- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Wapres AS Mike Pence Bertemu dengan Perwakilan Kelompok Agama yang Ditindas di Tiongkok

Stephen Gregory – The Epochtimes

Wakil Presiden AS, Mike Pence dan perwakilan National Security Council -NSC- AS, bertemu dengan perwakilan dari tiga kelompok agama yang dianiaya di Tiongkok, bersama dengan advokat lain untuk kebebasan beragama  di kantor wakil presiden AS, di Gedung Eksekutif, Washington, pada 5 Agustus lalu. 

Pada pertemuan itu dibahas bagaimana rezim Komunis Tiongkok menekan agama-agama di Tiongkok. Selain itu, juga dibahas cara-cara menanggapi penganiayaan Komunis Tiongkok.

Bob Fu, pendiri dan presiden organisasi HAM Kristen, ChinaAid, berbicara tentang pemantauan gereja-gereja Kristen di Tiongkok. Sedangkan, Omer Kanat, direktur Uyghur Human Rights Project, menceritakan situasi di Xinjiang. Yang mana, Departemen Luar Negeri AS telah memperkirakan bahwa sekitar 1 juta Muslim Uyghur telah ditahan di dalam kamp konsentrasi. Mereka dipenjara untuk menjalani indoktrinasi politik.

Menurut laporan yang dipublikasikan di situs web ChinaAid, pada kesempatan itu, Fu meminta administrasi Trump untuk menggunakan Undang-Undang “Global Akuntabilitas Hak Asasi Manusia Global Magnitsky.” 

Pemberlakuan UU ini, bertujuan memberikan sanksi kepada tokoh kunci yang terlibat dalam penganiayaan agama, termasuk bos Partai Komunis Tiongkok di Xinjiang, Chen Quanguo, atas perlakuan terhadap muslim Uighur. Untuk diketahui, Global Magnitsky Human Rights Accountability Act, adalah undang-undang yang menuntut pertanggungjawaban atas pelanggaran hak asasi manusia secara global.

Undang-undang ini memungkinkan Amerika Serikat untuk menarik visa orang atau badan apa pun yang terlibat dalam pelanggaran berat atau, menurut Bagian. 3, Ayat (1) dari tindakan tersebut yang berbunyi, “bertanggung jawab atas pembunuhan di luar proses hukum, penyiksaan, atau pelanggaran berat hak asasi manusia lainnya.”

Jeff Chen, wakil presiden dari Himpunan Falun Dafa Washington, pada pertemuan itu turut berbicara tentang penganiayaan terhadap Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa. Latihan ini terdiri perangkat meditasi dengan ajaran spiritual dengan prinsip Sejati-Baik-Sabar. Latihan ini telah dianiaya oleh rezim Komunis Tiongkok sejak Juli 1999 silam.

Ketika itu, Jeff Chen menyampaikan kepada wakil presiden Mike Pence bahwa “Penganiayaan (Falun Gong) masih parah. Dalam 20 tahun terakhir,  telah dapat diidentifikasi lebih dari 4.000 orang yang meninggal karena penyiksaan atau pelanggaran fisik lainnya. Sebagai akibat pemblokiran informasi, angka sebenarnya jauh lebih tinggi. Pengambilan organ (praktisi Falun Gong) juga telah berlangsung hampir 20 tahun. Sedangkan jumlah korban sangat tinggi. ”

Pence kemudian menanggapi dengan serius apa yang disampaikannya, dengan mengatakan, “Kami tidak akan melupakan Anda (Falun Gong), Saya berjanji, ” demikian ditirukan oleh Chen.

Menurut ChinaAid, Russell Moore, president of the Ethics and Religious Liberty Commission of the Southern Baptist Convention, mengusulkan agar pemerintah AS menekan Komunis Tiongkok untuk memperluas ajakan United State Commission on International Religious Freedom dan Duta Besar Keliling AS untuk Kebebasan Beragama Internasional , Sam Brownback.

Moore mengatakan pihak berwenang Amerika Serikat harus diberikan akses tidak terbatas dalam perjalanan ke Tibet dan Xinjiang.

Sementara itu, Greg Mitchell, wakil presiden International Roundtable Freedom Roundtable, menyarankan, agar pemerintah Amerika Serikat secara terbuka meminta agar tahanan hati nurani tertentu di Tiongkok dibebaskan. 

David Curry, CEO Open Doors AS, sebuah kelompok advokasi untuk orang-orang Kristen yang teraniaya, meminta Departemen Luar Negeri AS sekali lagi menunjuk Tiongkok, sebagai Negara Yang Memprihatinkan dalam laporan tahunannya tentang kebebasan beragama. 

Menurut dia, seperti dilansir China Aid, status seperti itu akan menyoroti penyalahgunaan hak asasi manusia Tiongkok dan mengizinkan presiden untuk menjatuhkan sanksi yang lebih luas terhadap rezim Komunis Tiongkok. 

Menurut catatan Jeff Chen, pada pertemuan itu, Randel Everett, selaku President Organisasi hak asasi manusia Kristen, 21Wilberforce, menekankan pentingnya mendukung kebebasan internet dan teknologi. Dukungan ini memungkinkan warga Tiongkok untuk menghindari firewall besar dari rezim Komunis Tiongkok. 

Sementara itu, Yang Jianli, pendiri Citizen Power Initiatives for China, sebuah kelompok yang mengadvokasi demokrasi di Tiongkok, melaporkan, bahwa banyak organisasi hak asasi manusia yang terkait dengan Tiongkok baru-baru ini. Hal demikian mendorong Kongres AS memberlakukan undang-undang untuk menjatuhkan sanksi kepada perusahaan, Amerika dan Tiongkok, yang berperanan membantu  Komunis Tiongkok membangun sistem pengawasan.

[1]
Yuhua Zhang, seorang praktisi Falun Gong, berbicara dengan Presiden Donald Trump selama pertemuan dengan para penyintas agama yang selamat dari 17 negara, di Kantor Oval Gedung Putih pada 17 Juli 2019. (Shealah Craighead/White House)

Setelah wakil presiden meninggalkan pertemuan, kelompok itu terus membahas pentingnya mengakhiri penganiayaan agama di Tiongkok.

Chen mengatakan, tak hanya orang yang dianiaya menjadi korban, tetapi seluruh rakyat Tiongkok. Untuk menganiaya Falun Gong, misalnya sistem hukum telah terdistorsi untuk menghukum praktisi Falun Gong. Walaupun Kebebasan beragama sudah dijamin di bawah konstitusi Tiongkok.

Sementara itu, pejabat Komunis Tiongkok yang bersedia melakukan penganiayaan telah dipromosikan, memicu tindakan korup. Hasilnya adalah penurunan tajam dalam tingkat moralitas di Tiongkok.  Pertemuan di kantor Pence adalah inisiatif terbaru oleh administrasi Trump untuk memperjuangkan kebebasan beragama. 

Pada Pertemuan Ministerial to Advance Religious Freedom, yang diadakan 16-18 Juli, Brownback menggambarkan penindasan orang beragama sebagai krisis global. Satu panel khusus menyoroti penganiayaan agama di Tiongkok.

Pada 17 Juli di ruangan Oval, Presiden Donald Trump bertemu dengan sekelompok penyintas dari penganiayaan agama, termasuk empat dari Tiongkok: Jewher Ilham, seorang Muslim Uyghur; Yuhua Zhang, seorang praktisi Falun Gong; Nyima Lhamo, seorang Buddha Tibet; dan Manping Ouyang, seorang dari agama Kristen. 

Video Rekomendasi : 

Atau Menyukai Video Ini :