Luo Tingting/Fan Ming -NTD

Tindakan represif polisi dalam beberapa hari terakhir ini telah meningkatkan amarah rakyat Hong Kong. Kini, para demonstran langsung mengarahkan target serangan ke komunis Tiongkok. 

Pada Minggu 28 Juli, warga Hong Kong kembali turun ke jalan dengan cara masing-masing. Malam itu, para demonstran dibagi beberapa jalan, beberapa diantaranya berjaga-jaga di Causeway Bay. Sementara beberapa lainnya mengepung Kantor Perwakilan Tiongkok di Hong Kong. 

Bak menyambut kedatangan musuh, polisi Hong Kong menyerang secara gila-gilaan. Polisi menembakkan gas air mata, peluru karet dan granat spons ke arah demonstran. Banyak demonstran yang terluka karena itu.

 Amarah Warga Hong Kong Ditujukan pada Komunis Tiongkok

Pasca serangan geng di Yuen Long pada Minggu 21 Juli lalu, warga Hong Kong secara spontan berkumpul di Yuen Long pada Minggu 27 Juli. Mereka memprotes polisi yang terkesan membiarkan begitu saja gangster menyerang warga sipil. 

Saat itu, polisi mengerahkan sejumlah besar personel polisi anti huru hara. Polisi malah mengusir para demonstran dengan kekerasan.  Polisi sekali lagi melakukan tindakan represif terhadap warga seperti yang terjadi di Stasiun MTR Yuen Long.

Banyak demonstran yang dipukul hingga terluka bersimbah darah. Setidaknya 23 orang terluka. Dua orang diantaranya luka serius, sementara 11 lainnya ditangkap. Mereka yang ditangkap berusia antara 18 hingga 68 tahun. 

Laporan reuters, mengungkapkan bahwa Kantor Perwakilan Tiongkok mengeluarkan “perintah mobilisasi dan  memprovokasi gangster melakukan tindak kekerasan.

Namun, gas air mata polisi tak mampu membendung amarah rakyat Hong Kong. Pada Minggu 28 Juli , pertemuan yang diadakan di Chater Garden, Hong Kong berubah menjadi pawai spontan skala besar.  Massa dalam aksinya menuntut pertangung-jawaban polisi. 

Massa Hong Kong yang bergerombol memadati jalan-jalan di Hong Kong. Para demonstran meneriakkan slogan “Koalisi polisi dan triad” Slogan lainnya adalah “Pulihkan kondisi Hong Kong, era revolusi.”

Sejumlah besar demonstran berkumpul di Causeway Bay. Massa membangun penghalang jalan dengan pagar. Sementara kelompok demonstran lain bergerak maju ke arah Sai Wan atau Distrik Barat Hong Kong dan mengepung Kantor Perwakilan Tiongkok. Ini adalah kedua kalinya massa Hong Kong mengepung Kantor Perwakilan Tiongkok di Hong Kong. Aksi ini menunjukkan bahwa penolakan warga Hong Kong atas undang-undang ekstradisi, kini ditujukan ke komunis Tiongkok.

Sekitar pukul 7 malam pada Minggu 21 Juli, pasca pawai yang diikuti 430.000 warga Hong Kong, sebagian demonstran mengepung Kantor Perwakilan Tiongkok. Papan nama Kantor Perwakilan dipoles dengan pilox hitam. Bahkan, lencana komunis Tiongkok di gedung kantor tersebut juga dilempari dengan telur dan cat.

Para demonstran juga menuliskan kata-kata seperti “komunis Tiongkok runtuh” tulisan lainnya adalah “komunis Tiongkok mengacaukan Hong Kong” selain itu ada tulisan “bebaskan orang-orang yang ditangkap”, dan sederetan tulisan lainnya dengan pilox hitam. 

Seorang demonstran juga membacakan deklarasi di luar Kantor Perwakilan Tiongkok. Deklarasi itu berbunyi bahwa pemerintah Hong Kong mengabaikan tuntutan publik. Deklarasi itu juga menyinggung membiarkan polisi melakukan kekerasan terhadap warga. Jika Pemerintah Hong Kong masih tidak menanggapi tuntutan rakyat Hong Kong, maka tidak dikesampingkan pembentukan badan legislatif sementara.

Claudia Mo Man-ching, anggota kamp Pan-demokrasi, kepada Ming Pao Hong Kong mengatakan para demonstran “menyerang” Kantor Perwakilan Tiongkok, itu adalah ekspresi kemarahan mereka atas intervensi Kantor Perwakilan Tiongkok di Hong Kong. 

Anggota Partai Demokrat Dr. Helena Wong Pik-wan juga menuturkan, warga Hong Kong mengadakan “demonstrasi” di luar Kantor Perwakilan itu dikarenakan “satu negara, dua sistem” dan “Undang-undang Dasar” telah cacat. 

Sejak kedaulatan Hong Kong dikembalikan ke Tiongkok, komunis Tiongkok selalu menekan kebebasan opini publik dan demokrasi di Hong Kong. 

Pemilu universal warga Hong Kong untuk kepala eksekutif dan anggota parlemen Hong Kong selalu tidak diimplementasikan. Akibatnya, membuat warga Hong Kong sangat tidak puas. 

Selain itu, Pemerintah Hong Kong mengusulkan amandemen undang-undang ekstradisi yang didukung komunis Tiongkok. Sehingga membuat khawatir masyarakat Hong Kong. Karena dapat diadili di Tiongkok atas “opini yang tidak pantas” bagi penguasa di Beijing.

Baru-baru ini, semakin banyak orang Hong Kong meneriakkan slogan “Hancurkan Partai Komunis” selama pawai dan pertemuan warga Hong Kong. 

Stasiun TV dan radio Jerman “Deutsche Welle” melaporkan pada Sabtu 27 Juli, bahwa kemarahan rakyat Hong Kong sekarang bergeser dari Hong Kong ke Beijing.

Perang gerilya demonstran dengan polisi

Setelah malam itu, sejumlah besar demonstran muda bergerak dari Causeway Bay ke Distrik Barat, Sheung Wan dan Central Hong Kong, jalan di Des Voeux Road Central dan Connaught Road Central di Distrik Barat Pulau Hong Kong. Titik-titik itu dipenuhi oleh gelombang massa berkaos hitam. Gerbang pintu di pusat perbelanjaan terkenal seperti the Landmark Atrium ditutup terlebih dahulu.

Sekitar pukul 7 malam waktu Hong Kong, operasi pembersihan oleh tim polisi diluncurkan dari Kantor Perwakilan Tiongkok. 

Dari siaran langsung NTDTV dapat disaksikan bahwa sejak awal operasi pembersihan, polisi menembakkan secara brutal gas air mata ke arah para demonstran. Hanya terdengar suara tembakan gas air mata secara beruntun dari laras senjata polisi. Kali ini, polisi jelas-jelas melanggar peraturan. Ketika menembak gas air mata dengan pose “tembakan datar” yang dilarang secara hukum.

Konfrontasi antara polisi dan demonstran malam itu berubah menjadi perang gerilya kota besar-besaran. Sejumlah besar pasukan polisi dengan cepat merangsek maju ke garis pertahanan para demonstran. Polisi berulang kali menembakkan peluru karet, gas air mata dan semprotan merica menekan para demonstran.

Para demonstran mencoba menghalau dengan payung. Pada saat mundur, mereka berpencar ke jalan-jalan di sekitar. Massa kemudian berkumpul kembali di jalan besar lain. Massa melanjutkan perang dengan polisi. 

Demonstran juga membuat garis pertahanan dengan benda apa pun seperti batang besi, kayu dan bambu panjang untuk membuat garis pertahanan. Demonstran kembali mencoba menghadang gerak polisi sambil meneriakkan slogan “Era revolusi Hong Kong, Hong Kong.”

Selama pembersihan lokasi, ada wartawan dan demonstran terluka berlumuran darah dipentung polisi. Polisi yang dikerahkan yang umumnya dikenal sebagai “Pasukan Taktis Khusus” ini bahkan menerobos ke kerumunan massa. Sejumlah orang ditangkap, gumpalan asap tampak menyelimuti segenap distrik Sheung Wan, Pasar Barat Hong Kong,.

Setelah pukul 11:30 malam itu, para demonstran semuanya baru meninggalkan lokasi. Khawatir terulang kembali serangan kekerasan terhadap demonstran yang mengenakan pakaian hitam di Yuen Long, banyak warga berinisiatif menggantungkan berbagai jenis pakaian di atas pagar di dalam Stasiun Central. Pakaian ini disediakan secara bebas bagi mereka yang membutuhkannya. Selain itu, disediakan banyak uang koin untuk demonstran membeli tiket dan pergi.

Kwok Ka-ki, anggota Dewan Legislatif Hong Kong, seperti dikutip dari Radio Televisi Hong Kong mengatakan, pemukulan dan penggunaan gas air mata oleh polisi terhadap demonstran hanya akan memperdalam kebencian dan konflik. Dia mengkritik cara penanganan polisi garis depan. Komandan polisi pun sangat tidak professional pada malam itu.

Menurut laporan, polisi menangkap beberapa demonstran di persimpangan Des Voeux Road West dan Queen Street. Selain mengikat pergelangan tangan demonstran dengan lakban, mereka juga menggeledah ransel para demonstran. (jon/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular