oleh : Zhou Wan-er

Istri yang dinikahi kaisar Zhu Yuanzhang bernama Ma Xiuying, terlahir di keluarga yang kaya raya di Suzhou, provinsi Anhui, Tiongkok.  Pada generasi ayahnya Ma Gong, usaha keluarganya mulai merosot. Tak lama setelah lahir, ibunya meninggal dunia. Kaum wanita pada Dinasti Yuan dan masa awal Dinasti Ming menjalani tradisi membungkus kaki menjadi kecil, tapi keluarga Ma tidak melakukannya. Sehingga masyarakat menyebutnya sebagai “Ma berkaki besar”.

Karena membunuh orang, Ma Gong melarikan diri, putri tercintanya dititipkan pada sahabat baiknya yang bernama Guo Zixing. Lalu Ma Gong meninggal dunia di perantauan. Maka Guo Zixing dan istrinya pun membesarkan Ma Xiuying sebagai anak angkat mereka.

Ma sangat cerdas,di usia belasan tahun sudah menguasai puisi dan dapat melukis. Hal apa pun yang dialaminya selalu disikapi dengan lemah lembut, tidak pernah berkata-kata kasar.

Di akhir masa Dinasti Yuan, bencana dan musibah menimpa di seluruh negeri silih berganti. Guo Zixing menjadi pemimpin pasukan sukarela di seputaran wilayah Jianghuai (dataran antara sungai Yangce dan sungai Huai).

Zhu Yuanzhang yang berasal dari keluarga miskin itu mengabdi pada Guo. Zhu yang cerdas dan cekatan, dengan cepat menjadi orang kepercayaan Guo. Dan, Guo menjodohkan putri angkatnya Ma Xiuying pada Zhu Yuanzhang,

Zhu alami cedera saat perang, Ma melarikan suami yang cedera dengan menggendongnya

Putra Guo Zixing yang melihat pangkat Zhu Yuanzhang meningkat pesat, maka memfitnahnya dihadapan sang ayah. Ia mengatakan Zhu Yuanzhang berniat membelot. Guo pun memenjara Zhu, bahkan tidak memberinya makan.

Ma Xiuying mencuri roti yang baru saja dibuat di dapur dengan cara disembunyikan di dalam bajunya, lalu diberikan pada suaminya. Roti panas itu sampai melukai kulit dada Ma Xiuying.

Sang ibu yang mengetahui hal ini sangat terharu dan meneteskan air mata, malam itu juga sang ibu membujuk Guo agar membebaskan Zhu.

Guo Zixing bertemperamen buruk, lagi lagi memercayai hasutan dan fitnahan. Begitu naik pitam lantas menghujat Zhu Yuanzhang. Ma acap kali harus memohon sang ibu angkat agar membujuk ayah angkat memberi pengampunan, untuk memulihkan keretakan hubungan mereka.

Setelah Zhu Yuanzhang menguasai seluruh negeri, Ma Xiuying terus menyertainya.

Semua dokumen dan surat dalam kesatuan militer disimpan oleh Ma, dia mengaturnya dengan rapi, tidak pernah ketinggalan dalam merespon kebutuhan mendadak. Dia juga sering memberi masukan bagi Zhu Yuanzhang, dan selalu mengingatkan Zhu, “Kunci untuk menentramkan seluruh negeri terletak pada hati manusia”, jangan mengusik rakyat, dan jangan sembarangan membunuh.

Di tahun penuh bencana krisis pangan dan peperangan, Ma menyimpan makanan kering dan daging asap, agar bisa mengenyangkan perut Zhu Yuanzhan. Namun dirinya kerap harus rela menahan lapar.

Saat Zhu Yuanzhang sibuk menghadapi pasukan anti Yuan (Mongol) lainnya yang menjadi rivalnya yakni: Chen Youliang dan Zhang Shicheng, Ma Xiuying memimpin para istri pasukan siang dan malam merajut pakaian dan membuat sepatu. Lalu dibagikan kepada para prajurit dan perwira di medan laga.

Chen Youliang memimpin pasukan terus menekan kota Nanjing, di bawah tekanan pasukan besar yang mengancam, pejabat sipil dan rakyat di dalam kota sampat panik dan berencana melarikan diri. Ma Xiuying tetap tenang, harta perhiasan dan kain sutera yang dimilikinya dibagikan semua pada para prajurit, hal itu telah menenangkan hati prajurit dan rakyat.

Di saat kekuatan utama Zhu Yuanzhang menyeberangi Sungai Yangtze, tanpa menunggu perintah sang suami, Ma Xiuying segera memimpin keluarga para prajurit pemberontak buru-buru ikut menyeberang sungai. Jika terlambat sedikit saja, begitu pasukan Yuan datang menghadang dan memotong jalur mundur, seluruh keluarga prajurit itu  dipastikan akan kehilangan nyawa.

Bahkan suatu kali, Zhu Yuanzhang mengalami cedera di medan perang, Ma langsung menggendong suaminya yang terluka parah dan melarikan diri sambil menembus serangan hujan panah dan tombak, Akhirnya berhasil meloloskan diri dari mara bahaya.

Zhu Yuanzhang berhasil menaiki tahta dan mengangkat dirinya sendiri menjadi kaisar Dinasti Ming. Serta menobatkan Ma sebagai permaisurinya. Ia mengisahkan dengan haru jasa dan sepak terjang permaisuri Ma dalam membantunya. Ia menyejajarkannya dengan Permaisuri Changsun dari Kaisar Taizong Dinasti Tang.

“Mana saya berani disejajarkan dengan Permaisuri Changsun? Semoga baginda dapat meneladani kaisar Yao dan Shun dari zaman kuno,” sanggah Permaisuri Ma setelah mendengar pujian itu.

“Tanpa engkau yang berbudi luhur ini, mana ada aku di hari ini?” tutur Zhu Yuanzhang dengan penuh perasaan sekembalinya di kediaman di istana.

Bahkan Kaos Kaki Zhu Yuanzhang Dibuat Sendiri Oleh Ma

Walau berstatus seorang ratu, setiap menu makan Zhu Yuanzhang selalu diperhatikannya.Ratu Ma biasanya mengenakan baju berbahan kasar, kalau sudah rusak, dijahit dan dicuci ulang lalu dipakai lagi. Bahkan kaos kaki Zhu Yuanzhang pun buatan tangannya sendiri.

Ada yang bertanya: Ratu memiliki kekayaan dan kemuliaan tertinggi, mengapa harus bersusah payah begini? “Kemanjaan berasal dari boros, kematian bisa berasal dari hal remeh. Tidak seharusnya melupakan asal muasal kita, tidak sepantasnya lengah,” jawab sang ratu dengan bijak.Mendengar ratu Khubilai Khan dari Dinast Yuan merebus untuk mengurai bahan serat sutra yang terkandung dalam busur tua lalu merajutnya menjadi pakaian sutra, Ratu Ma pun memimpin pekerja istana menirunya.

Potongan kain sutra bekas yang berhasil ditenun dibuat menjadi selimut. Lalu dibagikan pada manula yang miskin; sebagian dijadikan baju, dibagikan pada para dayang dan putri kerajaan, agar para keturunan kerajaan yang terlahir kaya itu memahami betapa sulitnya menenun kain dan membuat pakaian. Hingga menjadi bisa menghargai setiap benda yang dimilikinya.

Sang kaisar memiliki banyak dayang dan selir, dalam hal ini Ratu Ma tetap memperlakukan setiap dayang dan selir dengan ramah. Jika ada selir yang hamil, dia lantas memberikan perhatian ekstra; jika ada yang tidak berkenan di hati sang kaisar, dia akan menjadi penengahnya.

Di bawah pengasuhannya, para selir itu hidup tenang dan berkecukupan, bahkan dayang istana pun kerap mendapat hadiah pakaian serta makanan darinya. Kehidupan keluarga kaisar di istana bagian belakang yang tentram dan bahagia.   Ratu Ma gemar membaca, khususnya buku sejarah, pemikirannya sangat jauh ke depan. Dia mendengar ratu dari Dinasti Song sangat bijaksana, maka dia pun memerintahkan administrasi wanita di bagian sejarah menuliskan hukum keluarga dari Dinasti Sung dibacanya siang dan malam.

Ada yang mengatakan, bukankah ratu Dinasti Song terlalu baik dan murah hati? Ia menjawab, “Terlalu baik, bukankah lebih baik daripada kejam? Apabila keturunan saya bisa berpedoman pada kebajikan, maka tidak akan sulit mempertahankan kemakmuran selama tiga generasi.”

Mengenakan baju usang dengan tongkat siap menggebuk

Ratu Ma memiliki lima orang putra dan dua orang putri, di antaranya putra sulung Zhu Su yang bergelar bangsawan Zhou Ding Wang adalah yang paling tidak mau menurut.

Sebelum ia pergi menerima gelar di ibu kota Kaifeng, Ratu Ma sangat mencemaskannya, maka diutuslah Selir Pertama Jiang mendampinginya. Ratu memberikan dua benda pada Jiang: yakni baju usang yang baru dikenakannya dan sebuah tongkat kayu. Serta berpesan, “Begitu Zhou Ding Wang melakukan kesalahan, kenakan baju ini dan hardiklah dia dengan tongkat yang siap menggebuknya ini. Jika berani membangkang, segera laporkan ke kekaisaran.”

Sejak saat itu setiap kali melihat baju usang ibu ratu, muncul rasa hormat pada diri Zhou Ding Wang, dan tidak berani berulah. Ratu Ma sejak kecil telah kehilangan ayah dan ibunya, setiap kali membicarakan hal ini, dia selalu merasa sedih. Setelah Zhu Yuanzhang menjadi kaisar, ia berniat menemukan kerabat ratu untuk memberi mereka jabatan agar sang ratu terhibur hatinya.

Namun Ratu Ma menolak tegas dan berkata, “Memberi gelar bagi kerabat adalah tindakan ilegal. Apalagi di dalam keluargaku belum tentu ada yang berkemampuan, begitu bertindak semena-mena dan tidak tunduk hukum, maka akan mengikuti jejak kehancuran dinasti sebelumnya, ini bukan hal yang kuinginkan.”

Pada Dinasti Ming hampir tidak ada kekacauan yang terjadi karena ratu turut campur urusan negara atau kerabat memiliki kekuasaan khusus, teladan Ratu Ma menimbulkan pengaruh yang sangat besar dalam hal ini.

Yang lebih berharga daripada emas permata adalah orang bijak

Saat baru menaklukkan Beijing, para prajurit berhasil mengumpulkan banyak emas permata berharga dari istana utama dari ibu kota Dinasti Yuan, Zhu Yuanzhang memanggil Ma Xiuying untuk menikmatinya.

Tak disangka, Ma tak tergerak melihatnya, dan bahkan berkata pada Zhu, “Dinasti Yuan runtuh gara-gara emas permata ini. Apakah semua benda berharga ini menandingi benda tak ternilai bagi seorang kaisar?” Zhu Yuanzhang langsung mengerti kata-kata itu, “Maksudmu orang bijak?” Ma Xiuying langsung bersujud pada Zhu Yuanzhang dan berkata, “Hamba ingin paduka kaisar menghilangkan keinginan akan kemewahan, mencegah timbulnya potensi bahaya dan mendapatkan orang-orang bijak dalam memerintah negeri ini.” Mendengar kata-kata ini Zhu Yuanzhang langsung menyimpan harta berharga itu, dan sejak saat itu ia fokus pada urusan negara.

Ratu kerap menasihati raja, talenta setiap orang berbeda, gunakan orang sesuai dengan kelebihannya, ampunilah kesalahan kecil mereka, dan sayangilah semua orang yang berkompeten itu.

Ketika ratu tahu ribuan pelajar di akademi kekaisaran mendapatkan tunjangan dari kerajaan, sementara istri dan anak-anak yang mendampingi mereka tidak memiliki sumber penghidupan, maka Ratu Ma mengusulkan pada Zhu agar membuat gudang khusus untuk menyimpan pangan bagi keluarga para pelajar. Sejak saat itu, pembagian jatah pangan bagi keluarga pelajar pada Dinasti Ming telah menjadi kebiasaan.

“Berbelasungkawa Dalam Hati” bagi guru dari pangeran

Pada perayaan festival Cap Go Meh, tradisi teka-teki di tengah masyarakat ada yang menyasar pada kaki besar (di zaman itu berlaku anak perempuan sebelum akil baligh, kedua telapak kakinya ditekuk paksa agar tumbuhnya kecil, tapi keluarga sang ratu tidak melakukannya. Red.) sang ratu, Zhu Yuanzhang berang, dan berniat menangkap si pembuat teka-teki. Ratu Ma yang berjiwa besar meredakan amarahnya, “Ini adalah hari raya dan hari baik, bersenang-senang dengan rakyat, apa salahnya? Tidak perlu hal kecil seperti ini dibesar-besarkan.”

Kadang melihat Zhu Yuanzhang kembali ke kediaman setelah mengurus kekaisaran, melihatnya sedang marah seperti hendak membunuh orang, Ratu Ma akan membujuknya dengan lembut, banyak yang kemudian ditunda hukumannya atau terbebas dari hukuman mati karenanya.

Guru putra mahkota yakni Song Lian, dikaitkan dengan kejahatan yang dilakukan oleh cucunya dan divonis hukuman mati oleh Zhu Yuanzhang. Ratu Ma berusaha menghalanginya, namun tidak diindahkan oleh Zhu Yuanzhang. Saat makan, Ratu Ma menyiapkan satu meja khusus masakan vegetarian.

Zhu bertanya untuk apa meja itu, Ratu Ma berkata, “Hamba ikut berduka bagi Song Lian, dan berniat mewakili putra mahkota kita ‘berduka di dalam hati’ untuk gurunya.” Zhu Yuanzhang tidak berkata sepatah kata pun, sumpitnya diletakkan lalu pergi, hari berikutnya hukuman mati bagi Song Lian telah dihapuskan.

Ada yang mengungkapkan bahwa putra seorang perwira militer yang membawahi Pasukan Pengawal Istana, bernama Guo Jingxiang berniat membunuh sang ayah. Mendengar itu Zhu Yuanzhang marah besar dan memerintahkan putra tak berbakti itu dihukum mati.

Ratu Ma menasihati, “Guo Jingxiang hanya memiliki seorang putra, bila ternyata salah menghukum mati dia, maka Guo Jingxiang akan kehilangan penerusnya.” Kemudian didapati, ternyata putra Guo memang telah difitnah.

Zhu Yuanzhang berniat memerintahkan agar para napi kelas berat membangun tembok kota. Ratu Ma berkata, “Para napi sudah sangat tersiksa, jika ditambah lagi dengan pekerjaan berat, dikhawatirkan sulit terhindar dari kematian.” Maka Zhu Yuanzhang membatalkan niatnya itu.

“Keadaan anak-anak negeri Ini, bagaimana mungkin hamba tidak peduli?”

Ratu Ma juga mencicipi menu yang disajikan oleh dapur istana bagi para pejabat kerajaan, jika ditemukan cita rasa yang tidak enak, diberitahukannya pada Zhu Yuanzhang, “Sebagai seorang pemimpin, agak pelit pada diri sendiri tidak bermasalah, tapi terhadap para bijak dan cendekia seharusnya diperlakukan kedermawanan,” Zhu Yuanzhang langsung memerintahkan agar menu makanan ditingkatkan, para pejabat sangat berterima kasih dan memuji kemurahan hatinya.

Suatu hari Ratu Ma bertanya pada Zhu Yuanzhang, “Apakah sekarang rakyat telah hidup tentram dan berkecukupan?” Zhu Yuanzhang berkata, “Ini bukan pertanyaan yang seharusnya kau ajukan.” Ratu Ma menjawab, “Paduka adalah bapak negeri ini, hamba adalah ibu negeri ini, keadaan anak-anak kita, bagaimana mungkin hamba tidak peduli?”

Setiap kali terjadi bencana, Ratu Ma akan memimpin para abdi kerajaan untuk berpantang makan daging, dan berdoa bagi keselamatan seluruh rakyatnya. Zhu Yuanzhang memberitahunya bahwa perintah untuk menyelamatkan korban bencana telah diinstruksikan, sang ratu mengusulkan, “Daripada menyelamatkan korban pasca bencana, lebih baik melakukan persiapan sebelum bencana terjadi.”

Zhu Yuanzhang merasa perkataan ini sangat benar, lalu membangun lumbung pangan di berbagai daerah, sebagai antisipasi sebelum terjadinya bencana.

Setelah kematiannya, ia tidak pernah lagi menobatkan ratu pengganti

Pada tahun ke-15 sejak sang Kaisar berkuasa, Ratu Ma menderita penyakit parah. Zhu Yuanzhang sendiri yang menyuapkan obat baginya, para pejabat dan abdi berdoa bagi kesembuhannya.

Tapi Ratu Ma justru tidak mau diobati oleh dokter kerajaan. Zhu Yuanzhang bertanya mengapa tidak mau diobati, Ratu menjawab, hidup dan mati adalah takdir Yang Kuasa. Sebab dia khawatir bila diobati tapi tidak bisa sembuh Zhu Yuanzhang akan membunuh dokter kerajaan.

Zhu Yuanzhang bertanya apa lagi yang ingin dikatakan, sang ratu meninggalkan pesan terakhirnya, “Semoga Paduka mencari orang bijak dan mau menerima masukan dari mereka, dari awal hingga akhir. Semoga anak cucu cerdas dan bijak, pejabat dan rakyat mendapatkan yang sepantasnya.” Usai berkata ratu meninggal dunia, tutup usia 51 tahun.Setelah Ratu Ma meninggal dunia, Zhu Yuanzhang sangat bersedih dan menangis pilu, 16 tahun setelah itu, Zhu tidak pernah lagi menobatkan ratu penggantinya.

Untuk memperingati sang istri, Zhu memerintahkan Pejabat Sejarah mencatat kata-kata bijak Ratu Ma dan kata-kata terakhirnya sebelum meninggal, dan dicatat ke dalam kitab sejarah.

Setelah itu, suatu kali putra mahkota berselisih paham dengan Zhu Yuanzhang, karena marah Zhu pun mengejar putra mahkota hendak memukulinya, sang pangeran sengaja menjatuhkan lukisan yang dilukisnya sendiri, dimana Ratu Ma menggendong Zhu Yuanzhang yang terluka melarikan diri. Zhu Yuanzhang yang melihat lukisan itu menangis sedih, setelah itu tidak pernah lagi memukul putranya.

Di hari pemakaman Ratu Ma, hujan deras mengguyur bumi, tanpa mempedulikan guyuran hujan, rakyat mengiringi pemakamannya. Para dayang istana bersajak, “Ratu hamba yang belas kasih, mendidik keluarga dan negara, membesarkan dan membimbing kami, jasanya tak terlupakan.”

Ratu Ma telah mendampingi Zhu Yuanzhang selama 30 tahun, menjadi ratu selama 15 tahun, seumur hidupnya Zhu Yuanzhang tidak mendengar perkataan siapa pun, hanya mendengar nasihat Ratu Ma. Dengan budi luhur dan kecerdasannya, sang ratu telah mendukung Zhu Yuanzhang melewati masa paling sulit selama proses pendirian Dinasti Ming.

Kaisar Zhu Yuanzhang memujinya: “Memiliki seorang istri yang bijak, ibarat negara memiliki pejabat yang bijak.” (SUD/WHS/asr)

Share

Video Popular