c. Globalisasi Menciptakan Polarisasi Kekayaan, Mengaktifkan Ideologi Komunis

Arus besar industri dan pekerjaan mengubah kelas buruh dan kelas menengah negara-negara Barat menjadi korban globalisasi. Misalnya saja Amerika Serikat: Dengan arus besar modal dan teknologi ke Tiongkok, banyak pekerjaan manufaktur hilang, menyebabkan hilangnya industri dan meningkatnya tingkat pengangguran.
Dari tahun 2000 hingga 2011, 5,7 juta buruh di sektor manufaktur kehilangan pekerjaan, dan enam puluh lima ribu pabrik ditutup. [9] Kesenjangan antara kaya dengan miskin telah lama melebar di Amerika Serikat. Selama tiga puluh tahun terakhir, pertumbuhan upah rata-rata (inflasi disesuaikan) telah melambat, mengakibatkan munculnya buruh miskin — mereka yang bekerja atau mencari pekerjaan selama dua puluh tujuh minggu dalam setahun, tetapi yang pendapatannya di bawah tingkat kemiskinan resmi. Pada tahun 2016, 7,6 juta orang Amerika Serikat termasuk di antara buruh miskin. [10]

Polarisasi antara si kaya dan si miskin adalah tanah tempat komunisme tumbuh. Masalah ekonomi tidak pernah terbatas hanya pada bidang ekonomi, tetapi terus tumbuh. Permintaan untuk “keadilan sosial” dan solusi untuk distribusi pendapatan yang tidak adil telah menyebabkan gelombang ideologi sosialis. Sementara itu, permintaan akan kesejahteraan sosial juga meningkat, pada gilirannya menciptakan lebih banyak keluarga miskin dan pada akhirnya menciptakan lingkaran setan.

Sejak tahun 2000, spektrum politik Amerika Serikat semakin terbuka untuk pengaruh sayap Kiri. Pada saat pemilihan presiden Amerika Serikat pada tahun 2016, ada peningkatan permintaan untuk sosialisme dan meningkatnya polarisasi politik karena kepentingan partisan. Sebagian besar, dampak globalisasi berada di balik pergeseran ini. Di sisi lain, semakin besar kesulitan yang dihadapi masyarakat demokratis Barat, semakin kuat kekuatan komunisme muncul di panggung dunia.

d. Oposisi terhadap Globalisasi Memajukan Ideologi Komunis

Bersamaan dengan kemajuan globalisasi datanglah kampanye anti-globalisasi. Protes kekerasan besar-besaran pada tanggal 30 November 1999, di Seattle, yang menentang Konferensi WTO Tingkat Menteri menandai dimulainya kampanye semacam itu. Tiga konferensi internasional berskala besar pada tahun 2001 (pertemuan Puncak Amerika di Quebec, Kanada; KTT Uni Eropa di Gothenburg, Swedia; dan KTT ekonomi Kelompok Delapan di Genoa, Italia) juga dilanda demonstrasi semacam itu. Pada tahun 2002, kota Florence, Italia, menyaksikan demonstrasi anti-globalisasi berskala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya yang menarik satu juta peserta.

Kampanye anti-globalisasi di seluruh dunia telah menarik peserta dari berbagai latar belakang. Sebagian besar dari mereka adalah penentang sayap Kiri kapitalisme yang besar, termasuk serikat buruh dan organisasi lingkungan hidup (juga dibajak dan disusupi oleh komunisme), serta korban globalisasi dan yang kurang mampu. Akibatnya, masyarakat, baik pendukung atau pun penentang globalisasi, akhirnya secara tidak sengaja melayani tujuan komunisme.

e. Kapitalisme Barat Memupuk Partai Komunis Tiongkok

Ketika menilai keberhasilan atau kegagalan globalisasi, para sarjana sering menyebut Tiongkok sebagai contoh kisah sukses. Tiongkok tampaknya sangat diuntungkan oleh globalisasi dan dengan cepat muncul sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia. Banyak yang meramalkan bahwa Tiongkok pada akhirnya akan menggantikan Amerika.

Tidak seperti model manufaktur kualitas rendah Meksiko, Partai Komunis Tiongkok berawal mendapatkan teknologi paling mutakhir dari Barat dan kemudian menggantikan pesaingnya. Sebagai imbalan untuk penjualan ke pasar Tiongkok, Partai Komunis Tiongkok menuntut agar perusahaan-perusahaan dari negara maju mendirikan perusahaan patungan, yang kemudian digunakan Partai Komunis Tiongkok untuk mengekstraksi teknologi utama. Partai Komunis Tiongkok mengadopsi banyak metode untuk tujuan ini, dari memaksa transfer teknologi, hingga pencurian langsung melalui peretasan. Setelah mendapatkan teknologi canggih ini, Partai Komunis Tiongkok menekan keuntungannya dengan melemparkan produk-produk berharga murah di pasar dunia. Dengan bantuan potongan harga ekspor dan subsidi, Partai Komunis Tiongkok mengalahkan pesaing dengan harga di bawah harga pasar, mengganggu urutan pasar bebas.

Tidak seperti negara-negara berkembang lainnya yang membuka pasar domestiknya, Partai Komunis Tiongkok menciptakan banyak hambatan perdagangan untuk pasar domestiknya. Setelah bergabung dengan WTO, Partai Komunis Tiongkok mengambil keuntungan dari peraturannya, sementara secara bersamaan mengambil keuntungan dari globalisasi untuk membuang produk ke luar negeri. Dengan tidak mengindahkan peraturan, rezim Tiongkok membawa manfaat ekonomi yang besar untuk dirinya sendiri. Namun, Partai Komunis Tiongkok gagal membuka industri-industri utama – termasuk telekomunikasi, perbankan, dan energi – yang pada gilirannya memungkinkan Tiongkok untuk mengambil keuntungan dari ekonomi global sambil mengingkari komitmennya.

Diburu oleh keuntungan ekonomi, dunia Barat menutup mata dan menutup telinga terhadap pelanggaran hak asasi manusia. Sementara, Partai Komunis Tiongkok terkenal menyalahgunakan hak asasi manusia, komunitas internasional terus memberikan bantuan yang murah hati pada rezim Tiongkok.

Di tengah-tengah globalisasi, Partai Komunis Tiongkok yang kuat, bersama-sama dengan masyarakat Tiongkok yang jahat secara moral, telah memukul ekonomi pasar dan regulasi perdagangan di Barat.

Sebagai perusak aturan, Partai Komunis Tiongkok telah menuai semua keuntungan globalisasi. Dalam beberapa hal, globalisasi bagaikan transfusi darah bagi Partai Komunis Tiongkok, yang memungkinkan negara komunis yang sudah pudar untuk hidup kembali. Di balik manipulasi globalisasi adalah tujuan tersembunyi yang menopang Partai Komunis Tiongkok melalui realokasi kekayaan. Sementara itu, Partai Komunis Tiongkok telah mampu mengakumulasi keuntungan yang tidak pantas sambil melakukan pelanggaran HAM terburuk.

Globalisasi telah menjadi proses menyelamatkan Partai Komunis Tiongkok dan melegitimasi rezim komunis Tiongkok. Sementara Partai Komunis Tiongkok memperkuat otot-otot sosialisnya dengan nutrisi kapitalis, Barat jatuh ke dalam penurunan yang relatif, lebih lanjut memberikan kepercayaan diri Partai Komunis Tiongkok untuk totalitarianisme komunis dan ambisi globalnya. Bangkitnya Tiongkok juga sangat menyemangati banyak sosialis dan anggota Kiri di seluruh dunia – bagian dari rencana.

Sementara ekonominya telah tumbuh, Partai Komunis Tiongkok telah mengintensifkan upaya untuk menyusup ke organisasi ekonomi global, termasuk WTO, IMF, Bank Dunia, Organisasi Pengembangan Industri Amerika Serikat, dan lainnya. Ketika ditugaskan pada posisi penting dalam organisasi-organisasi ini, para pejabat Partai Komunis Tiongkok membujuk mereka untuk bekerja sama dengan Partai Komunis Tiongkok untuk mendukung skema Partai Komunis Tiongkok dan mempertahankan kebijakannya.

Partai Komunis Tiongkok menggunakan organisasi ekonomi internasional untuk menjalankan agenda ekonominya sendiri dan model korporatis. Jika ambisinya tidak dihentikan, ada sedikit keraguan bahwa rezim Tiongkok akan membawa bencana ke politik dan ekonomi global.

Di atas hanyalah beberapa contoh bagaimana globalisasi ekonomi telah digunakan untuk mempromosikan dan memperluas komunisme. Dengan kemajuan dalam telekomunikasi dan transportasi, kegiatan ekonomi diperluas melampaui batas negara. Ini adalah proses alami, tetapi dalam kasus ini, proses itu berubah menjadi peluang bagi Partai Komunis Tiongkok untuk memulai jalan menuju dominasi global. Sudah tiba saatnya bagi masyarakat untuk waspada terhadap apa yang terjadi dan untuk menyingkirkan globalisasi unsur-unsur komunis. Dalam hal itu, kedaulatan masing-masing negara dan kesejahteraan rakyatnya akan memiliki peluang untuk diwujudkan.

Share

Video Popular