***
b. Negara-Negara Maju di Barat Mengekspor Kebudayaan Anti-Tradisional

Negara-negara maju di Barat memainkan peran yang menentukan dalam urusan ekonomi dan militer global. Akibatnya, kebudayaan Barat dengan cepat menyebar ke negara-negara berkembang, karena dianggap sebagai arus utama peradaban modern dan arah untuk pembangunan masa depan. Mengeksploitasi tren ini telah menyebar kebudayaan modern yang menyimpang dari Amerika Serikat dan negara Barat lainnya di seluruh dunia. Hal ini telah membawa kerusakan besar pada tradisi kelompok etnis lain. Musik rock-and-roll, narkoba, dan seks bebas disamarkan sebagai kebudayaan Barat dan dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Sebagaimana ditunjukkan dalam buku ini, hantu komunisme berada di belakang perkembangan kebudayaan yang memburuk ini, yang tidak ada hubungannya dengan nilai-nilai tradisional yang berasal dari kepercayaan pada Tuhan.

Segala macam kebudayaan yang memburuk tertutupi saat kebudayaan Barat saat ini sedang menyebar ke setiap sudut dunia. Hollywood, khususnya, telah menjadi pembawa utama berbagai ideologi yang berasal dari kebudayaan Marxisme. Karakteristik khusus dari industri film memungkinkan Hollywood membuat orang secara tidak sadar menerima nilai-nilainya.
Karena kekuatan ekonominya, negara-negara Barat menarik sejumlah besar mahasiswa asing. Dalam buku ini, kita telah membahas bagaimana kebudayaan Marxisme telah mengambilalih pendidikan Barat, dan, pada gilirannya, memaparkan mahasiswa asing ke berbagai ideologi Kiri. Ketika mahasiswa asing tersebut kembali ke negaranya, mahasiswa asing tersebut menyebarkan ideologi ini. Di negara mahasiswa asing tersebut, ideologi yang memburuk ini dipandang menarik karena dianggap negara-negara Barat lebih maju secara teknologi dan berkembang secara ekonomi. Jadi, ideologi-ideologi ini menghadapi sedikit perlawanan ketika ideologi-ideologi ini menyebar dan menghancurkan kebudayaan tradisional setempat.

Misalnya, negara pertama di Asia yang mengakui pernikahan sesama jenis memiliki masyarakat dengan tradisi yang mendalam. Globalisasi berada di belakang pergeseran. Setelah belajar di Barat, sejumlah besar mahasiswa menerima gagasan pernikahan sesama jenis dan mendorong perubahan. Sebagian besar politisi progresivisme yang mendorong legalisasi pernikahan sesama jenis mengembangkan pandangan progresivisme selama mereka studi di luar negeri.

c. Perusahaan Multinasional Menyebarkan Kebudayaan Menyimpang

Di bawah kondisi globalisasi, rasa saling menghormati dan toleransi dari berbagai kebudayaan nasional telah menjadi arus utama. Komunisme telah menggunakan hal ini untuk secara sewenang-wenang memperluas konsep toleransi dan menjadikan netralitas nilai sebagai “konsensus global,” dengan demikian mendukung gagasan yang menyimpang. Secara khusus, homoseksualitas dan seks bebas telah berkembang pesat melalui globalisasi, yang berdampak serius dan merusak nilai-nilai moral masyarakat tradisional.

Pada tahun 2016, pengecer besar rantai global mengumumkan bahwa ruang ganti dan toilet di toko tersebut akan “ramah bagi waria,” yang berarti bahwa setiap pria dapat memasuki toilet atau ruang ganti wanita sesuai keinginannya, karena pria dapat mengklaim bahwa ia sebenarnya adalah wanita. Asosiasi Keluarga Amerika Serikat menghimbau para konsumen untuk memboikot perusahaan tersebut karena kerugian yang dapat ditimbulkan oleh kebijakan tersebut terhadap wanita dan anak-anak. [30] Memang benar, pada tahun 2018, seorang pria memasuki ruang ganti wanita di toko tersebut dan memamerkan tubuhnya kepada seorang gadis muda. [31]

Di tengah penolakan oleh konsumen yang mematuhi nilai-nilai tradisional, wartawan menghitung ratusan perusahaan multinasional besar yang telah memperoleh skor penuh pada Indeks Kesetaraan Perusahaan (ukuran sikap terhadap masalah LGBTQ) dan menemukan bahwa perusahaan-perusahaan dengan kebijakan yang sama dengan rantai toko tersebut meliput semua aspek kehidupan orang biasa, membuat boikot menjadi tidak realistis. Perusahaan-perusahaan itu mencakup hampir semua maskapai besar, pabrik mobil bermerek, rantai makanan cepat saji, kedai kopi, department store besar, bank, perusahaan produksi film, perusahaan telepon seluler dan komputer, dan sebagainya. [32] Nilai-nilai ini telah hadir di mana-mana dan arus utama melalui globalisasi melalui kebudayaan perusahaan korporasi multinasional.

Share

Video Popular