oleh Xu Zhenqi

Google sedang aktif mengalihkan produksi ponsel pintarnya Pixel dari daratan Tiongkok ke Vietnam. Tujuannya, untuk membangun rantai pasokan berbiaya rendah di negara itu.  Yang mana, diharapkan dapat mendukung rencana Google dalam mengembangkan perangkat keras yang belakangan terus berkembang.

Seperti ditulis oleh ‘Nikkei Asia Review’ pada 28 Agustus, menurut sumber terpercaya Google dengan mitra usahanya, pada musim panas tahun ini mulai mengubah pabrik bekas produksi ponsel Nokia yang terletak di provinsi Bac Ninh, Vietnam. Pabrik itu disulap  memproduksi telepon seluler Pixel. Sepuluh tahun silam, Samsung pernah mengembangkan rantai pasokan smartphone di provinsi tersebut, sehingga Google akan memiliki tim karyawan yang sudah berpengalaman.

Kantor Perwakilan Perdagangan AS dalam ‘Federal Register’ edisi hari Rabu menyebutkan, bahwa pihaknya akan menerapkan kenaikan tarif impor sebesar 15% terhadap komoditas Tiongkok senilai USD. 300 miliar pada 1 September. Sisanya, termasuk ponsel dan laptop akan dikenakan tarif 15% mulai 15 Desember. Awalnya tarif yang dikenakan oleh Amerika Serikat adalah 10%.

Basis produksi Google di Vietnam mencerminkan upaya perusahaan itu. Tujuannya, untuk menyingkirkan tekanan yang meningkat pada biaya tenaga kerja di Tiongkok. Selain itu, untuk menekan soal kenaikan tarif akibat perang dagang.  Menurut sumber, Google bermaksud untuk akhirnya mengalihkan sebagian besar produksi perangkat kerasnya ke luar daratan Tiongkok, termasuk ponsel Pixel dan pengeras suara populernya, Google Home.

Hampir 70% Ponsel Cerdas Google Dijual di Pasar AS

Lini produksi di Vietnam akan menjadi bagian penting dari pertumbuhan Google di pasar ponsel cerdas. Sumber itu kepada ‘Nikkei Asia Review’ menyebutkan, bahwa Google berencana untuk mensuplai ke pasar sekitar 8 juta hingga 10 juta smartphone tahun ini. Angkanya, dua kali lipat dari jumlah setahun yang lalu. 

Menurut perusahaan analis industri ‘Counterpoint’, meskipun merek smartphone Google Pixel masih merupakan pemain kecil dan menengah di industri ini, serta belum masuk sepuluh besar di dunia, akan tetapi pertumbuhannya cukup cepat. Penjualan ponsel Google pada kuartal kedua tahun ini, terdongkrak oleh kenaikan penjualan ponsel Pixel yang berharga menengah. Ponsel itu sudah diluncurkan pada bulan April lalu. 

Google berhasil menjadi merek ponsel terbesar kelima di AS pada kuartal kedua tahun 2019. Perusahaan riset ‘IDC’ atau International Data Corporation mengatakan, bahwa Google telah memasok ke pasar 4,1 juta unit smartphone pada semester pertama tahun ini, terutama berkat Pixel 3A yang harganya  399 dolar AS. Dengan mengalihkan produksi dari Tiongkok ke Vietnam untuk mewujudkan diversifikasi berkelanjutan produk, Google ingin memastikan produksi berkelanjutan dari seri Pixel yang merupakan perpanjangan lebih lanjut dari sistem operasi Android. Android adalah sistem operasi yang digunakan oleh 80% smartphone di seluruh dunia.

Menurut angka dari ‘IDC’, hampir 70% ponsel cerdas Google dijual di pasar AS pada tahun 2018, diikuti oleh Inggris dan Jepang. Untuk pengeras suara pintar, Amerika Serikat menyumbang sekitar 64% dari jumlah yang dipasok Google ke pasar. Sumber mengatakan bahwa menurut rencana saat ini, Google akan mengalihkan sebagian produksi ponsel Pixel 3A ke luar dari daratan Tiongkok ke Vietnam sebelum tahun ini berakhir.

Menurut sumber, beberapa produksi untuk speaker pintar mungkin akan dialihkan ke Thailand. Akan tetapi, mereka mengatakan bahwa pengembangan produk baru perusahaan dan produksi awal dari jajaran perangkat keras, masih akan dilakukan di daratan Tiongkok.

Perusahaan Teknologi global Satu per satu Hengkang dari Tiongkok

Semakin tajamnya suhu perang dagang, Google termasuk perusahaan teknologi terbaru yang menghindari tarif melalui diversifikasi produk. Menurut laporan penelitian terbaru dari ‘Nikkei Asia Review’, lebih dari 50 perusahaan terkenal internasional sedang aktif memindahkan jalur produksi mereka dari daratan Tiongkok.

Hewlett-Packard dan Dell telah memindahkan produksi server mereka keluar dari Tiongkok, sementara juga mengalihkan beberapa produksi notebook mereka ke Taiwan dan negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Vietnam, Thailand dan Filipina. Apple juga mulai menilai bagaimana untuk diversifikasi rantai pasokan.

Pabrikan Jepang Kyocera mengatakan pada 2 Agustus, bahwa mereka akan memindahkan  produksi mesin fotokopi dan printer multifungsi yang dijual ke Amerika Serikat dari Tiongkok ke Vietnam. Langkah itu bertujuan untuk menghindari tarif tinggi. Inventec Corp mengatakan pada 13 Agustus, bahwa mereka akan memindahkan produksi notebook untuk pasar AS keluar dari Tiongkok dalam beberapa bulan ini.

Hampir 70% perusahaan memilih Vietnam sebagai tujuan pengalihan lini produksi, sedangkan sisanya adalah Kamboja, India, Malaysia, Meksiko, Serbia dan Thailand. Roy Chun Lee dari Chung-Hua Institution for Economic Research sebelumnya telah mengatakan kepada ‘Nikkei’, bahwa terlepas dari apakah ada perjanjian perdagangan antara AS dan Tiongkok, diversifikasi jalur produksi akan berlanjut. Dikarenakan, perselisihan antara kedua negara ekonomi utama dunia ini akan berlangsung lama.

Presiden Trump telah berulang kali dalam cuitannya, menasihati pihak Tiongkok agar secepatnya mencapai kesepakatan perdagangan, sehingga dapat mempertahankan perusahaan AS agar tidak menarik diri dari Tiongkok. (Sin/sr)

Share

Video Popular