Eva Pu – The Epochtimes

Penduduk setempat Hong Kong menyuarakan keprihatinannya setelah sebuah waralaba lokal, rantai toko yang populer 7-Eleven memutuskan untuk menarik The Epoch Times edisi Hong Kong dari toko-tokonya di Hong Kong sejak tanggal 16 Agustus 2019. 7-Eleven melisensikan waralaba di seluruh dunia melalui kemitraan dengan merek setempat. Waralaba 7-Eleven di Hong Kong tidak memiliki hubungan dengan perusahaan 7-Eleven yang bermarkas di Amerika Serikat.

Surat kabar The Epoch Times berbahasa Mandarin pertama kali didirikan pada tahun 2000 oleh sekelompok orang Tiongkok-Amerika yang ingin menyediakan sumber berita independen yang bebas dari pengaruh rezim Komunis Tiongkok. Pada tahun 2002, The Epoch Times biro Hong Kong didirikan. Selama bertahun-tahun, The Epoch Times telah menerbitkan surat kabar harian, yang didistribusikan secara gratis.

Pada April, The Epoch Times edisi Hong Kong beralih menjadi surat kabar harian yang dijual dan The Epoch Times mulai menjual surat kabar hariannya di toko 7-Eleven dan kios-kios koran di seluruh Hong Kong. The Epoch Times edisi Hong Kong menandatangani kontrak delapan bulan yang dapat diperbarui dengan perusahaan induk 7-Eleven, Dairy Farm Company Ltd. Pada bulan April, menjadikan 500 rantai toko 7-Eleven sebagai saluran distribusi utama The Epoch Times.

Tetapi pada 15 Juli, The Epoch Times menerima surat resmi dari 7-Eleven yang memberitahukan publikasi bahwa surat kabar harian The Epoch Times akan sepenuhnya disingkirkan dari rak 7-Eleven pada bulan Agustus, tanpa menyertakan penjelasan. Permintaan lebih lanjut untuk bertemu dengan manajemen tidak mendapat tanggapan.

Cheryl Ng, juru bicara The Epoch Times biro Hong Kong, mengatakan bahwa keputusan itu adalah tidak masuk akal dan akan merampas hak pembaca setempat atas informasi yang benar.
“Jenis perilaku ini adalah sangat tidak biasa di dunia bisnis, terutama mengingat penjualan yang telah jauh di atas target minimum,” kata Cheryl Ng pada konferensi pers di Hong Kong pada tanggal 15 Agustus.

Tantangan

Cheryl Ng mengatakan bahwa sejak menandatangani  kontrak, The Epoch Times edisi Hong Kong menghadapi serangkaian persyaratan ketat dari Dairy Farm, yang memiliki rantai toko tersebut.
Dua bulan setelah surat kabar The Epoch Times muncul di rak-rak toko 7-Eleven, Dairy Farm tiba-tiba mengurangi jumlah gerai distribusi menjadi 150, dengan alasan volume penjualan yang rendah. Choo Peng Chee, CEO Dairy Farm Wilayah Asia Utara, menggambarkan hal tersebut sebagai keputusan bisnis, dalam pertukaran email dengan The Epoch Times biro Hong Kong pada tanggal 12 Juni.

Bertentangan dengan penjelasan Dairy Farm, Cheryl Ng mengatakan, penjualan surat kabar The Epoch Times jauh melebihi target. Ia menambahkan bahwa tindakan Dairy Farm adalah tidak konsisten, karena perusahaan tersebut menarik surat kabar The Epoch Times dari toko-tokonya yang ada di dalam atau di dekat stasiun kereta bawah tanah, di mana surat kabar The Epoch Times telah menunjukkan penjualan tertinggi.

Menurut Cheryl Ng, Dairy Farm juga melarang The Epoch Times edisi Hong Kong untuk secara jelas menampilkan nama atau logo 7-Eleven untuk mempublikasikan ketersediaannya, baik dalam bentuk cetak atau di situs webnya, sehingga sangat menghambat kemampuan publikasi untuk menjangkau pembaca. Dalam materi promosi, surat kabar The Epoch Times hanya diizinkan menggunakan frasa yang tidak jelas seperti “tersedia di toko swalayan,” tambah Cheryl Ng. Hal ini menimbulkan tantangan bagi pembaca lama dan baru untuk menemukan surat kabar The Epoch Times.

Untuk memberitahu saluran distribusi barunya kepada pembaca, staf The Epoch Times biro Hong Kong terpaksa berdiri di dekat toko 7-Eleven untuk mempromosikan surat kabar tersebut.
“Karena keterbatasan ini…[dan] fakta bahwa kami tidak lagi mendistribusikan surat kabar kami secara bebas di jalan, The Epoch Times benar-benar menghilang,” kata Cheryl Ng. Baik Dairy Farm maupun perusahaan induknya yang berbasis di Inggris, Jardine Matheson, tidak merespon ketika dimintai  komentar.

Kebebasan Pers Terancam

Para kritikus dan pembaca setia Hong Kong telah menyatakan kecewaannya atas pemutusan kontrak tersebut dan menyatakan bahwa tindakan tersebut berbau politik. Reporters Without Borders telah meminta 7-Eleven Hong Kong untuk “mempertimbangkan kembali keputusannya dan tidak menyerah pada tekanan apa pun yang mungkin telah mereka terima atau akan mereka terima di masa depan.”

“Kami tidak dapat melihat alasan apa pun kecuali tekanan dari otoritas Tiongkok untuk penarikan surat kabar The Epoch Times,” kata Cédric Alviani, Direktur Reporters Without Borders Biro Asia Timur, kepada The Epoch Times. Ia mengatakan penghentian distribusi di banyak toko 7-Eleven adalah kehilangan “elemen positif untuk pluralitas media.”

Kekhawatiran erosi kebebasan berekspresi dan kebebasan sipil di Hong Kong telah meningkat sejak diserahkannya Hong Kong oleh Inggris ke kedaulatan Tiongkok pada tahun 1997. Dalam beberapa bulan terakhir, warga Hongkong turun ke jalan setiap minggu sejak bulan Juni, dengan alasan kekhawatiran bahwa RUU ekstradisi yang kontroversial akan menjadi penghambat terakhir perambahan Beijing terhadap otonomi Hong Kong.

Cheryl Ng mengatakan bahwa The Epoch Times edisi Hong Kong telah berusaha untuk memberikan gambaran yang akurat mengenai aksi unjuk rasa dari garis depan. Aktivis setempat dan mantan anggota parlemen Leung Kwok-hung mengeluh bahwa penolakan 7-Eleven untuk menjual surat kabar The Epoch Times akan mengakibatkan warga Hongkong tanpa sumber berita independen mengenai aksi unjuk rasa.

The Epoch Times edisi Hong Kong telah “memungkinkan orang untuk melihat lebih banyak informasi dan wawasan…[dan] selama 10 tahun terakhir menargetkan Partai Komunis Tiongkok dan penindasan yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok terhadap berbagai kelompok,” kata Leung Kwok-hung pada konferensi pers. Ia menambahkan bahwa ia sendiri adalah pembaca setia surat kabar The Epoch Times. Leung Kwok-hung menyebut penjelasan Dairy Farm karena keputusan yang “tidak logis” dan “murni unsur politik,” mencatat bahwa penjualan beberapa surat kabar setempat yang pro-Beijing, seperti Ta Kung Pao dan Wen Wei Po, dijual di toko-toko 7-Eleven tanpa masalah. “Kenapa 7-Eleven tidak mengganggu penjualan surat kabar tersebut?”

Pakar Tiongkok dan mantan editor majalah, Cai Yongmei yang bermarkas di Hong Kong mengatakan bahwa pembatalan 7-Eleven untuk menjual surat kabar The Epoch Times mencerminkan cengkeraman rezim Tiongkok yang semakin ketat terhadap Hong Kong. “Rezim Tiongkok ingin menekan aksi unjuk rasa warga Hongkong…Jika anda membuat perjanjian bisnis dengan perusahaan Tiongkok, rezim Tiongkok akan menekan anda dari aspek ini,” kata Cai Yongmei kepada The Epoch Times. Ia mencatat bahwa Cathay Pacific, maskapai penerbangan utama Hong Kong, baru-baru ini memecat beberapa anggota stafnya yang berpartisipasi dalam aksi unjuk rasa baru-baru ini, di tengah tekanan dari Beijing.

Leung Kwok-hung menambahkan: “Hong Kong sedang mengalami masa sulit. The Epoch Times edisi Hong Kong adalah cerminan dari itu. Jika The Epoch Times dapat diperlakukan seperti ini, maka media lain dapat menderita lebih banyak tekanan.”

Cheryl Ng meminta pemilik bisnis setempat dan perorangan untuk menjadi bagian jaringan distribusi surat kabar The Epoch Times dan memajukan peredarannya. Ia menambahkan bahwa publikasi “[menolak] untuk dibungkam pada saat kritis ini” dan akan terus melayani masyarakat sebagai “bukti sejarah” tanpa peduli biaya. “Kebebasan adalah tidak gratis,” kata Cheryl Ng. (Vv/asr)

Share

Video Popular