Sima Jing/The Epochtimes

Situasi di Hong Kong menjadi tegang setelah serangan gangster secara membabibuta terhadap pengunjuk rasa damai dan warga pada 21 Juli.  Analis tentang Tiongkok mengatakan, fakta itu adalah refleksi dan manifestasi dari perebutan kekuasaan internal Komunis Tiongkok di Beijing. Kini Xi Jinping berada di persimpangan lain.

Siapa yang Mengatur Serangan Berbaju Putih?

Pada malam 21 Juli, setelah 430.000 warga Hong Kong menyelesaikan pawai damai, ratusan pria yang mengenakan baju putih dan bermasker secara tiba-tiba mulai menyerang secara membabibuta. Ternyata mereka menyasar warga sipil, jurnalis dan anggota Dewan Legislatif dari pro-demokrasi. Serangan itu terjadi di sebuah stasiun kereta bawah tanah di barat laut Hong Kong yang terletak di distrik Yuen Long. Empat puluh lima orang, termasuk beberapa wartawan, terluka, dan satu dalam kondisi kritis.

Insiden ini memunculkan pertanyaan, Siapa yang mengatur serangan ini? Mengapa para penyerang bertindak sedemikian rupa dan menciptakan suasana teror? Siapakah target audiens mereka?

Lalu, di manakah Polisi?

Serangan kekerasan di Yuen Long berlangsung selama beberapa jam tanpa kelihatan batang hidung polisi Hong Kong. Sebenarnya, beberapa warga sudah menekan nomor darurat “999” untuk mengingatkan polisi. Anehnya, tidak ada yang menjawab panggilan mereka. 

Saksi mata mengatakan, petugas polisi yang kebetulan berada di lokasi di mana geng-geng baju putih memukuli orang-orang, memilih berbalik badan. Sungguh mengherankan, polisi akhirnya pergi begitu saja tanpa melakukan apa-apa.

Johnny Mak Ip-sing, seorang Anggota Dewan Distrik Yuen Long, mengatakan, ia menerima peringatan di pagi hari tanggal 21 Juli bahwa ada anggota geng kriminal mungkin dibayar “untuk melakukan sesuatu” di Yuen Long. Dia menghubungi polisi. Ia diberi tahu bahwa mereka sudah siap untuk itu. 

Namun, lagi-lagi tidak ada polisi yang kelihatan batang hidungnya selama serangan berlangsung.

Fakta lainnya berkata, sebuah Video yang viral di Internet menunjukkan, setelah serangan itu, para penyerang berbaju putih diizinkan pergi dengan tongkat kayu dan bambu setelah berkomunikasi dengan petugas polisi. Lebih ganjil lagi, polisi tidak memeriksa kartu identitas mereka. Perlakuan yang tak sama ketika mereka menghadapi demonstran Hong Kong. Tak hanya itu, Polisi juga tidak menyita senjata para penyerang.

Satu video pendek viral yang menunjukkan bahwa sebelum geng-geng baju putih akan beraksi, Junius Kwan-yiu Ho, seorang anggota parlemen pro-Komunis Tiongkok, berjabat tangan dengan banyak dari mereka. Ia mengatakan sesuatu, “terima kasih atas kerja kerasmu.” Seorang pria berbaju putih berkata pada Ho,” Kamu adalah pahlawanku. “

Menurut pakar Tiongkok yang berpusat di Washington, Ji Da, bahwa mantan wakil presiden Zeng Qinghong dan para komplotannya telah berupaya mengembangkan komunitas geng di Hong Kong sejak 2003 silam. Ketika, Zeng Qinghong ditunjuk sebagai kepala Kelompok Koordinasi Pusat untuk Hong Kong dan Urusan Makau. 

Sejak itulah,  Zeng telah membangun jaringan mata-mata di Hong Kong. Zeng adalah sosok ‘fixer’ untuk mantan sekretaris jenderal Partai Komunis Tiongkok, Jiang Zemin selama bertahun-tahun. Zeng adalah kekuatan utama di belakang organisasi dan personel Komunis Tiongkok.

Dalam beberapa tahun terakhir, Hong Kong telah menjadi titik fokus dari pergulatan kekuasaan di antara para pemimpin puncak Partai Komunis Tiongkok. Faksi Jiang telah menciptakan kekacauan di Hong Kong. 

Zeng pernah mengatakan di depan umum dalam sebuah pertemuan, semakin kacau situasi di Hong Kong, semakin mudah bagi Partai untuk melakukan tugasnya di sana.

Pengaturan Waktu Serangan

Serangan kekerasan di Yuen Long terjadi pada waktu yang sensitif. Bertepatan ketika Xi Jinping akan meminta Wakil Perdana Menteri Han Zheng bertanggung jawab atas situasi di Hong Kong.

Simon Lau, seorang profesional media senior dan mantan konsultan unit kebijakan pusat Hong Kong, mengungkapkan kepada Epoch Times Hong Kong, setelah jutaan pengunjuk rasa turun ke jalan, Beijing ingin menyelidiki dua hal:

Pertama, Siapa yang memberi perintah kepada pemerintah Hong Kong untuk mengeluarkan pernyataan mendukung RUU Ekstradisi setelah pawai 9 Juni yang dihadiri lebih dari satu juta orang? Kedua, siapa yang memerintahkan polisi Hong Kong untuk menggunakan kekerasan terhadap para pemerotes pada 12 Juni?

Menurut Apple Daily, Pusat pemerintahan di Beijing sangat terkejut dengan situasi di Hong Kong.  

Han Zheng, sebagai kepala Kelompok Koordinasi Pusat saat ini untuk Urusan Hong Kong dan Makau, harus pergi ke Shenzhen dua kali dalam 15 hari untuk menangani situasi di luar kendali. 

Dilaporkan oleh Apple Daily, Xi Jinping sangat marah dengan Kantor Penghubung dan salah menilai situasi oleh Kantor Urusan Hong Kong dan Makau. Ia berencana untuk mencari tahu siapa yang harus bertanggung jawab.

Laporan Apple Daily juga mengatakan, Xi tidak senang dengan Kelompok Koordinasi Pusat untuk Urusan Hong Kong dan Makau, yang dipimpin oleh Han Zheng. Banyak departemen di Beijing sedang mengumpulkan informasi.  Beijing kini sedang bersiap untuk menyesuaikan kebijakan Hong Kong. 

Sementara Beijing mengirim sinyal mungkin meminta pertanggungjawaban Han Zheng dan pejabat lainnya di Kantor Urusan Hong Kong dan Makao, akan tetapi serangan baju putih di Yuen Long terjadi. Maka membuat situasinya lebih kompleks.

Terulangnya Insiden Lei Yang

Sejak mengambil alih kekuasaan, Xi Jinping berada dalam pergulatan kekuasaan yang sengit dengan faksi Jiang Zemin. Xi juga bertempur dalam kampanye anti-korupsi utamanya ditujukan untuk membersihkan anggota faksi Jiang.

Sementara ketika menyelesaikan tugas ini, juga menciptakan dilema bagi Xi. Pasalnya, pasukan Jiang yang tersisa telah menyebabkan banyak masalah baginya di dalam negeri pada saat-saat penting. Insiden Lei Yang adalah salah satu contohnya.

Pada 7 Mei 2016, Lei Yang, seorang pecinta lingkungan Tiongkok, tewas secara tiba-tiba setelah terjadi adu mulut dengan polisi di Distrik Changping, Beijing. Keadaan mencurigakan seputar kematiannya. Sehingga menyebabkan tuduhan kebrutalan polisi. Lalu memicu murka publik.

Menurut orang dalam di Beijing, Xi Jinping langsung memerintahkan tanggungjawab dari petugas polisi yang terlibat atas kematian Lei Yang. Akibatnya, lima petugas polisi ditangkap. 

Ketika itu, Xi  ingin menggunakan kesempatan itu untuk merombak sistem penegakan hukum yang korup. Namun, upaya Xi mendapat dorongan besar dari sistem kepolisian. 

Lebih dari 4.000 petugas polisi di Beijing menulis surat bersama kepada para pejabat tinggi di Beijing. Mereka mengancam akan mengundurkan diri.

Dalam keadaan seperti ini, Xi khawatir bahwa Beijing dapat jatuh ke dalam kekacauan. Jika kemudian polisi Beijing menggunakan metode perang tidak terbatas untuk membuat serangan teror di Beijing. Kejadian ini mirip dengan yang terjadi di stasiun kereta api Kunming pada tahun 2014. Kala itu,  menewaskan 31 warga sipil dan empat pelaku tewas dan lebih dari 140 lainnya terluka.

Akibatnya, Xi menyerah pada saat terakhir. Dengan demikian insiden Lei Yang tidak pernah diselidiki. Hingga berakhirnya tidak adanya keadilan untuk Lei Yang.

Diduga bahwa orang mengendalikan secara diam-diam di belakang sistem kepolisian Beijing pada saat itu adalah antek Jiang Zemin, Fu Zhenghua. Ia adalah wakil menteri dari Kementerian Keamanan Publik pada waktu itu.

Insiden Lei Yang dikatakan telah menjadi titik balik dalam perebutan kekuasaan antara faksi Xi dan Jiang yang saling bersaing.  Sejak itu, dukungan publik Xi, yang tumbuh selama kampanye anti-korupsi telah menurun.  Sementara itu, faksi Jiang telah kembali. 

Menurut analis, situasi di Hong Kong telah menarik banyak perhatian internasional, seperti kematian Lei Yang pada tahun 2016. Serangan-serangan gangster baju putih di Yuen Long mirip dengan protes surat bersama dari 4.000 petugas polisi di Beijing. Kedua insiden berniat menggagalkan upaya Xi untuk menghadapi situasi tersebut.

Sekali lagi, Xi berada di persimpangan jalan dan dihadapkan dengan pilihan. Kali ini, masa depan Hong Kong tergantung pada keseimbangan. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular