- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Ketika Komunis Tiongkok di ‘Gerbang,’ Saat Hari-Hari Hong Kong Sebagai Jaringan Keuangan Global Menghitung Angka

Fan Yu – The Epochtimes

Perkembangan yang mendukung semakin buruknya situasi sosial-politik  di Hong Kong adalah bahwa kejayaan Hong Kong yang terkenal sebagai kota pusat keuangan internasional, diprediksi bakal hancur tanpa dapat dipulihkan kembali.

Ini terjadi, bagaimana ketika Komunis Tiongkok  dengan perpanjangan tangan, pemerintah Carrie Lam telah memperlakukan unjuk rasa yang sedang berlangsung di Hong Kong, hingga semakin memburuk ke titik tidak dapat dipulihkan. 

Terlepas dari bagaimana unjuk rasa ditangani saat agenda unjuk rasa mendekati tanggal 1 Oktober — peringatan 70 tahun bercokolnya pemerintahan Komunis Tiongkok di Tiongkok — para investor dan pemimpin bisnis global, cukup ketakutan sehingga hari-hari Hong Kong sebagai pusat bisnis dan gerbang keuangan menuju Tiongkok diprediksi akan hancur.

Itu adalah perkembangan yang mengerikan bagi Tiongkok dan ekonomi Tiongkok. Sejak bulan April lalu, ketika unjuk rasa terhadap RUU ekstradisi yang kini ditangguhkan pertama kali meningkat, indeks Hang Seng Hong Kong telah turun sebesar 11 persen. 

Pada tanggal 15 Agustus, Otoritas Moneter Hong Kong memangkas perkiraan Produk Domestik Bruto tahun 2019 untuk Hong Kong menjadi nol hingga 1 persen, dari 2 hingga 3 persen dan dibandingkan dengan pertumbuhan 3 persen pada tahun 2018. Biaya menginap di hotel telah turun, dan lalu lintas penerbangan berkurang — didorong oleh pariwisata yang menurun maupun aktivitas bisnis yang menurun. 

Banyak perusahaan global telah mengeluarkan memo internal yang menganjurkan untuk menunda perjalanan ke Hong Kong.  South China Morning Post — koran Hong Kong berbahasa Inggris yang dimiliki oleh raksasa internet Tiongkok Alibaba — melaporkan bahwa beberapa hotel bintang lima telah memangkas tarif kamarnya di bawah 1.000 dolar Hong Kong per malam, kurang dari setengah tarif normal.

Kekhawatiran Terhadap Keuangan Hong Kong Semakin Mendalam

Hong Kong berfungsi sebagai kantor pusat regional Asia dan Greater Tiongkok (termasuk Hong Kong, Macau, kadang-kadang Taiwan) bagi banyak perusahaan multinasional. 

Penduduk Hong Kong fasih berbahasa Mandarin dan Inggris, dan kedekatan Hong Kong dengan Tiongkok, bersama dengan banyak kebebasan dan kerangka hukum di Hong Kong, semuanya menjadi jaminan bagi perusahaan internasional dalam mempertimbangkan Hong Kong sebagai landasan untuk operasi regional. Tetapi meningkatnya campur tangan Beijing dan otoritas Komunis Tiongkok dalam urusan Hong Kong  — terlepas dari mantra “satu negara, dua sistem” — merongrong status Hong Kong.

“Reputasi supremasi hukum Hong Kong di dunia internasional adalah harta yang tidak ternilai,” demikian Kamar Dagang Amerika Serikat di Hong Kong mengatakan dalam sebuah pernyataan pada bulan Maret setelah langkah ekstradisi pertama kali diperkenalkan. Jika komunitas bisnis hengkang massal dari Hong Kong, maka akan memiliki konsekuensi yang parah bagi Hong Kong dan Tiongkok. Manifestasi terbesar dan paling segera dari sentimen bisnis yang memburuk di Hong Kong adalah pelarian modal.

Indikasi pelarian modal adalah nilai dolar Hong Kong. Dolar Hong Kong telah dipatok ke dolar Amerika Serikat sejak awal tahun 1980-an, tetapi dalam beberapa minggu terakhir, mata uang Hong Kong telah menetap di ujung bawah kisaran akibat gejolak politik.

Karena dolar Hong Kong dipatok terhadap dolar Amerika Serikat, Otoritas Moneter Hong Kong, bank sentral dan kas de facto Hong Kong, telah menghabiskan cadangan dolar Amerika Serikat untuk menopang mata uang dolar Hong Kong. 

Faktanya, likuiditas dolar antar bank Hong Kong telah berkurang selama setahun terakhir. Total saldo penutupan sebesar USD 54,5 miliar pada tanggal 23 Agustus adalah 41 persen lebih rendah dari tahun lalu, dan 70 persen lebih rendah sejak awal tahun 2018.

Hal ini menekan likuiditas dolar Hong Kong dan dapat memaksa lonjakan suku bunga pinjaman antar bank (HIBOR), yang berpotensi memicu krisis perbankan dan pada akhirnya mengarah pada ditinggalkannya sistem nilai tukar terkait atau dolar Hong Kong sebagai mata uang yang layak.

Dalam catatan tanggal 20 Agustus untuk klien, analis Morgan Stanley memangkas target Produk Domestik Bruto Hong Kong 2019 menjadi -0,3 persen dan menetapkan target harga 21.500 poin untuk indeks Hang Seng, yang mewakili penurunan 18 persen sejak penutupan tanggal 23 Agustus. 

Sementara bank mengharapkan sistem nilai tukar yang dipatok akan berlaku, ahli strategi Morgan Stanley Asia, Chun Him Cheung memperkirakan HIBOR akan berubah-ubah di masa depan, sehingga memberi tekanan pada sektor keuangan setempat. Kyle Bas, seorang manajer dana lindung nilai dan mencatat beban yang harus dipikul Tiongkok, menggambarkan situasi dengan lebih jelas. “Hong Kong saat ini berada di atas salah satu bom waktu keuangan terbesar dalam sejarah,” tulisnya dalam surat investor baru-baru ini.

Pentingnya Hong Kong Bagi Tiongkok

Tidak ada keraguan bahwa Beijing telah mempersiapkan suatu hari di mana ekonomi Tiongkok benar-benar dipisahkan dari Hong Kong. Namun, hari tersebut belum tiba. Sementara Tiongkok semakin tidak tergantung pada Hong Kong sebagai pusat ekspor sejak bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia, Hong Kong masih menangani sekitar 15 persen perdagangan luar negeri Tiongkok. 

Lebih penting lagi, status Hong Kong sebagai pusat keuangan dan bisnis regional tidak mudah diganti. Bisnis, investor, dan penduduk yang hengkang dari Hong Kong adalah benar-benar negatif untuk Tiongkok.

Dari tahun 2010 hingga 2018, Hong Kong telah menangani sekitar 64 persen investasi asing langsung ke Tiongkok. Pasar modal gaya Barat yang cair telah menjadi keuntungan bagi perusahaan Tiongkok yang mencari modal asing.  Selama periode yang sama, Hong Kong adalah tujuan bagi 73 persen Penawaran Saham Perdana perusahaan lepas pantai Tiongkok Daratan yang ‘go public,’ 60 persen dari semua penerbitan obligasi luar negeri, 26 persen dari pinjaman sindikasi lepas pantai, serta pusat global untuk aktivitas perdagangan yuan lepas pantai, menurut data dari BNP Paribas, bank global Prancis.

Tidak ada alternatif Tiongkok Daratan yang layak untuk Hong Kong. Tenaga kerja Hong Kong yang sangat terampil dan mahir berbahasa Inggris, pasar bebas, struktur hukum berbasis aturan, dan lingkungan mata uang berpatok pada dolar Amerika Serikat tidak dapat dengan mudah digantikan.

Meskipun Beijing baru-baru ini merencanakan menempatkan kembali Shenzhen — kota Provinsi Guangdong tepat di seberang perbatasan dari Hong Kong — sebagai pusat keuangan utama, struktur tata kelola dan sistem kredit sosial Komunis Tiongkok yang kejamnya tampaknya bukanlah permulaan bagi bisnis internasional yang mencari rumah baru.

Yang merugikan Tiongkok, kemungkinan besar penerima manfaat terbesar atas kematian Hong Kong adalah Singapura atau Taipei. (vv/asr)

Video Rekomendasi :