Eva Pu

Mereka adalah wajah-wajah yang berpartisipasi selama aksi protes Hong Kong. Mereka inilah, yang telah mendominasi berita utama selama beberapa beberapa bulan terakhir. Mereka sebagian besar masih belia dan berusia 20-an. Mereka inilah Hongkongers yang menghabiskan berbulan-bulan musim panas mereka di jalanan yang dipenuhi oleh gas air mata.

Epoch Times Hong Kong baru-baru ini berbicara dengan beberapa pemrotes. Berbicara tentang mengapa mereka terus menggelar aksi protes sejak Juni lalu. Mereka memilih untuk mengidentifikasi diri mereka dengan nama inisial. Tujuannya, untuk menghindari pembalasan dari polisi setempat. Sebagaimana diketahui, aparat setempat kerap terlibat bentrok dengan demonstran. Bahkan, sekitar 700 orang ditangkap oleh aparat sejak aksi protes dimulai.

Sebagian besar, mereka yang berpartisipasi menyebutkan kekhawatiran atas RUU ekstradisi. Aturan ini dinilai bakal menyebabkan Hong Kong kehilangan otonomi dari rezim Komunis Tiongkok.

Mereka khawatir RUU itu akan memungkinkan rezim Komunis Tiongkok, menyeret siapa pun dari tanah Hong Kong untuk diadili di Tiongkok. Apalagi sudah terkenal, sistem hukum Komunis Tiongkok yang gelap. Pada akhirnya, mengikis aturan hukum di Hong Kong yang disebut sebagai rumah mereka.

Pada tanggal 9 Agustus 2019, penjemputan di bandara dengan 10.000 orang berkumpul, para peserta memegang berbagai poster dan slogan di lobi. (Lua Ya / Epochtimes)

Tidak Ada ‘Penumpang Gratis’ Kebebasan

Hong Kong adalah bekas koloni Inggris. Kota itu dikembalikan ke kedaulatan Tiongkok pada tahun 1997. Sebagian besar demonstran yang muda tidak tahu seperti apa kehidupan sebelum pemerintahan komunis Tiongkok. Dikarenakan, mereka lahir setelah penyerahan, atau masih sangat belia sebelum penyerahan itu terjadi.

Akan tetapi, ada kekhawatiran mendalam terhadap kota mereka yang bakal tak dapat dibedakan dengan daratan Tiongkok. Yang mana, rezim Komunis otoriter tidak mengizinkan sama sekali berlakunya hak dasar manusia yakni kebebasan.

Mahasiswa yang berumur 24 tahun, Ah Ming kepada Epochtimes Hong Kong mengatakan, dari 4 Juni 1989, dan seterusnya, selain dari penumpasan Tiananmen, Komunis Tiongkok telah menggunakan langkah-langkah ekonomi untuk menenangkan orang-orang. Dikarenakan, jika suatu daerah menjadi berkembang secara ekonomi, maka warganya akan melupakan kebebasan dan berhenti berfokus kepada pemerintah.

Pemuda ini khawatir tentang masa depan Hong Kong tanpa kebebasan berekspresi. Ia mencontohkan, jika dirinya mengatakan sesuatu yang dianggap salah, maka mungkin dirinya tidak bisa pergi berlibur atau naik kereta. Apa yang disampaikannya, merujuk pada taktik rutin pemerintahan komunis Tiongkok ketika membalas dendam terhadap para pembangkang.

Pemuda ini menegaskan, mereka  tidak ingin Hong Kong menjadi tempat tanpa kebebasan dan hak asasi manusia.  Ah Ming mengungkapkan kekecewaannya, tentang bagaimana pemerintah Hong Kong gagal menanggapi tuntutan para pemrotes, termasuk mencabut sepenuhnya RUU Ekstradisi.

Pemerintah juga dinilai gagal menggelar penyelidikan independen tentang penggunaan kekuatan kepolisian berlebihan terhadap para pemrotes. Mereka menyebut pemerintah Hong Kong sebagai “penguasa boneka” Beijing.

Bagaimana penilaian mereka terhadap pemerintah? Para penguasa dinilai hanya berusaha menghindari kenyataan, mencoba untuk menakuti para pembangkang  agar tidak keluar dari rumah mereka. Karena itu, seluruh warga Hon Kong didesak untuk mengambil tindakan melindungi hak-hak dasar kota itu.

Ah Ming menjelaskan, semua kebebasan yang dimiliki, lalu ketika Anda menikmatinya, apakah Anda pernah berpikir tentang dari mana kebebasan itu berasal? Lalu, Jika Anda tidak mau melindungi apa yang Anda miliki, jangan katakan Anda sebagai seorang warga Hongkong, Anda hanya sebagai seorang penumpang gratis dari kebebasan.”

Marabahaya

Terluka adalah hal biasa bagi pengunjuk rasa ketika mereka berhadapan dengan polisi. Insiden terakhir ketika aparat mulai membersihkan jalan-jalan dengan menggunakan gas air mata, pentungan, peluru karet, melemparkan bean bags, dan berbagai teknik menghadapi kerumunan massa lainnya. Ah Lok kepada Epochtimes Hong Kong mengatakan, setiap napas yang Anda ambil,  merasakannya lebih buruk, tetapi Anda juga tidak bisa berhenti bernapas dan tidak memiliki oksigen. Hal demikian diungkapkannya, mengingat pengalamannya terkena gas air mata untuk pertama kalinya. Ia mengungkapkan, seperti orang yang  tidak bisa melihat mata mereka sendiri. 

Pemuda berusia 22 tahun itu mengatakan, ia bergabung dengan aksi protes 16 Juni lalu, ketika sekitar 2 juta warga Hongkong turun ke jalan.

Pejabat tinggi kota itu, Kepala Eksekutif Carrie Lam, telah menangguhkan RUU ekstradisi. Akan tetapi, menolak untuk menyerah menarik secara total RUU Ekstradisi ke Tiongkok itu.

Sementara itu, Ah Man, seorang enginering berusia 27 tahun menceritakan, setelah ia terkena gas air mata, dirinya menderita diare selama seminggu penuh, seolah-olah terkena virus. Ia menambahkan, laporan media setempat mengatakan, polisi telah menembakkan tabung gas air mata yang sudah kedaluwarsa kepada mereka.

Ah Man percaya bahwa penggunaan kekuatan polisi – seperti menembakkan gas air mata pada pengunjuk rasa dari jarak dekat dan di dalam stasiun kereta bawah tanah – telah mendorong para pemrotes untuk meningkatkan perlawanan sipil mereka.

Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia, menyebut bahwa polisi Hong Kong telah mengerahkan peralatan pengendalian massa “dengan cara yang dilarang oleh norma dan standar internasional.”

Sedangkan, Ah Yan, yang berusia 16 tahun, dengan jelas mengenang sebuah insiden selama bentrokan dengan polisi pada 11 Agustus lalu. Ketika itu, ia berada di tengah kekisruhan. Ia menyaksikan seorang  pengunjuk rasa remaja tersungkur di depannya. Ketika dirinya melihat wajah remaja itu, dipenuhi dengan darah, yang mana membuatnya merasa tak berdaya.

Ah Yan soal pengerahan aparat polisi mengatakan  : “Seolah-olah gas air mata itu hanya semacam pestisida yang dapat Anda temukan di mana saja di jalan.”

Ketika ia,  kembali ke kerumunan massa, ia merasa beruntung dan seolah-olah baru saja memenangkan lotre.

Tak Pernah Menyerah

Meskipun tubuh lelah dan meningkatnya ancaman bahaya, para demonstran muda bersikukuh tetap bertarung hingga akhir.

Ah Yan mengatakan, dirinya  berbohong jika mengaku tidak takut. Akan tetapi jika dijadikan sebagai alasan, maka mereka akan menyerahkan Hong Kong. Para pemuda turut bergabung dalam aksi protes itu dikarenaakn atas dasar panggilan hati nurani. Soal bahaya fisik, memudar jika dibandingkan dengan perasaan dijelekkan oleh otoritas Hong Kong.

FOTO itu menunjukkan aksi pada tanggal 26 Juli 2019, lebih dari 2.500 staf industri penerbangan Hong Kong dan anggota Dewan Legislatif Partai Warga Negara Tan Wenhao berkumpul di lobi penjemputan Bandara Internasional Hong Kong (Song Bilong / Epoch Times)

Ia menegaskan, Tak masalah jika dipukuli atau dihancurkan dengan gas air mata. Tindakan  itu tidak akan terlalu mengganggu, karena mereka sudah siap untuk hal itu.

Sebaliknya, hal yang paling menyakitkan bagi remaja berusia 16 tahun itu adalah ketika polisi “menuduh mereka sebagai ‘perusuh’ dan ‘kecoak.’” Pemuda ini menceritakan, ketika air matanya mengalir di wajahnya, polisi berpikir bahwa mereka mengganggu masyarakat. Polisi tidak menyadari bahwa mereka mempertahankan kebebasan warga Hong Kong.

Ah Yeen yang berusia 18 tahun, mengatakan, pelabelan terhadap pemrotes oleh pemerintah sebagai pelaku “kekerasan” dan “radikal” tidak berdasar sama sekali. Intervensi polisilah yang telah meningkatkan keadaan dalam banyak kasus. Ia mengungkit, ketika pada pawai sebelumnya, tak ada polisi dan pawai berlangsung dengan damai, sama halnya dengan duduk di bandara. 

Ketika pawai selanjutnya digelar, polisi kemudian mengirim pasukan anti huru hara. Saat itulah aksi berdarah terjadi. 

Ah Man, yang juga berpartisipasi dalam protes massa pro-demokrasi pada tahun 2014, mengatakan, ketidakadilanlah yang mendorongnya untuk kembali turun ke jalan. 

Selama demonstrasi di distrik utara Wong Tai Sin, Ah Man melihat seorang bocah lelaki berusia 13 tahun mengenakan masker medis menutupi setengah wajahnya. Remaja ini berdiri di depan garis depan aksi protes tidak jauh dari polisi anti huru hara.

Ah Man lalu melepas topeng gasnya dan memberikannya kepada bocah itu. Ia lalu menyuruh bocah itu menjauh dari garis depan. Dia mengatakan, para pengunjuk rasa semuanya mencoba melakukan yang terbaik.

Pemuda ini menyimpulkan : “Kami tidak bisa mundur. Jika kami tidak melakukannya, tidak ada yang mau. Jika kita tidak melakukannya, di masa depan, kita tidak akan bisa, Kita harus melakukan apa yang kita bisa lakukan untuk bertahan.” (asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular