2. Mitos Konsensus mengenai Perubahan Iklim

Perubahan iklim adalah topik hangat di masyarakat saat ini. Debat masyarakat mengenai masalah ini adalah luar biasa aktif, dengan pendapat berbeda dari media, di antara masyarakat umum, dan dalam politik. Argumen yang paling sering terdengar adalah bahwa emisi gas rumah kaca oleh manusia telah menyebabkan pemanasan global yang akan menyebabkan bencana iklim yang berbahaya. Para pengacara mengklaim bahwa kesimpulan ini dicapai melalui konsensus ilmiah atau sains yang sudah ada. Bagi sebagian ahli lingkungan hidup, yang menolak kesimpulan ini tidak hanya dianggap anti-sains, tetapi juga anti-kemanusiaan.

Anggota Greenpeace tersebut yang merusak pembangkit listrik dibebaskan dari kejahatannya karena seorang ahli terkenal yang merupakan pendukung “konsensus” ini memberikan kesaksian untuk mereka, mengklaim bahwa jumlah gas rumah kaca yang dipancarkan oleh pembangkit listrik setiap hari akan menyebabkan kepunahan hingga empat ratus spesies, dan sebagainya.

Apakah komunitas ilmiah benar-benar mencapai konsensus? Pensiunan profesor meteorologi Institut Teknologi Massachusetts, Richard Lindzen, menulis sebuah artikel pada tahun 2007 yang mengungkapkan pandangannya bahwa sains iklim benar-benar belum rampung. [30] Steven Koonin, mantan Sekretaris Departemen Energi Amerika Serikat untuk Sains dan profesor di Universitas New York, menulis dalam sebuah artikel pada tahun 2014 “Ilmu Iklim Belum Rampung,” “Kami masih sangat jauh dari pengetahuan yang diperlukan untuk membuat kebijakan iklim yang baik.”[31]

Dalam artikel lain, Steven Koonin mengingatkan para pembaca:” Masyarakat sebagian besar tidak menyadari perdebatan sengit dalam ilmu iklim. Pada pertemuan laboratorium nasional baru-baru ini, saya mengamati lebih dari 100 peneliti aktif dari pemerintah dan universitas saling menantang ketika mereka berusaha untuk memisahkan dampak manusia dari variabilitas alami iklim. Yang dipermasalahkan bukanlah nuansa tapi aspek mendasar dari pemahaman kita, seperti pelambatan kenaikan permukaan laut global yang tampak — dan tak terduga — selama dua dekade terakhir.”[32]

Suhu permukaan bumi telah meningkat secara keseluruhan sejak tahun 1880, serta karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya yang dipancarkan ke atmosfer oleh manusia memiliki efek pemanasan pada dunia. Mengenai pertanyaan dasar ini, para ilmuwan tidak berbeda dalam pendapatnya. Namun, pertanyaan yang lebih penting, yang merupakan pertanyaan yang hangat diperdebatkan oleh para ilmuwan, adalah: Apakah pemanasan terutama disebabkan oleh aktivitas manusia atau oleh faktor alam? Seberapa hangat dunia pada akhir abad kedua puluh satu?
Namun, dari sudut pandang lain, komunitas ilmiah tampaknya telah mencapai semacam konsensus atau telah menetapkan sains perubahan iklim sampai batas tertentu, karena suara mereka yang menentang apa yang disebut konsensus jarang muncul di media atau jurnal akademik.

Fisikawan Michael Griffin, mantan administrator NASA, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan National Public Radio pada tahun 2007:

Saya tidak ragu bahwa global — bahwa ada kecenderungan pemanasan global. Saya tidak yakin apakah adil untuk mengatakan bahwa pemanasan global adalah masalah yang harus kita hadapi. Menganggap masalah pemanasan global dengan menganggap bahwa keadaan iklim bumi saat ini adalah iklim optimal, iklim terbaik yang dapat kita miliki atau pernah kita miliki dan bahwa kita perlu mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa iklim tersebut tidak berubah.

Pertama-tama, saya tidak berpikir itu dalam kekuatan manusia untuk memastikan bahwa iklim tidak berubah, seperti jutaan tahun sejarah telah menunjukkan, dan kedua, saya kira saya akan bertanya pada manusia — di mana dan kapan — harus diberi hak istimewa untuk memutuskan bahwa iklim khusus yang kita miliki di sini hari ini, saat ini adalah iklim terbaik untuk semua umat manusia lainnya. Saya pikir itu posisi yang agak sombong untuk diambil orang. [33]

Meskipun Michael Griffin berusaha untuk mengungkapkan kerendahan hati yang seharusnya dimiliki orang mengenai ilmu pengetahuan, ia segera menghadapi kritik keras dari media dan beberapa ilmuwan iklim, yang bahkan menyebut pernyataannya adalah bodoh. Keesokan harinya, di bawah tekanan besar, ia terpaksa meminta maaf.[34]

Beberapa bulan kemudian, dalam wawancara lain, Michael Griffin berkomentar: “Saya pribadi berpikir orang sudah berlebihan dalam diskusi mengenai perubahan iklim, ke titik di mana hampir menjadi tidak sah untuk melihatnya sebagai subjek teknis. Ini hampir memperoleh status agama, yang menurut saya adalah menyedihkan.” Dari pandangan Michael Griffin mengenai “konsensus ilmiah,” kita melihat bahwa apa yang disebut konsensus mengenai perubahan iklim sebenarnya bukanlah bagian proses ilmiah. Ia merasakan kemajuan ilmiah adalah hasil debat: “Anda mengembangkan teori anda, menerbitkan data anda, memajukan konsep anda, dan orang lain menembaknya, atau mencoba melakukannya. Konsensus ilmiah berkembang dengan cara itu.”[35] Penggunaan segala cara dan sarana untuk meredam debat ilmiah itu sendiri melanggar semangat sains.

Karena reputasinya yang luar biasa dan kedudukannya di bidangnya, profesor Lennart Bengtsson, seorang anggota Masyarakat Meteorologi Kerajaan Inggris dan mantan Direktur European Centre for Medium-Range Weather Forecasts, bergabung dengan the Global Warming Policy Foundation (GWPF), sebuah lembaga pemikir yang menantang teori pemanasan global. Akibatnya, ia menghadapi pengawasan ketat dan tekanan dari rekan-rekannya di seluruh dunia. Dua minggu kemudian, ia terpaksa mengundurkan diri.

Dalam surat pengunduran dirinya, Lennart Bengtsson menulis: “Saya telah berada di bawah tekanan kelompok yang sedemikian besar dalam beberapa hari terakhir dari seluruh dunia yang telah menjadi sangat tak tertahankan bagi saya. Jika ini akan terus berlanjut saya tidak akan dapat melakukan pekerjaan normal saya dan bahkan akan mulai khawatir mengenai kesehatan dan keselamatan saya…Para kolega menarik dukungannya, kolega lain menarik diri dari kepenulisan bersama, dan lain-lain…Saya tidak akan pernah mengharapkan sesuatu yang serupa [pada zaman Senator McCarthy] dalam komunitas damai asli seperti meteorologi. Tampaknya hal tersebut telah berubah dalam beberapa tahun terakhir.”[36]

Pengamatan Lennart Bengtsson adalah benar: “Transformasi dalam beberapa tahun terakhir” ini adalah hasil ideologi komunis dan taktik perjuangan yang membajak bidang meteorologi.

Pada kenyataannya, dugaan konsensus ilmiah mengenai perubahan iklim telah mengubah teori perubahan iklim menjadi dogma. Perubahan iklim juga merupakan prinsip penting dari paham lingkungan hidup hari ini – sakral dan tidak dapat diganggu gugat. Para ilmuwan, media, dan aktivis lingkungan hidup yang menerima prinsip ini bekerja sama dalam menyebarkan ketakutan akan bencana yang akan terjadi. Doktrin ini adalah alat penting yang digunakan oleh gerakan lingkungan hidup untuk menakuti masyarakat agar mematuhi agenda politik. Melalui proses membangun dan memperkuat dogma ini, teknik perjuangan politik bergaya komunis, termasuk penipuan, gerombolan, mempermalukan publik, seruan, dan konflik terbuka, semuanya tampak jelas.

Share

Video Popular