Erabaru.net. Komisi Eksekutif Kongres AS Terhadap Tiongkok atau The United Sate Congressional-Executive Commission on China atau CECC menyatakan, mengutuk keras rezim komunis Tiongkok karena penganiayaan yang berkelanjutan terhadap para praktisi spiritual Falun Gong.

“Selama dua puluh tahun terakhir, praktisi Falun Gong telah mengalami pelanggaran HAM yang mengerikan dan tidak dapat diterima di Tiongkok,” demikian pernyataan CECC tertanggal 20 Juli.

Hari itu menandai peringatan 20 tahun berlangsungnya penganiayaan rezim terhadap Falun Gong.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, terdiri dari latihan meditasi dan serangkaian prinsip-prinsip moral yang dipandu oleh prinsip Sejati-Baik-Sabar. 

Latihan ini menjadi populer di Tiongkok pada 1990-an. pada saat itu sekitar 70 juta hingga 100 juta orang berlatih latihan ini, menurut perkiraan resmi pada saat itu.

Selama kampanye penganiayaan berlangsung, melakukan latihan Falun Gong di taman umum dan menyebarkan materi tentang latihan menjadi tindakan berbahaya. 

Mereka yang menolak untuk melepaskan keyakinan mereka telah mengalami penindasan, penahanan sewenang-wenang, hukuman penjara, kerja paksa, penyiksaan, dan tekanan keuangan. Latihan ini juga diserang dengan berbagai fitnahan dan semburan hoaks seperti ajaran sesat.  

Minghui.org, situs web berbasis di AS yang didedikasikan untuk membuat katalog penganiayaan terhadap Falun Gong, telah memverifikasi nama lebih dari 4.300 penganut yang meninggal dunia akibat penyiksaan. 

Meskipun jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi, karena sulitnya mendapatkan informasi dari dalam Tiongkok menjadi kendala. 

“Pada peringatan ulang tahun yang menyedihkan ini, pemerintah Tiongkok harus mengakhiri penganiayaan terhadap Falun Gong dan mengizinkan penyelidikan independen dan transparan terhadap pelanggaran HAM yang diderita oleh Falun Gong selama dua dekade terakhir,” demikian pernyataan CECC.

Pekan lalu, praktisi Falun Gong di Amerika Serikat menyerahkan daftar pejabat Komunis Tiongkok yang terlibat dalam penganiayaan kepada Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Mereka mendesak pemerintah federal untuk menolak visa kepada orang-orang seperti itu, menurut laporan 23 Juli di Minghui.org.

“Dalam 20 tahun terakhir, jumlah pelaku mungkin sekitar puluhan ribu di seluruh negeri,” kata Lai Shantao, presiden Himpunan Falun Dafa Washington, kepada The Epoch Times pada 23 Juli.

Senator Jim McGovern  yang memimpin komisi, menyerukan kepada publik untuk menuntut diakhirinya penganiayaan.

“Kita masing-masing harus berdiri dengan lantang dan jelas untuk hak dan martabat semua orang. Itu berarti meminta perhatian pada pelanggaran hak asasi manusia dan menuntut perubahan,” kata McGovern dalam cuitannya pada 22 Juli melampirkan pernyataan itu.

Pernyataan itu juga meminta rezim Komunis Tiongkok untuk “menghormati kebebasan semua praktisi Falun Gong. Mereka memegang keyakinan dan haknya untuk berlatih sebagaimana dijamin di bawah standar HAM internasional dan konstitusi Tiongkok sendiri.”

Pernyataan itu, menyebut dua nama praktisi Falun Gong, Deng Cuiping dari Provinsi Yunan dan Zuo Hongtao dari Provinsi Hebei, yang masing-masing dipenjara dengan hukuman 6 dan 13 tahun. 

CECC mendesak pemerintah Tiongkok untuk “segera dan tanpa syarat membebaskan” mereka dan “banyak” praktisi Falun Gong lainnya ”dari tahanan.

“Hak untuk secara bebas menghayati iman Anda sesuai dengan hati nurani Anda sangat mendasar bagi jiwa manusia,” kata Senator Marco Rubio  yang ikut memimpin CECC, dalam cuitannya pada 22 Juli.

Rubio adalah salah satu dari 19 sponsor resolusi 274 yang diperkenalkan ke Senat AS pada 11 Juli dalam mengekspresikan solidaritas dengan praktisi Falun Gong. Dia berjanji untuk terus mengadvokasi kebebasan beragama dan memastikan bahwa topik “tetap menjadi bagian utama dari kebijakan luar negeri A.S.”

“Ini merupakan keharusan moral dan keamanan,” tulis Rubio cuitannya. 

Pada Juni lalu, Menlu AS Mike Pompeo, saat berbicara pada rilis laporan tahunan Kemenlu AS tentang kebebasan agama global, menyebut Partai Komunis Tiongkok karena “permusuhan ekstrem terhadap semua agama sejak berdiri. 

Duta Besar AS untuk Kebebasan Beragama Internasional, Sam Brownback telah berulang kali mengutuk rezim Komunis Tiongkok karena “perang terhadap iman.” Sam Brownback telah berjanji bahwa Amerika Serikat “tidak akan berhenti sampai melihat tirai besi kebebasan beragama diturunkan.”

Selama tiga hari, Departemen Luar Negeri A.S. telah menjadi tuan rumah pertemuan Ministerial to Advance Religious Freedom  di Washington, sebuah pertemuan kebebasan beragama terbesar di dunia.

Presiden AS, Donald Trump pada 17 Juli bertemu dengan seorang praktisi Falun Gong yang dipenjara dan disiksa di Tiongkok. Ia bersama dengan 26 orang penyintas dari penganiayaan agama yang berasal dari 17 negara. 

Pertemuan itu diadakan untuk menegaskan kembali komitmen pemerintah terhadap kebebasan beragama dalam pernyataan resmi Gedung Putih. 

Pompeo, berbicara di Ministerial to Advance Religious Freedom pada 18 Juli, sekali lagi menyebut rezim  Komunis Tiongkok atas kejahatannya terhadap orang-orang beragama.

“Partai Komunis Tiongkok menuntut kontrol atas kehidupan rakyat Tiongkok dan jiwa mereka,” Demikian pernyataan Pompeo.  

Di acara tersebut, Pompeo juga merujuk terhadap  kasus praktisi Falun Gong di Tiongkok, Chen Huixia. Pada September lalu, ia dijatuhi hukuman 3 setengah tahun kurungan penjara hanya karena berlatih keyakinannya. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular