oleh : Chriss Street

Bursa Wall Street telah menjadi ‘medan pertempuran’ berikutnya dalam perang dagang AS-Tiongkok. Dikarenakan Senat AS, mungkin menerbitkan daftar hitam trading dari senilai 1,5 triliun dolar AS saham Tiongkok yang listing di bursa AS.

Dengan indeks AS, Dow Jones Industrial Average  terjun bebas 900 poin setelah Tiongkok mendevaluasi mata uangnya, Senator AS Marco Rubio, Bob Menendez, Tom Cotton dan Kirsten Gillibrand, mendapatkan sponsor saat memperkenalkan Hukum Federal AS atas Rancangan Undang-Undang “Ensuring Quality Information and Transparency for Abroad-Based Listings on our Exchanges Act” atau EQUITABLE Act atau RUU Memastikan Informasi Kualitas dan Transparansi untuk Listing Bursa yang Berbasis di Luar Negeri,  yang mana akan mengamandemen Undang-Undang Sarbanes-Oxley AS.  

RUU ini bertujuan meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan Tiongkok dan perusahaan asing lainnya yang listing di bursa Amerika. 

Pengawasan lainnya juga terhadap perusahaan delisting atau menghapuskan pencatatan saham untuk jangka waktu tiga tahun, yang mana tidak sesuai dengan regulator AS. RUU ini sudah diperkenalkan di kongres AS pada 5 Juni lalu. 

Jika disahkan, Undang-Undang itu akan segera berdampak terhadap 156 perusahaan Tiongkok dengan kapitalisasi pasar gabungan sekitar 1,5 triliun dolar AS, termasuk 11 perusahaan besar milik negara, yang sudah listing di bursa saham AS. 

Ditambah lagi, belasan perusahaan teknologi Tiongkok yang berpotensi bernilai ratusan miliar dolar AS. Perusahaan-perusahaan ini antre  mendaftar di bursa saham Elektronik AS, NASDAQ.

Skala dampak dari perusahaan Tiongkok yang terdaftar di bursa AS, melonjak secara dramatis setelah Morgan Stanley Capital International Index atau MSCI, digunakan sebagai basis untuk Exchange Traded Fund atau Reksa Dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif  di bursa dan program besar dana pensiun secara pasif. Cara ini meniru kinerja gabungan dari 34 triliun dolar AS saham AS dan 10 triliun dolar AS dalam saham perusahaan asing, empat kali lipat bobot saham perusahaan Tiongkok pada November 2018 lalu.

Langkah ini memantik alarm, termasuk dari United States Securities and Exchange Commission atau Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat dan Dewan Pengawas Akuntansi Perusahaan Publik, yang melakukan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan yang listing di AS untuk mencegah penipuan dan manipulasi pasar. Kedua lembaga ini, yang mana juga mengeluarkan peringatan bersama pada 7 Desember, bahwa Beijing secara sistematis menolak pengawasan. Pihak Komunis Tiongkok mempertikaikannya, dengan dalih Undang-Undang Tiongkok mengharuskan pencatatan tetap berada di Tiongkok. Ditambah lagi, dengan Komunis Tiongkok, secara rutin membatasi akses informasi akuntansi dengan alasan keamanan nasional dan kerahasiaan negara.

Indeks MSCI melakukan rebalancing portofolio disalahkan atas anjloknya 20 persen harga saham AS akhir 2018, dan hampir 40 persen lompatan saham Tiongkok dalam beberapa bulan pertama 2019.

Kekhawatiran mengenai keaslian pengungkapan laporan keuangan perusahaan-perusahaan Tiongkok disoroti oleh The Epoch Times dalam laporan akhir Juli, bahwa Akuntan Publik  Ruihua — firma Akuntan Publik terbesar kedua di Tiongkok dan bertanggung jawab untuk mengaudit 1.000 perusahaan dagang publik Tiongkok — jadi tertuduh oleh Komisi Regulator Sekuritas Tiongkok. Pasalnya,  terlibat dalam skema selama periode tiga tahun untuk menggelembungkan laba sebesar 1,7 miliar dolar AS untuk produsen bahan kimia Kangde Xin Composite Material.

Regulator Tiongkok juga menangguhkan penyelesaian 43 penawaran umum perdana yang mengandalkan Akuntan Publik Ruihua. Sejumlah perusahaan telah merencanakan untuk bersama-sama trading di Pasar STAR Beijing yang baru dan NASDAQ Exchange yang berbasis di New York.

Senator Rubio kepada Wall Street Journal mengatakan, bahwa perusahaan Tiongkok yang listing di Amerika Serikat, harus mematuhi hukum dan peraturan Amerika untuk transparansi dan akuntabilitas keuangan. 

Dia menyatakan, Undang-undang EQUITABLE memperjelas bahwa ada harga bagi pemerintahan Komunis Tiongkok yang mengabaikan aturan keterlibatan ekonomi dan keuangan yang bertanggung jawab di pasar modal internasional.

Senator Menendez mengatakan, Undang-Undang ini akan menghentikan perusahaan-perusahaan Tiongkok bersembunyi di balik upaya Komunis Tiongkok untuk mengambil keuntungan dari pasar modal AS dengan menahan informasi akuntansi. Menurut Menendez, investor AS percaya, bahwa perusahaan asing dan domestik yang listing di publik memiliki standar yang sama – dan Undang-Undang  EQUITABLE akan membuatnya demikian. 

Sementara itu, senator Cotton menegaskan,  Komunis Tiongkok melindungi perusahaan-perusahaannya yang berharga dari audit keuangan dan pertanggungjawaban. Namun demikian, AS masih mengizinkan perusahaan-perusahaan itu untuk ikut trading di bursa saham Amerika Serikat. 

Fraser Howie, penulis buku “Red Capitalism: The Fragile Financial Foundation of China Extraordinary Rise,” menunjukkan perusahaan finansial AS, BlackRock memiliki sekitar 3,3 miliar dolar AS, uang  investor dalam dana perdagangan bursa yang listing di Hong Kong terkait dengan saham domestik Tiongkok, ditambah serangkaian reksa dana yang berfokus pada Tiongkok. 

Menurut dia, di bawah aturan daftar hitam Undang-Undang EQUITABLE, Black Rock harus melego semua saham itu. 

Dari perspektif strategi geopolitik Amerika Serikat, konsultan Enodo Economics melihat UU EQUITABLE sebagai upaya menekan koneksi modal Tiongkok kepada pemimpin Xi Jinping.

Seperti yang ditulis di Nikkei Asian Review, benefit terbesar dari listing saham di luar negeri untuk para elit bisnis Tiongkok dan sekutu politik mereka, telah menempatkan miliaran dolar AS aset di luar kendali modal “Iron Fist” Tiongkok. Bebas dari pengawasan, listing offshore memfasilitasi pelarian modal dan “tidak diragukan lagi memberikan peluang besar untuk pendapatan.” (asr)

Chriss Street adalah pakar ekonomi makro, teknologi, dan keamanan nasional. Dia telah menjabat sebagai CEO dari beberapa perusahaan dan merupakan penulis aktif dengan lebih dari 1.500 publikasi. Dia juga memberikan kuliah strategi untuk mahasiswa pascasarjana di universitas-universitas top California Selatan, AS. 

 

Share

Video Popular