- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Beijing-Shanghai-Guangzhou-Shenzhen Digabungkan Tetap Sulit Gantikan Hong Kong

Chen Simin

Setelah Komunis Tiongkok terlebih dahulu melakukan latihan militer di Shenzhen, Tiongkok untuk menggertak gerakan “anti ekstradisi” di Hongkong, baru-baru ini beredar lagi kabar akan mengembangkan sektor moneter di Shenzhen, untuk menggantikan Hongkong.

Informasi publik menunjukkan, pada 2018 silam, kapasitas penumpang di bandara internasional Hongkong mencapai 74,7 juta orang, memecahkan rekor tahunan tertinggi. Fasilitas bandara saat ini sangat memadai menghadapi peningkatan kapasitas di masa mendatang. Volume penumpang di Bandara Shenzhen pada 2018 mencapai 49,35 juta orang, sudah melampaui kapasitas maksimum. Tapi tahun ini landasan pacu ke-3 baru disetujui, dan belum dimulai pengerjaannya.

Komunis Tiongkok menjadikan Shenzhen Special Economic Zone sebagai prestasi pemerintahan, namun setelah 40 tahun pembangunan bandara masih jauh tertinggal di belakang Hongkong, walaupun dikatakan produk domestik bruto  – PDB telah melampaui Hongkong. PDB di Beijing-Shanghai-Guangzhou-Shenzhen telah melampaui Hongkong. PDB Shanghai telah melampaui Hongkong sudah sejak 10 tahun ini, namun, hingga saat ini, keempat kota lini pertama itu tidak ada satu pun yang mampu menggantikan posisi Hongkong sebagai pusat finansial dunia.

Jika hanya menggunakan satu hal untuk menjelaskan Hongkong sebagai pusat finansial internasional, maka itu adalah skala IPO di kota itu. Saham yang diterbitkan di Hongkong adalah nomor satu di dunia, bertahun-tahun terus bersaing dengan New York, Amerika Serikat. 

Banyak perusahaan yang ingin mengembangkan perusahaannya secara serius rela melakukan listing di Hongkong atau di Amerika. Daya tarik bursa efek Hongkong terhadap modal dari seluruh dunia jauh melampaui bursa Shanghai maupun bursa Shenzhen. 

Tak hanya perusahaan multinasional saja, bahkan perusahaan BUMN Tiongkok seperti PetroChina, TobaccoChina dan lain-lain beramai-ramai masuk ke bursa efek Hongkong. Beserta raksasa perusahaan dalam negeri Tiongkok seperti Tencent, Xiaomi, juga ikut bertandang ke Hongkong meluncurkan IPO-nya. Bahkan Alibaba Group juga berencana mengubah IPO yang awalnya direncanakan di Amerika Serikat untuk dipindahkan ke Hongkong, dan bukan di Shanghai Stock Exchange.

Walaupun dikabarkan akibat aksi unjuk rasa “anti ekstradisi” Alibaba telah menunda IPOnya di Hongkong, juga ada pandangan yang menilai aksi unjuk rasa itu sangat merusak perekonomian Hongkong. Namun menurut liputan media massa Taiwan, sebagian investor Tiongkok sepertinya justru “makin cinta pada bursa Hongkong saat semakin terpuruk. Antusiasme investor yang membeli lewat Shanghai Connect dan Shenzhen Connect sepertinya tidak menyusut. 

Data yang dirangkum oleh “Bloomberg” juga menunjukkan, investor Tiongkok telah meningkatkan kepemilikan saham Hongkong mereka selama 17 hari berturut-turut melalui Shanghai Connect. Itu berarti walaupun sistem propaganda Komunis Tiongkok berusaha keras mencemarkan aksi unjuk rasa di Hongkong, namun masih banyak pemodal dalam negeri mereka yang memberi dukungan diam-diam dengan merangkul Hongkong.

Selain berebut pamor dengan bursa efek Amerika, dan tidak bisa digantikan posisinya oleh Shanghai maupun Shenzhen, bahkan bursa valuta asing Hongkong pun tidak tergantikan oleh Shanghai maupun Shenzhen. 

Merujuk pada pandangan media keuangan dan ekonomi arus utama di Tiongkok, menyatakan walaupun di bidang layanan pembiayaan langsung Hongkong banyak yang telah direbut oleh Shanghai, hanya mengandalkan kumpulan aset RMB lepas pantai terbesar di seluruh dunia, Hongkong sudah mampu mengandalkan layanan manajemen aset itu untuk menghidupi kota. Lihat saja dari total nilai obligasi dimsum atau obligasi RMB di Hongkong, yang pada dasarnya adalah tren peningkatan yang melonjak. 

Di tahun 2007 obligasi dimsum hanya kurang dari USD 10 milyar, dan selama 14 tahun ini telah hampir mencapai USD 600 milyar. Bagi Tiongkok, di satu sisi   bisa memanfaatkan status Hongkong sebagai pusat finansial internasional, untuk mendorong reformasi finansial dan mata uang di Tiongkok. Di sisi lain terpisahnya posisi Hongkong dari daratan Tiongkok juga bisa berfungsi sebagai firewall. Tidak perlu khawatir begitu lepas kendali akan berdampak pada stabilitas finansial Tiongkok sendiri. 

Berpijak pada untung rugi di pihak Beijing, maka dipilihlah Hongkong sebagai pusat peredaran RMB lepas pantai. Di baliknya tentu ada keunggulan yang dimiliki Hongkong yang tak tergantikan oleh Shanghai maupun Shenzhen.

Propaganda penyambung lidah Komunis Tiongkok mendoktrin masyarakatnya, “Solidnya ekonomi di Hongkong adalah berkat pemberian Tiongkok”. Sebenarnya “pundi emas pertama” perekonomian Tiongkok berasal dari Hongkong. 

Media massa Tiongkok “Finance & Economics” memberitakan bahwa pada awal dikembalikannya Hongkong dari Inggris, pasar modal Tiongkok masih berada dalam tahap sangat belia. Pembiayaan perusahaan dalam negeri yang unggul, serta reformasi BUMN dan masalah operasional tingkat modal lainnya, membuat Hongkong pun menjadi jalur terbaik. 

Pada saat yang sama banyak perusahaan besar dari Tiongkok listing di bursa Hongkong, juga sangat memacu bursa terkait lainnya serta meningkatkan skala nilai pasarnya. Di samping itu, juga memberikan jalur yang memudahkan para investor dunia untuk berinvestasi di perusahaan Tiongkok.

Ada fakta membuktikan, jika Hongkong begitu mudahnya digantikan, maka sejak dulu sudah digantikan. Bidang finansial itu adalah transaksi kepercayaan, kepercayaan adalah pondasi finansial. 

Bagi instansi finansial dunia, nilai inti yang dapat diberikan oleh Hongkong adalah “kepercayaan.” Kepercayaan  yang mencakup kebebasan, keterbukaan media, hukum, internet dan lain-lain yang merupakan “prasyarat untuk menjadi pusat finansial internasional.” Hal itu justru merupakan faktor yang ditindas mati-matian oleh Komunis Tiongkok. 

Beijing-Shanghai-Guangzhou-Shenzhen hari ini tidak satu pun mampu menggantikan posisi Hongkong sebagai pusat finansial internasional, yang terefleksi justru adalah tidak percayanya finansial global terhadap rezim Komunis Tiongkok. (SUD/whs)