- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Komunis Tiongkok Memulai Perang Mata Uang – Lalu Apa Selanjutnya?

James Gorrie

Apakah perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok baru saja  menjadi perang mata uang? Jelas terlihat seperti itu.  Untuk pertama kalinya sejak Resesi Hebat Tahun 2008, nilai yuan turun di bawah rasio 7 : 1 terhadap dolar AS.  Kebijakan devaluasi yang diamanatkan ini, merupakan respons yang sangat signifikan oleh Komunis Tiongkok. Tentunya, disertai dengan berbagai implikasi yang mungkin terjadi.

Manipulator Mata Uang

Langkah ini telah mendorong pemerintahan Trump secara resmi melabeli Komunis Tiongkok sebagai manipulator mata uang, yang mana menyebabkan kerugian besar di pasar saham. Kejadian itu sangat mungkin tidak dibenarkan, dikarenakan Komunis Tiongkok sebenarnya telah memanipulasi nilai Yuan selama bertahun-tahun. Hanya saja, dengan cara yang berlawanan.  James Gorrie  menilai, Yuan Tiongkok tidak diperdagangkan di pasar seperti mata uang lainnya. 

Sebaliknya, nilainya telah dikontrol secara hati-hati — yaitu dimanipulasi — oleh People’s Bank of China -PBOC- untuk diperdagangkan dalam pita sempit 2 persen ke atas atau ke bawah pada fixture resminya.

Paradoksnya, sanksi tarif cenderung melemahkan nilai mata uang, karena mereka melemahkan ekonomi di belakang mata uang. 

Dan, perlu dicatat bahwa hanya ketika People’s Bank of China menghentikan dukungannya terhadap yuan, dan membiarkannya “mengambang” di pasar,  nilainya terhadap dolar anjlok. Pasar memaksakan devaluasi ini, bukan dari bank sentral.

Komunis Tiongkok telah mengakui sebanyak mungkin dalam pernyataan terlampir mereka untuk devaluasi. Mereka mengatakan bahwa PBOC “telah mengumpulkan pengalaman yang kaya dan alat kebijakan. 

Selanjutnya, akan terus berinovasi dan memperkaya alat kontrol. Selain itu, mengambil tindakan yang diperlukan dan ditargetkan, terhadap perilaku umpan balik positif yang mungkin terjadi di pasar valuta asing. 

Devaluasi yang Diharapkan

Meskipun demikian, keputusan devaluasi Tiongkok  sebagai tanggapan atas keputusan Presiden Trump untuk menjatuhkan sanksi tarif, terhadap sisa barang berharga konsumen senilai $ 300 miliar yang telah dikeluarkan dari putaran tarif sebelumnya. 

Itu berarti, bahwa segala sesuatu yang diekspor Tiongkok ke Amerika Serikat, akan dikenai pajak. Akhirnya, membuat barang-barang Tiongkok kurang kompetitif. Dampaknya, menambah penderitaan bagi ekonomi Tiongkok yang sudah berkontraksi.

Membiarkan mata uang mereka terdevaluasi dengan kekuatan pasar adalah reaksi yang diharapkan. 

Ketika mata uang yuan yang lebih murah dibandingkan dengan dolar AS, membantu Komunis Tiongkok mengimbangi biaya tarif Trump yang lebih tinggi. Langkah mereka dengan menurunkan biaya barang-barang Tiongkok.

Akan Tetapi, keputusan Komunis Tiongkok untuk mendevaluasi mata uang, dapat memiliki dampak yang luas terhadap hubungan yang sudah tegang dengan Amerika Serikat. 

Langkah devaluasi memberikan kesan bahwa kepemimpinan Komunis Tiongkok telah meninggalkan gagasan, mencoba menderegulasi perang dagang dengan Presiden Trump. 

Sebaliknya, tampaknya mereka mencerminkan pendekatan garis keras Trump untuk negosiasi. Langkah Komunis tiongkok bukan pertanda baik bagi hubungan ekonomi AS-Tiongkok selama dua tahun ke depan. 

Biaya Politik dan Ekonomi untuk Xi dan Trump

Akan tetapi, masuk akal jika dikalkulasikan dengan angka.  Dalam hal politik, Trump sekarang dalam posisi yang lebih sulit daripada Xi.  Dikarenakan Trump menghadapi pemilu pada tahun 2020, sedangkan rezim Komunis Tiongkok tidak mengizinkan pemiu. 

Reaksi langsung dan negatif pasar saham terhadap devaluasi mata uang Yuan, membuat argumen Trump untuk pemilu kembali pada minggu ini lebih sulit daripada pekan lalu, apalagi tahun lalu.

Terlebih lagi, jika putaran tarif terbaru untuk barang-barang konsumen diterapkan. Konsumen Amerika mungkin merasakannya di dompet mereka, ketika harga di luar kantong naik. 

Sedangkan penolakan Komunis tiongkok untuk melakukan pembelian produk pertanian Amerika yang sudah disepakati, dimaksudkan untuk memukul produsen AS. Semua perkembangan ini mungkin dapat merusak upaya pemilihan Trump pada tahun 2020. Mungkin itulah inti hitungannya. 

Menunggu untuk melihat apakah Trump diganti pada tahun 2020, mungkin merupakan faktor besar dalam keputusan devaluasi kepemimpinan Komunis Tiongkok. Jika karena itu, Komunis Tiongkok mungkin berakhir dengan kekecewaan.

Mata uang yang terdevaluasi merusak orang-orang Tiongkok dan menyebabkan pelarian modal serta mengganggu pasar. Pada akhirnya, juga merusak ekonomi Tiongkok. Ketika Rezim Tiongkok sudah harus menyelamatkan tiga bank kecil tahun ini, kejadian itu bukan sebuah kebetulan.

The Fed Akan Bereaksi Terhadap Perang Perdagangan

Menanggapi devaluasi yuan, The Fed telah mengindikasikan akan memangkas suku bunga lebih lanjut jika kondisi ekonomi menuntutnya. Sedangkan, subsidi pertanian adalah kemungkinan yang berbeda, karena mereka telah digunakan untuk mengimbangi kerugian petani Amerika sebelumnya atas pasar kedelai Tiongkok. 

Dengan kata lain, dampak tembakan pertama Komunis Tiongkok dalam perang mata uang mungkin tidak seefektif yang mereka inginkan. Tetapi siklus retribusi dan respons, tidak akan berhenti di situ. Komunis Tiongkok melanggar komitmennya kepada G20 untuk tidak terlibat dalam “devaluasi kompetitif.” 

Langkah itu persis seperti apa yang mereka lakukan, dan tidak sepintar yang mereka pikirkan. Ketika nilai yuan menjadi murah, tidak hanya merugikan produsen Amerika, tetapi juga mitra dagang utama Tiongkok lainnya, seperti Zona Euro dan Jepang.

Tarif Taktis dan Strategis

Secara strategi, sanksi tarif barang-barang Tiongkok adalah untuk membuat Komunis Tiongkok mengubah perilaku perdagangan yang bermusuhan. Proyek OBOR, perangkap utang OBOR, spyware Huawei-nya yang tersebar luas, praktik mengakar pencurian teknologi dan IP, dan praktik-praktik lainnya yang memberikan rejim perdagangan Komunis Tiongkok yang tidak adil. Inilah semua keuntungan perdagangan tak adil, yang mana ingin dihentikan oleh Presiden Trump. 

Lebih jauh lagi, Komunis Tiongkok harus memenuhi janjinya untuk membuka pasarnya bagi perusahaan-perusahaan Barat. Akan tetapi, masih  diragukan bahwa Komunis Tiongkok  memiliki rencana untuk mengubah perilakunya secara fundamental. Dikarenakan, tindakannya itu telah menyebabkan munculnya kekuatan rezimnya. 

Keputusan Komunis Tiongkok untuk mendevaluasi mata uang, dirancang untuk membalikkan pemikiran pemerintahan Trump tentang tarif terhadap barang-barang Tiongkok. Bahkan, keputusan Tiongkok untuk memoderasi devaluasi, tidak berarti ia akan berubah. Karena itu, tidak dapat melakukannya tanpa melemahkan cengkraman kekuasaan Komunis Tiongkok. 

Bisa dipahami, Komunis Tiongkok  ingin kembali ke status quo. Ini tidak akan terjadi. Dari sudut pandang struktural, sanksi tarif lebih merugikan Tiongkok daripada merugikan Amerika Serikat, setidaknya dalam jangka pendek. 

Tetapi dari sudut pandang strategis, jika tidak  perang dagang dirancang untuk menginisiasi mempercepat kehancuran ekonomi komando Komunis Tiongkok dan pemerintahan Komunis Tiongkok. Untuk kedua alasan ini, kemungkinan besar perang dagang akan semakin sengit. (asr)

James Gorrie adalah Penulis buku “The China Crisis”