Erabaru.net. Di tengah-tengah kerasnya kehidupan manusia yang pahit, apa yang disebut cinta sejati bagi banyak orang mungkin masih merupakan konsep yang sangat kabur. Tetapi mendengarkan cerita di bawah ini, kita mungkin akan memiliki lebih banyak penjelasan tentang maka dari “kesetiaan”.

Ini adalah kisah nyata di Tiongkok. Sang suami yang buta dengan kedua matanya, sang istri tidak pernah ada niat untuk meninggalkannya, selam 34 tahun menggunakan tongkat untuk membawanya kemana pun mereka pergi.

Nama suaminya adalah Huang Fu-neng dan nama istrinya adalah Wei Gui-yi. Kedua kakek-nenek ini berasal dari sebua desa terpecil Donglan, Guangxi, Tiongkok. Ketika mereka menikah, sang suami berusia 25 tahun dan isrinya 21 tahun.

Semasa kecil kedua orang ini tidak punya kesempatan untuk belajar. Setelah menikah, mereka hidup damai dan tetap tinggal di desa selama beberapa dekade.

Mereka tidak kaya, mereka tidak pernah meninggalkan desa, tetapi mereka memiliki pemahaman yang besar tentang cinta, tahu apa itu cinta sejati, bahkan lebih banyak pemahaman daripada mereka yang berpendidikan.

Petaka itu terjadi pada tahun 1985, pada saat itu sang suami menderita penyakit aneh, menyebabkan matanya buta sejak saat itu. Dunia yang awalnya indah kini dunia di depannya adalah tempat yang gelap.

Sang suami mengatakan kepada istrinya: “Mulai sekarang aku tidak bisa melihat apa-apa, menjadi orang cacat, pergilah, tinggalkan aku dan menikahlah dengan orang lain”.

Istrinya menatap mata suaminya yang tidak bisa lagi melihatnya, dan mengatakan satu kalimat: “Aku akan selalu mengikuti kamu seumur hidupku.”

Sejak hari itu, dia menggunakan tongkat untuk membawa suaminya ke mana pun pergi, dia menjadi matanya, dan itu sudah berlangsung selama 34 tahun.

Orang-orang yang melihatnya mengatakan dia bodoh tapi dia tidak peduli. Dia berkata: “Aku adalah istrinya, seluruh hidupku akan bersamanya, dia akan memiliki aku.”

Mereka tidak punya anak.

Mereka tidak kaya.

Tetapi mereka sangat bahagia, sangat manis dan penuh perhatian.

Dari pagi hingga malam, mereka selalu bersama.

Mereka menjadi tua bersama tetapi bahkan ketika punggung mereka bungkuk, mereka masih bersama. Tongkat itu menurut mereka masih sama di mana-mana. Hubungan emosional antara kedua kakek-nenek ini menjadi simbol cinta abadi yang paling kuat.

Kisah pasangan tua ini diceritakan di media sejak akhir 2018. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa hingga 2019, 34 tahun telah berlalu, dia masih bersamanya dan tongkat bambu melintasi kerja seumur hidup. Kami berdoa semoga berkat dan kebaikan akan datang kepada mereka, sekarang dan selamanya!(yn)

Sumber: Tinnhanh.dkn.tv

Share

Video Popular