Zhang Ting – Epochtimes.com

Kabel bawah laut adalah tulang punggung internet dengan membawa lebih dari 99 persen lalu lintas internet dunia, namun juga rentan terhadap serangan. Karena alasan itu, keamanan kabel serat optik menjadi semakin diperhatikan. The Wall Street Journal baru-baru ini mengutip sumber mengatakan bahwa pejabat Amerika Serikat berusaha memblokir proyek kabel bawah laut yang diinvestasikan bersama Google, Facebook dan sebuah perusahaan asal Tiongkok.

“The Wall Street Journal” mengatakan bahwa tinjauan keamanan nasional yang relevan mungkin akan merevisi ulang aturan koneksi Internet antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

Laporan terkait mengutip sumber yang akrab dengan masalah itu mengatakan, bahwa Departemen Kehakiman Amerika Serikat, yang memimpin tim peninjau urusan telekomunikasi “Team Telecom”, telah mengeluarkan sinyal yang secara tegas menentang proyek itu. Penyebabnya adalah karena melibatkan investor Tiongkok, Chengdu Dr.Peng Technology Co.,Ltd atau disingkat Dr. Peng dan menyatakan prihatin kabel bawah laut tersebut terhubung langsung dengan situasi Hong Kong.

Kapal peletakan kabel telekomunikasi fiber optik bawah laut telah meletakkan sebagian besar kabel optik bawah laut di lautan Samudera Pasifik dengan panjang mencapai 8.000 mil atau sekitar 12.900 km antara Hong Kong dan Los Angeles. 

Lisensi sementara untuk bisnis itu akan berakhir pada September 2019. Akan tetapi menurut sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada the Wall Street Journal, bahwa karena ditentang Team Telecom, kabel optic bawah laut itu mungkin tidak dapat memperoleh perpanjangan lisensi yang diperlukan untuk bisnis.

“The Wall Street Journal” mengatakan bahwa kekhawatiran Team Telecom terkait proyek itu termasuk hubungan Dr. Peng dengan pemerintah komunis Tiongkok dan menurunnya otonomi Hong Kong. 

Penduduk Hong Kong telah mengadakan protes skala besar sejak Juni 2019, menentang komunis Tiongkok yang semakin meningkatkan kendali atas Hong Kong.  Dr. Peng ini adalah operator telekomunikasi terbesar keempat di Tiongkok. Perusahaan swasta ini melayani jutaan pelanggan broadband domestik di Shanghai.

Undang-Undang Intelijen Nasional komunis Tiongkok dengan jelas menyatakan bahwa semua organisasi dan individu harus memberikan bantuan dan kerja sama dengan intelijen dari Kementerian Keamanan Nasional. 

Undang-undang anti-spyware komunis Tiongkok juga menetapkan bahwa semua perusahaan dan warga negara harus memberikan informasi dan tidak boleh menolak. Aturan hukum komunis Tiongkok itu telah menimbulkan kekhawatiran Eropa dan Amerika Serikat.

Laporan itu mengatakan bahwa jika Amerika Serikat memveto permohonan lisensi untuk proyek kabel bawah laut di Pasifik, itu akan menjadi kali pertama Amerika Serikat menolak mengeluarkan lisensi kabel bawah laut dengan alasan keamanan nasional. Itu  mungkin menyiratkan bahwa regulator telah mengambil posisi baru yang lebih keras pada proyek-proyek yang didanai Tiongkok.

Kabel optic bawah laut, meskipun memiliki manfaat besar, tetapi juga rentan serangan

Menurut perusahaan riset dan konsultasi pasar telekomunikasi TeleGeography, lebih dari 99% komunikasi internasional saat ini dilakukan melalui kabel fiber optik, yang sebagian besar berada di bawah laut.

Pada 26 Juli 2019 lalu, CNN mengeluarkan sebuah dokumen yang mengatakan bahwa kabel serat optik sangat penting, tetapi begitu dihancurkan, dampaknya akan sangat besar. 

Selain itu, karena kabel serat optik mentransmisikan hampir semua komunikasi internasional, sehingga penyadapan menjadi godaan besar untuk mengumpulkan data. Itu juga yang menjadi perhatian utama penolakan Australia terhadap raksasa telekomunikasi Tiongkok Huawei untuk berpartisipasi dalam pembangunan koneksi kabel bawah laut di Sydney dan Kepulauan Solomon.

Penyadapan melalui kabel fiber optic bawah laut semakin menarik perhatian Amerika Serikat dan sekutunya. 

Menurut laporan dari para peneliti raksasa telekomunikasi AS AT&T Labs,  penyerang dapat menghancurkan bagian dari jaringan yang tidak dapat mereka pantau melalui beberapa infrastruktur internet yang ditargetkan secara cermat. Memaksa informasi pengguna untuk ditransmisikan melalui kabel yang mereka kuasai, dan target yang dibidik bahkan tidak akan menyadari bahwa komunikasi mereka telah disadap.

Dalam beberapa tahun terakhir, Huawei telah memperluas bisnis kabel bawah lautnya. Huawei Marine Networks Co., Ltd. dikendalikan oleh Huawei Technologies disingkat Huawei.

Pada 2008, Huawei mengakuisisi Global Marine Systems Ltd., Inggris yang memiliki 51% saham perusahaan. Dalam sepuluh tahun kerja sama antara kedua pihak, Huawei Marine Networks Co., Ltd telah melakukan sekitar 90 proyek kabel bawah laut di seluruh dunia, membangun atau meningkatkan kabel fiber optic bawah laut.

CNN melaporkan bahwa meskipun menyadap pada saluran telepon bawah laut bukanlah hal yang mudah, namun jika Anda mengontrol kabel itu, maka akan menjadi mudah untuk melakukan penyadapan.

Itu juga yang menjadi alasan Amerika Serikat, Australia dan negara-negara lain untuk mencegah Huawei membangun kabel bawah laut. 

Menurut The Wall Street Journal, pejabat pemerintah Amerika Serikat dan sekutu mengatakan bahwa pemahaman dan keterlibatan Huawei dalam kabel bawah laut dapat memberi peluang pada komunis Tiongkok untuk mentransfer atau memantau lalu lintas data bahkan memutus koneksi kabel serat optik suatu negara jika terjadi konflik.

Menurut para pejabat itu, gangguan itu dapat dioperasikan dari jarak jauh oleh perangkat lunak manajemen jaringan Huawei dan jaringan berbasis darat serta perangkat lainnya pada jaringan berbasis kabel bawah laut yang terhubung ke jaringan berbasis darat.

Australia merampungkan pemasangan kabel bawah laut di Solomon dan negara lain tanpa keikutsertaan Huawei

Pada bulan Juni 2018, Australia berhasil mencegah Huawei memasang kabel bawah laut yang menghubungkan Sydney, Kepulauan Solomon dan Papua Nugini dengan pertimbangan keamanan nasional. Kabel bawah laut sepanjang 4.700 kilometer atau 2920  mil itu sebagian besar dibiayai Australia.

Australia sukses menyelesaikan seluruh pemasangan kabel bawah tersebut tanpa keikutsertaan Huawei, pada Rabu, 28 Agustus 2019 lalu. Pada waktu itu Menteri Luar Negeri Australia Marise Paynet mengatakan  bahwa seiring dengan pengaruh komunis Tiongkok yang semakin besar di wilayah itu, proyek tersebut sangat penting untuk memperkuat hubungan Australia dengan Pasifik. 

Marise Paynet  menegaskan bahwa tujuan Australia adalah mulai memasang kabel-kabel bawah laut itu sebelum Desember 2019.  (jon)

Share

Video Popular