Luke Taylor untuk The Epochtimes

Erabaru.net. Jutaan rakyat Venezuela sekali lagi tenggelam dalam kegelapan pada minggu ini. Mereka harus rela bergelap-gelapan dikarenakan terjadinya pemadaman listrik secara nasional.

Pemadaman secara besar-besaran itu menjadi pengingat, dari parahnya krisis ekonomi dan politik yang berkepanjangan di negara itu.   Akan tetapi, rezim Venezuela malah menuding jaringan listrik nasional mereka disabotase. Meski demikian  para ahli berkata lain. Korupsi yang merajalela dan salah kelola sebagai penyebabnya.

Pemadaman listrik di Caracas dimulai pada pukul 4 sore tanggal 22 Juli lalu. Pemadaman ini yang pertama kalinya di ibu kota itu sejak Maret tahun ini. Operasional Kereta bawah tanah terhenti dan keran air mengering. Bahkan, pangkalan-pangkalan militer utama jatuh ke dalam kegelapan, meskipun penerangan darurat gagal beroperasi.  Saluran TV pemerintah, yang biasanya sebagai juru bicara selama 24 jam bagi rezim Nicolás Maduro, juga tidak ditayangkan. 

Pihak berwenang dengan cepat memberikan komentar.  Menteri komunikasi dan informasi Jorge Rodriguez akhirnya berbicara di televisi tiga jam kemudian. Ia malah menyatakan bendungan pembangkit listrik tenaga air di selatan negara itu, telah dilanda oleh “serangan elektromagnetik.”

Dalam siaran pers resminya, rezim Venezuela mengatakan karena “aksi sabotase” sebelumnya,  mereka siap menghadapi situasi “dalam waktu sesingkat mungkin.” Lain lagi dengan Maduro, ia malah menuduh Amerika Serikat mengatur pemadaman listrik selama seminggu. Sehingga  menimbulkan kekacauan pemadaman.

Namun, para ahli di sektor energi negara itu, menuduh pengumuman pemerintah hanya sebagai alasan belaka. Ini tak lain untuk berlindung dari ketidakmampuan dan korupsi pemerintahan Maduro. “Ini adalah strategi berulang dan sama sekali tidak dapat dipercaya,” kata José Aguilar, konsultan energi dan pakar listrik yang berbasis di Amerika Serikat. 

José Aguilar mengatakan ketika sesuatu terjadi dan selalu menyalahkan orang lain. Akan tetapi mereka tidak bisa menunjukkan bukti. Tindakan pemerintahan Maduro dinilai hanya membenarkan yang tidak dapat dibenarkan.

Aguilar mengatakan, meskipun rezim Maduro berusaha untuk tetap membisu mengenai kondisi infrastruktur listrik, hingga kini tidak pernah merilis informasi tentang jaringan listrik secara nasional selama hampir sembilan tahun. 

Hal demikian, justru menunjukkan kurangnya sumber daya, manajemen, dan staf yang memenuhi syarat untuk berurusan saat krisis meningkat. 

Bagi Aguilar, dikarenakan bahan bakar fosil telah gagal, tekanan pada sistem hidroelektrik – yang sekarang menggerakkan sekitar 80 persen energi listrik – telah ditingkatkan kepada tahapan yang tidak berkelanjutan. Artinya, kegagalan pasokan listrik di masa depan “cenderung terulang kembali. 

Freddy Brito, Menteri energi Venezuela, pada Selasa 22 Juli mengumumkan, bahwa pasokan listrik telah dipulihkan kembali di Caracas, serta di lima negara bagian lainnya. Akan tetapi, beberapa warga Caracas terus melaporkan masih adanya pemadaman listrik.  Sedangkan warga lainnya mengeluhkan bahwa di luar ibukota pemadaman listrik telah menjadi makanan sehari-hari.

“Mereka berbicara tentang ‘pemadaman nasional ketiga’ tetapi sejak yang pertama  pada 7 Maret tahun ini, di daerah kami Barquisimeto  telah mengalami pemadaman listrik hingga 12 jam, setiap hari,” kata Vanessa Ovalles yang berprofesi sebagai pembuat kue. Ia menambahkan, seringkali tidak dapat bekerja di kotanya. Ini dikarenakan kekurangan gas dan air yang disebabkan oleh pemadaman listrik.

Bersamaan dengan kegagalan pemerintahan, krisis politik dan ekonomi Venezuela di bawah Maduro menyebabkan parahnya krisis barang-barang pokok dan makanan secara meluas. Meskipun tersedia, seringkali tidak terjangkau karena hiperinflasi yang dapat mencapai sepuluh juta persen tahun ini, menurut laporan International Monetary Fund -IMF. 

Setidaknya 4 juta penduduk Venezuela- lebih dari sepuluh persen populasi  – telah meninggalkan negara itu menurut badan pengungsi PBB. Juan Guaido, pemimpin oposisi,  yang bertujuan untuk menyingkirkan Maduro dari kekuasaan, sejauh ini belum mampu menggulingkan rezim Maduro. 

Sosok Guaido diakui lebih dari lima puluh negara di dunia, termasuk Amerika Serikat, sebagai pemimpin sah Venezuela. Guaido adalah pemimpin kongres yang dikontrol oposisi di negara itu. Guaido berharap memanfaatkan gelombang baru terhadap ketidakpuasan publik akibat pemadaman listrik untuk menggalang dukungan.

“Mereka berusaha menyembunyikan tragedi itu dengan menjatah seluruh negeri, tetapi kegagalannya jelas. Venezuela tidak akan terbiasa dengan bencana ini,” demikian cuitan Guaido. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular