- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab XVI – Komunisme Membajak Environmentalisme (Bagian I)

Roh komunisme tidak lenyap dengan disintegrasi Partai Komunis di Eropa Timur

The Epoch Times menerbitkan serial khusus terjemahan dari buku baru berbahasa Tionghoa berjudul Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita

Daftar ISI

Pengantar

1-Akar Komunis dari Environmentalisme

a.Tiga Tahapan Environmentalisme
b.Environmentalisme dan Marxisme: Akar yang Sama
c.Marxisme Ekologis
d.Sosialisme Ekologis
e.Politik Hijau: Hijau Adalah Merah Baru
f.Eko-Terorisme
g.Greenpeace: Bukan Kisah Damai

2. Mitos Konsensus mengenai Perubahan Iklim

a. Sejarah Singkat ‘Konsensus’ dalam Ilmu Iklim
b. Membangun Dogma di Komunitas Ilmiah

Daftar Pustaka

Pengantar

Bumi adalah lingkungan hidup umat manusia, menyediakan makanan, sumber daya, dan kondisi untuk pembangunan. Bumi telah memungkinkan manusia untuk makmur selama ribuan tahun.

Kemanusiaan berinteraksi erat dengan lingkungan alam. Baik kebudayaan tradisional Tiongkok maupun Barat menekankan hubungan simbiosis jinak antara manusia dengan alam.
Seperti yang ditulis oleh filsuf Tiongkok kuno, Dong Zhongshu dalam Embusan Mewah Musim Semi dan Musim Gugur, “Segala sesuatu di bumi diciptakan untuk kepentingan manusia.” [1] Artinya adalah bahwa tujuan Sang Pencipta adalah untuk menawarkan kondisi bagi umat manusia untuk hidup, dan semua hal di bumi dapat digunakan oleh manusia. Pada saat yang sama, manusia harus mengikuti prinsip-prinsip langit dan bumi dalam kehidupannya, dan dengan demikian menggunakan segala sesuatu secara tidak berlebihan serta secara proaktif memelihara dan menjaga lingkungan alami tempat manusia hidup.

Kebudayaan tradisional Barat menyatakan bahwa Sang Pencipta menyediakan lingkungan alami bagi manusia dan meminta manusia untuk mengelolanya. Dengan demikian, manusia harus menghargai dan memanfaatkan lingkungan alam. Dalam filosofi kebudayaan tradisional Tiongkok, ada keseimbangan antara segalanya, serta keharusan untuk menghindari bahaya.
Doktrin Konfusianisme mengenai Jalan Tengah menyatakan: “Sistem hukum yang sama inilah yang dengannya semua makhluk yang diciptakan diproduksi dan dikembangkan masing-masing dalam urutan dan sistemnya tanpa saling melukai; bahwa operasi Alam berjalan tanpa konflik atau kebingungan.”[2]

Orang Tiongkok kuno menghargai perlindungan lingkungan hidup. Menurut catatan sejarah, pada masa Yu yang Agung: “Dalam tiga bulan musim semi, orang-orang tidak membawa kapak ke hutan sehingga hutan dapat tumbuh subur. Dalam tiga bulan musim panas, orang-orang tidak menebarkan jala di sungai sehingga ikan dapat berkembang biak.”[3]

Zengzi, seorang cendikiawan Konfusianisme, menulis, “Kayu hanya boleh ditebang pada musim yang tepat dan hewan hanya boleh disembelih pada waktu yang tepat.” [4] Ini menunjukkan gagasan tradisional Tiongkok mengenai sikap tidak berlebih-lebihan dalam segala hal serta menghargai dan melindungi alam lingkungan hidup.

Setelah Revolusi Industri, polusi menyebabkan kerusakan ekologis yang parah, dan masyarakat Barat mulai menyadari masalah ini. Setelah undang-undang dan standar perlindungan lingkungan hidup diterapkan, polusi industri ditangani secara efektif dan kesehatan lingkungan hidup meningkat pesat. Dalam prosesnya, kesadaran masyarakat akan perlindungan lingkungan hidup adalah tumbuh sangat besar, dan secara luas diakui bahwa melindungi lingkungan hidup adalah tujuan yang tepat.

Kita harus membedakan beberapa gagasan: Perlindungan lingkungan hidup, gerakan lingkungan hidup dan environmentalisme. Perlindungan lingkungan hidup, seperti namanya, adalah perlindungan terhadap lingkungan hidup.
Sejak awal peradaban manusia, orang-orang telah memahami perlunya melakukan hal ini, dan tidak ada hubungannya dengan ideologi politik tertentu.

Gerakan lingkungan hidup adalah gerakan sosial dan politik seputar masalah lingkungan hidup. Tujuan utamanya adalah untuk mengubah kebijakan lingkungan hidup, serta pemikiran dan kebiasaan masyarakat, melalui gerakan massa, hasutan politik, dan pengaruh media.
Environmentalisme adalah filosofi dan ideologi yang menekankan perlunya melindungi lingkungan hidup dan hidup berdampingan secara harmonis antara masyarakat manusia dengan ekologi alam.

Motivasi di balik perlindungan lingkungan hidup dan environmentalisme adalah tidak sama dengan motivasi komunisme — tetapi komunis unggul dalam membajak gerakan massa dan memanipulasi gerakan massa demi keuntungan komunis.

Dengan demikian, kita melihat bahwa sejak awal environmentalisme modern, komunis secara sistematis telah memilih gerakan tersebut.
Isu-isu seputar environmentalisme hari ini adalah sangat kompleks: Gerakan ini menggunakan retorika yang sensasional dan keinginan orang-orang yang tulus untuk melindungi lingkungan hidup demi menciptakan gerakan politik global. Banyak partisipan adalah orang yang bermaksud baik, memiliki rasa keadilan, dan benar-benar peduli dengan masa depan umat manusia.

Namun, apa yang tidak disadari banyak orang adalah bagaimana komunis menggunakan lingkungan hidup untuk mengklaim landasan moral yang tinggi untuk tujuan mempromosikan agendanya sendiri. Inilah bagaimana perlindungan lingkungan hidup menjadi sangat dipolitisasi, dijadikan ekstrem, dan bahkan berubah menjadi agama palsu — tetapi tanpa dasar moral tradisional. Propaganda yang menyesatkan dan berbagai tindakan politik wajib telah menjadi dominan, mengubah environmentalisme menjadi semacam “komunisme-ringan.”

Bab ini akan fokus pada bagaimana environmentalisme sebagai ideologi terkait dengan komunisme, dan bagaimana gerakan pencinta lingkungan hidup dibajak, dimanipulasi, dan dipilih untuk melayani tujuan komunisme, serta dampak yang akan ditimbulkan jika tetap tidak dicegah.

I. Akar Komunis dari Environmentalisme

Komunisme telah membuat persiapan yang rumit di banyak bidang untuk penghancuran umat manusia. Berasal dari Eropa, komunisme meluncurkan revolusi kekerasan dan merebut kekuasaan di dua kekuatan besar Timur – Rusia dan Tiongkok. Kamp komunis dan masyarakat Barat memasuki konfrontasi panjang selama Perang Dingin. Setelah runtuhnya Uni Soviet dan blok komunis

Eropa Timur, komunis mulai menabur faktor-faktornya di masyarakat Timur dan Barat dan juga berusaha untuk mendirikan pemerintahan global yang dikendali dengan ketat.

Untuk mencapai tujuan ini, komunisme harus menciptakan atau menggunakan “musuh” yang mengancam semua umat manusia dan mengintimidasi masyarakat di seluruh dunia untuk menyerahkan kebebasan individu dan kedaulatan negara. Menciptakan kepanikan global mengenai menjulangnya bencana lingkungan hidup dan ekologi tampaknya hampir merupakan jalan yang tak terhindarkan untuk mencapai tujuan ini.

a. Tiga Tahapan Environmentalisme

Pembentukan dan pengembangan gerakan lingkungan hidup sangat terkait dengan komunisme. Secara khusus, pengembangannya telah melalui tiga tahap. Tahap pertama adalah masa persiapan teoretis, yang dapat dihitung dari publikasi Manifesto Komunis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels pada tahun 1848 hingga Hari Bumi pertama di tahun 1970.

Pada awal tahap ini, Karl Marx dan para muridnya tidak menganggap lingkungan hidup sebagai fokus wacana teoretisnya, tetapi ateisme dan materialisme Marxis secara alami adalah konsisten dengan kecenderungan utama lingkungan hidup. Karl Marx menyatakan bahwa kapitalisme bertentangan dengan alam (yaitu, lingkungan hidup). Murid-murid Karl Marx merancang istilah “ekosistem” dan diam-diam memasukkan environmentalisme dalam mata pelajaran tertentu di mana environmentalisme akan berfermentasi.

Dalam dekade terakhir tahap awal ini, dari tahun 1960 hingga 1970, dua buku terlaris – Silent Spring (1962) dan Population Bomb (1968) – muncul di Amerika Serikat. Environmentalisme memasuki arena masyarakat dengan kedok “perlindungan lingkungan hidup.”

Peristiwa penting pada awal tahap kedua adalah Hari Bumi pertama yang diadakan pada tahun 1970, tak lama setelah itu pada tahun 1972 Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadakan Konferensi Lingkungan Hidup Manusia yang pertama di Stockholm. Pada tahap ini, sejumlah organisasi dengan cepat terbentuk dan aktivitasnya meningkat. Di Amerika Serikat dan Eropa, sejumlah organisasi tersebut mendorong pemerintah melalui propaganda, protes, dan aktivisme dengan kedok penelitian ilmiah, undang-undang, pertemuan, dan sebagainya.

Pada tingkat makro, kontra-kebudayaan tahun 1960-an berfungsi hampir seperti parade militer unsur-unsur komunis di Barat, yang tampil dengan memilih hak-hak sipil dan gerakan anti-perang, kemudian dengan cepat menyebar ke bentuk lain dari pertempuran anti-kapitalis, termasuk gerakan feminis, gerakan homoseksual, dan banyak lagi.

Setelah tahun 1970-an, setelah gerakan anti-Perang Vietnam surut, gagasan komunis memulai proses pelembagaannya yang disebut “perjalanan panjang menuju institusi,” sementara juga membanjiri feminisme dan environmentalisme — dan ini adalah akar penyebab meningkatnya ideologi dan hasutan ahli lingkungan hidup.

Salah satu kekuatan terpenting yang memikul panji lingkungan hidup di tahun 1970-an adalah kaum hippi, tulang punggung kontra-kebudayaan. Faktanya, komunisme sedang dalam proses pengemasan ulang di bawah panji lingkungan hidup setelah kegagalannya dalam Perang Dingin, dengan maksud untuk memperkenalkan komunisme global dengan nama lain.

Fase ketiga dimulai pada malam menjelang akhir Perang Dingin. Pada tahun 1988, PBB membentuk Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim, dan konsep pemanasan global mulai memasuki ranah politik. [5] Menjelang runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1990, sebuah konferensi lingkungan hidup internasional diadakan di Moskow. Dalam sebuah pidato, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, mendukung pembentukan sistem pemantauan lingkungan hidup internasional, menandatangani perjanjian untuk melindungi “zona lingkungan hidup yang unik,” menyatakan dukungan untuk program lingkungan hidup PBB, dan menyerukan konferensi tindak-lanjut (diadakan pada Juni 1992 di Brasil). [6]

Hampir semua pencinta lingkungan hidup Barat menerima proposal ini, dan pada tahap ini, memandang pemanasan global sebagai ancaman utama bagi umat manusia. Propaganda yang menggunakan perlindungan lingkungan hidup sebagai alasan untuk kebijakan yang kasar tiba-tiba meningkat, dan jumlah serta skala hukum dan peraturan lingkungan hidup berkembang pesat.

Environmentalisme telah menjadi alat utama untuk membatasi kebebasan warga di seluruh dunia, merampas negara-negara yang berdaulat, dan membatasi serta memerangi masyarakat bebas di Barat. Hasilnya adalah bahwa setelah berakhirnya Perang Dingin, para mantan komunis Uni Soviet, serta komunis dan para rekannya yang mengembara di Barat, semuanya mulai lagi bergabung dengan gerakan perlindungan lingkungan hidup. Environmentalisme muncul sebagai kekuatan di panggung dunia dan semakin mulai menerima gagasan komunis.

b. Environmentalisme dan Marxisme: Akar yang Sama

Dalam pemahaman orang-orang yang percaya pada agama ortodoks, baik Timur maupun Barat, manusia diciptakan oleh Tuhan dalam gambar-Nya sendiri, dan dengan demikian kehidupan manusia diberkahi dengan nilai, tujuan, dan martabat yang lebih tinggi daripada bentuk kehidupan lain di bumi. Demikian juga, lingkungan hidup alami diciptakan oleh Tuhan. Manusia memiliki kewajiban untuk memelihara alam, yang hadir untuk manusia — bukan sebaliknya.

Di mata ateis dan materialis, kehidupan manusia tidak memiliki kualitas khusus. Frederick Engels menulis dalam salah satu esainya, “Hidup adalah mode keberadaan albumin [yaitu, protein] tubuh.” [7] Dalam pandangan ini, kehidupan manusia tidak lebih dari sekedar konfigurasi protein yang unik, intinya tidak berbeda dengan hewan atau tumbuhan — dengan demikian, adalah masuk akal bahwa manusia dapat dirampas kebebasannya, dan bahkan nyawanya, atas nama melindungi alam.

Pada tahun 1862, dalam sebuah buku mengenai kimia organik, kimiawan Jerman Justus von Liebig, kolega Karl Marx, mengkritik petani Inggris karena menggunakan kotoran burung yang diimpor sebagai pupuk. Pertanian Inggris mendapat manfaat dari kotoran burung, suatu pupuk yang efisien, dan hasil panen meningkat secara bermakna. Pada pertengahan abad kesembilan belas, Inggris memiliki banyak sumber makanan berkualitas tinggi. Bisnis kotoran burung telah menguntungkan pengusaha di berbagai negara, serta petani dan masyarakat Inggris.

Mengapa Justus von Liebig ingin mengutuk praktik ini? Justus von Liebig berkata, pertama, bahwa proses pengumpulan kotoran burung merusak alam; kedua, pedagang mengeksploitasi buruh dengan upah yang rendah; ketiga, hasil makanan yang tinggi merangsang pertumbuhan populasi, yang, pada gilirannya, membutuhkan lebih banyak makanan, melebihi apa yang dapat disediakan oleh alam; dan keempat, lebih banyak orang dan ternak berarti lebih banyak pupuk kandang dan sampah. [8]

Pada saat itu, ketika menulis Das Kapital, Karl Marx dengan cermat mempelajari karya Justus von Liebig. Karl Marx memuji karya Justus von Liebig karena telah “berkembang dari sudut pandang ilmu alam, sisi negatif, yaitu, bersifat merusak, pertanian modern.” [9] Seperti Justus von Liebig, Karl Marx menganggap segala upaya untuk menciptakan kekayaan dengan menggunakan sumber daya alam sebagai siklus yang kejam, dengan kesimpulan bahwa “pertanian rasional tidak sesuai dengan sistem kapitalis.” [10]

Setelah Vladimir Lenin dan Partai Bolshevik-nya meluncurkan kudeta di Rusia, mereka segera mengumumkan “Dekrit Tanah” dan “Dekrit Hutan” untuk menasionalisasi sumber daya lahan, hutan, air, mineral, hewan, dan tanaman, dan mencegah masyarakat menggunakan sumber daya tersebut tanpa izin. [11]

Ahli meteorologi dan penulis Amerika Brian Sussman menulis dalam bukunya Eco-Tyranny: How the Left’s Green Agenda Will Dismantle America atau Tirani Lingkungan Hidup: Bagaimana Agenda Hijau Kiri Akan Membongkar Amerika Serikat bahwa gagasan Karl Marx dan Vladimir Lenin adalah sangat konsisten dengan gagasan para pencinta lingkungan hidup saat ini. Dalam pandangan mereka, tidak ada yang berhak mendapatkan keuntungan dari sumber daya alam.

“Apakah itu untuk menyelamatkan hutan, paus, siput, atau iklim, semuanya kembali ke keyakinan yang mengakar bahwa pencarian keuntungan semacam itu tidak bermoral dan pada akhirnya akan menghancurkan planet ini kecuali dihancurkan,” tulis Brian Sussman. [12]

Gerakan lingkungan hidup global ini telah melibatkan sejumlah besar pemikir, politisi, ilmuwan, aktivis sosial, dan tokoh media. Ulasan ini tidak memiliki ruang yang cukup untuk menyebutkan pikiran, pidato, dan tindakan mereka semua secara lengkap, tetapi ada satu tokoh yang tidak dapat diabaikan: Maurice Strong, pendiri Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Maurice Strong, seorang warganegara Kanada, juga menyelenggarakan Konferensi PBB mengenai Gerakan Konferensi Lingkungan Hidup Manusia pada tahun 1972 dan Konferensi Lingkungan Hidup dan Pembangunan pada tahun 1992. Ia adalah keponakan laki-laki dari Anna Louise Strong, seorang jurnalis pro-komunis terkenal yang menetap di Tiongkok. Maurice Strong, yang sangat dipengaruhi oleh bibinya, menggambarkan dirinya sebagai “seorang sosialis dalam ideologi dan kapitalis dalam metodologi.” [13]

Maurice Strong telah menempati posisi penting dalam gerakan lingkungan hidup global.” Maurice Strong berbagi pandangan dari pengunjuk rasa lingkungan hidup yang paling radikal, tetapi bukannya berteriak hingga serak di barikade polisi saat konferensi global, ia adalah Sekretaris Jenderal dalam bidang ini, yang membuat keputusan.” [14]

Pandangan yang dianut oleh badan Amerika Serikat yang dipimpin oleh Maurice Strong tampaknya hampir identik dengan Marxisme, sebagaimana ditulis oleh Brian Sussman: “Kepemilikan tanah pribadi adalah instrumen utama untuk mengumpulkan kekayaan dan oleh karena itu berkontribusi terhadap ketidakadilan sosial. Karena itu, kendali masyarakat atas penggunaan lahan sangatlah diperlukan. ”[15] Maurice Strong memilih untuk menetap di Beijing setelah pensiun dan meninggal pada tahun 2015.

Natalie Grant Wraga, seorang pakar Uni Soviet yang sudah meninggal, melakukan studi mendalam mengenai masalah ini dan menulis: “Perlindungan lingkungan hidup dapat digunakan sebagai dalih untuk mengadopsi serangkaian langkah-langkah yang dirancang untuk merusak basis industri negara-negara maju…Ini juga dapat berfungsi untuk memperkenalkan ketidaknyamanan dengan cara menurunkan standar hidup mereka dan menanamkan nilai-nilai komunis.”[16]

Faktanya, lingkungan hidup tidak hanya berasal dari bekas blok komunis. Lingkungan hidup berjalan lebih jauh dan berhubungan dengan tujuan keseluruhan komunisme untuk melemahkan penyebab kebebasan di seluruh dunia.

c. Marxisme Ekologis

Pada titik di abad kesembilan belas dan kedua puluh, ilmuwan Inggris Ray Lankester dan Arthur Tansley mengembangkan gagasan mengenai ekologi dan ekosistem. Keduanya adalah Sosialis Fabian, sebuah variasi Marxisme. Ray Lankester adalah ahli zoologi dan, pada usia yang relatif muda, menjadi teman Karl Marx yang menua.

Ketika Karl Marx di tahun-tahun usianya yang menua, Ray Lankester sering mengunjungi rumah Karl Marx dan salah satu yang hadir di antara sedikit orang yang menghadiri pemakaman Karl Marx. Ray Lankester pernah sekali menulis kepada Karl Marx mengatakan bahwa ia sedang mempelajari Das Kapital, tulisan Karl Marx pada tahun 1867, “dengan kesenangan dan keuntungan terbesar.”[17]

Arthur Tansley adalah tokoh paling penting dalam ekologi dan botani selama periode itu di Inggris, dan sebagai ketua pertama Masyarkat Ekologis Inggris, ia adalah penemu istilah “ekosistem.” Saat kuliah di Universitas London, Arthur Tansley sangat dipengaruhi oleh Ray Lankester. [18]

Tautan asal antara gagasan ekologis dengan Marxisme tampaknya muncul dalam hubungan antara Ray Lankester, Arthur Tansley, dan Marxisme ini — meskipun, tentu saja, ekologi dan environmentalisme bukanlah hal yang sama. Ekologi adalah mengenai hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungan hidup, sedangkan environmentalisme berkaitan dengan bencana ekologis. Namun, ekologi terkait erat dengan lingkungan hidup karena memberikan dasar teoretis untuk mendefinisikan bencana ekologis. Marxisme ekologis, yang diturunkan dari ekologi, adalah langkah lebih jauh dari gagasan ini.

Marxisme ekologis menambahkan konsep krisis ekologis sebagai tambahan argumen kaum Marxisme mengenai krisis ekonomi kapitalisme. Marxisme ekologis berusaha untuk memperluas dugaan konflik antara borjuasi dengan kelas sosial bawah dengan cara menambahkan konflik yang melekat antara produksi dengan lingkungan hidup. Ini adalah teori krisis ganda atau konflik ganda. Dalam teori Marxis, konflik dasar kapitalisme adalah antara kekuatan produktif dan hubungan produksi, yang disebut konflik primer. Konflik sekunder terjadi antara lingkungan produksi (ekosistem) dan kekuatan produktif serta hubungan produksi bersama. Dalam teori ini, konflik primer mengarah ke krisis ekonomi, sedangkan konflik sekunder mengarah ke krisis ekologis. [19]

Perkembangan kapitalisme selama satu abad membuktikan Marxisme adalah salah setelah prediksi yang gagal bahwa kapitalisme akan runtuh akibat krisis ekonomi. Sebaliknya, kapitalisme malah terus makmur. Sebagai tanggapan, gagasan krisis ekologis menjadi alat komunisme ketika para sarjana Kiri menemukan bahwa Marxisme dapat menjadi dasar teoritis untuk environmentalisme, sehingga meradikalisasi gerakan dan pandangan dunia ahli lingkungan hidup.

d. Sosialisme Ekologis

Seperti namanya, sosialisme ekologis adalah ideologi yang menggabungkan ekologi dan sosialisme. Para kritikus menyebutnya “semangka” — hijau di luar dan merah di dalam — untuk menambahkan tuntutan sosialis yang khas, seperti “keadilan sosial,” untuk keprihatinan ekologis dalam upaya nyata untuk memajukan ideologi sosialis dengan cara baru.

Sebuah ilustrasi yang bagus mengenai sosialisme ekologis adalah Manifesto Ekososialis, yang diterbitkan oleh Joel Kovel dan Michael Lowy pada tahun 2001. Joel Kovel tidak berhasil dalam kampanyenya untuk menjadi calon presiden Amerika Serikat dari Partai Hijau. Michael Lowy adalah anggota Trotskyist Fourth International. Manifesto Ekososialis menyatakan bahwa kapitalisme tidak dapat menyelesaikan krisis ekologis dan akan digantikan oleh sosialisme ekologis. Mereka tidak memandang sosialisme ekologis sebagai cabang sosialisme, tetapi lebih sebagai nama baru sosialisme di era baru. [20]

Pada tahun 2002, Joel Kovel menerbitkan buku berjudul The Enemy of Nature: The End of Capitalism or the End of the World? Atau Musuh Alam: Akhir Kapitalisme atau Akhir Dunia? Buku itu merinci teori sosialisme ekologis, mengkritik kapitalisme dengan keras, dan menyarankan perubahan situasi saat ini dengan arah baru yang radikal.[21]

e. Politik Hijau: Hijau Adalah Merah Baru

Ketika environmentalisme memasuki politik, maka lahirlah politik hijau, atau ekopolitik. Partai Hijau yang didirikan di banyak negara di dunia adalah hasil politik Hijau, yang biasanya melampaui perlindungan lingkungan hidup hingga keadilan sosial, feminisme, aktivisme anti-perang, dan pasifisme (paham suka damai). Global Greens, misalnya, adalah organisasi internasional yang terkait dengan Partai Hijau, dan piagam tahun 2001 sangat dipengaruhi oleh ideologi Marxis, termasuk sangat menekankan kesetaraan antara manusia dengan hewan. [22]

Environmentalisme biasanya didorong oleh sosialisme dan komunisme. Setelah jatuhnya rezim komunis di Rusia dan Eropa Timur, banyak mantan anggota partai komunis dan pasukan komunis yang tersisa bergabung atau mendirikan partai-partai hijau, menghasilkan ideologi Kiri Partai Hijau, yang kemudian dikenal sebagai Green Left.

Setelah jatuhnya Partai Komunis Soviet, mantan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev berusaha kembali ke panggung politik namun gagal. Ia kemudian menjadi pencinta lingkungan hidup dan mendirikan Green Cross International. Jelas, Mikhail Gorbachev cenderung memperkenalkan faktor-faktor komunis dalam pengejaran lingkungan hidupnya, dan ia sering mempromosikan pembentukan pemerintahan dunia untuk menghentikan krisis lingkungan hidup. [23]

Banyak partai komunis di Barat terlibat langsung dalam gerakan perlindungan lingkungan hidup. Jack Mundey, salah satu pendiri gerakan Green Ban Australia, adalah anggota Partai Komunis Australia. Istrinya adalah ketua nasional Partai Komunis Australia.[24]

f. Eko-Terorisme

Karena pengaruhnya yang Kiri, environmentalisme relatif radikal sejak awal. Ada banyak cabang radikal, termasuk Ekologi Dalam, Ekofeminisme, Ekologi Sosial, Bioregionalisme, dan sejenisnya. Beberapa cabang ini adalah sangat radikal. Termasuk kelompok yang paling terkenal seperti Earth First! dan Front Pembebasan Bumi. Earth First! dan Front Pembebasan Bumi memanfaatkan aksi langsung (seperti penggunaan bahan peledak dan pembakaran) — yang dikenal sebagai Eko-Terorisme — untuk menghentikan kegiatan yang mereka anggap merusak lingkungan hidup.

Kelompok Earth First! dimulai pada tahun 1979, dan slogannya adalah “Tanpa Kompromi dalam Pertahanan Ibu Pertiwi!” Kelompok Earth First! menggunakan aksi langsung terhadap sasaran utama seperti pembalakan, konstruksi bendungan, dan proyek lainnya. Salah satu taktik kelompok ini yang terkenal disebut “menduduki pohon,” di mana mereka duduk di bawah pohon atau memanjat pohon untuk mencegah penebangan. Operasi Earth First! telah menarik banyak anggota baru, termasuk kaum Kiri, anarkis, dan lainnya yang berusaha memberontak terhadap masyarakat arus utama.

Pada tahun 1992, beberapa anggota yang lebih radikal memulai cabang yang disebut Front Pembebasan Bumi dan mengadopsi pembakaran sebagai taktiknya. Sekitar akhir tahun 2000, sembilan rumah mewah di Long Island dibakar menjadi abu dalam waktu semalam. Pembenaran utama adalah bahwa rumah-rumah besar ini dibangun di atas hutan alam. Setelah melakukan pembakaran, Front Pembebasan Bumi mengeluarkan slogan “Jika anda membangunnya, kami akan membakarnya!”

Pada tahun 2005, FBI mengumumkan bahwa Earth Liberation Front adalah ancaman teroris terbesar di Amerika Serikat, diduga terlibat dalam lebih dari 1.200 insiden kriminal yang menyebabkan kerusakan harta benda senilai puluhan juta dolar Amerika Serikat. [25] Tindakan mereka telah lama melampaui batas protes politik atau perbedaan pandangan yang normal. Ideologi komunis telah mengeksploitasi kebencian untuk mengubah beberapa aktivis lingkungan menjadi teroris lingkungan, tidak ada bedanya dengan teroris lainnya.

g. Greenpeace: Bukan Kisah Damai

Greenpeace didirikan pada tahun 1971 dan merupakan organisasi lingkungan hidup terbesar di dunia, yang memiliki kantor di empat puluh negara dan pendapatan lebih dari USD 350 juta. Greenpeace juga merupakan salah satu organisasi lingkungan hidup yang paling radikal.

Salah satu pendiri Greenpeace, Paul Watson, yang meninggalkan organisasi tersebut pada tahun 1977, mengatakan: “Rahasia kesuksesan [mantan ketua] David McTaggart adalah rahasia kesuksesan Greenpeace: Tidak masalah apa yang benar, yang jadi masalah adalah orang percaya apa yang dilakukan itu adalah benar…Anda adalah seorang yang dibentuk oleh media. [Greenpeace] menjadi mitos, dan mesin penghasil mitos.”[26]

Patrick Moore, salah satu pendiri Greenpeace, berkomitmen untuk perlindungan lingkungan hidup. Ia kemudian keluar dari posisinya karena ia mendapati bahwa organisasi tersebut “berbelok tajam ke politik Kiri.” [27] Greenpeace berkembang menjadi organisasi ekstremis dengan agenda politik, seperti memasukkan permusuhan terhadap semua produksi industri dan mencerminkan agenda yang lebih berdasarkan mengenai politik daripada sains yang sehat. [28]

Strategi yang digunakan oleh organisasi lingkungan hidup radikal seperti Greenpeace adalah menggunakan segala cara yang diperlukan untuk mencapai tujuannya. Pada titik ini, environmentalisme radikal sangat konsisten dengan komunisme. Pada tahun 2007, enam anggota Greenpeace mendobrak pembangkit listrik tenaga batu bara Inggris untuk menyebabkan gangguan. Mereka digugat karena menyebabkan kerusakan pembangkit listrik tenaga batu bara tersebut sekitar 30.000 poundsterling Inggris. Mereka mengakui upayanya untuk mematikan pembangkit listrik, tetapi mengklaim bahwa mereka melakukan ini untuk mencegah kerusakan yang lebih besar (krisis lingkungan akibat gas rumah kaca). Pengadilan akhirnya setuju bahwa tindakan mereka adalah tidak bersalah.

Sebelum ini, Greenpeace telah memiliki banyak catatan kemenangan di pengadilan, termasuk merusak pembangkit listrik tenaga nuklir, perusahaan otomotif, dan fasilitas manufaktur jet tempur. [29] Batas antara taktik yang sah dengan yang tidak sah hanya dihapus dengan logika semacam itu.

Marxisme-Leninisme tradisional menggunakan janji utopia akhirnya untuk melegitimasi pembunuhan, pembakaran, dan perampokan. Demikian pula, di bawah panji lingkungan hidup, komunis memperingatkan krisis lingkungan hidup supaya taktik kekerasan dan ilegal tersebut menjadi masuk akal.

Dalam contoh di atas, anggota Greenpeace berhasil membujuk juri pengadilan untuk menerima motif kriminal mereka sebagai hal yang sah, menunjukkan bahwa sekelompok besar orang di masyarakat dapat disesatkan untuk menerima argumen yang masuk akal dan tidak berdasar. Semua ini adalah bagian dari ditinggalkannya nilai-nilai universal, dan merupakan tanda kemerosotan moral masyarakat.

2. Mitos Konsensus mengenai Perubahan Iklim

Perubahan iklim adalah topik hangat di masyarakat saat ini. Debat masyarakat mengenai masalah ini adalah luar biasa aktif, dengan pendapat berbeda dari media, di antara masyarakat umum, dan dalam politik. Argumen yang paling sering terdengar adalah bahwa emisi gas rumah kaca oleh manusia telah menyebabkan pemanasan global yang akan menyebabkan bencana iklim yang berbahaya. Para pengacara mengklaim bahwa kesimpulan ini dicapai melalui konsensus ilmiah atau sains yang sudah ada. Bagi sebagian ahli lingkungan hidup, yang menolak kesimpulan ini tidak hanya dianggap anti-sains, tetapi juga anti-kemanusiaan.

Anggota Greenpeace tersebut yang merusak pembangkit listrik dibebaskan dari kejahatannya karena seorang ahli terkenal yang merupakan pendukung “konsensus” ini memberikan kesaksian untuk mereka, mengklaim bahwa jumlah gas rumah kaca yang dipancarkan oleh pembangkit listrik setiap hari akan menyebabkan kepunahan hingga empat ratus spesies, dan sebagainya.

Apakah komunitas ilmiah benar-benar mencapai konsensus? Pensiunan profesor meteorologi Institut Teknologi Massachusetts, Richard Lindzen, menulis sebuah artikel pada tahun 2007 yang mengungkapkan pandangannya bahwa sains iklim benar-benar belum rampung. [30] Steven Koonin, mantan Sekretaris Departemen Energi Amerika Serikat untuk Sains dan profesor di Universitas New York, menulis dalam sebuah artikel pada tahun 2014 “Ilmu Iklim Belum Rampung,” “Kami masih sangat jauh dari pengetahuan yang diperlukan untuk membuat kebijakan iklim yang baik.”[31]

Dalam artikel lain, Steven Koonin mengingatkan para pembaca:” Masyarakat sebagian besar tidak menyadari perdebatan sengit dalam ilmu iklim. Pada pertemuan laboratorium nasional baru-baru ini, saya mengamati lebih dari 100 peneliti aktif dari pemerintah dan universitas saling menantang ketika mereka berusaha untuk memisahkan dampak manusia dari variabilitas alami iklim. Yang dipermasalahkan bukanlah nuansa tapi aspek mendasar dari pemahaman kita, seperti pelambatan kenaikan permukaan laut global yang tampak — dan tak terduga — selama dua dekade terakhir.”[32]

Suhu permukaan bumi telah meningkat secara keseluruhan sejak tahun 1880, serta karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya yang dipancarkan ke atmosfer oleh manusia memiliki efek pemanasan pada dunia. Mengenai pertanyaan dasar ini, para ilmuwan tidak berbeda dalam pendapatnya. Namun, pertanyaan yang lebih penting, yang merupakan pertanyaan yang hangat diperdebatkan oleh para ilmuwan, adalah: Apakah pemanasan terutama disebabkan oleh aktivitas manusia atau oleh faktor alam? Seberapa hangat dunia pada akhir abad kedua puluh satu?
Namun, dari sudut pandang lain, komunitas ilmiah tampaknya telah mencapai semacam konsensus atau telah menetapkan sains perubahan iklim sampai batas tertentu, karena suara mereka yang menentang apa yang disebut konsensus jarang muncul di media atau jurnal akademik.

Fisikawan Michael Griffin, mantan administrator NASA, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan National Public Radio pada tahun 2007:

Saya tidak ragu bahwa global — bahwa ada kecenderungan pemanasan global. Saya tidak yakin apakah adil untuk mengatakan bahwa pemanasan global adalah masalah yang harus kita hadapi. Menganggap masalah pemanasan global dengan menganggap bahwa keadaan iklim bumi saat ini adalah iklim optimal, iklim terbaik yang dapat kita miliki atau pernah kita miliki dan bahwa kita perlu mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa iklim tersebut tidak berubah.

Pertama-tama, saya tidak berpikir itu dalam kekuatan manusia untuk memastikan bahwa iklim tidak berubah, seperti jutaan tahun sejarah telah menunjukkan, dan kedua, saya kira saya akan bertanya pada manusia — di mana dan kapan — harus diberi hak istimewa untuk memutuskan bahwa iklim khusus yang kita miliki di sini hari ini, saat ini adalah iklim terbaik untuk semua umat manusia lainnya. Saya pikir itu posisi yang agak sombong untuk diambil orang. [33]

Meskipun Michael Griffin berusaha untuk mengungkapkan kerendahan hati yang seharusnya dimiliki orang mengenai ilmu pengetahuan, ia segera menghadapi kritik keras dari media dan beberapa ilmuwan iklim, yang bahkan menyebut pernyataannya adalah bodoh. Keesokan harinya, di bawah tekanan besar, ia terpaksa meminta maaf.[34]

Beberapa bulan kemudian, dalam wawancara lain, Michael Griffin berkomentar: “Saya pribadi berpikir orang sudah berlebihan dalam diskusi mengenai perubahan iklim, ke titik di mana hampir menjadi tidak sah untuk melihatnya sebagai subjek teknis. Ini hampir memperoleh status agama, yang menurut saya adalah menyedihkan.” Dari pandangan Michael Griffin mengenai “konsensus ilmiah,” kita melihat bahwa apa yang disebut konsensus mengenai perubahan iklim sebenarnya bukanlah bagian proses ilmiah. Ia merasakan kemajuan ilmiah adalah hasil debat: “Anda mengembangkan teori anda, menerbitkan data anda, memajukan konsep anda, dan orang lain menembaknya, atau mencoba melakukannya. Konsensus ilmiah berkembang dengan cara itu.”[35] Penggunaan segala cara dan sarana untuk meredam debat ilmiah itu sendiri melanggar semangat sains.

Karena reputasinya yang luar biasa dan kedudukannya di bidangnya, profesor Lennart Bengtsson, seorang anggota Masyarakat Meteorologi Kerajaan Inggris dan mantan Direktur European Centre for Medium-Range Weather Forecasts, bergabung dengan the Global Warming Policy Foundation (GWPF), sebuah lembaga pemikir yang menantang teori pemanasan global. Akibatnya, ia menghadapi pengawasan ketat dan tekanan dari rekan-rekannya di seluruh dunia. Dua minggu kemudian, ia terpaksa mengundurkan diri.

Dalam surat pengunduran dirinya, Lennart Bengtsson menulis: “Saya telah berada di bawah tekanan kelompok yang sedemikian besar dalam beberapa hari terakhir dari seluruh dunia yang telah menjadi sangat tak tertahankan bagi saya. Jika ini akan terus berlanjut saya tidak akan dapat melakukan pekerjaan normal saya dan bahkan akan mulai khawatir mengenai kesehatan dan keselamatan saya…Para kolega menarik dukungannya, kolega lain menarik diri dari kepenulisan bersama, dan lain-lain…Saya tidak akan pernah mengharapkan sesuatu yang serupa [pada zaman Senator McCarthy] dalam komunitas damai asli seperti meteorologi. Tampaknya hal tersebut telah berubah dalam beberapa tahun terakhir.”[36]

Pengamatan Lennart Bengtsson adalah benar: “Transformasi dalam beberapa tahun terakhir” ini adalah hasil ideologi komunis dan taktik perjuangan yang membajak bidang meteorologi.

Pada kenyataannya, dugaan konsensus ilmiah mengenai perubahan iklim telah mengubah teori perubahan iklim menjadi dogma. Perubahan iklim juga merupakan prinsip penting dari paham lingkungan hidup hari ini – sakral dan tidak dapat diganggu gugat. Para ilmuwan, media, dan aktivis lingkungan hidup yang menerima prinsip ini bekerja sama dalam menyebarkan ketakutan akan bencana yang akan terjadi. Doktrin ini adalah alat penting yang digunakan oleh gerakan lingkungan hidup untuk menakuti masyarakat agar mematuhi agenda politik. Melalui proses membangun dan memperkuat dogma ini, teknik perjuangan politik bergaya komunis, termasuk penipuan, gerombolan, mempermalukan publik, seruan, dan konflik terbuka, semuanya tampak jelas.

a. Sejarah Singkat ‘Konsensus’ dalam Ilmu Iklim

Pada tahun 1988, the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atau Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim didirikan. Salah satu misinya yang penting adalah untuk mengevaluasi penelitian ilmiah yang ada setiap lima tahun dan mengeluarkan pernyataan otoritatif mengenai perubahan iklim. Hal tersebut seharusnya membangun konsensus ilmiah mengenai isu-isu iklim dan memberikan dasar ilmiah untuk pembuatan kebijakan.[37]

Laporan IPCC mengenai Perubahan Iklim sering mencakup daftar ribuan penulis pertama, penulis bersama, dan pengulas. Oleh karena itu kesimpulan dalam laporan IPCC sering digambarkan sebagai konsensus dari ribuan ilmuwan top dunia.

Pada tahun 1992, the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) atau Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk mencapai stabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer pada tingkat yang akan mencegah interferensi antropogenik yang bahaya pada sistem iklim. Orang harus mencatat bahwa sudah diasumsikan bahwa perubahan iklim disebabkan oleh manusia dan berbahaya.

Kemudian, IPCC ditugaskan mengidentifikasi “pengaruh manusia terhadap iklim” dan “dampak lingkungan dan sosial-ekonomi yang berbahaya dari perubahan iklim.” [38] Asumsi UNFCC bahwa manusia adalah penyebab perubahan iklim berbahaya telah membatasi ruang lingkup apa yang harus diidentifikasi oleh Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim. Juga, jika perubahan iklim tidak berbahaya atau tidak disebabkan semata-mata oleh industri, maka pembuatan kebijakan tidak akan diperlukan, dan tidak akan ada alasan untuk keberadaan IPCC. Konflik kepentingan semacam itu juga telah membatasi fokus penyelidikan Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim. [39]

Laporan IPCC  Menghapus Pernyataan yang Tidak Pasti

Tepat sebelum Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim merilis Laporan Penilaian Kedua pada tahun 1995, Frederick Seitz, seorang ahli fisika terkenal di dunia, mantan presiden Akademi Sains Nasional, dan presiden Universitas Rockefeller di New York, memperoleh salinan laporan tersebut. Frederick Seitz kemudian menemukan bahwa sebagian besar isi laporan tersebut diubah setelah lulus tinjauan ilmiah dan sebelum dikirim untuk dicetak. Semua ketidakpastian mengenai aktivitas manusia yang mempengaruhi perubahan iklim telah dihapus.

Artikel Frederick Seitz di The Wall Street Journal menyatakan: “Selama lebih dari 60 tahun saya sebagai anggota komunitas ilmiah Amerika Serikat, …Saya tidak pernah menyaksikan korupsi proses tinjauan para rekan yang lebih mengganggu daripada peristiwa yang mengarah pada laporan Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim ini.”[40]

Pernyataan yang dihapus mencakup sebagai berikut: [41]

“Tidak ada penelitian yang dikutip di atas yang menunjukkan bukti jelas bahwa kita dapat menghubungkan perubahan iklim yang diamati dengan penyebab spesifik peningkatan gas rumah kaca.”

“Tidak ada penelitian sampai saat ini yang secara positif menghubungkan semua atau sebagian [dari perubahan iklim yang diamati sampai saat ini] dengan penyebab [buatan manusia] antropogenik.”

“Setiap klaim deteksi positif perubahan iklim yang bermakna cenderung tetap kontroversial sampai ketidakpastian dalam total variabilitas alami dari sistem iklim berkurang.”

Meskipun kemudian IPCC mengklaim bahwa semua modifikasi disetujui oleh penulis, perubahan tersebut mengungkapkan bagaimana pelaporan Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim dipengaruhi oleh politik. Laporan evaluasi tidak mengandung penelitian asli, tetapi sebagian besar merangkum penelitian yang ada. Karena penelitian yang ada mengandung begitu banyak pandangan yang berbeda, untuk “mencapai konsensus,” sebagaimana ditetapkan untuk dilakukan, Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim menyingkirkan pandangan yang berlawanan.

Pada bulan April 2000, Laporan Penilaian Ketiga IPCC menyatakan dalam drafnya, “Ada pengaruh manusia yang nyata terhadap iklim global.” Versi yang diterbitkan pada bulan Oktober tahun yang sama mengatakan: “Kemungkinan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca antropogenik telah berkontribusi secara bermakna terhadap pemanasan yang diamati selama 50 tahun terakhir.” Dalam kesimpulan resmi akhir, pernyataan itu bahkan lebih kuat: “Sebagian besar pemanasan yang diamati selama 50 tahun terakhir kemungkinan disebabkan oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca.”

Ketika juru bicara Program Lingkungan PBB, Tim Higham, ditanya mengenai dasar ilmiah dari perubahan retorika tersebut, jawabannya adalah jujur: “Tidak ada sains baru, tetapi para ilmuwan ingin menyampaikan pesan yang jelas dan kuat kepada pembuat kebijakan.” [42 ]

Dengan kata lain, Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim memberikan tugas pekerjaan rumah untuk Panel IPCC, membuat jawaban yang mereka inginkan adalah jelas. Panel IPCC kemudian mengirimkan apa yang diperlukan.

Laporan IPCC Terlalu Menekankan ‘Konsensus Bencana’

Paul Reiter, seorang profesor di Institut Pasteur di Perancis, adalah seorang ahli terkemuka mengenai malaria dan penyakit yang ditularkan serangga lainnya. Ia tidak setuju dengan laporan IPCC, dan harus mengancam untuk memulai gugatan terhadap Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim untuk menghapus namanya dari daftar dua ribu ilmuwan teratas yang dikatakan telah mendukung laporan tersebut. Ia mengatakan bahwa IPCC “membuat seolah-olah semua ilmuwan top setuju, tetapi itu adalah tidak benar.” [43]

Dalam kesaksiannya kepada Senat Amerika Serikat pada tanggal 25 April 2006, Paul Reiter mengatakan: “Aspek yang menyakitkan dari debat ini adalah bahwa ‘sains’ palsu ini disahkan di forum masyarakat oleh panel-panel berpengaruh dari ‘para ahli.’ Saya merujuk terutama pada IPCC. Setiap lima tahun, organisasi yang berbasis di Amerika Serikat ini menerbitkan ‘konsensus para ilmuwan top dunia’ pada semua aspek perubahan iklim. Terlepas dari proses yang meragukan di mana para ilmuwan ini dipilih, konsensus semacam itu adalah masalah politik, bukan masalah sains. ”[44] Para pencinta lingkungan hidup telah mempromosikan gagasan bahwa penyakit yang ditularkan serangga seperti malaria akan mendatangkan malapetaka saat pemanasan iklim berlanjut, yang juga merupakan argumen utama IPCC. Seperti yang dinyatakan Bloomberg pada tanggal 27 November 2007, “Pemanasan global akan membuat jutaan orang lebih berisiko terkena malaria dan demam berdarah, menurut sebuah laporan PBB yang menyerukan peninjauan mendesak terhadap bahaya kesehatan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.” [45] Tetapi Paul Reiter tidak mengakui korelasi sederhana ini antara pemanasan iklim dengan penyebaran penyakit menular.

Paul Reiter menunjukkan bahwa malaria tidak terbatas pada daerah tropis. Wabah besar malaria terjadi di bekas Uni Soviet pada tahun 1920-an, dan satu lagi di kota Archangel (Arkhangelsk) dekat Lingkaran Arktik, di mana ada tiga puluh ribu kasus malaria yang menyebabkan sepuluh ribu kematian.[46] Menurut laporan tahun 2011 di Nature, para ilmuwan menemukan bahwa, berlawanan dengan asumsi sebelumnya, penularan malaria dari nyamuk melambat seiring meningkatnya suhu. [47] Laporan ini menegaskan pendapat Paul Reiter.

Pengunduran diri ilmuwan lain dari IPCC juga menunjukkan IPCC telah menggunakan dugaan “konsensus bencana” sebagai bagian dari kebudayaan operasionalnya.
Christopher Landsea, seorang peneliti badai di Administrasi Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat dan salah satu penulis utama laporan penilaian keempat IPCC, mengundurkan diri dari IPCC pada bulan Januari 2005. Dalam sebuah surat terbuka, ia menyatakan, “Saya secara pribadi tidak dapat dengan itikad baik melanjutkan untuk berkontribusi pada proses yang saya anggap termotivasi oleh agenda yang sudah terbentuk sebelumnya dan tidak ilmiah secara ilmiah.” Ia mendesak IPCC untuk memastikan bahwa laporan tersebut akan menganut ilmu pengetahuan daripada sensasionalisme.[48]

Christopher Landsea tidak setuju dengan penulis utama laporan IPCC mengenai hubungan antara badai dengan perubahan iklim. Penulis utama IPCC (yang bukan ahli dalam penelitian badai) menekankan bahwa pemanasan iklim akan menyebabkan badai yang lebih hebat, tanpa data faktual yang kuat untuk mendukung klaimnya. Christopher Landsea menunjukkan bahwa penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa catatan sejarah tidak dapat membuktikan korelasi semacam itu; secara teoritis, bahkan jika ada korelasi, maka korelasi tersebut adalah tidak bermakna dan dapat diabaikan.

David Deming, seorang ahli geologi dan geofisika di Universitas Oklahoma, memperoleh data suhu 150 tahun silam untuk Amerika Utara dengan mempelajari inti es, dan menerbitkan artikel penelitiannya di Science. Pendukung konsensus kemudian menganggap David Deming sebagai orang yang menerangkan konsensus. Dalam sidang Senat Amerika Serikat, David Deming mengatakan bahwa penulis utama IPCC mengiriminya email yang mengatakan, “Kita harus menyingkirkan periode hangat abad pertengahan.” [49] Periode hangat abad pertengahan mengacu pada pemanasan iklim di wilayah Atlantik Utara antara sekitar tahun 950 hingga 1150 Masehi. Menghapus periode ini dalam kurva historis perubahan iklim akan memperkuat klaim bahwa pemanasan hari ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Ada banyak insiden seperti itu. Dalam bukunya Red Hot Lies, How Global Warming Alarmists Use Threats, Fraud, and Deception to Keep You Misinformed atau Kebohongan Komunis, Bagaimana Pemanasan Global Memperingati Para Pemerhati dengan Menggunakan Ancaman, Kecurangan, dan Penipuan untuk Membuat Anda Misinformasi, Christopher C. Horner, seorang peneliti senior Amerika Serikat di Competitive Enterprise Institute, mendaftarkan banyak penulis IPCC asli yang menentang kesimpulan dan operasinya yang dipolitisasi oleh Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim. [50] Mereka telah mengajukan pertanyaan yang wajar dengan data pendukung dan telah menantang apa yang disebut konsensus IPCC. Namun, dalam lingkungan akademik dan media saat ini, suara mereka telah diabaikan.

b. Membangun Dogma di Komunitas Ilmiah

Pembentukan dan penggabungan dugaan konsensus mengenai perubahan iklim adalah langkah utama dalam penggunaan lingkungan hidup untuk memanipulasi masyarakat, memperkuat rasa bencana, dan mengubah nilai-nilai kemanusiaan. Jika sampai pada kesimpulannya, lintasan alam adalah pembentukan pemerintahan super global – yaitu, komunisme. Meskipun hal ini terutama dimainkan dalam komunitas ilmiah, hal ini telah dibantu bersama dengan kekuatan bersama dari media, pemerintah, dan institusi akademik.

Tidak peduli reputasi akademis seorang ilmuwan, begitu ia secara terbuka mengungkapkan keraguan mengenai dogma konsensus, maka ia segera menghadapi tekanan luar biasa dari rekan-rekan dan lembaga akademisnya, memaksanya untuk tunduk. Orang-orang yang telah hidup dalam masyarakat totaliter komunis memiliki pengalaman serupa, satu-satunya perbedaan adalah bahwa mereka telah mempertanyakan dogma partai komunis.

David Bellamy adalah aktivis lingkungan Inggris yang terkenal dan ketua Royal Society of Wildlife Trusts. Tetapi ketika ia secara terbuka menyatakan bahwa ia tidak percaya pada dogma konsensus teori pemanasan global, agensi tersebut mengeluarkan pernyataan yang menyatakan ketidakpuasan. [51] Ia kemudian berhenti menjabat sebagai ketua Royal Society of Wildlife Trusts, dan pencinta lingkungan yang sebelumnya menghormatinya mulai curiga bahwa ia kehilangan akal sehatnya atau sedang mengambil uang dari Big Oil. [52] Henk Tennekes, mantan direktur Royal Dutch Meteorological Society, diberhentikan karena tidak mendukung dogma konsensus mengenai perubahan iklim. Demikian pula, pejabat Organisasi Meteorologi Dunia Aksel Winn-Nielsen difitnah oleh pejabat IPCC sebagai “alat industri.” Setelah peneliti Italia Alfonso Sutera dan Antonios mempertanyakan teori pemanasan iklim antropogenik, mereka tidak lagi dapat memperoleh dana penelitian. [53]

Dalam bukunya, Climate of Extremes: Global Warming Science They Don’t Want You to Know, Patrick J. Michaels atau Iklim yang Ekstrem: Mereka Tidak Ingin Anda Ketahui mengenai Sains Pemanasan Global, Patrick J. Michaels, mantan presiden American Association of State Climatologist dan seorang ahli klimatologi di Universitas Virginia, mendaftar sejumlah contoh aktivis lingkungan yang menekan para pembangkang ilmiah untuk mencapai dugaan konsensus mereka. Karena Patrick J. Michaels bersikeras bahwa perubahan iklim tidak akan mengarah pada bencana — dan sikap optimis ini tidak konsisten dengan dogma konsensus — suatu hari ia diberitahu oleh gubernur Virginia bahwa ia tidak dapat berbicara sebagai ahli iklim negara mengenai pemanasan global. Ia akhirnya memilih untuk mengundurkan diri.

George Taylor dari Oregon State University, ahli iklim lainnya, menghadapi masalah yang sama dan akhirnya terpaksa mengundurkan diri. David Legates, mantan direktur Pusat Studi Iklim di Universitas Delaware dan seorang klimatologis negara bagian di Delaware, diberitahu oleh gubernur bahwa ia tidak dapat berbicara sebagai ahli iklim negara mengenai masalah pemanasan global. Asisten klimatologi negara bagian Washington, Mark Albright dipecat karena ia mengirim email kepada seorang jurnalis dan warganegara yang bertanya mengenai seluruh catatan salju yang turun di Pegunungan Cascade, daripada memberikan sebagian catatan (yang tampaknya menunjukkan pemanasan), meskipun telah diperingatkan oleh atasannya.[54]

Fokus debat di sini adalah pada bidang keahlian klimatologis – masalah ilmu iklim, bukannya masalah kebijakan negara. Di negara-negara komunis, campur tangan politik kasar dalam sains adalah hal biasa. Di negara-negara Barat, politik lingkungan hidup digunakan untuk mengganggu kebebasan akademik.

Penelitian akademis yang meragukan dogma konsensus jarang terlihat dalam jurnal akademik, sebuah fenomena yang dimulai pada tahun 1990-an. Michaels mengatakan dalam film dokumenter Inggris Channel 4 The Greenhouse Conspiracy tahun 1990 bahwa jika sudut pandang seseorang secara politis tidak dapat diterima, maka akan ada masalah. Makalahnya ditolak oleh lebih dari satu jurnal akademik. Ketika ia bertanya kepada editor jurnal mengapa demikian, jawabannya adalah bahwa makalahnya harus melewati standar evaluasi yang lebih tinggi daripada yang lain.

Menurut laporan IPCC 1990, pemahaman pada saat itu adalah bahwa tingkat pemanasan global setara dengan perubahan iklim yang alami. Oleh karena itu, meskipun sudut pandang Patrick Michaels berbeda dari banyak sudut pandang yang lain, hal tersebut tidak dapat dianggap sebagai sesat. Namun, tujuan membangun konsensus palsu telah ditetapkan, dan semua orang harus bergabung.

Dana pemerintah telah banyak dikucurkan untuk pembentukan dan konsolidasi dugaan konsensus. Hipotesis bahwa manusia menyebabkan pemanasan global dan membawa bencana alam telah menyebabkan penelitian perubahan iklim mendapatkan pengaruh atas pembuatan kebijakan. Oleh karena itu, penelitian yang mendukung hipotesis ini secara alami akan menerima sejumlah besar dana penelitian, dan sejumlah besar artikel akademik akan diterbitkan. Sebaliknya, konsensus yang dipaksakan menghalangi para ilmuwan untuk mengeksplorasi dan meneliti arah lain yang memungkinkan.

William Gray, seorang profesor terkenal, adalah pelopor penelitian badai Amerika. Karena ia mengkritik dogma konsensus dalam teori iklim, ia tiba-tiba menemukan bahwa permohonannya untuk pendanaan penelitian berulang kali ditolak. [55]

Pada bulan Maret 2008, banyak ilmuwan yang meragukan dogma konsensus mengenai isu-isu iklim mengadakan acara akademik swasta di New York. Para ilmuwan ini mengatakan bahwa mereka menghadapi berbagai kendala ketika mencoba mempublikasikan hasil penelitian mereka di jurnal akademik. Ahli meteorologi Joseph D’Aleo, mantan chairman of the American Meteorological Society’s Committee on Weather Analysis and Forecasting atau ketua Komite Meteorologi Masyarakat Amerika mengenai Analisis dan Prakiraan Cuaca, mengatakan bahwa beberapa rekannya tidak berani menghadiri pertemuan itu karena takut dipecat. Ia percaya bahwa ada “kemungkinan besar mayoritas yang diam” dari para ilmuwan di klimatologi, meteorologi, dan ilmu-ilmu terkait adalah yang tidak mendukung posisi “konsensus.” [56]

Profesor Judith Curry, mantan dekan School of Earth and Atmospheric Sciences at the Georgia Institute of Technology atau Sekolah Ilmu Bumi dan Atmosfer di Institut Teknologi Georgia, menyatakan dalam kesaksian Senat pada tahun 2015 bahwa seorang ilmuwan yang dipekerjakan oleh NASA mengatakan kepadanya, “Saya berada di sebuah pertemuan kecil ilmuwan yang berafiliasi dengan NASA dan diberitahu oleh manajer puncak kami bahwa ia diberitahu oleh atasannya di NASA bahwa kami tidak boleh mencoba mempublikasikan makalah yang bertentangan dengan klaim pemanasan global saat ini, karena ia (atasan NASA) akan sakit kepala melawan publikasi yang ‘tidak diinginkan’. ”[57]

Judith Curry lebih lanjut mengatakan dalam kesaksiannya: “Seorang ilmuwan iklim membuat pernyataan mengenai ketidakpastian atau tingkat keraguan dalam perdebatan iklim dikategorikan sebagai penyangkal atau ‘pedagang keraguan,’ yang motifnya dianggap sebagai ideologi atau termotivasi oleh pendanaan dari industri bahan bakar fosil. Pengalaman saya sendiri dalam membahas keprihatinan mengenai bagaimana ketidakpastian ditandai oleh IPCC telah mengakibatkan saya dilabeli sebagai ‘penyesat iklim’ yang telah berbalik melawan rekan-rekan saya…Ada tekanan besar bagi para ilmuwan iklim untuk menyesuaikan diri dengan apa yang disebut konsensus. Tekanan ini datang tidak hanya dari para politisi, tetapi juga dari agen-agen pendanaan federal, universitas dan masyarakat profesional, dan para ilmuwan itu sendiri yang merupakan aktivis dan pendukung Hijau. Memperkuat konsensus ini adalah memperkuat kepentingan moneter, reputasi, dan otoritas.”[58]

Judith Curry adalah anggota Masyarakat Meteorologis Amerika Serikat dan anggota Komite Penelitian Iklim Dewan Riset Nasional. Terlepas dari keberhasilan akademisnya, ia memilih untuk pensiun dini karena ia tidak mau terus hidup di bawah tekanan seperti itu. Karena ia telah menantang “konsensus” IPCC dalam beberapa tahun terakhir, ia telah dicap sebagai “anti-sains,” seorang “penentang,” dan seterusnya, baik oleh media, ilmuwan lain, dan senator. Seorang anggota Kongres bahkan mengirim surat kepada Dekan Institut Teknologi Georgia untuk mempertanyakan motif Judith Curry. [59] Ia mengatakan bahwa alasan lain untuk pensiun dini adalah karena ia merasa tidak dapat memberitahu mahasiswa dan peneliti pasca-sarjana bagaimana cara “menavigasi KEGILAAN dalam bidang ilmu iklim.” [60]

Roger Pielke Jr., seorang profesor di Universitas Colorado, telah bekerja sama dengan Judith Curry dalam isu-isu perubahan iklim. Awalnya ia bekerja di Institut Koperasi untuk Penelitian Ilmu Lingkungan di universitas tersebut. Meskipun ia setuju dengan sebagian besar kesimpulan “konsensus” IPCC, ia mengalami tekanan serupa karena ia menunjukkan data tidak yang mendukung gagasan bahwa peristiwa cuaca ekstrem seperti angin topan, tornado, dan kekeringan dipengaruhi oleh perubahan iklim. Ia akhirnya pindah ke Pusat Tata Kelola Olahraga Universitas Colorado. [61]

Roger Pielke menunjukkan bahwa pengalaman Judith Curry memperlihatkan bahwa “memiliki jabatan tetap bukanlah jaminan kebebasan akademik.” [62] Tidak heran jika Joanne Simpson, seorang akademisi dari Akademi Insinyur Amerika Serikat dan mantan ilmuwan atmosfer NASA yang luar biasa, menyatakan keraguannya terhadap “konsensus” setelah pensiun: “Karena saya tidak lagi berafiliasi dengan organisasi mana pun atau menerima dana apa pun, saya dapat berbicara dengan terus terang.” Ia berkata, “Sebagai seorang ilmuwan, saya tetap ragu.” [63]

Referensi:

[1] Dong Zhongshu, Luxuriant Dew of the Spring and Autumn Annals, Images for the regulation of dress, 14.董仲舒:《春秋繁露·服制象》,第十四,https://ctext.org/chun-qiu-fan-lu/fu-zhi-xiang/zh [1]. The line in question appears both as “天之生物也,以养人” and “天地之生萬物也以養人.” [In Chinese] [2] Confucius, The Universal Order or Conduct of Life, a Confucian Catechism, “Being a Translation of One of the Four Confucian Books, Hitherto Known as the Doctrine of the Mean” (The Shanghai Mercury, Limited, 1906), 68. https://bit.ly/2T74Dsb [2]

[3] Lost Book of Zhou. Da Jujie.《逸周書·大聚解》, https://ctext.org/lost-book-of-zhou/da-ju/zh [3]. [In Chinese] [4] The Classic of Rights. Zhai Yi.《禮記·祭儀》,https://ctext.org/text.pl?node=61379&if=gb&show=parallel [4]. [In Chinese]

[5] Rupert Darwall, The Age of Global Warming: A History (London: Quartet Books Limited, 2013), Chapter 1.

[6] Wes Vernon, “The Marxist Roots of the Global Warming Scare,” Renew America, June 16, 2008, https://web.archive.org/web/20100724052619/http://www.renewamerica.com:80/columns/vernon/080616 [5].

[7] Frederick Engels, “Notes and Fragments,” Dialectics of Nature, 1883, accessed December 28, 2018, https://www.marxists.org/archive/marx/works/1883/don/ch07g.htm [6].

[8] Brian Sussman, Eco-Tyranny: How the Left’s Green Agenda Will Dismantle America (Washington, D.C.: WND Books, 2012), 8–9.

[9] Ibid., 10.

[10] Ibid., 11.

[11] Ibid., 14–15.

[12] Ibid., 11.

[13] Grace Baumgarten, Cannot Be Silenced (WestBow Press, 2016), Available: http://j.mp/2HgHJ0q [7]

[14] Wes Vernon, “The Marxist Roots of the Global Warming Scare,” Renew America, June 16, 2008, https://web.archive.org/web/20100724052619/http://www.renewamerica.com:80/columns/vernon/080616 [5].

[15] Sussman, Eco-Tyranny, 35.

[16] Vernon, “The Marxist Roots.”

[17] Lewis S. Feuer, “The Friendship of Edwin Ray Lankester and Karl Marx: The Last Episode in Marx’s Intellectual Evolution,” Journal of the History of Ideas 40 (4): 633–648.

[18] John Bellamy Foster, “Marx’s Ecology in Historical Perspective,” International Socialism Journal 96, Winter 2002, http://pubs.socialistreviewindex.org.uk/isj96/foster.htm [8].

[19] James O’Connor, “Capitalism, Nature, Socialism: A Theoretical Introduction,” Capitalism, Nature, Socialism 1, no. 1 (1988): 11–38,  http://www.vedegylet.hu/okopolitika/O%27Connor%20-%20Capitalism,%20Nature,%20Socialim.pdf [9].

[20] Joel Kovel and Michael Löwy, “The First Ecosocialist Manifesto,” September 2001,http://green.left.sweb.cz/frame/Manifesto.html [10].

[21] Joel Kovel, The Enemy of Nature: The End of Capitalism or the End of the World? (London: Zed Books, 2002).

[22] Kevin Andrews, “The Ideological Drive Behind the Greens,” ABC News, November 11, 2010,  http://www.abc.net.au/news/2010-11-12/the_ideological_drive_behind_the_greens/41010 [11].

[23] Mikhail Gorbachev, “We Have a Real Emergency,” The New York Times, December 9, 2009, http://www.nytimes.com/2009/12/10/opinion/10iht-edgorbachev.html [12], and “What Role for the G-20?” The New York Times, April 27, 2009, http://www.nytimes.com/2009/04/28/opinion/28iht-edgorbachev.html [13].

[24] “Jack Mundey,” Sydney’s Aldermen, http://www.sydneyaldermen.com.au/alderman/jack-mundey/ [14].

[25] Noel Moand, “A Spark That Ignited a Flame: The Evolution of the Earth Liberation Front,” in Igniting a Revolution: Voices in Defense of the Earth, eds. Steven Best and Anthony J. Nocella, II  (Oakland, Calif.: AK Press, 2006), 47.

[26] Leslie Spencer, Jan Bollwerk, and Richard C. Morais, “The Not So Peaceful World of Greenpeace,” Forbes, November 1991,  https://www.heartland.org/_template-assets/documents/publications/the_not_so_peaceful_world_of_greenpeace.pdf [15].

[27] Ted Thornhill, “Humans Are NOT to Blame for Global Warming, Says Greenpeace Co-founder, as He Insists There Is ‘No Scientific Proof’ Climate Change Is Manmade,” Daily Mail, February 27, 2014, http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-2569215/Humans-not-blame-global-warming-says-Greenpeace-founder-Patrick-Moore.html#ixzz2vgo2btWJ [16].

[28] Patrick Moore, “Why I Left Greenpeace,” The Wall Street Journal, April 22, 2008, https://www.wsj.com/articles/SB120882720657033391 [17].

[29] John Vidal, “Not Guilty: The Greenpeace Activists Who Used Climate Change as a Legal Defence,” The Guardian, Sept 10, 2008, https://www.theguardian.com/environment/2008/sep/11/activists.kingsnorthclimatecamp [18].

[30] Richard Lindzen, “The Climate Science Isn’t Settled,” The Wall Street Journal, November 30, 2009, https://www.wsj.com/articles/SB10001424052748703939404574567423917025400 [19].

[31] Steven E. Koonin, “Climate Science Is Not Settled,” The Wall Street Journal, September 19, 2014, https://www.wsj.com/articles/climate-science-is-not-settled-1411143565 [20].

[32] Steven Koonin, “A ‘Red Team’ Exercise Would Strengthen Climate Science,” The Wall Street Journal, April 20, 2017, https://www.wsj.com/articles/a-red-team-exercise-would-strengthen-climate-science-1492728579 [21].

[33] “NASA Administrator Not Sure Global Warming a Problem,” Space Daily, May 30, 2007, http://www.spacedaily.com/reports/NASA_Administrator_Michael_Griffin_Not_Sure_Global_Warming_A_Problem_999.html [22].

[34] Alicia Chang, “NASA Chief Regrets Remarks on Global Warming,” NBC News, June 5, 2007, http://www.nbcnews.com/id/19058588/ns/us_news-environment/t/nasa-chief-regrets-remarks-global-warming/ [23].

[35] Rebecca Wright, Sandra Johnson, Steven J. Dick, eds., NASA at 50: Interviews with NASA’s Senior Leadership (Washington, D.C.: National Aeronautics and Space Administration, 2009), 18.

[36] “Lennart Bengtsson Resigns: GWPF Voices Shock and Concern at the Extent of Intolerance Within the Climate Science Community,” The Global Warming Policy Foundation, May 5, 2014,  http://www.thegwpf.org/lennart-bengtsson-resigns-gwpf-voices-shock-and-concern-at-the-extent-of-intolerance-within-the-climate-science-community/ [24].

[37] Judith Curry, “Climate Change: No Consensus on Consensus,” CAB Reviews Vol 8, No 001, 2013, 1–9.

[38] Judith A. Curry, “Statement to the Committee on Science, Space and Technology of the United States House of Representatives,” Hearing on Climate Science: Assumptions, Policy Implications and the Scientific Method, March 29, 2017, https://docs.house.gov/meetings/SY/SY00/20170329/105796/HHRG-115-SY00-Wstate-CurryJ-20170329.pdf [25].

[39] Ibid.

[40] Frederick Seitz, “Major Deception on Global Warming,” The Wall Street Journal, June 12, 1996, https://www.wsj.com/articles/SB834512411338954000 [26].

[41] Ibid.

[42] Larry Bell, “The New York Times’ Global Warming Hysteria Ignores 17 Years of Flat Global Temperatures,” Forbes, August 21, 2013, https://www.forbes.com/sites/larrybell/2013/08/21/the-new-york-times-global-warming-hysteria-ignores-17-years-of-flat-global-temperatures/ [27].

[43] Christopher C. Horner, Red Hot Lies: How Global Warming Alarmists Use Threats, Fraud, and Deception to Keep You Misinformed (New York: Simon and Schuster, 2008), 319; quote attributed to Brendan O’Neill, “Apocalypse My Arse,” Spiked Online, March 9, 2007, https://www.spiked-online.com/2007/03/09/apocalypse-my-arse/ [28], accessed January 19, 2019.

[44] Paul Reiter, “Malaria in the Debate on Climate Change and Mosquito-Borne Disease,” Hearing Before the Subcommittee on Global Climate Change and Impacts of the Committee on Commerce, Science, and Transportation, United States Senate, April 25, 2006, https://www.commerce.senate.gov/pdf/reiter-042606.pdf [29].

[45] Ibid.

[46] Ibid.

[47]  Zoë Corbyn, “Global Warming Wilts Malaria,” Nature, December 21, 2011, https://www.nature.com/news/global-warming-wilts-malaria-1.9695 [30].

[48] James Tylor, “Climate Scientist Quits IPCC, Blasts Politicized ‘Preconceived Agendas,’” The Heartland Institute, April 1, 2005, https://www.heartland.org/news-opinion/news/climate-scientist-quits-ipcc-blasts-politicized-preconceived-agendas?source=policybot [31].

[49] Horner, Red Hot Lies, 108; David Deming, “Statement to the U.S. Senate Committee on Environment and Public Works,” Full Committee Hearing on Climate Change and the Media, December 6, 2006, https://www.youtube.com/watch?v=u1rj00BoItw [32].

[50] Horner, Red Hot Lies, 329.

[51] Jonathan Leake, “Wildlife Groups Axe Bellamy as Global Warming ‘Heretic,’ Times Online, May 15, 2005, https://web.archive.org/web/20080906161240/http://www.timesonline.co.uk/tol/news/uk/article522744.ece [33].

[52] Christopher C. Horner, Red Hot Lies, 110–111.

[53] Ibid.

[54] Patrick J. Michaels and Robert C. Balling Jr., Climate of Extremes: Global Warming Science They Don’t Want You to Know (Washington, D.C.: Cato Institute, 2009), x–xiii.

[55] Christopher C. Horner, Red Hot Lies, 73.

[56] “Climate Skeptics Reveal ‘Horror Stories’ of Scientific Suppression,” U.S. Senate Committee on Environment and Public Works Press Releases, March 6, 2008, https://www.epw.senate.gov/public/index.cfm/press-releases-all?ID=865dbe39-802a-23ad-4949-ee9098538277 [34] 

[57] Judith A. Curry, “Statement to the Subcommittee on Space, Science and Competitiveness of the United States Senate,” Hearing on “Data or Dogma? Promoting Open Inquiry in the Debate over the Magnitude of Human Impact on Climate Change,” December 8, 2015, https://curryja.files.wordpress.com/2015/12/curry-senate-testimony-2015.pdf [35].

[58] Ibid.

[59] Ibid.

[60] Scott Waldman, “Judith Curry Retires, Citing ‘Craziness’ of Climate Science,” E&E News, January 4, 2017, https://www.eenews.net/stories/1060047798 [36].

[61] Rich Lowry, “A Shameful Climate Witch Hunt,” [37] National Review Online, February 27, 2015, https://www.nationalreview.com/2015/02/shameful-climate-witch-hunt-rich-lowry/ [38].

[62] Waldman, “Judith Curry Retires”

[63] “U. S. Senate Minority Report: More Than 650 International Scientists Dissent Over Man-Made Global Warming Claims. Scientists Continue to Debunk ‘Consensus’ in 2008,”  U.S. Senate Environment and Public Works Committee Minority Staff Report (Inhofe), Dec 11, 2008, https://www.epw.senate.gov/public/_cache/files/8/3/83947f5d-d84a-4a84-ad5d-6e2d71db52d9/01AFD79733D77F24A71FEF9DAFCCB056.senateminorityreport2.pdf [39].