Xiao Lisheng – Epochtimes Hong Kong

Aksi unjuk rasa di Hong Kong belum mereda. Dalam perkembangannya, terkait aksi banyak baranyak barang terlarang dan sensitif terungkap. Masker gas, helm, dan payung menjadi barang mutlak yang dibutuhkan warga Hong Kong dalam aksi perjuangan menentang Rancangan Undang Undang – RUU ekstradisi. 

Beberapa media Amerika mengungkapkan bahwa barang-barang itu telah menjadi “barang terlarang” dan “produk sensitif” di Hong Kong. Pencarian barang-barang terkait di Taobao Hong Kong juga tak ditemukan, bahkan telah dimasukkan ke dalam daftar kontrol barang impor.

Sehubungan dengan itu, masyarakat Taiwan menyumbangkan helm dan masker gas untuk orang-orang Hong Kong. Berikut berita selengkapnya.

Sejak Juni 2019, perjuangan warga Hong Kong yang menentang RUU ekstradisi selalu dibubarkan dengan cara kekerasan oleh polisi Hong Kong. Aksi kekerasan polisi itu, misalnya, polisi menembakkan lebih dari 1.800 gas air mata, 170 granat spons, 300 peluru karet, dan bahkan mengerahkan water canon. 

Menghadapi tindakan itu, massa demonstran mau tidak mau harus memakai masker gas, helm dan alat pelindung lainnya, termasuk payung. Sementara itu, ada juga demonstran yang menyerang balik dengan menggunakan pena laser menyilaukan pandangan polisi.

Beberapa hari yang lalu, Bloomberg melaporkan bahwa ketika warga Hong Kong mencari barang-barang di Taobao dan platform e-commerce Tiongkok lainnya menggunakan kata kunci “payung, masker, helm”,  mereka tidak dapat menemukan produk terkait. Namun, barang-barang itu dapat ditemukan di daratan Tiongkok dengan kata kunci yang sama.

Pencarian di situs web Jingdong menunjukkan bahwa “helm” dan “Laser Pen” kehabisan stok di Hong Kong dan Makau.

Perusahaan logistik Hong Kong, Daily Buy, mengatakan di situs web resmi bahwa Bea Cukai telah meningkatkan kontrol impor dan ekspor. Barang-barang seperti handuk, payung, tongkat cahaya, senter, helm dan sebagainya telah dimasukkan ke dalam daftar “barang sensitif” oleh bea cukai. 

Dikatakan juga bahwa daftar “barang sensitif” yang ditentukan oleh Bea Cukai akan terus berubah, tetapi tidak menyebutkan secara spesifik apakah Bea Cukai itu merujuk pada Bea Cukai Tiongkok atau Hong Kong.

Bukan hanya itu,  operator logistik Hong Kong mengatakan, T-shirt hitam, bendera spanduk, laser pointer, masker dan sebagainya dikategorikan sebagai “barang sensitif” dan akan disita ketika melewati bea cukai. Namun, seorang perwakilan dari Departemen Bea Cukai mengatakan bahwa mereka belum menerima perintah kontrol terkait barang sensitif itu. 

Reporter the “Epoch Times” mencari tahu di situs web Daily Buy, dan menemukan bahwa “payung, tongkat cahaya, senter, helm” dan kata kunci lain tidak lagi ada dalam daftar barang terlarang di perusahaan logistic itu.

Namun  barang-barang itu mendapat “kontrol impor Bea Cukai Hong Kong dan “Barang yang dilarang pabean” Makau yang tidak  mematuhi Hukum Hong Kong dan peraturan administrasi lainnya, serta peraturan departemen dan pengganti produk yang tunduk pada standar wajib nasional.

Reporter the “Epoch Times” juga menemukan bahwa perusahaan logistik lain di Hong Kong, Taopai masih menyimpan pengumuman itu.

Pemberitahuan yang diumumkan perusahaan logistik tersebut pada 4 Agustus 2019  silam berbunyi: “Karena dampak dari situasi di Hong Kong, Bea Cukai dan pemerintah Hong Kong mengatur barang impor, seperti helm kuning, payung kuning, bendera, tiang bendera, spanduk propaganda, sarung tangan, masker, pipa baja, tongkat kayu, dan pakaian, pisau dan sebagainya.”

Melansir laman The Washington Post, edisi Kamis 15 Agustus 2019 lalu, bahwa masker gas, helm, dan payung telah menjadi “barang terlarang” di Hong Kong. Polisi bukan hanya tidak mengizinkan pedagang menjual barang-barang itu, namun pemasok barang juga sangat dibatasi.

Seorang pedagang mengatakan bahwa dua minggu yang lalu, 20 petugas polisi mengunjungi tokonya di Kowloon dan memperingatkannya. “Anda seharusnya tahu apa yang sebaiknya Anda lakukan pada saat yang sensitif ini, hati-hati saja kau,” kata pedagang meniru ucapan polisi. 

Pedagang itu mengatakan bahwa pemberitahuan polisi itu sangat jelas, yaitu, meminta mereka berhenti berdagang dengan para pengunjuk rasa. Ketika reporter bertanya tentang masalah itu, polisi menolak menanggapinya.

Selain itu, banyak toko mengatakan bahwa masker gas kehabisan stok di pasar, dan bahkan pedagang besar perusahaan 3M di Hong Kong hanya dapat menyuplai sejumlah kecil barang.

Terkait hal itu, Profesor Adam Ni dari Universitas Macquarie Sydney, Australia mengatakan bahwa membatasi ekspor peralatan untuk pengunjuk rasa adalah strategi komunis Tiongkok dari berbagai segi, dengan tujuan memberikan tekanan pada orang-orang Hong Kong.

Media Hong Kong melaporkan bahwa tabung respirator (6006, 60926), kapas filter (5N11, 5P71, 2097) dan penutup saringan (501, 502, dan lain-lain) sebelumnya sangat sedikit jumlah penjualannya di Taiwan. Namun saat momen aksi unjuk rasa jumlah penjualan melonjak drastis. Bahkan kehabisan stok. Ada pedagang yang berhasil menjual jumlah penjualan satu tahun dalam sebulan.

Sebagai wujud dukungan pada Hong Kong, anak-anak muda di Taiwan mendirikan pos bantuan materi dengan mengumpulkan helm dan masker gas bagi warga Hong Kong untuk menghadapi kekerasan polisi Hong Kong. Hanya dalam waktu singkat, lebih dari 1.000 masker gas dan 700 helm telah berhasil dikumpulkan.

Aksi menentang RUU ekstradisi di Hong Kong juga mendapat perhatian internasional. Misalnya pada Minggu 18 Agustus lalu, ketika Hong Kong mengadakan pertemuan yang dihadiri 1,7 juta massa Hong Kong di Taman Victoria, warga dari setidaknya 33 kota besar di seluruh dunia meluncurkan kegiatan solidaritas. Kegiatan itu menyatakan kepada komunitas internasional dukungan mereka kepada segenap rakyat Hong Kong.   (jon)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular