Erabaru.net. Dua puluh orang tewas dan lebih dari 26 terluka akibat penembakan massal. Insiden terjadi di sebuah area perbelanjaan yang sibuk di kota perbatasan El Paso, Texas, Amerika Serikat, Sabtu 3 Agustus.  Kepala polisi setempat mengatakan di antara kemungkinan yang diselidiki adalah apakah kejadian itu adalah kejahatan rasial. 

Dua pejabat penegak hukum yang berbicara kepada The Associated Press dengan syarat anonimitas, mengidentifikasi tersangka yang ditahan bernama Patrick Crusius yang berusia 21 tahun dari daerah Dallas.

Polisi mengatakan, 26 orang lainnya terluka, kebanyakan dari mereka dirawat di rumah sakit setempat. Sebagian besar korban diyakini telah tertembak di Walmart dekat Cielo Vista Mall. Polisi menambahkan, supermarket itu penuh dengan 3.000 orang selama musim belanja.

“Adegan itu mengerikan,” kata Kepala Polisi El Paso, Greg Allen. Ia  menambahkan bahwa banyak dari yang terluka yang mengancam jiwa. 

Dia mengatakan polisi juga telah menemukan sebuah manifesto yang mungkin ditulis oleh Crusius. Manifesto ini diposting secara online. Salah satu alasan sedang diselidiki sebagai kejahatan rasial.

Warga sukarela mendonorkan darah kepada korban yang terluka. Sementara anggota polisi dan militer, berusaha membantu orang-orang yang mencari orang-orang terkasih yang hilang.

“Ini kekacauan,” kata Austin Johnson, seorang petugas medis Angkatan Darat di Fort Bliss. Ia menawarkan diri untuk membantu di pusat perbelanjaan dan kemudian di sekolah yang berfungsi sebagai pusat penyatuan kembali.

Warga bernama Adriana Quezada yang berusia 39 tahun mengatakan, dirinya berada di bagian pakaian wanita di Walmart. Ketika itu,ia bersama dua anaknya. Ia menuturkan, sempat mendengar tembakan. Akan tetapi ia berpikir dikarenakan benturan seperti konstruksi atap.

Akhirnya, putrinya yang berusia 19 tahun dan putranya yang berusia 16 tahun, langsung tiarap. Kemudian mereka berlari keluar dari Walmart melalui pintu keluar darurat. Mereka tidak terluka.

Dia mengatakan, sempat melihat empat pria. Mereka berpakaian hitam, bergerak bersama-sama menembakkan senjata tanpa pandang bulu. Polisi kemudian mengatakan, hanya ada satu orang penembak.

Polisi mengatakan pada tengah hari, seorang tersangka berhasil ditahan. Kini masyarakat tidak lagi dalam bahaya.  Tersangka, yang menggunakan senapan, ditangkap tanpa insiden. Polisi percaya, dia adalah “penembak tunggal.” Tetapi, polisi masih terus menyelidiki laporan adanya orang lain yang terlibat.

Sedangkan, Stasiun televisi lokal KTSM-TV, menayangkan dua foto yang dikutip dari sumber penegak hukum. Sumber itu mengatakan ada gambar kamera keamanan tentang tersangka. Ketika itu, tersangka memasuki Walmart. Ia mengenakan kacamata dan kaus gelap.  Ia juga tampaknya mengenakan headphone atau pelindung telinga.

Melansir dari Times, Emmerson Buie, agen khusus yang bertanggung jawab di El Paso, mengatakan, bahwa FBI sudah menyelidiki kasus ini sebagai kemungkinan kejahatan rasial dan tindakan terorisme domestik. 

Ryan Mielke, juru bicara Pusat Medis Universitas El Paso, mengatakan 12 orang dibawa ke rumah sakit dengan terluka, termasuk seorang yang meninggal dunia.  Dua korban dari yang terluka adalah anak-anak yang dipindahkan ke Rumah Sakit Anak El Paso. Dia menolak untuk memberikan rincian tambahan tentang para korban.

Menurut juru bicara rumah sakit Victor Guerrero, sebelas korban lainnya sedang dirawat di Pusat Medis Del Sol.  Dia mengatakan usia para korban berkisar antara 35 hingga 82 tahun.

Presiden Donald Trump mengecam keras penembakan yang terjadi di Texas. “Penembakan hari ini di di El Paso, Texas. Tidak hanya tragis, tapi juga tindakan pengecut,” kata Trump di akun Twitter resminya. 

Trump melanjutkan : “Saya bersama semua orang di negara ini untuk mengutuk tindakan keji itu. Tidak ada alasan atau pembenaran dalam pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak berdosa.”

Gubernur Texas Greg Abbott menyebut penembakan itu “tindakan kekerasan keji dan tidak masuk akal” dan mengatakan negara telah mengerahkan sejumlah petugas penegak hukum ke kota.

Kandidat presiden dan mantan anggota Kongres Texas, Beto O’Rourke tampak agak terguncang ketika dia muncul di forum kandidat pada hari Sabtu di Las Vegas.  Tak lama setelah berita tentang penembakan di kota asalnya dilaporkan terjadi.

O’Rourke,  mengatakan dia telah memanggil istrinya sebelum naik ke panggung. Ia mengatakan, penembakan itu menghancurkan “semua ilusi bahwa kita memiliki kemajuan yang tak terhindarkan” dalam menangani kekerasan senjata.

Politikus itu mendengar laporan awal bahwa penembak mungkin memiliki senjata gaya militer Ia mengatakan, perlu “menyimpan sumpah serapah)di medan perang dan tidak membawanya ke masyarakat.  El Paso, yang memiliki sekitar 680.000 penduduk, berada di Texas Barat dan berbatasan dengan Juarez, Meksiko. (asr)

 

Share

Video Popular