oleh Xu Jian

Perwira militer senior Amerika Serikat mengatakan bahwa Amerika  sedang bekerja sama dengan Australia untuk memproduksi tanah jarang dalam rangka mengurangi ketergantungan pada tanah jarang Tiongkok. Tanah jarang atau “Rare earth” adalah mineral langka yang digunakan dalam pembuatan berbagai produk teknologi tinggi, dari ponsel hingga senjata canggih.

Ellen Lord, Wakil Menteri Pertahanan Amerika Serikat yang bertanggung jawab terhadap pembelian dan pemeliharaan pada hari Senin 26 Agustus 2019 lalu mengatakan kepada wartawan bahwa saluran yang paling menjanjikan yang dimiliki Pentagon adalah bekerja sama dalam membangun fasilitas pengolahan tanah jarang untuk memenuhi kebutuhan Pentagon dan negara sekutu internasional lainnya.

Seiring dengan berkembangnya perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok, komunis Tiongkok  mengisyaratkan bahwa mereka akan memanfaatkan tanah jarang sebagai materi untuk strategis dalam perang perdagangan. Lord mengatakan bahwa Amerika Serikat khawatir dengan masih lemahnya rantai industri tanah jarang, terutama ketika lawan mampu mengendalikan rantai pasokan tanah jarang.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pada 22 Juli 2019 lalu dalam sebuah memorandum kepada Pentagon menyebutkan, Amerika Serikat perlu secepatnya menemukan cara yang lebih baik untuk mendapatkan magnet tanah jarang. Hal itu demi  memenuhi penggunaan militer, dan persediaan tanah jarang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pertahanan nasional.

Menurut Survei Geologi Amerika Serikat, sekitar 80% dari kebutuhan mineral tanah jarang Amerika Serikat dipasok oleh Tiongkok. Pada tahun 2017, produksi tanah jarang Tiongkok menyumbang 81% dari pasokan tanah jarang global. Pentagon sedang mencoba untuk mematahkan posisi monopoli yang disandang komunis Tiongkok sekarang.

Tanah jarang adalah bagian penting dari pembuatan peralatan militer, termasuk pesawat tempur siluman F-35 dan kapal perusak ‘Aegis’, mesin militer, satelit, sistem pertahanan rudal, dan perangkat penglihatan malam. Semua itu membutuhkan mineral yang dinamakan rare earth element.

Ellen Lord mengatakan bahwa tantangan dari proyek itu terletak pada pemrosesan tanah langka dan fasilitas pendukungnya. “Tiongkok biasanya menambang tanah jarang di bagian lain dunia dan kemudian membawanya kembali ke daratan Tiongkok untuk diproses,” kata Ellen Lord.

Ellen mengatakan, Amerika Serikat sedang mempelajari berbagai fasilitas pemrosesan tanah langka. Selama kunjungannya ke Australia pada musim panas tahun ini, ia telah berdiskusi dengan Australia mengenai apakah perlu kedua negara bekerja sama membangun fasilitas produksi tanah langka untuk memenuhi kebutuhan militer.

Meskipun Ellen tidak merinci mengenai rencana kerja sama di bidang pengolahan tanah jarang, tetapi perusahaan Australia Lynas pada bulan Mei 2019 lalu  menyebutkan bahwa mereka berencana untuk membangun pabrik pengolahan tanah langka di Texas, Amerika Serikat dengan pabrikan lokal Blue Line. Lynas adalah perusahaan pemasok tanah jarang terbesar di luar Tiongkok. Sementara Blue Line adalah pemimpin Amerika Serikat dalam memproses produk tanah jarang. (sin)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular