oleh Lin Yan

Milyuner asal Tiongkok yang kini berada dalam pengasingan bernama Guo Wengui, mengungkapkan bahwa komunis Tiongkok sedang aktif menyebarkan informasi palsu. Komunis Tiongkok juga aktif menggelar sejumlah kegiatan yang berpengaruh. Langkah itu bertujuan untuk mengagalkan Trump terpilih kembali dalam pemilu tahun 2020 mendatang.

Untuk diketahui Guo Wengui, juga dikenal dengan nama Guo Wen Gui, Guo Haoyun, dan Miles Kwok, adalah seorang pengusaha miliarder Tiongkok yang kemudian menjadi aktivis politik. Ia mengendalikan Beijing Zenith Holdings, dan aset lainnya.

Ketika diwawancarai, Guo mengatakan dia telah diselidiki oleh CIA dan FBI. Ia mengatakan, kedua lembaga itu tidak menganggapnya sebagai agen Komunis Tiongkok. Ini sebagaimana dituduhkan oleh pihak Tiongkok. Bahkan, Guo mengatakan, bahwa disinformasi Komunis Tiongkok  menuduhnya terlibat dalam peran rahasia CIA dalam menyulut protes massa pro-demokrasi baru-baru ini di Hong Kong.

‘The Washington Free Beacon’ pada 30 Juli lalu, menerbitkan artikel berisi ungkapan Guo Wengui yang menyebutkan bahwa, sejak pemilihan paro waktu pada tahun 2018, komunis Tiongkok terus melakukan kegiatan. Mereka merekrut warga AS pro-Komunis Tiongkok  untuk membantu menggagalkan Trump terpilih kembali.

Komunis Tiongkok dengan mengerahkan sumber daya intelijen, pengaruhnya di Amerika Serikat dan menggunakan perbedaan politik antara Partai Demokrat dan Partai Republik, telah mencoba untuk mengganti pemerintahan Trump.

“Presiden Trump telah membuat komunis Tiongkok babak belur. Oleh karena itu komunis Tiongkok tidak menghendaki Trump untuk memerintah lagi selama 4 tahun”, kata Guo Wengui  kepada ‘The Washington Free Beacon’ melalui seorang penerjemah. 

Pengusaha ini mengungkapkan : “Untuk pemilihan presiden AS tahun 2020, Dewan Keamanan Nasional atau Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok telah memberikan instruksi yang sangat jelas, yaitu tidak menghendaki Trump memenangkan pemilu tahun 2020.” 

Guo Wengui mengatakan, serangkaian arahan dari Dewan Keamanan Nasional tersebut yang ditujukan untuk menghadapi pemilu AS tahun 2020, telah dirangkumkan dalam 4 tindakan utama. Upaya keras ini diharapkan dapat menjadi senjata untuk menjegal Trump. Guo mengatakan, ia perlu memberitahukan, bahwa keempat senjata tersebut merupakan ancaman yang sangat nyata. 

Keempat senjata tersebut adalah : Pemimpin Wall Street, pemimpin politik Washington dan kelompok lobi, media arus utama Amerika, dan para warga AS etnis Tionghoa dan Asia di Amerika Serikat. Guo Wengui ketika memperkenalkan senjata pertama mengatakan, Wall Street pada dasarnya karena kepentingan pribadi, mereka dapat membantu anggota Partai Komunis Tiongkok untuk mencuri kekayaan negara.

Senjata politik kedua adalah para pemimpin politik dan pelobi Washington. Pasalnya, mereka dapat direkrut untuk mengganjal Trump.  “Banyak dari orang-orang ini telah terinfiltrasi oleh komunis Tiongkok selama bertahun-tahun, sehingga mereka akan menjadi senjata terbesar kedua,” demikian ungkapan Guo Wengui.

Ketiga adalah banyak berita arus utama dan media sosial di Amerika Serikat. Mereka telah terbukti memusuhi Trump. Oleh karena itu, juga dapat digunakan sebagai senjata.

“Seperti Google, Facebook, Wall Street Journal, New York Times, Washington Post, dan bahkan National Radio Channel tidak mau menantang komunis Tiongkok untuk membela Presiden Trump”,  demikian ungkapan Guo Wengui.

Billionaire Guo Wengui, (TIMOTHY A. CLARY/AFP/Getty Images)

Ia menambahkan, banyak jurnalis justru lebih tertarik kepada Tiongkok. Karena itu, mereka enggan untuk melawan pengaruh komunis Tiongkok yang mengarahkan “tombak” kepada  Presiden Trump.

Senjata keempat adalah meningkatkan pengaruh politik di Amerika Serikat, melalui kerja sama dengan para warga AS etnis Tionghoa dan Asia di Amerika. Langkah yang dengan digunakan dengan cara front persatuan. Bahkan, membantu kelompok-kelompok ini menggunakan uang untuk mempengaruhi sumbangan politik dan hak suara.

Guo mengatakan, contoh kekuatan kegiatan pro-komunis Beijing di Amerika Serikat adalah,  orang-orang yang pernah diperintahkan untuk bentrok dengan pendukung Taiwan pada awal bulan ini. Ketika itu, Presiden Tsai Ing-wen mampir di New York dan para pendukungnya berkumpul.

Pengusaha ini mengingatkan, Yang perlu diingat bahwa keempat senjata ini dikendalikan oleh Komite Keamanan Nasional. Ia mengatakan,  tujuan sebenarnya dari otoritas keamanan komunis Tiongkok itu, tak lain adalah menggunakan segala cara untuk melindungi kepentingan elit partai.

“Kita harus tahu bahwa pemilihan presiden tahun 2020 bukanlah kegiatan kampanye antara Partai Republik dengan Partai Demokrat”, tambahnya. Guo Wengui menegaskan, bahwa pemilu ini nanti adalah kegiatan kampanye antara Presiden Trump dengan komunis Tiongkok. 

Menurut dia,  ketika Komunis Tiongkok terus memprotes bahwa negara-negara Barat berusaha untuk mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok. Akan tetapi kenyataannya adalah komunis Tiongkok, tidak hanya mencoba mencampuri urusan dalam negeri AS, mereka juga secara terang-terangan mencampuri pemilu AS.

Guo Wengui juga memiliki ringkasan tentang situasi politik di Tiongkok. Ia mengungkapkan :  “99,9% rakyat Tiongkok, termasuk 90 juta orang anggota Partai Komunis ingin melihat punahnya Partai Komunis Tiongkok. Faktanya, Partai Komunis Tiongkok hanya melayani 5 hingga 10 keluarga dan 10 hingga 20 orang yang duduk di puncak pimpinan republik. Ketika kekuasaan mereka ini dicabut, habislah Partai Komunis Tiongkok”.

Pemerintahan Trump memperhatikan intervensi komunis Tiongkok dalam politik AS

Presiden Trump sendiri dan Wakil Presiden Mike Pence tahun lalu, secara terbuka mengungkapkan bahwa komunis Tiongkok mencampuri urusan politik Amerika Serikat.

Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB pada bulan September tahun lalu, Trump mengatakan, bahwa terdapat sejumlah bukti yang mengarah kepada komunis Tiongkok berusaha untuk ikut mencampuri pemilihan jangka menengah Kongres AS. Selain itu, Komunis Tiongkok jgua terbukti menentang pemerintah yang berkuasa di AS pada saat ini.

Ketika itu, Trump mengatakan, mereka tidak ingin melihat dirinya atau pihaknya memenangkan pemilihan. Dikarenakan, dirinya adalah presiden pertama yang menentang komunis Tiongkok dalam masalah perdagangan AS – Tiongkok. 

Trump mengatakan : “Kami tahu bahwa mereka (komunis Tiongkok) berusaha untuk ikut campur dalam urusan pemilu. Kami tidak akan membiarkan hal ini terjadi, sama seperti kami tidak membiarkan Rusia menggapai sasaran”.

Dalam pidatonya yang diarahkan kepada Tiongkok pada 4 Oktober tahun lalu, Wapres AS Pence mengatakan : “Terus terang saja, kepemimpinan Presiden Trump sedang memainkan perannya, sehingga komunis Tiongkok menginginkan presiden AS yang berbeda”.

Pence juga menyebutkan : “Hal terburuk adalah bahwa komunis Tiongkok telah melancarkan aksi yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mempengaruhi opini publik di Amerika Serikat, pemilihan umum paro waktu tahun 2018 dan lingkungan sebelum pemilihan presiden tahun 2020”.

Ketika mantan Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kirstjen Nielsen dan direktur Biro Investigasi Federal (FBI) Christopher Wray menghadiri sidang dengar pendapat di Homeland Security pada 10 Oktober tahun lalu, mereka juga membenarkan, bahwa campur tangan komunis Tiongkok dalam pemilu AS, ancaman Beijing lebih serius daripada Moskow.

Trump dalam cuitannya pada hari Selasa 30 Juli juga menyatakan, tentang ketidakpercayaan dan skeptisnya terhadap komunis Tiongkok. Ia mengatakan bahwa Tiongkok mungkin sedang menunggu hasil pemilihan presiden tahun depan. 

“Delegasi saya sedang bernegosiasi dengan mereka (delegasi Tiongkok), tetapi mereka sering pada akhirnya memilih memungkiri demi kepentingan sendiri, mereka mungkin sedang menunggu hasil pemilu untuk melihat apakah kandidat dari (partai) Demokrat seperti ‘Biden yang mengantuk’ terpilih. Pada saat itu, mereka dapat menandatangani perjanjian dengan mereka (Partai Demokrat), seperti yang terjadi dalam 30 tahun terakhir, terus mengambil keuntungan dari Amerika Serikat !” demikian cuitan Trump. 

Kerugian yang diakibatkan oleh pencurian kekayaan intelektual AS yang dilakukan komunis Tiongkok berjumlah 600 miliar dolar AS setiap tahun. Tidak diragukan lagi, kebijakan Komunis Tiongkok akan menjadi salah satu topik utama dalam pemilihan presiden mendatang. 

Saat ini, tidak hanya Trump bersikap keras terhadap komunis Tiongkok. Akan tetapi,  kandidat Demokrat juga semakin mengekspresikan sikap menentang kebijakan oposisi mereka terhadap kebijakan peredaan yang mereka terapkan untuk Beijing.

Media online AS ‘Axios’ menerbitkan sebuah artikel pada 29 Juli lalu. Isinya menggambarkan, bahwa tidak seorangpun calon presiden dari Partai Demokrat yang mengatakan, akan segera meninggalkan kebijakan tarif Trump terhadap Tiongkok jika terpilih menjadi presiden. (Sin/asr) 

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular