Erabaru.net. Demonstran di Hong Kong terkejut dengan penggunaan kekerasan berlebihan dari aparat kepolisian pada akhir pekan lalu. Sejumlah elemen masyarakat Hong Kong menyerukan kembali aksi mogok massal.  

Sebelumnya, ribuan warga Hongkong  pro-demokrasi menggelar unjuk rasa damai di Victoria Park, pada Minggu sore 11 Agustus.  Warga dalam tuntutan mereka, kembali menegaskan agar RUU Ekstradisi dicabut sepenuhnya. 

Melansir dari The Epochtimes, RUU itu mendapat reaksi luas ketika pemerintah berusaha untuk mempercepat amandemennya melalui legislatif pada Juni lalu. 

RUU ini dikhawatirkan membuat orang-orang di Hong Kong, rentan terhadap ekstradisi dan persidangan di pengadilan Tiongkok. Dikarenakan, aturan hukum Komunis Tiongkok terkenal tanpa adanya supremasi hukum.

Pada malam hari, para pengunjuk rasa terpecah menjadi beberapa front. Cara ini, mengadopsi protes gaya massa yang bertujuan menghindari konfrontasi langsung dengan aparat kepolisian. 

Tembakan di Mata

Di beberapa distrik, termasuk Tsim Sha Tsui dan Wan Chai, polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Di Tsim Sha Tsui, seorang wanita di kerumunan massa ditembak di bagian mata kanan dengan  bean bag round — kantong kain kecil yang berisi pellet. Tembakan itu, menembus pelindung kacamatanya. Tersiar kabar wanita itu adalah petugas medis. Sebelumnya, ia disebut bagian dari pengunjuk rasa.  

Foto dan video  matanya berdarah-darah yang parah menjadi viral di media sosial Hong Kong.  Dia dirawat di rumah sakit setelah perawatan darurat di tempat kejadian. 

Laporan Ming Pao mengutip sumber-sumber rumah sakit yang mengatakan, bahwa bola mata kanan wanita itu pecah, dan kelopak mata kanan serta rahang atas juga patah. Dia langsung  dioperasi darurat.

Foto menunjukkan bahwa pada 12 Agustus 2019, orang-orang Hong Kong melancarkan demonstrasi “rekonsiliasi polisi” di bandara Hong Kong. Para demonstran memegang slogan “mata ganti mata” untuk mendukung seorang wanita yang ditembak pada 11 Agustus 2019. (Yugang / Epochtimes)

Sebenarnya, menurut aturan kepolisian, tembakan bean bag round dilarang kepada kepala seseorang – hanya di badan atau anggota badan.

Pada hari Senin 12 Agustus, para profesional medis menggelar aksi protes di Pamela Youde Nethersole Eastern Hospital- beberapa mengenakan penutup mata kanan, mengacu pada insiden pada Minggu malam.  “Polisi Hong Kong berupaya membunuh warga Hong Kong,” demikian bunyi sebuah spanduk .

Kebrutalan Polisi

Di dalam stasiun metro di Kwai Fong, yang terletak di New Territories, polisi menyerang demonstran dan menembakkan peluru karet pada jarak dekat. 

Sebelum kekacauan terjadi, pengunjuk rasa berkumpul di depan Kantor Polisi Kwai Chung di dekatnya. Sebagai tanggapan, polisi mulai menembakkan gas air mata untuk membersihkan kerumunan massa. Beberapa pengunjuk rasa membalas dengan melemparkan benda-benda secara acak dan menyemprotkan air ke polisi.  Akhirnya, beberapa pengunjuk rasa mundur di dalam stasiun metro. Akan tetapi, massa tetap diuber-uber oleh oleh aparat polisi.

Joshua Wong, Sekretaris Jenderal partai pro-demokrasi Demosistō dan tokoh ikon dari Gerakan Payung 2014, mendesak dalam unggahan di Twitter, bahwa dunia tidak boleh tinggal diam atas kekerasan terbaru aparat kepolisian.

Ia menyerukan, Amerika Serikat harus menghentikan ekspor senjata apa pun ke Kepolisian Hong Kong.  Dikarenakan, Polisi Hong Kong menggunakan senjata dari AS untuk membunuh warga Hong Kong. 

Wong telah berulang kali menyerukan pemerintah AS untuk tidak mengirimkan peralatan pengendalian massa ke Hong Kong. Dia membuat petisi ke Gedung Putih untuk menghentikan pengiriman pada 5 Juli lalu. Sejak itu, ia mengumpulkan lebih dari 111.000 tanda tangan. 

Pada 29 Juli, dia memposting gambar di Twitter tentang tabung gas air mata yang diproduksi oleh perusahaan berbasis di Pennsylvania. Pada bulan Juli, anggota parlemen AS Senator Ted Cruz  dan Jim McGovern turutu menyerukan penangguhan ekspor peralatan tersebut.

Kutukan Kebrutalan Aparat

The Hong Kong University Students’ Union, yang terdiri dari beberapa serikat mahasiswa lokal dari berbagai universitas seperti Universitas Hong Kong dan Universitas Cina Hong Kong, mengeluarkan pernyataan pada 12 Agustus. Mereka mengutuk tindakan brutal polisi setempat sebagai aksi “di luar kendali “dan” tidak manusiawi. “

Selain mengutuk keras apa yang terjadi pada seorang wanita yang terkena tembakan di mata dan bentrokan di dalam stasiun metro Kwai Fong, Serikat mahasiswa mengecam aparat polisi karena menembakkan semprotan merica dari jarak dekat. Insiden ini terjadi ketika polisi menerobos ke Tai Koo metro untuk membubarkan pengunjuk rasa.

Pernyataan serikat mahasiswa Hong Kong itu  menambahkan, penggunaan kekuatan dan kekerasan yang berlebihan oleh aparat kepolisian mengikis aturan hukum Hong Kong.

Serikat Mahasiswa meminta semua warga Hongkong untuk melakukan pemogokan untuk waktu yang tidak terbatas. Mereka juga menyerukan  aksi protes untuk terus digelar di Bandara Internasional Hong Kong.  

Ribuan orang ikut serta dalam aksi duduk tiga hari di aula kedatangan Bandara Internasional Hong Kong yang berakhir pada 11 Agustus. Setelah aksi usai digelar, kegiatan di Bandara berlangsung dengan normal. Selama di Bandara, aksi massa berlangsung dengan damai dan tertib.  

Kelompok yang dipimpin oleh  Orangtua dari Hong Kong, mengeluarkan pernyataan online yang menyebut tindakan polisi pada 11 Agustus sebagai “kekerasan berdarah dingin.” 

Kelompok itu, berspekulasi bahwa polisi akan melepaskan semua tanggung jawab atas kekerasan. Polisi bakal mengklaim bahwa tindakan kepolisian adalah hasil dari “perilaku yang meningkat” oleh para pengunjuk rasa.  Mereka mempertanyakan, berapa lama polisi akan terus bertindak seperti itu atau dimintai pertanggungjawaban atas tindakan mereka.

Serangan Terhadap Jurnalis

Asosiasi Jurnalis Hong Kong dan Asosiasi Fotografer Pers Hong Kong, dalam pernyataan bersama pada 11 Agustus, mengutuk polisi karena gagal menangkap orang-orang yang telah melakukan serangan terhadap jurnalis di kawasan North Point sebelumnya pada hari yang sama.

Pernyataan itu mengidentifikasi empat serangan terpisah. Dalam satu kejadian, seorang reporter yang bekerja untuk media lokal The Stand News diancam sebelum tripodnya dirampas. Seorang reporter dengan penyiar lokal RTHK juga diserang.

Asosiasi Jurnalis Hong Kong dan Asosiasi Fotografer Pers Hong Kong, menuntut Kepolisian Hong Kong untuk memberikan penjelasan dan melakukan investigasi secara menyeluruh. 

Langkah ini bertujuan untuk menyampaikan pesan yang jelas kepada masyarakat, bahwa tidak ada aksi kekerasan yang akan ditoleransi. Penyelidikan juga menyampaikan pesan bahwa serangan terhadap jurnalis merupakan pelanggaran serius terhadap kebebasan pers. (asr) 

Sumber : Frank Fang-The Epochtimes/hongkongfp.com

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular