannya untuk memperhatikan strateginya dan tidak menggunakan slogan kontraproduktif seperti yang menyerukan penghancuran total Israel. [51]

Selain menyediakan senjata dan bantuan keuangan, Beijing sering memandu Palestina mengenai cara melancarkan konflik dengan Amerika Serikat dan Israel sambil memperluas pengaruhnya di kancah internasional. Partai Komunis Tiongkok juga mengundang warga Palestina untuk menerima pelatihan di Tiongkok.

Pada bulan Januari 1965, Yasser Arafat menyatakan perang terhadap Israel di utara Palestina menggunakan organisasi gerilya. Pada bulan Mei 1965, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) mendirikan kantor di Beijing. Dalam langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, Tiongkok memberikan perawatan diplomatik kantor Organisasi Pembebasan Palestina dan secara terbuka mendukung Organisasi Pembebasan Palestina dalam berbagai acara internasional.

Pada bulan November 1988, sesi ke-19 Dewan Nasional Palestina mengumumkan kemerdekaan negara Palestina. Beijing segera mengakuinya dan menjalin hubungan diplomatik pada tanggal 20 November.

Yasser Arafat dan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok saat itu, Jiang Zemin saling mengunjungi pada tahun 2000 dan 2001, saat konflik berdarah meletus dalam skala besar antara Palestina dengan Israel. Israel berulang kali mengutuk Yasser Arafat karena perannya dalam kekerasan. Dengan dukungan Partai Komunis Tiongkok, Yasser Arafat dapat bersaing dengan Amerika Serikat dan Israel sementara lebih lanjut merusak stabilitas Timur Tengah.

Organisasi Pembebasan Palestina dan FATAH terlibat dalam berbagai kegiatan teroris militan terbuka dan bawah tanah. Mereka mengklaim bahwa revolusi dengan kekerasan adalah satu-satunya cara untuk membebaskan negara tersebut, sebuah ideologi yang mengikuti doktrin gerakan komunis yang sama. Yasser Arafat sangat akrab dengan negara komunis lainnya. Ia adalah anggota Sosialis Internasional, dan FATAH adalah pengamat di Partai Sosialis Eropa (PES). [52]

Amerika Serikat dan Israel telah menandai Yasser Arafat sebagai orang di balik sejumlah serangan teroris di Timur Tengah. Gedung Putih mengidentifikasi FATAH dan PLO sebagai organisasi teroris dan menutup Kantor Informasi Palestina pada tahun 1987. [53]

Pada tahun 1970, FATAH merencanakan dan melaksanakan pembunuhan Raja Hussein bin Talal yang gagal. [54] Pada bulan September tahun itu, FATAH membajak tiga pesawat komersial dari Inggris, Jerman, dan Swiss di depan kamera televisi. Para teroris mengklaim bahwa pembajakan sebuah pesawat memiliki efek yang lebih besar daripada membunuh seratus orang Israel dalam pertempuran. [55]

Pada tahun 1972, kelompok teroris Black September, sebuah faksi militan FATAH, melakukan pembantaian teroris terhadap atlet-atlet Israel di Olimpiade di Munich. Orang yang merencanakan dan melaksanakan pembantaian ini adalah Ali Hassan Salameh, kepala keamanan Arafat dan direktur intelijen FATAH. Selain 11 orang Israel yang tewas dalam serangan itu, seorang polisi Jerman Barat juga tewas. [56] Yasser Arafat adalah salah satu militan pertama yang menargetkan warga sipil tak berdosa dalam operasinya.

b. Hubungan Partai Komunis Tiongkok dengan Al-Qaeda

Partai Komunis Tiongkok memiliki interaksi yang luas dengan al-Qaeda, dimulai dengan kolaborasi klandestinnya dengan Taliban, yang memberikan perlindungan bagi Osama bin Laden.
Pada tahun 1980, selain mengirim sekitar 300 penasihat militer ke mujahidin di Afghanistan, Partai Komunis Tiongkok juga mendirikan kamp pelatihan militer di Kashgar dan Hotan di Xinjiang untuk mengajar keterampilan seperti penggunaan senjata, strategi militer, propaganda, dan spionase kepada mereka.

Xinjiang menjadi basis untuk melatih para mujahidin Afghanistan untuk melawan Uni Soviet. Pada saat Uni Soviet menarik diri dari Afghanistan, militer Tiongkok telah melatih setidaknya beberapa ribu pelaku jihad. Militer Tiongkok memberi senapan mesin, peluncur roket, dan rudal permukaan-ke-udara kepada para pelaku jihad, yang semuanya bernilai dua hingga empat miliar dolar Amerika Serikat. [57]

Partai Komunis Tiongkok mempertahankan hubungan dekat dengan Taliban dan al-Qaeda setelah Taliban merebut kekuasaan di Afghanistan, serta pada periode ketika Taliban memberikan perlindungan bagi Osama bin Laden. Meskipun al-Qaeda melakukan serangan teroris di Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Angkatan Laut Amerika Serikat, dan Taliban menolak untuk menyerahkan Osama bin Laden ke PBB, Partai Komunis Tiongkok selalu menentang sanksi Amerika Serikat terhadap Taliban. Pada tahun 1998, Amerika Serikat menyerang pangkalan al-Qaeda dengan rudal jelajah. Rezim Tiongkok membayar al-Qaeda USD 10 juta untuk membeli rudal Amerika Serikat yang tidak meledak untuk meningkatkan teknologi Tiongkok. [58]

Pada saat yang sama, Partai Komunis Tiongkok terus menyediakan teknologi militer yang sensitif kepada negara sponsor terorisme. [59] Pada akhir tahun 2000, Dewan Keamanan Amerika Serikat mengusulkan sanksi terhadap Taliban untuk memaksanya menutup kamp pelatihan teroris Osama bin Laden yang terletak di wilayahnya, tetapi Tiongkok abstain dalam pemungutan suara. Setelah itu, Partai Komunis Tiongkok melanjutkan negosiasi rahasia dengan Taliban dan mencapai kesepakatan untuk meminta Huawei Technologies membantu Taliban membangun sistem komunikasi militer yang luas di seluruh Afghanistan. [60] Pada hari serangan 11 September, pejabat Tiongkok dan Taliban menandatangani kontrak untuk memperluas kerja sama ekonomi dan ilmiah. [61]

Yang lebih mengejutkan lagi, setelah serangan 11 September, dua perwira militer Tiongkok dipuji sebagai pahlawan nasional atas kepenulisan mereka atas sebuah buku berjudul Unrestricted Warfare, yang diterbitkan pada tahun 1999. Dalam buku itu, mereka menyarankan jika World Trade Center di New York diserang, itu akan membuka dilema yang rumit bagi Amerika Serikat. Para penulis juga menyebut al-Qaeda sebagai organisasi dengan kemampuan untuk melakukan operasi semacam itu. [62] Cukuplah untuk mengatakan, konsep “perang tak terbatas” rezim Komunos Tiongkok memberikan pedoman teoretis untuk operasi masa depan Osama bin Laden.

Ketika Dewan Keamanan Amerika Serikat memberlakukan sanksi terhadap rezim Taliban setelah serangan 11 September, Tiongkok tidak hanya abstain dalam pemungutan suara, tetapi juga mengirim personil militer untuk mendukung Taliban segera setelah militer Amerika Serikat memulai serangan udara di Afghanistan. Setelah serangan 11 September badan intelijen Amerika Serikat mengetahui bahwa ZTE dan Huawei, dua perusahaan teknologi yang terkait militer Tiongkok, membantu militer Taliban membangun jaringan telepon di Kabul, ibu kota Afghanistan. [63] Pada tahun 2004, terungkap bahwa agen intelijen Komunis Tiongkok menggunakan perusahaan tempurung untuk membantu Osama bin Laden mengumpulkan dana dan mencuci uang di pasar keuangan di seluruh dunia.[64]

Dengan runtuhnya Tembok Berlin, kubu komunis menghadapi kehancuran total. Setelah mewarisi tampilan ideologis Uni Soviet, Partai Komunis Tiongkok dibiarkan sendirian menghadapi tekanan luar biasa dari dunia bebas. Seperti yang terjadi, peristiwa 11 September terjadi tepat saat Amerika Serikat dan dunia bebas mulai memusatkan perhatiannya untuk mengutuk tirani komunis. Prioritas berubah secara dramatis, dan dunia bebas harus menunda rencananya untuk memerangi komunisme ketika Perang Melawan Teror dimulai. Hal ini memberi penangguhan hukuman terhadap Partai Komunis Tiongkok dan memungkinkan komunisme berkembang sekali lagi.

Sementara dunia Barat mengobarkan perang di Timur Tengah, transfer kekayaan skala-besar diam-diam terjadi antara Tiongkok dengan Amerika Serikat. Komunisme mampu membangun kekuatan super lainnya.

Kekacauan yang disebabkan oleh terorisme telah menyebabkan dunia bebas mengalihkan perhatiannya dari ancaman komunis, menunda konflik utama antara kebaikan dengan kejahatan seperti yang terjadi di dunia kita ini.

5. Aliansi Tersembunyi Antara Terorisme dengan Radikal Kiri Barat

Seorang komposer kontemporer Jerman pernah berkata, “Itu adalah karya seni terbesar yang ada untuk seluruh kosmos.” Ia tidak berbicara mengenai Simfoni Kesembilan Beethoven, tetapi mengenai serangan teroris 11 September. [65]

Setelah serangan teroris 11 September, para intelektual sayap Kiri Barat yang radikal mendukung serangan tersebut dan membela para pelakunya. Seorang penulis Amerika Serikat memuji para teroris karena menghancurkan “Menara Babel” (yaitu, World Trade Center) sebagai simbol kesalahan Amerika Serikat. Beberapa hari setelah serangan tersebut, seorang penulis naskah drama Italia dan peraih Nobel dalam bidang sastra mengatakan, “Para spekulan hebat berkubang dalam ekonomi yang setiap tahun membunuh puluhan juta orang melalui kemiskinan — jadi apalah artinya 20.000 orang mati di New York?” [66] Seorang profesor di kampus Universitas Colorado – Boulder memberi ciri khas bagi mereka yang bekerja di World Trade Center sebagai “Eichmanns kecil,” mengacu pada salah satu arsitek Holocaust Nazi. [67]

Berharap untuk mencegah Amerika Serikat melakukan intervensi militer di Afghanistan dan Irak, berbagai kekuatan sayap Kiri radikal meluncurkan gerakan protes anti-perang skala-besar.

Seorang profesor sayap Kiri di universitas terkemuka Amerika Serikat mengatakan dalam pidatonya di universitas tersebut bahwa Amerika Serikat adalah “negara terorisme terbesar” dan bahwa Washington berencana untuk meluncurkan “genosida secara diam-diam” di Afghanistan. [68]

Kaum Kiri mengadakan berjaga-jaga perdamaian dan mengajar kuliah secara tidak resmi di seluruh negeri. Sementara operasi Amerika Serikat berada dalam puncak aktivitas melawan teroris di Afghanistan, profesor tersebut melakukan perjalanan selama dua minggu ke India, Bangladesh, Bhutan, Maldives, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka, menyebarkan desas-desus kepada jutaan umat Islam dan Hindu. Ia menuduh Amerika Serikat berencana membunuh tiga juta atau empat juta warga Afghanistan melalui kelaparan.

Seorang profesor di Universitas Columbia mengatakan ia “secara pribadi ingin melihat satu juta Mogadishus.” [69] Dalam Pertempuran Mogadishu pada tahun 1993, pejuang al-Qaeda menyergap pasukan khusus Amerika Serikat di Somalia, yang menewaskan 18 tentara Amerika Serikat.

Gerakan anti-perang, yang diprakarsai oleh kaum Kiri radikal, menargetkan Amerika Serikat untuk menghambat upayanya dalam Perang Melawan Teror.

Pada bulan Februari 2003, sebulan sebelum Amerika Serikat menyerang Irak,
Osama bin Laden merilis rekaman audio melalui Al Jazeera yang meminta orang-orang untuk berperang melawan militer Amerika Serikat di jalan-jalan. Ia secara terbuka menyatakan, “Kepentingan umat Islam dan kepentingan kaum sosialis bertepatan dalam perang melawan tentara salib.” [70]

ANSWER (Act Now to Stop War and End Racism, Bertindak Sekarang untuk Menghentikan Perang dan Mengakhiri Rasisme) adalah organisasi anti-perang dengan paparan yang menonjol di media. Anggotanya sebagian besar adalah sosialis, komunis, dan kaum Kiri atau progresivisme.

Banyak pendirinya yang memiliki hubungan dengan Pusat Aksi Internasional dan Partai Buruh Dunia, sebuah organisasi radikal komunis. Dalam pengertian ini, ANSWER sebenarnya adalah kekuatan garis depan yang selaras dengan komunisme Joseph Stalin. Yang juga berpartisipasi dalam gerakan anti-perang adalah Not in Our Name, suatu organisasi depan Partai Komunis Revolusioner, yang merupakan partai Marxis-Leninis yang terkait dengan rezim komunis Tiongkok. [71]

Selain secara aktif menghapus teroris dan mengorganisir gerakan anti-perang, kaum Kiri dalam komunitas hukum telah habis-habisan menentang Undang-Undang Patriot, yang disahkan oleh Kongres Amerika Serikat tak lama setelah serangan 11 September untuk memperkuat kemampuan anti-teror Amerika Serikat. Sebelum RUU itu disahkan, FBI menunggu tujuh tahun sebelum menangkap Sami al-Arian, seorang profesor ilmu komputer di Universitas South Florida yang mendukung teroris dengan bantuan keuangan. Jika undang-undang yang setara dengan Undang-Undang Patriot telah ada sebelumnya, maka dengan ditangkapnya Sami al-Arian sebelumnya mungkin akan mencegah terjadinya serangan 11 September. [72]

Sheikh Omar Abdel-Rahman yang buta, yang merencanakan pengeboman World Trade Center pada tahun1993, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada tahun 1995. Pengacaranya, Lynne Stewart, mengunjungi penjara dan menyampaikan pesan dari Abdel-Rahman kepada pengikut di Timur Tengah, memberitahu mereka untuk melanjutkan kegiatan teroris mereka.
Lynne Stewart dinyatakan bersalah pada tahun 2005. Anehnya, setelah vonis bersalahnya, ia menjadi idola politik bagi kaum Kiri dan telah berulang kali diundang untuk memberi kuliah di universitas, sekolah hukum, dan tempat lain. [73]

Sebuah studi tahun 2004 oleh cendekiawan Amerika Serikat David Horowitz berjudul Persekutuan yang Tidak Suci: Islam Radikal dan Kaum Kiri Amerika Serikat mengungkapkan hubungan jahat antara ekstrimis Islam dengan radikal Kiri. Menurut analisisnya, kaum Kiri radikal di seluruh dunia telah berfungsi untuk melindungi para pelaku jihad Islam. [74]

Bersama dengan teroris melawan negara-negara demokratis Barat adalah bagian dari pawai radikal Kiri untuk menghancurkan masyarakat Barat dari dalam. Mereka bersedia menggunakan metode apa pun yang membantu mereka mencapai tujuan ini. Meskipun ideologi Kiri tidak memiliki hubungan yang dangkal dengan ekstremisme Islam, tujuan ideologi Kiri bertepatan untuk membentuk persekutuan jahat melawan dunia Barat dan menjadi alat yang kuat untuk komunisme.

Kesimpulan

Dari Komune Paris dan pelembagaan kekerasan Vladimir Lenin, hingga penganiayaan yang disponsori oleh Partai Komunis Tiongkok, komunisme selalu menggunakan terorisme untuk mencapai tujuannya. Selain itu, di luar wilayah yang dikendalikan oleh rezim komunis, komunisme telah memanipulasi berbagai kelompok dan orang untuk melakukan tindakan teroris, menabur kekacauan di seluruh dunia dan membuat penghalang pengalihan untuk musuh-musuhnya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mempermudah teroris untuk membahayakan korban yang tidak bersalah.

Teroris menggunakan kekerasan untuk membuat masyarakat menjadi kacau, dan menggunakan ketakutan untuk menggiring orang di bawah kendalinya. Teroris melanggar nilai-nilai moral yang dimiliki secara universal di seluruh umat manusia untuk mencapai tujuannya. Akar komunisme dapat dilihat dalam ide-ide intinya, karena ideologi komunis menyediakan kerangka kerja teoritis untuk nilai-nilai jahatnya.

Korban utama ekstremisme Islam adalah rakyat negara-negara asal teroris. Sementara media memusatkan perhatiannya pada serangan teroris yang menargetkan masyarakat Barat, sebagian besar korban yang terbunuh adalah umat Islam.

Demikian pula, lebih dari 100 juta kematian yang disebabkan oleh komunisme adalah hampir semua orang yang hidup di bawah pemerintahan rezim komunis.

Terorisme tidak dapat dipisahkan dari komunisme, di mana komunisme itu sendiri adalah akar penyebab terorisme terbesar di dunia. Tanpa menyingkirkan akar beracun ini, maka umat manusia tidak akan menikmati kedamaian satu hari pun.

Hanya dengan mengakui peran komunisme dalam kegiatan teroris yang mengganggu dunia kita, dan dengan berdiri di sisi nilai-nilai moral tradisional dan keyakinan, kita dapat melindungi diri dari ancaman ini.

Referensi

[1] Brian Whitaker, “The Definition of Terrorism,” The Guardian, May 7, 2001, https://www.theguardian.com/world/2001/may/07/terrorism [1].

[2] “Lenin and the Use of Terror,” World Future Fund, accessed November 17, 2018, http://www.worldfuturefund.org/wffmaster/Reading/Quotes/leninkeyquotes.htm [2].

[3] Karl Kautsky, Terrorism and Communism: A Contribution to the Natural History of Revolution (1919), accessed November 17, 2018, https://www.marxists.org/archive/kautsky/1919/terrcomm/index.htm [3].

[4] Carey Goldberg, “‘Red Saturday’ Not Such a Celebration for Lenin,” Associated Press, April 21, 1990,https://apnews.com/0f88bdb24ea112b606c9c56bca69e9dd [4]; Francis X. Clines, “Upheaval in the East; Soviet Congress Debates New Presidency,” The New York Times, March 13, 1990, https://www.nytimes.com/1990/03/13/world/upheaval-in-the-east-soviet-congress-debates-new-presidency.html [5].

[5] Brian Crozier [6], The Rise and Fall of the Soviet Empire (Rocklin, CA: Prima Lifestyles, 2000).

[6] Stanislav Lunev, Through the Eyes of the Enemy: The Autobiography of Stanislav Lunev (Washington, D.C.: Regnery Publishing, Inc., 1998), 80.

[7] “The KGB’s Terrorist Footprints,” The Washington Post, September 23, 1981,https://www.washingtonpost.com/archive/politics/1981/09/23/the-kgbs-terrorist-footprints/16f129fd-40d7-4222-975c-6e39044768bf/?utm_term=.0f15a9d808da [7].

[8] Ion Mihai Pacepa, “Russian Footprints,” National Review, August 24, 2006,  https://www.nationalreview.com/2006/08/russian-footprints-ion-mihai-pacepa/ [8].

[9] Ion Mihai Pacepa and Ronald Rychlak, Disinformation: Former Spy Chief Reveals Secret Strategies for Undermining Freedom, Attacking Religion, and Promoting Terrorism (Washington, D.C.: WND Books, 2013), Chapter 33.

[10] “A Sampling of Chinese Public Opinion Following the 9/11 Terrorist Attacks,” [〈911恐怖分子袭击事件之后:国内言论摘登〉] Modern China Studies [《當代中國研究》] (2001, Fourth Issue),  http://www.modernchinastudies.org/us/issues/past-issues/75-mcs-2001-issue-4/596-911.html [9]. [In Chinese] [11] Paul Berman, “The Philosopher of Islamic Terror,” The New York Times Magazine, March 23, 2003, https://www.nytimes.com/2003/03/23/magazine/the-philosopher-of-islamic-terror.html [10].

[12] Raymond Ibrahim, “Ayman Zawahiri and Egypt: A Trip Through Time,“ The Investigative Project on Terrorism: A Special Report, November 30, 2012, https://www.investigativeproject.org/3831/ayman-zawahiri-and-egypt-a-trip-through-time [11].

[13] Dale C. Eikmeier, Qutbism: An Ideology of Islamic-Fascism, Defense Technical Information Center, March 2007, accession number ADA485995,  http://www.dtic.mil/docs/citations/ADA485995 [12].

[14] Hassan Hassan, The Sectarianism of the Islamic State: Ideological Roots and Political Context (Washington: Carnegie Endowment for International Peace, June 2016), 26, https://carnegieendowment.org/files/CP_253_Hassan_Islamic_State.pdf [13].

[15] Andrew McGregor, “Al-Qaeda’s Egyptian Prophet: Sayyid Qutb and the War On Jahiliya,” Terrorism Monitor 1, No. 3, May 4, 2005, https://jamestown.org/program/al-qaedas-egyptian-prophet-sayyid-qutb-and-the-war-on-jahiliya/ [14].

[16] Robert R. Reilly, The Roots of Islamist Ideology (London: Centre for Research into Post-Communist Economies, February 2006), 4, http://crce.org.uk/briefings/islamistroots.pdf [15].

[17] Berman, “The Philosopher of Islamic Terror.”

[18] McGregor, “Al-Qaeda’s Egyptian Prophet,” https://jamestown.org/program/al-qaedas-egyptian-prophet-sayyid-qutb-and-the-war-on-jahiliya/ [14].

[19] A. E. Stahl, “‘Offensive Jihad’ in Sayyid Qutb’s Ideology,” International Institute for Counter-Terrorism, March 24, 2011, https://www.ict.org.il/Article/1097/Offensive-Jihad-in-Sayyid-Qutbs-Ideology#gsc.tab=0 [16].

[20] McGregor, “Al-Qaeda’s Egyptian Prophet.”

[21] Stahl, “‘Offensive Jihad’ in Sayyid Qutb’s Ideology.”

[22] McGregor, “Al-Qaeda’s Egyptian Prophet.”

[23] Roxanne L. Euben, “Mapping Modernities, ‘Islamic’ and ‘“Western,’” in Border Crossings: Toward a Comparative Political Theory, ed. Fred Reinhard Dallmayr (Lanham, Md.: Lexington Books, 2013), 20.

[24] Vladimir Lenin, What Is to Be Done? trans. Joe Fineberg and George Hanna, accessed November 17, 2018, https://www.marxists.org/archive/lenin/works/1901/witbd/ [17].

[25] Glenn E. Robinson, “Jihadi Information Strategy: Sources, Opportunities, and Vulnerabilities,” in Information Strategy and Warfare: A Guide to Theory and Practice, eds. John Arquilla and Douglas A. Borer (London: Routledge, 2007), 92.

[26] Ibid.

[27] Ibid.

[28] McGregor, “Al-Qaeda’s Egyptian Prophet.”

[29] “Impaling Leninist Qutbi Doubts: Shaykh Ibn Jibreen Makes Takfir Upon (Declares as Kufr) the Saying of Sayyid Qutb That Islam Is a Mixture of Communism and Christianity,” January 2, 2010, http://www.themadkhalis.com/md/articles/bguiq-shaykh-ibn-jibreen-making-takfir-upon-the-saying-of-sayyid-qutb-that-islam-is-a-mixture-of-communism-and-christianity.cfm [18].

[30] Damon Linker, “The Marxist Roots of Islamic Extremism,” The Week [19], March 25, 2016, http://theweek.com/articles/614207/marxist-roots-islamic-extremism [19].

[31] Charles Moscowitz, Islamo-Communism: The Communist Connection to Islamic Terrorism (City Metro Enterprises, 2013), Introduction.

[32] Antero Leitzinger, “The Roots of Islamic Terrorism,” The Eurasian Politician, No. 5 (April–September 2002), http://users.jyu.fi/~aphamala/pe/issue5/roots.htm.

[33] Lawrence Wright, The Looming Tower: Al-Qaeda and the Road to 9/11 (New York: Knopf Publishing Group, 2006), 21.

[34] Dawn Perlmutter, Investigating Religious Terrorism and Ritualistic Crimes (New York: CRC Press, 2004), 104.

[35] The 9/11 Commission Report, The National Commission on Terrorist Attacks Upon the United States, 55, https://www.9-11commission.gov/report/911Report.pdf [20].

[36] Michael Scheuer, Through Our Enemies’ Eyes: Osama bin Laden, Radical Islam, and the Future of America, 2nd ed. (Washington: Potomac Books, 2006), 114.

[37] Lawrence Wright, The Looming Tower: Al-Qaeda and the Road to 9/11 (New York: Knopf Publishing Group, 2006), 36.

[38] Lawrence Wright, “The Man Behind Bin Laden: How an Egyptian Doctor Became a Master of Terror,” The New Yorker, September 16, 2002, https://www.newyorker.com/magazine/2002/09/16/the-man-behind-bin-laden [21].

[39] Lawrence Wright, The Terror Years: From Al-Qaeda to the Islamic State (New York: Vintage Books, 2016), 17.

[40] Wright, The Looming Tower, 36.

[41] Glenn E. Robinson, “The Four Waves of Global Jihad, 1979–2017,” Middle East Policy 24, No. 3 (Fall 2017), 70, https://www.researchgate.net/publication/319160351_The_Four_Waves_of_Global_Jihad_1979-2017 [22].

[42] Robinson, “Jihadi Information Strategy,” 88.

[43] Robinson, “The Four Waves of Global Jihad,” 85.

[44] Anthony Bubalo and Greg Fealy, “Between the Global and the Local: Islamism, the Middle East, and Indonesia,” The Brookings Project on U.S. Policy Towards the Islamic World, No. 9 (October 2005), 7, https://www.brookings.edu/wp-content/uploads/2016/06/20051101bubalo_fealy.pdf.

[45] Robert Manne, “Sayyid Qutb: Father of Salafi Jihadism, Forerunner of the Islamic State,” The ABC, November 7, 2016, http://www.abc.net.au/religion/articles/2016/11/07/4570251.htm [23].

[46] Joshua Sinai, “Mining the Roots of the ‘Why and How’ of Terrorism,” review of The Mind of the Islamic State: ISIS and the Ideology of the Caliphate, by Robert Manne, The Washington Times, October 31, 2017, https://www.washingtontimes.com/news/2017/oct/31/book-review-the-mind-of-the-islamic-state-by-rober/ [24].

[47] Seth G. Jones, A Persistent Threat: The Evolution of al Qa’ida and Other Salafi Jihadists (Rand Corp, 2014), 64–65, https://www.rand.org/content/dam/rand/pubs/research_reports/RR600/RR637/RAND_RR637.pdf [25].

[48] 2011 Report on Terrorism, The National Counterterrorism Center, 14, https://fas.org/irp/threat/nctc2011.pdf [26].

[49] Country Reports on Terrorism 2016, Bureau of Counterterrorism and Countering Violent Extremism, https://www.state.gov/j/ct/rls/crt/2016/272241.htm [27].

[50] Alex Nowrasteh, Terrorism and Immigration: A Risk Analysis, Cato Institute, September 13, 2016, https://object.cato.org/sites/cato.org/files/pubs/pdf/pa798_1_1.pdf.

[51] Shi Yanchun, [時延春]“Zhou Enlai and the Middle East,” [〈周恩來與中東〉] Party History in Review [《黨史縱橫》] (2006, First Issue), 7–8.  http://waas.cssn.cn/webpic/web/waas/upload/2011/06/d20110602193952375.pdf [28] [In Chinese] [52] Party of European Socialists, accessed November 17, 2018, https://www.google.com/url?q=https://web.archive.org/web/20130503194245/http:/www.pes.eu/en/about-pes/pes-members/parties&sa=D&ust=1542506434796000&usg=AFQjCNHwfLae215sWQn58IVwbGPeL_N0jg [29].

[53] “U.S. Orders Closure of Palestine Information Office, Department Statement, September 15, 1987, Transcript,” US Department of State Bulletin, November 1987,https://web.archive.org/web/20090808192756/http://findarticles.com/p/articles/mi_m1079/is_n2128_v87/ai_6198831/ [30].

[54] Andrea L. Stanton, Edward Ramsamy, Carolyn M. Elliott, Peter J. Seybolt, eds., Cultural Sociology of the Middle East, Asia, and Africa: An Encyclopedia, Vol. 1 (Los Angeles: SAGE, 2012), 274.

[55] Stefan Aubrey, The New Dimension of International Terrorism (Zürich: vdf Hochschulverlag AG an der ETH, 2004), 34.

[56] Ibid., 34–36.

[57] S. Frederick Starr, Xinjiang: China’s Muslim Borderland, first ed. (London: Routledge, 2004), 149.

[58] John Hooper, “Claims that China Paid Bin Laden to See Cruise Missiles,” The Guardian, October 20, 2001, https://www.theguardian.com/world/2001/oct/20/china.afghanistan [31].

[59] Ted Galen Carpenter, “Terrorist Sponsors: Saudi Arabia, Pakistan, China,” The Cato Institute, November 16, 2001, https://www.cato.org/publications/commentary/terrorist-sponsors-saudi-arabia-pakistan-china [32].

[60]  “China’s Role in Osama bin Laden’s ‘Holy War’ On America,” The Population Research Institute, 3, No. 23 (September 19, 2001),  https://www.pop.org/chinas-role-in-osama-bin-ladens-holy-war-on-america/ [33].

[61] Yitzhak Shichor, “The Great Wall of Steel: Military and Strategy in Xinjiang,” in Xinjiang: China’s Muslim Borderland, ed. S. Frederick Starr (London: Routledge, 2004), 158.

[62] Qiao Liang and Wang Xiangsui, Chao Xian Zhan (Unrestricted Warfare) (Beijing: Zhongguo shehui chubanshe, 2005), Chapters 2 and 5. [In Chinese] [63] “Chinese Firms Helping Put Phone System in Kabul,” The Washington Times, September 28, 2001, https://www.washingtontimes.com/news/2001/sep/28/20010928-025638-7645r/ [34].

[64] D. J. McGuire, “How Communist China Supports Anti-U.S. Terrorists,” Association for Asian Research, September 15, 2005, http://www.asianresearch.org/articles/2733.html.

[65] Jamie Glazov, United in Hate: The Left’s Romance with Tyranny and Terror (Los Angeles: WND Books, 2009), Chapter 14.

[66] Ibid.

[67] “Ward Churchill Profile,” Discover the Networks, accessed November 17, 2018, http://www.discoverthenetworks.org/individualProfile.asp?indid=1835 [35].

[68] Glazov, United in Hate, Chapter 14.

[69] “Nicholas De Genova Profile,” Discover the Networks, accessed November 17, 2018, http://www.discoverthenetworks.org/individualProfile.asp?indid=2189 [36].

[70] Glazov, United in Hate, Chapter 14.

[71] Ibid.

[72] Ibid.

[73] “Lynne Stewart Profile,” Discover the Networks, accessed November 17, 2018, http://www.discoverthenetworks.org/individualProfile.asp?indid=861 [37].

[74] David Horowitz, Unholy Alliance: Radical Islam and the American Left (Washington D.C.: Regnery Publishing, Inc., 2004), 37.