- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Kekuatan Iman: Mengapa Kebijakan Komunis Tiongkok di Xinjiang Akan Gagal

Visiontimes

Bagi Komunis Tiongkok, para Uighur Xinjiang adalah kelompok yang perlu “berasimilasi” ke dalam masyarakat Tiongkok. Alias, memurtadkan Uighur. 

Mereka yang minoritas akan dipaksa untuk melepaskan keyakinan mereka. Uighur dipaksa mengadopsi gaya hidup yang didikte oleh Komunis Tiongkok. Namun, kebijakan “asimilasi” semacam itu pada akhirnya pasti gagal. Tidak hanya di Xinjiang, tetapi di seluruh Tiongkok.

Penindasan Xinjiang

Di Xinjiang, lebih dari satu juta warga Uighur dan minoritas lainnya, seperti Kirgistan dan Kazakh, dipaksa masuk ke pusat-pusat penahanan. Bagi Komunis Tiongkok disebut sebagai “kamp pendidikan ulang”.  Para minoritas diberikan pelatihan dalam bahasa Mandarin. Mereka menjadi sasaran cuci otak dengan ideologi komunis. 

Etnis minoritas ini diminta untuk melepaskan simbol-simbol keyakinan mereka – seperti janggut, mengenakan kopiah, membaca doa dalam bahasa Arab, dan sebagainya. Beberapa diantara mereka disiksa jika  menolak dan dikirim ke kamp kerja paksa.  Mirisnya, dalam beberapa kasus, anak-anak secara paksa dipisahkan dari orangtua mereka. 

Jadi mengapa Komunis Tiongkok terobsesi dengan memberantas sistem kepercayaan?

Mengutip dari tulisan pakar kebijakan Tiongkok terhadap etnis Tiongkok, Adrian Zenz di New York Times, mengungkapkan, Komunis Tingkok hidup dalam ketakutan abadi. Jika tanpa memiliki kendali secara total terhadap masyarakat Tiongkok, maka kelangsungan hidup jangka panjangnya dalam bahaya.

Oleh karena itu, kata Adrian, hingga hari ini, Komunis Tiongkok melipatgandakan kampanye asimilasi secara paksa di Xinjiang. Praktik ini sebenarnya telah gagal di tempat lain di masa lalu. 

Menurut Adrian Zenz, gerakan pendidikan ulang Partai komunis Tiongkok saat ini adalah versi terbaru dari Revolusi Kebudayaan. Kampanye ini juga berupaya untuk mencapai kontrol ideologis dengan memberantas sistem ideologis dan kepercayaan alternatif. Akan tetapi, Komunis Tiongkok melakukannya dengan cara yang jauh lebih canggih dan berteknologi tinggi. 

Namun demikian, terlepas dari betapa kerasnya upaya Komunis Tiongkok, kebijakan represifnya di Xinjiang dan bagian lain Tiongkok pada akhirnya pasti akan gagal.  Sikap agresif Komunis Tiongkok terhadap agama justru memicu semacam kebangkitan spiritual. 

Apakah itu orang Uighur, Tibet, atau bahkan Hans, banyak orang Tiongkok memeluk agama dengan sungguh-sungguh. Jumlah umat Kristen saja telah meningkat dari 3,4 juta jiwa pada tahun 1950 menjadi hampir 100 juta jiwa.  Banyak anggota Partai Komunis Tiongkok mengikuti ajaran Buddha dan Tao, meskipun Komunis Tiongkok memerintahkan ateisme yang ketat.

Apa yang tidak disadari oleh Komunis Tiongkok adalah bahwa spiritualitas adalah bawaan  sebagian besar manusia. Hal demikian tidak bisa dihancurkan, bahkan tidak bisa ditanggulangani.

Jika ada pihak yang semakin mencoba menekan identitas religius dari bagian orang tertentu, maka mereka semakin akan menegaskan kembali identitas itu. 

Pada akhirnya, yang tertindas akan menggunakan perlawanan untuk membebaskan diri dari penindas. Pada ujungnya, Komunis Tiongkok harus berurusan dengan perlawanan massal yang tak dapat dibendung.

Komunis Tiongkok Membenarkan Penganiayaan

Baru-baru ini, Kantor Berita Komunis Tiongkok,  Xinhua yang dikelola pemerintah mengutip sebuah buku putih. Isi buku itu mengklaim Xinjiang sebagian besar mengikuti “budaya Tiongkok.” Sehingga sampai kepada abad ke 9 hingga 10, ketika pengaruh Arab mulai masuk.

Sebenarnya maksud buku itu,  pemerintah Komunis Tiongkok bertujuan memposisikan agama Islam sebagai ideologi invasif. Yang mana,  bertentangan dengan budaya tradisional Tiongkok. 

Pada akhirnya  memungkinkan bagi Komunis Tiongkok untuk membenarkan kebijakan represifnya di wilayah tersebut.

Melansir dari Bloomberg, buku putih Komunis Tiongkok menuliskan : “Konversi Uighur ke Islam bukanlah pilihan sukarela yang dibuat oleh orang-orang biasa, tetapi hasil dari perang agama dan pemaksaan oleh kelas yang berkuasa. Memiliki rasa identitas yang lebih kuat dengan budaya Tionghoa sangat penting untuk kemakmuran dan perkembangan budaya etnis di Xinjiang.” 

Yang menarik, beberapa negara  seperti Arab Saudi dan Pakistan, telah mendukung sikap Komunis Tiongkok terhadap Xinjiang. Alasannya, langkah-langkah ketat telah membantu membawa perdamaian ke wilayah tersebut. 

Awal bulan ini, negara-negara ini, bersama-sama dengan negara-negara seperti Rusia, Venezuela, dan Korea Utara, mengirim surat ke PBB. Negara-negara ini memuji tindakan Komunis Tiongkok di daerah tersebut. Akan tetapi sebaliknya, sebanyak 22 negara yang menentang kekejaman di Xinjiang, malah diserang oleh media Komunis Tiongkok. (asr)

Video Rekomendasi :