c. Penindasan Media terhadap Suara yang Menentang

Pada bulan Juni 2008, ” Good Morning America ” (GMA) milik ABC menayangkan episode khusus yang membayangkan masa depan dan membuat prediksi mengenai dampak pemanasan global di bumi dan kemanusiaan selama abad berikutnya. Dalam program tersebut, seorang “pakar” menyatakan bahwa pada tahun 2015, permukaan laut akan naik dengan cepat, menyebabkan New York dibanjiri oleh air laut. Seorang yang diwawancarai mengatakan bahwa pada saat itu, akan ada “api yang memanjang ratusan mil,” satu galon susu akan berharga USD 12,90, dan satu galon bensin akan berharga USD 9. Sudut pandang yang disajikan dalam acara itu terlalu dilebih-lebihkan sehingga pembawa acara tidak dapat tidak mempertanyakan apakah semua ini benar-benar mungkin.

Sebenarnya, hal ini bukan pertanyaan utama yang harus dipertimbangkan oleh media. Environmentalisme menggunakan “kesadaran krisis” untuk mendorong masyarakat, namun kesadaran krisis dan ketidakpastian adalah dua konsep yang berbeda. Bagaimana mungkin hal-hal yang belum dipastikan oleh sains memerlukan rasa krisis? Oleh karena itu, environmentalisme menggunakan panji-panji untuk melindungi masa depan umat manusia untuk menekan suara-suara yang berbeda dan sampai pada konsensus publik dengan dalih konsensus ilmiah.

Ahli ekonomi Denmark Bjørn Lomborg menulis bahwa pemanasan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia dalam bukunya The Skeptical Environmentalist: Measuring the Real State of the World atau Keraguan Ahli Lingkungan Hidup: Mengukur Keadaan Dunia yang Sebenarnyaa. Namun, ia percaya bahwa kemampuan beradaptasi manusia dan kemajuan teknologi akan menangkal terjadinya bencana dahsyat. Karena hal ini tidak sesuai dengan dogma lingkungan hidup dari perubahan iklim buatan manusia, ia kemudian dikritik oleh orang-orang dari berbagai profesi.

Ketua Panel Perubahan Iklim PBB membandingkan Bjørn Lomborg dengan Adolf Hitler. Komite Denmark untuk Ketidakjujuran Ilmiah mengumumkan setelah penyelidikan bahwa Bjørn Lomborg telah melakukan “ketidakjujuran ilmiah” (tetapi penyelidikan pemerintah selanjutnya membuktikan bahwa Bjørn Lomborg tidak bersalah). Lawannya berusaha menggunakan keputusan Komite Ketidakjujuran Ilmiah untuk mencabut posisi Bjørn Lomborg sebagai direktur Institut Penilaian Lingkungan Denmark. Di stasiun kereta, orang-orang bahkan tidak mau berdiri di platform yang sama dengan Bjørn Lomborg. Seorang pencinta lingkungan hidup melemparkan kue pai padanya. [48]

Dalam buku The Great Global Warming Blunder: How Mother Nature Fooled the World’s Top Climate Scientists atau Kesalahan Besar Pemanasan Global: Bagaimana Alam Membodohi Para Ilmuwan Iklim Top Dunia, Roy Spencer, seorang ahli klimatologi dan mantan ahli satelit NASA, memberikan daftar yang berisi empat belas teknik propaganda yang digunakan oleh para pencinta lingkungan hidup, termasuk menyebabkan kepanikan, menarik perhatian otoritas, mempromosikan mentalitas sika/kebiasaan/pola pikir yang mengikuti tren yang sedang berkembang, memastikan kemenangan, menggunakan serangan pribadi, dan menciptakan rumor. [49]

Pada tahun 2006, jurnalis Inggris Brendan O’Neill menulis sebuah artikel yang menggambarkan penindasan pendapat dan retorika yang menghina yang dihadapi oleh orang-orang di banyak negara jika mereka berani meragukan teori perubahan iklim. [50] Sebagai contoh, seorang diplomat Inggris mengatakan dalam pidato publik bahwa mereka yang meragukan perubahan iklim harus diperlakukan tidak berbeda dengan teroris oleh media, dan bahwa mereka tidak boleh diberi platform untuk berbicara.

Brendan O’Neill menunjukkan bahwa mereka yang ragu akan teori perubahan iklim telah diberi label “pendusta.” Ini termasuk berbagai kelompok orang mulai dari orang yang mengakui pemanasan iklim tetapi merasa mampu mengatasinya, hingga orang yang sepenuhnya menolak pemanasan sebagai fenomena ilmiah. Potensi label “pendusta” adalah besar.
Charles Jones, seorang pensiunan profesor bahasa Inggris di Universitas Edinburgh, mengatakan bahwa istilah “pendusta” ini dirancang untuk menempatkan orang yang ragu akan tingkat kerusakan moral yang sama dengan orang yang menyangkal Holocaust.

Menurut Brendan O’Neill, beberapa orang bahkan mengklaim bahwa keraguan akan teori perubahan iklim adalah kaki tangan dalam eko-Holocaust yang akan datang dan mungkin menghadapi uji coba gaya Nuremberg di masa depan. Seorang penulis pencinta lingkungan hidup yang terkenal pernah menulis, “Ketika kita akhirnya menjadi serius mengenai pemanasan global, ketika dampaknya benar-benar menghantam kita dan kita sedang dalam perebutan seluruh dunia untuk meminimalkan kerusakan, kita harus memiliki pengadilan kejahatan perang untuk bajingan ini — semacam iklim Nuremberg.”

Brendan O’Neill, dalam artikelnya, berkomentar: “Biasanya hanya di negara-negara otoriter bahwa pikiran atau kata-kata disamakan dengan kejahatan, di mana para diktator berbicara mengenai ‘kejahatan pikiran’ dan ancamannya terhadap jalinan masyarakat…Ini adalah langkah singkat dalam menjelek-jelekkan sekelompok orang, dan menggambarkan argumen sekelompok orang tersebut sebagai racun dan berbahaya, untuk menuntut sensor yang lebih keras dan lebih kasar.”[51] Penilaian ini adalah benar. Membatasi hak untuk berpikir adalah salah satu cara komunisme menceraikan orang dari konsep kebaikan dan kejahatan yang didasarkan pada nilai-nilai universal.

Seorang profesor astronomi di Harvard menerbitkan sebuah makalah yang membahas peran matahari dalam perubahan iklim berdasarkan catatan suhu historis di masa lalu bumi. Karena hal ini menantang dogma umat manusia sebagai biang keladi perubahan iklim, sebuah situs web pencinta lingkungan hidup mencapnya sebagai “percobaan pembunuhan massal” dan semua pembangkang lainnya sebagai “penjahat.” [52]

Contoh seperti itu terlalu banyak untuk dihitung. Seorang pejabat senior dari kelompok besar lingkungan hidup memperingatkan bahwa media harus berpikir dua kali sebelum menyiarkan pandangan yang meragukan terhadap perubahan iklim karena “membiarkan penyebaran informasi yang keliru seperti itu akan menyebabkan kerusakan.” [53]

Menlu Inggris mengatakan dalam pidatonya bahwa sama seperti teroris tidak diizinkan muncul di media, orang yang ragu akan pemanasan global seharusnya tidak memiliki hak untuk mengudarakan gagasannya. [54] Para kolumnis arus utama di Australia mulai mempromosikan gagasan untuk menuntut pendusta perubahan iklim dengan tuduhan “kejahatan terhadap kemanusiaan.”

Pada pertemuan puncak yang dihadiri oleh para politisi penting di Australia, termasuk perdana menteri, sebuah proposal dibuat untuk menghilangkan kewarganegaraan para pelanggar hukum tersebut. Salah satu gagasan adalah untuk memeriksa kembali warganegara Australia dan menerbitkan kembali kewarganegaraan hanya untuk mereka yang telah membuktikan bahwa mereka “ramah terhadap lingkungan hidup iklim.” [55]

Beberapa orang bahkan telah berusaha menggunakan kekuatan hukum untuk memadamkan suara-suara lawan dari hipotesis pemanasan-iklim. Pada tahun 2015, dua puluh akademisi mengirim surat kepada presiden dan Jaksa Agung Amerika Serikat yang meminta agar Undang-Undang Organisasi yang Bersifat Memeras dan Korup digunakan untuk menyelidiki perusahaan dan organisasi dengan pandangan tidak standar mengenai perubahan iklim. Hal ini sama dengan berusaha menggunakan hukum untuk menghambat kebebasan berbicara. [56]

Pada tahun 2016, Jaksa Agung dari beberapa negara membentuk koalisi untuk menyelidiki apakah industri energi tradisional menyesatkan investor dan masyarakat mengenai “dampak perubahan iklim,” dan jika demikian, untuk menuntut. Seperti yang ditunjukkan oleh The Heritage Foundation, tuduhan dan penyelidikan seperti itu dari mereka yang memiliki pendapat berbeda melanggar Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat dan menghambat perdebatan mengenai kebijakan masyarakat yang penting. [57]

d. Kelompok ‘Sipil’ Dimanipulasi untuk Revolusi Jalanan

Memulai gerakan massa adalah salah satu strategi komunisme untuk menyebarkan pengaruhnya ke berbagai negara dan dunia. Banyak organisasi pencinta lingkungan hidup memobilisasi banyak orang untuk melakukan kampanye perlindungan lingkungan hidup. Mereka telah melobi dan membajak lembaga pemerintah dan organisasi Amerika Serikat untuk merumuskan dan menegakkan perjanjian dan peraturan yang tidak masuk akal. Mereka juga menciptakan insiden kekerasan untuk membungkam masyarakat umum.

Seperti yang dikatakan oleh sayap Kiri radikal Saul Alinsky, perlu untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya dari sebuah gerakan dan memobilisasi orang-orang dalam skala besar untuk bertindak dalam mendukung tujuan lokal, untuk sementara, masuk akal, atau jinak. Ketika orang menjadi terbiasa dengan bentuk aktivisme yang relatif moderat ini, maka relatif mudah untuk membuat mereka bertindak untuk tujuan yang lebih radikal. “Ingat: Sekali anda mengatur orang di sekitar sesuatu yang umumnya disepakati sebagai polusi, maka orang yang terorganisir sedang bergerak. Dari sana itu adalah langkah pendek dan alami menuju polusi politik, ke polusi Pentagon,” kata Saul Alinsky. [58]

Pada Hari Bumi pertama pada tahun 1970, lebih dari 20 juta orang Amerika Serikat berpartisipasi dalam protes jalanan bertema Hari Bumi. Kendali populasi telah menjadi metode pilihan untuk mengatasi perburukan lingkungan hidup. Pada waktu itu, banyak organisasi Kiri di Amerika Serikat memutuskan untuk pergi ke tempat banyak orang. Mereka mengambil bagian dalam gerakan lingkungan hidup dan menganjurkan sosialisme sebagai cara untuk membatasi pertumbuhan populasi.

Berbagai kelompok Kiri menggunakan environmentalisme sebagai kemasan ideologis untuk melakukan aksi jalanan yang mendukung revolusi. Misalnya, jika suatu negara memiliki “gerakan iklim rakyat”, anda dapat menyimpulkan bahwa hal tersebut adalah produk partai komunis. Di Amerika Serikat, organisasi yang terlibat adalah Partai Komunis Amerika Serikat, Sosialisme dalam Tindakan, Partai Komunis Revolusioner Amerika Maois, Masyarakat Ekologis, Buruh Sosialis, Sosialisme Alternatif, Sosialisme Demokrasi Amerika, Sosialisme Bebas, dan sebagainya. Mereka menjadi tuan rumah Demonstrasi Iklim Rakyat dan Pawai Iklim Rakyat. Slogan-slogan di demonstrasi ini termasuk “Perubahan sistem, bukannya perubahan iklim,” “Kapitalisme membunuh kita,” “Kapitalisme menghancurkan lingkungan hidup,” “Kapitalisme membunuh planet ini,” dan “Berjuang demi masa depan sosialis.” [59]

Kelompok-kelompok ini, dengan lautan bendera merah, telah berbaris di banyak kota besar di Amerika Serikat, termasuk Washington. [60] Dengan semakin banyak unsur komunis dan sosialis untuk memperkuat lingkungan hidup, “perdamaian Hijau” telah membuat transisi penuh ke revolusi Merah.

e. Agama Baru yang Anti-Kemanusiaan

Selain membajak lingkungan hidup sebagai gerakan politik, pengaruh komunis telah mengubah environmentalisme menjadi kultus anti-kemanusiaan.

Michael Crichton, penulis Jurassic Park, pernah berkata bahwa environmentalisme adalah salah satu agama paling kuat di dunia Barat saat ini. Ia percaya bahwa environmentalisme memiliki karakteristik khas dari sebuah agama: “Ada Eden awal, surga, keadaan rahmat dan persatuan dengan alam; ada keruntuhan rahmat ke dalam kondisi polusi sebagai akibat makan dari pohon pengetahuan, dan sebagai hasil tindakan kita, ada hari penghakiman yang datang untuk kita semua. Kita semua adalah pendosa energi, ditakdirkan untuk mati, kecuali kita mencari keselamatan, yang sekarang disebut keberlanjutan. Keberlanjutan adalah keselamatan di gereja lingkungan hidup.”[61]

Michael Crichton percaya bahwa semua kepercayaan lingkungan hidup adalah masalah iman. “Hal ini mengenai apakah anda akan menjadi orang berdosa, atau [diselamatkan]; apakah anda akan menjadi salah satu dari orang-orang di sisi keselamatan, atau di sisi malapetaka; apakah anda akan menjadi salah satu dari kami, atau salah satu dari mereka,” kata Michael Crichton. [62]

Pandangan ini telah diakui oleh sejumlah sarjana. William Cronon, seorang sejarawan lingkungan berpengaruh di Amerika Serikat, percaya bahwa environmentalisme adalah agama baru karena ia mengusulkan serangkaian persyaratan etika yang kompleks untuk menilai perilaku manusia. [63]

Dyson, ilmuwan terkenal dan ahli mekanika kuantum yang dikutip sebelumnya, mengatakan dalam sebuah artikel di Tinjauan Buku New York pada 2008 bahwa “agama sekuler di seluruh dunia” dari environmentalisme telah “menggantikan sosialisme sebagai agama sekuler terkemuka.” Agama baru ini menganut “bahwa merampas planet dengan produk limbah dari kehidupan mewah kita adalah dosa, dan bahwa jalan kebenaran adalah hidup sesederhana mungkin.” Etika agama baru ini, ia menjelaskan, “sedang diajarkan kepada anak-anak di taman kanak-kanak, sekolah, dan perguruan tinggi di seluruh dunia.”[64]

Banyak pencinta lingkungan hidup tidak menghindar dari masalah ini. Rajendra Pachauri, mantan kepala Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim yang mengundurkan diri setelah skandal pelecehan seksual, mengatakan dalam surat pengunduran dirinya bahwa environmentalisme “adalah agama saya.” [65]

Ketika environmentalisme menjadi lebih ideologis dan religius, environmentalisme menjadi semakin tidak toleran terhadap berbagai pandangan. Mantan presiden Ceko Václav Klaus percaya bahwa gerakan lingkungan hidup sekarang lebih didorong oleh ideologi daripada sains, menjadi agama semu yang bertujuan menghancurkan masyarakat yang ada. Agama baru ini, mirip seperti komunisme, menggambarkan gambaran indah utopia, yang dicapai dengan menggunakan kebijaksanaan manusia untuk merencanakan lingkungan hidup alam dan menyelamatkan dunia. “Keselamatan” ini didasarkan pada oposisi terhadap peradaban yang ada. Misalnya, ketua dewan Universitas Perdamaian yang berafiliasi dengan PBB dan arsitek Protokol Kyoto mengatakan, “Bukankah satu-satunya harapan bagi planet ini bahwa peradaban industri runtuh?” [66]

Václav Klaus meringkas pandangannya: “Jika kita menganggap serius para pecinta lingkungan hidup, kita mendapati bahwa pemikiran mereka adalah ideologi anti-kemanusiaan.” Ia setuju dengan ahli biologi Ivan Brezina bahwa environmentalisme bukanlah jawaban rasional dan ilmiah untuk krisis ekologis, melainkan alasan yang kuat untuk menolak peradaban secara keseluruhan. [67]

Environmentalisme menimbulkan kebencian di antara orang-orang dengan menyerang orang-orang yang berbeda pendapat – semuanya atas nama melindungi lingkungan hidup. Terbukti dalam kebencian dan ekstremisme ini adalah anti-kemanusiaan radikal.

Kritikus politik Kanada Mark Steyn mengatakan bahwa menurut para pencinta lingkungan hidup, “Kami adalah polusi, dan sterilisasi adalah solusinya. Cara terbaik untuk mewariskan lingkungan hidup yang lebih berkelanjutan kepada anak-anak kita adalah tidak memiliki lingkungan hidup.” Ia memberikan contoh Toni Vernelli, seorang wanita Inggris yang melakukan aborsi dan disterilkan karena ia percaya memiliki anak-anak adalah buruk bagi lingkungan hidup. [68]

Pemikiran ini menganggap manusia sebagai penyebab utama dalam menghancurkan alam. Hal ini menempatkan lingkungan hidup alam sebagai prioritas utama, jauh melampaui posisi suci umat manusia, bahkan dengan cara mengendalikan kesuburan manusia dan merampas hak manusia untuk hidup. Pandangan ini tidak berbeda dengan komunisme, dan pada intinya adalah anti-kemanusiaan. Agama baru ini menggantikan kepercayaan tradisional bahwa manusia adalah penguasa bumi.

Kombinasi keagamaan, totaliterianisme, kesatuan gagasan yang memaksa, dan revolusi anti-kapitalis, tidak dapat menjamin perlindungan alam oleh manusia. Malahan, hal tersebut akan menghancurkan peradaban, kebebasan, dan ketertiban yang ada, serta menciptakan kepanikan dan kekacauan yang belum pernah terjadi sebelumnya, memimpin umat manusia ke jalan yang salah. Ini adalah rancangan pengaruh komunis yang sebenarnya di balik lingkungan hidup.

Kesimpulan: Untuk Terhindar dari Krisis Lingkungan Hidup, Hormatilah dan Kembalilah Pada Tradisi Ilahi

Tuhan menciptakan manusia dan bumi yang indah dan makmur. Ini adalah lingkungan tempat manusia hidup dan berkembang biak. Manusia berhak menggunakan sumber daya alam, dan pada saat yang sama, manusia berkewajiban untuk menghargai sumber daya alam dan memelihara lingkungan hidup. Selama ribuan tahun, manusia telah mengindahkan peringatan yang ditinggalkan oleh para dewa di zaman kuno dan telah hidup selaras dengan alam.

Masalah lingkungan hidup yang muncul di zaman modern pada akhirnya adalah akibat kerusakan hati manusia. Kerusakan moral ini semakin diperkuat oleh kekuatan sains dan teknologi. Lingkungan hidup alami yang tercemar hanyalah manifestasi eksternal dari pencemaran moral batin manusia. Untuk memurnikan lingkungan hidup, seseorang harus mulai dengan memurnikan hatinya.

Munculnya kesadaran lingkungan hidup berasal dari naluri manusia untuk menjaga diri. Meskipun hal ini adalah wajar dan dapat dimengerti, hal ini juga menjadi celah untuk dieksploitasi oleh hantu komunisme. Komunisme telah memobilisasi untuk menciptakan kepanikan skala besar, mendukung serangkaian nilai-nilai yang melengkung, merampas kebebasan manusia, berupaya memperluas pemerintahan, dan bahkan memaksakan pemerintahan dunia. Merangkul bentuk alternatif komunisme ini dalam upaya menyelamatkan lingkungan hidup akan mengancam perbudakan kemanusiaan dan memfasilitasi kehancuran manusia.

Program politik wajib bukanlah jawaban untuk masalah lingkungan hidup yang kita hadapi, juga tidak bergantung pada teknologi modern sebagai jalan keluar. Untuk menyelesaikan krisis, kita harus mendapatkan pemahaman yang lebih dalam mengenai alam semesta dan alam, serta hubungan antara manusia dengan alam, sambil mempertahankan kondisi moral yang lurus.
Umat manusia harus memulihkan tradisinya, meningkatkan moralitas, dan menemukan jalannya kembali ke jalan yang ditetapkan oleh para dewa. Dengan melakukan hal itu, manusia secara alami akan menerima hikmat dan berkat Ilahi. Dunia alam yang indah penuh kehidupan akan dipulihkan. Kecerahan dan kemakmuran surga dan bumi akan menemani manusia selamanya.

Referensi

[1] Zhu Kezhen, Preliminary Research on Climate Change Throughout Five Thousand Years of Chinese History (Kaoguxuebao, First Issue, 1972), 168–189. [In Chinese].

[2] Martin Durkin, The Great Global Warming Swindle (documentary film, 2007), Channel 4 (U.K.), March 8, 2007.

[3] Takuro Kobashi, et. al.,  “4 ± 1.5° C Abrupt Warming 11,270 Years Ago Identified From Trapped Air in Greenland Ice,” Earth and Planetary Science Letters 268 (2008): 397–407.

[4] Freeman Dyson, “Misunderstandings, Questionable Beliefs Mar Paris Climate Talks,” The Boston Globe, December 3, 2015. https://www.bostonglobe.com/opinion/2015/12/03/freeman-dyson-misunderstandings-questionable-beliefs-mar-paris-climate-talks/vG3oBrbmcZlv2m22DTNjMP/story.html.

[5] Scott Waldman, “Judith Curry Retires, Citing ‘Craziness’ of Climate Science,” E&E News, January 4, 2017, https://www.eenews.net/stories/1060047798.

[6] J. A. Curry and P. J. Webster, “Climate Science and the Uncertainty Monster,” Bulletin of American Meteorology Society 92, no. 12:1667–1682. https://journals.ametsoc.org/doi/pdf/10.1175/2011BAMS3139.1.

[7] IPCC, “Working Group I: The Physical Science Basis,” IPCC Fourth Assessment Report: Climate Change 2007. https://archive.ipcc.ch/publications_and_data/ar4/wg1/en/ch8s8-2-1-3.html.

[8] Ibid, https://archive.ipcc.ch/publications_and_data/ar4/wg1/en/faq-2-1.html.

[9] Mark W. Shephard et al., “Comparison of Tropospheric Emission Spectrometer Nadir Water Vapor Retrievals with in situ measurements,” Journal of Geophysical Research 113, no D15S24, doi:10.1029/2007JD008822.

[10] “Climate Change,” APS Physics, American Physical Society Web Page. https://www.aps.org/policy/reports/popa-reports/energy/climate.cfm.

[11] “Solar Constant,” Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/science/solar-constant.

[12] Willie Soon, et al., “Modeling Climatic Effects of Anthropogenic Carbon Dioxide Emissions: Unknowns and Uncertainties,” Climate Research 18 (2001): 259–275.

[13] Michael Lemonick, “Freeman Dyson Takes on the Climate Establishment,” Yale Environment 360, June 4, 2009. https://e360.yale.edu/features/freeman_dyson_takes_on_the_climate_establishment.

[14] Nir J. Shaviv, “Celestial Driver of Phanerozoic Climate?” Geological Society of America Today 13, no. 7: 4–10, July 2003. https://www.geosociety.org/gsatoday/archive/13/7/pdf/i1052-5173-13-7-4.pdf.

[15] J. Emile-Geay et al., “Links between Tropical Pacific Seasonal, Interannual and Orbital Variability during the Holocene,” Nature Geoscience 9 (2) (2016): 168–173.

[16] Zhengyu Liu et al., “The Holocene Temperature Conundrum,” PNAS 111, no. 34 (August 26, 2014).

[17] Hans von Storch, “Why Is Global Warming Stagnating?” Der Spiegel, June 20, 2013. http://www.spiegel.de/international/world/interview-hans-von-storch-on-problems-with-climate-change-models-a-906721.html.

[18] Richard S. Lindzen et. al., “Does the Earth Have an Adaptive Infrared Iris?,” Bulletin of the American Meteorological Society 82 (2001): 417–432, https://doi.org/10.1175/1520-0477(2001)082%3C0417:DTEHAA%3E2.3.CO;2.

[19] Roy Spencer and William D. Braswell, “Potential Biases in Feedback Diagnosis from Observational Data: A Simple Model Demonstration,” Journal of Climate, 21 (21): 5624–5628, November 1, 2008.

[20] John R. Christy, Written Report to Senate Commerce, Science and Transportation Committee, November 14, 2007. https://www.nsstc.uah.edu/users/john.christy/christy/ChristyJR_CST_071114_written.pdf.

[21] David Russell Legates, “Statement to the Environment and Public Works Committee
of the United States Senate,” U.S. Senate, July 3, 2014. https://www.epw.senate.gov/public/_cache/files/a/a/aa8f25be-f093-47b1-bb26-1eb4c4a23de2/01AFD79733D77F24A71FEF9DAFCCB056.6314witnesstestimonylegates.pdf.   

[22] William Happer, “Data or Dogma? Promoting Open Inquiry in the Debate Over the Magnitude of Human Impact on Earth’s Climate,” Hearing of the U.S. Senate Subcommittee on Space, Science and Competitiveness (U.S. Senate Committee on Commerce, Science and Transportation), December 8, 2015. https://www.commerce.senate.gov/public/_cache/files/c8c53b68-253b-4234-a7cb-e4355a6edfa2/FA9830F15064FED0A5B28BA737D9985D.dr.-william-happer-testimony.pdf.

[23] Sir John Houghton, “Moral Outlook: Earthquake, Wind and Fire,” Sunday Telegraph, October 9, 1995.

[24] Jason Samenow, “Scientists: Don’t Make ‘Extreme Cold’ Centerpiece of Global Warming Argument,” The Washington Post, February 20, 2014. https://www.washingtonpost.com/news/capital-weather-gang/wp/2014/02/20/scientists-dont-make-extreme-cold-centerpiece-of-global-warming-discussions/?noredirect=on&utm_term=.3600e477f052.

[25] John Michael Wallace, “The Misplaced Emphasis on Extreme Weather in Environmental Threat Communication,” The Washington Post, March 14, 2014. https://www.washingtonpost.com/news/capital-weather-gang/wp/2014/03/14/the-misplaced-emphasis-on-extreme-weather-in-environmental-threat-communication/?utm_term=.bf84802d4613

[26] Steven E. Koonin, “A Deceptive New Report on Climate,” The Wall Street Journal, November 2, 2017. https://www.wsj.com/articles/a-deceptive-new-report-on-climate-1509660882.

[27]  Ibid.

[28] “Climate Change Indicators: High and Low Temperatures,” United States Environmental Protection Agency. https://www.epa.gov/climate-indicators/climate-change-indicators-high-and-low-temperatures.

[29] Judith A. Curry, “Statement to the Subcommittee on Space, Science and Competitiveness of the United States Senate,” Hearing on “Data or Dogma? Promoting Open Inquiry in the Debate Over the Magnitude of Human Impact on Climate Change,” December 8, 2015. https://curryja.files.wordpress.com/2015/12/curry-senate-testimony-2015.pdf.

[30] Mike Hulme, “Chaotic World of Climate Truth,” BBC, November 4, 2006. http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/6115644.stm.

[31] Roy W. Spencer, Climate Confusion: How Global Warming Leads to Bad Science, Pandering Politicians and Misguided Policies that Hurt the Poor (New York: Encounter Books, 2008), Chapter 5.

[32] Christopher C. Horner, Red Hot Lies: How Global Warming Alarmists Use Threats, Fraud, and Deception to Keep You Misinformed (Washington. D.C.: Regnery Publishing, 2008), 214.

[33] Horner, Red Hot Lies, 215.

[34] Horner, Red Hot Lies, 211.

[35] Horner, Red Hot Lies, 212–213.

[36] Horner, Red Hot Lies, 227.

[37] David Shearman and Joseph Wayne Smith, The Climate Change Challenge and the Failure of Democracy (Westport, Conn.: Praeger, 2007).

[38] Horner, Red Hot Lies, 219–220.

[39] Paul Ehrlich, as quoted in Václav Klaus, Blue Planet in Green Shackles: What Is Endangered: Climate or Freedom? (Washington, D.C.: Competitive Enterprise Institute, 2008), 14.

[40] John Bachtell, “China Builds an ‘Ecological Civilization’ While the World Burns,” People’s World, August 21, 2018. https://www.peoplesworld.org/article/china-builds-an-ecological-civilization-while-the-world-burns/.

[41] Klaus, Blue Planet in Green Shackles, 4.

[42] Klaus, Blue Planet in Green Shackles, 7–8.

[43] Klaus, Blue Planet in Green Shackles, 100.

[44] John Fund, “Rollback Obama’s CAFE Power Grab, Give Car Consumers Freedom,” National Review, May 23, 2018. https://www.nationalreview.com/corner/fuel-standards-cafe-epa-rolls-back/.

[45] Ariana Eunjung Cha, “Solar Energy Firms Leave Waste Behind in China,” The Washington Post, March 9, 2008. http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2008/03/08/AR2008030802595.html?referrer=emailarticle&noredirect=on.

[46] The Paris Agreement on Climate Change, Natural Resources Defense Council (NRDC), December 2015, IB: 15-11-Y. https://www.nrdc.org/sites/default/files/paris-climate-agreement-IB.pdf.

[47] Donald J. Trump, “Statement by President Trump on the Paris Climate Accord,” The White House, June 1, 2017. https://www.whitehouse.gov/briefings-statements/statement-president-trump-paris-climate-accord/.

[48] Horner, Red Hot Lies, 117.

[49] Roy W. Spencer, The Great Global Warming Blunder: How Mother Nature Fooled the World’s Top Climate Scientists (New York: Encounter Books, 2010), 31.

[50] Brendan O’Neill, “A Climate of Censorship,” The Guardian, November 22, 2006. https://www.theguardian.com/commentisfree/2006/nov/22/aclimateofcensorship.

[51] O’Neill, “A Climate of Censorship.”

[52] Horner, Red Hot Lies, 64.

[53] O’Neill, “A Climate of Censorship.”

[54] Ibid.

[55] Horner, Red Hot Lies, 107.

[56] “Letter to President Obama, Attorney General Lynch, and OSTP Director Holdren,” September 1, 2015. http://web.archive.org/web/20150920110942/http:/www.iges.org/letter/LetterPresidentAG.pdf

[57] Hans von Spakovsky and Nicolas Loris, “The Climate Change Inquisition: An Abuse of Power that Offends the First Amendment and Threatens Informed Debate,” The Heritage Foundation, October 24, 2016. https://www.heritage.org/report/the-climate-change-inquisition-abuse-power-offends-the-first-amendment-and-threatens.

[58] Saul Alinsky, “Tactics,” Rules for Radicals: A Practical Primer for Realistic Radicals (New York: Vintage Books, 1971).

[59] “Climate Movement Drops Mask, Admits Communist Agenda,” PJ Media, September 23, 2014. https://pjmedia.com/zombie/2014/9/23/climate-movement-drops-mask-admits-communist-agenda/.

[60] “People’s Climate March: Thousands Rally to Denounce Trump’s Environmental Agenda,” The Guardian, April 29, 2017. https://www.theguardian.com/us-news/2017/apr/30/peoples-climate-march-thousands-rally-to-denounce-trumps-environmental-agenda.

[61] Michael Crichton, “Crichton: Environmentalism Is a Religion,” Hawaii Free Press, April 22, 2018. http://www.hawaiifreepress.com/ArticlesMain/tabid/56/ID/2818/Crichton-Environmentalism-is-a-religion.aspx.

[62] Ibid.

[63] Robert H. Nelson, “New Religion of Environmentalism,” Independent Institute, April 22, 2010. http://www.independent.org/news/article.asp?id=5081.

[64] Joel Garreau, “Environmentalism as Religion,” The New Atlantis, Summer 2010. https://www.thenewatlantis.com/docLib/20100914_TNA28Garreau.pdf.

[65] Damian Carrington, “IPCC Chair Rajendra Pachauri Resigns,” The Guardian, February 24, 2015. https://www.theguardian.com/environment/2015/feb/24/ipcc-chair-rajendra-pachauri-resigns.

[66] Michael Whitcraft, “A Lot of Hot Air: A Review of Václav Klaus’ Recent Book: Blue Planet in Green Shackles,” Free Republic, June 13, 2008. http://www.freerepublic.com/focus/f-news/2030948/posts.

[67] Vaclav Klaus. “An anti-human ideology.” Financial Post, October 20, 2010. https://business.financialpost.com/opinion/vaclav-klaus-an-anti-human-ideology.

[68] Mark Steyn. “Children? Not if you love the planet.” The Orange County Register, December 14, 2007. https://www.ocregister.com/2007/12/14/mark-steyn-children-not-if-you-love-the-planet.

BACA Sebelumnya : Bagaimana Roh Jahat Komunisme Sedang Menguasai Dunia Kita : Bab XVI – Komunisme Membajak Environmentalisme (Bagian I)

 

 

Share

Video Popular