oleh Marc Ruskin

Semestinya sudah tak mengherankan lagi, bagi pembaca media arus utama dan sumber berita lainnya, bahwa The Epoch Times telah masuk radar target oleh media NBC dan MSNBC di Amerika Serikat.

Seperti halnya soal amarah mereka, mereka menembakkan sejumlah distorsi dan pembunuhan karakter. Tujuannya untuk meluncurkan kampanye demi mendelegitimasi ancaman yang mereka rasakan.

The Epoch Times adalah outlet berita yang bersaing dan berupaya melaporkan berdasarkan fakta yang obyektif – kebenaran – terlepas dari apakah fakta-fakta itu membongkar kenyataan yang tak konsisten dengan pesan yang benar secara politis yang mana didukung oleh outlet berita legacy.

Hiruk pikuk serangan NBC adalah indikasi keberhasilan yang dicapai oleh The Epoch Times. 

Seandainya surat kabar itu tidak mengakumulasi jumlah pembaca dan kredibilitas pada kecepatan yang mencengangkan, salah satu cabang utama media tradisional tidak akan memulai upaya yang tidak diatur sedemikian rupa untuk melemahkan kredibilitas outlet media yang meroket tajam — sebuah serangan yang dimulai untuk mengacaukan informasi. Maksudnya untuk menghalangi pembaca baru itu. Tak lain, untuk membalikkan momentum tumbuh pesatnya Epoch Times. 

BACA JUGA :  NBC News Mengulangi Serangan Propaganda Komunis Tiongkok dalam Mendiskreditkan The Epoch Times

Sementara itu, NBC telah berusaha untuk melukiskan The Epoch Times karena dasarnya sebagai geriatri – salah satu cabang ilmu kedokteran keadaan dan penyakit-penyakit manula – dan dengan demikian bukan milenium – pseudo-news organ, staf koran kebanyakan terdiri dari jurnalis dan editor muda yang berbagi antusiasme dan persahabatan muda, serta kesatuan tujuan yakni  melaporkan fakta dengan jujur dan menghidupkan kembali jurnalisme tradisional.

Ironisnya, NBC mengkritik The Epoch Times dari semua hal, mengambil posisi kritis sehubungan dengan pemerintahan Komunis Tiongkok. 

Rupanya,  memuntir dengan ideologis yang aneh, sekarang mengkritik rezim komunis Tiongkok  menjadi negatif, sebagai dasar untuk mengutuk jurnalisme The Epoch Times.

Perlu dicatat bahwa ketika The Washington Times didirikan, ia juga diserang oleh media arus utama, dan diejek dan dituduh sebagai organ Sun Yung Moon dan “Moonies.” 

Namun, staf editorial dan jurnalisnya memiliki editorial yang sepenuhnya independen, seperti halnya The Epoch Times.

Reaksi spontan Facebook terhadap karya-karya NBC — membatasi akses ke iklan untuk pelanggan yang diizinkan berkompetisi di surat kabar — merupakan gejala upaya korporasi dan media sosial untuk menghindari batasan the First Amendment,  tentang penindasan ucapan dan pendapat yang tidak menyenangkan. 

Untuk diketahui, First Amandemen sebuah undang-undang Kongres tahun 1788 yang menghasilkan sejumlah amandemen atas Konstitusi Amerika. 

BACA JUGA :  Jurnalis NBC Memutarbalikkan Fakta, Memfitnah Falun Gong Demi Memperkuat Serangan Terhadap Media Rivalnya

First Amanademen berisi, Kongres AS tidak akan membuat hukum yang mengatur negara untuk mensponsori agama, atau yang melarang penyelenggaraan kebebasan beragama; atau membatasi kebebasan berbicara, atau kebebasan pers; atau hak-hak rakyat untuk berkumpul secara damai, dan mengajukan petisi kepada Pemerintah agar menanggapi keluhan.

Karena First Amendment hanya berlaku untuk tindakan pemerintah, entitas swasta yang condong ke kiri bebas untuk turun tangan dan berusaha untuk menekan ekspresi yang mana terlarang bagi pemerintah oleh Deklarasi Hak-Hak atau Bill of Rights di AS.  

Tujuannya awalnya Deklarasi Hak-Hak, untuk menetapkan batasan atas hal-hal yang dapat dan tidak dapat dilakukan pemerintah demi menghormati kebebasan pribadi.

 The Epoch Times sebenarnya bukan pro-Trump, tapi sebagai pro-kebenaran, dan karenanya mengancam mereka yang ada di media arus utama. (asr)

Marc Ruskin  menghabiskan waktu selama 27 tahun sebagai Agen Khusus FBI. Dia adalah kontributor tetap dan penulis “The Pretender: My Life Undercover for FBI.” Dia mengabdi sebagai staf legislatif Senator AS Daniel Patrick Moynihan dan sebagai asisten distrik kejaksaan di Brooklyn, NY

Share

Video Popular