oleh Xu Zhenqi

Erabaru.net. Amerika Serikat mulai memberlakukan tarif baru terhadap komoditas impor dari Tiongkok senilai USD. 100 miliar mulai 1 September 2019 lalu. Komoditas itu termasuk produk-produk yang dihasilkan dari daratan Tiongkok baik yang dijual UNIQLO atau perusahaan Jepang lainnya ke Amerika Serikat. Akibat perang dagang, perusahaan Jepang termasuk UNIQLO sedang mencari negara alternatif untuk menggantikan lini produksi mereka yang ada di Tiongkok.

Tarif baru yang diberlakukan mulai hari Minggu 1 September 2019 itu mencakup tarif tambahan 15% terhadap  3.243 item barang yang kebanyakan adalah barang-barang konsumsi seperti pakaian jadi dan arloji. 

Tarif baru tersebut telah mendorong perusahaan dari semua lapisan masyarakat untuk mempertimbangkan pengalihan produksi ke negara-negara Asia Tenggara, meskipun mungkin membuat harga naik.

‘Nikkei Asia Review’ pada Senin 2 September 2019 melaporkan, sebagian besar produk Fast Retailing, perusahaan operator UNIQLO dihasilkan dari Tiongkok. Sebelum akhir bulan Juli tahun ini, Fast Retailing memasok produk ke 52 toko di Amerika Serikat. Total penjualan di seluruh pasar Amerika Serikat sekitar JPY. 90 miliar atau setara USD. 847 juta. Itu 5% dari total penjualan UNIQLO pada akhir Agustus 2018.

Perang dagang selama ini hanya mempengaruhi beberapa produk pakaian jadi, seperti ikat pinggang dan lainnya. Tetapi tarif putaran baru itu mengenakan tarif yang lebih tinggi terhadap  pakaian utama seperti T-shirt dan celana panjang.

“Eksekutif Amerika Serikat kita datang ke Jepang, sehingga kita berkesempatan untuk membahas lebih detail tentang dampaknya dan bagaimana cara menanganinya,” kata eksekutif Fast Retailing. Meskipun menghadapi tantangan, perusahaan sedang mempertimbangkan untuk memindahkan sebagian produksinya ke negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan Kamboja.

Pabrikan arloji Jepang mulai mengalihkan produksi dari daratan Tiongkok

Jam tangan termasuk barang yang tarif impornya naik mulai Minggu 1 September 2019 lalu. Pabrikan jam tangan Jepang sedang mempertimbangkan untuk mengalihkan produksi ke luar daratan Tiongkok.  Seiko Holdings sedang mempertimbangkan untuk memindahkan beberapa lini produk terutama arloji dengan harga di bawah USD. 500 dari Tiongkok ke Jepang.

Citizen Watch yang memproduksi jam tangan dengan harga lebih murah untuk dipasok ke pasar Amerika Serikat, sedang mempelajari untuk memindahkan produknya ke Thailand.

Mesin fotokopi dan printer all-in-one sekarang dikenakan tarif. Presiden Kyocera, Hideo Tanimoto pada 2 Agustus 2019 lalu mengatakan bahwa perusahaan akan menghadapi kenaikan tarif dengan mengubah output pabriknya di Tiongkok dan Vietnam.

Saat ini, pabrik Kyocera di Tiongkok menghasilkan produk untuk memasok pasar Amerika Serikat. Sementara pabrik di Vietnam untuk memasok pasar Eropa. Tujuan perusahaan adalah untuk menukar produk keluaran kedua pabrik ini pada akhir bulan Maret tahun depan. Bisnis peralatan kantor Kyocera seperti printer, mesin fotokopi dan lainnya, pada tahun lalu telah menghasilkan pendapatan sekitar JPY. 375 miliar,  di mana sekitar 20% berasal dari Amerika Serikat.

Pada akhir bulan Juli, Ricoh memindahkan lini produksi printer multifungsi yang dijual ke Amerika Serikat dari Tiongkok ke Thailand. Sekitar 28% pendapatan perusahaan tersebut tahun lalu dihasilkan dari penjualan ke Amerika.

Mempersiapkan diri untuk menghadapi gelombang tarif baru pada bulan Oktober mendatang

Selain tarif yang diberlakukan pada hari Minggu 1 September 2019 itu, Amerika Serikat berencana untuk menaikkan tarif impor komoditas Tiongkok senilai USD. 250 miliar dari 25% menjadi 30% mulai 1 Oktober 2019  mendatang. Kasai Kogyo, produsen interior mobil yang memasok cetakan suku cadang untuk pintu mobil ke Amerika Serikat sedang mencari cara penanggulangannya.

“Kami sedang bersiap untuk awalnya mengirim cetakan yang diproduksi di Tiongkok ke Jepang kemudian memprosesnya sebelum dikirim ke Amerika Serikat,” kata Kuniyuki Watanabe, Chairman dan CEO Kasai Kogyo.

Sejak bulan Juli tahun lalu, tarif yang dibayarkan kepada pemerintah Amerika Serikat atas ekspor produk perusahaan tersebut telah mencapai JPY. 500 juta atau sekitar USD. 4,57 juta. Angka itu jelas akan meningkat seiring kenaikan tarif.

Associated Press sebelumnya melaporkan bahwa produsen elektronik konsumen asing dan perusahaan lain telah mulai mengalihkan fokus mereka ke negara-negara di Asia Tenggara. Terpengaruh oleh hal itu, ekspor komoditas dari industri teknologi Tiongkok mengalami penurunan sebesar 40%, dan berpengaruh besar terhadap pengembalian investasi penelitian.

Share

Video Popular