- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Mengapa Kupon untuk Membatasi Pembelian Dagang Babi Meluas Hampir 10 Provinsi di Tiongkok?

oleh Zhou Xinjian

Gara-gara persediaan dan permintaan yang tidak imbang, harga daging babi di Tiongkok terus melonjak. Kini, pembatasan pembelian daging babi mulai diterapkan di sejumlah wilayah Tiongkok.

Pembatasan itu terjadi, meskipun pemerintah telah memperkenalkan kebijakan untuk mendorong pasokan daging babi. Akan tetapi, beberapa ahli mengatakan bahwa pasokan daging babi yang menurun tidak mungkin dapat diatasi dalam waktu pendek. 

Para peternak babi mengatakan, bahwa mendorong orang untuk beternak babi sama saja dengan mencelakakan orang. Pasalnya, penyakit flu babi Afrika tidak diatasi secara serius. Harga daging babi di Tiongkok terus meningkat karena penyakit flu babi Afrika masih merajalela dan meningkatnya perang dagang dengan AS. 

Data Kementerian Perdagangan Tiongkok yang dirilis pada 3 September menunjukkan, harga daging babi pekan lalu pada 26 Agustus – 1 September, per kilo telah mencapai 34.50 renminbi, naik 8.9% dari pekan sebelumnya.

Kupon Pembelian Daging Babi Meluas Hampir 10 Provinsi

 Media Tiongkok ‘Beijing News’ memberitakan bahwa, menurut data tidak lengkap, hampir 10 provinsi di kota dan kabupaten seperti Nanning, Haikou, Jiangxi, Guangdong, Jiangsu, Sichuan dan lainnya, telah memberlakukan pembelian daging babi dengan menggunakan kupon. Prakteknya, kupon itu menentukan batasan jumlah dan harganya bagi warga.

Sebagai contoh, pada 27 Agustus 2019, pejabat Kabupaten Youxi, Provinsi Fujian mengatakan, bahwa pembatasan pembelian diberlakukan pada hari Sabtu, Minggu, Festival Pertengahan Musim Gugur dan selama pekan liburan hari Jadi berkuasanya Komunis Tiongkok pada 1 Oktober. 

Harga penjualan daging babi ditetapkan 15%. Angka ini lebih rendah dari rata-rata harga pasar. Penjualan daging bagian perut -Streaky pork- dan daging kaki babi dibatasi hanya 200 kg per hari. Sedangkan daging tanpa lemak -lean meat- tulang iga dibatasi hingga 100 kg per hari. Setiap warga setiap harinya hanya diperbolehkan membeli dalam batasan dua jenis daging tersebut, dengan masing-masing tidak melebihi 2 Kg.

Pemerintah Kota Nanning, Guangxi pada 1 September mengeluarkan pemberitahuan yang isinya meminta sepuluh pasar utama di kota itu memberlakukan batasan harga jual dan jumlah daging babi. Di antara mereka, pasar di Nanníng Weizilu menerapkan pembelian dengan menggunakan kupon, sehingga setiap warga yang belanja daging babi tidak membeli lebih dari 2 kg.

Namun, untuk distribusi kupon untuk harga daging babi murah, Seorang warga, yang tinggal di luar kota Nanning kepada Radio Free Asia mengatakan, bahwa kupon untuk daging babi murah itu, hanya dibagikan kepada departemen atau unit tertentu, bukan untuk masyarakat umum. 

Harga daging babi di Tiongkok terus melejit.  Meskipun Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan komunis Tiongkok, terus mengklaim bahwa kenaikan harga daging babi tidak ada hubungannya dengan gesekan perdagangan Tiongkok – AS. Kenaikan itu terutama hanya terkait dengan masalah pasokan dan permintaan. 

Laporan media daratan juga menekankan bahwa, pasokan daging babi menjadi sangat ketat karena virus flu babi Afrika yang menyebar sejak tahun lalu. Namun, masyarakat tidak setuju dengan pernyataan itu.

Warga bernama Deng kepada Radio Free Asia mengatakan : “Alasan utamanya adalah bahwa pada 2 tahun lalu, Sejumlah lokasi peternakan babi dipaksa tutup oleh pemerintah dengan alasan masalah pencemaran lingkungan hidup. Selain itu, karena perang dagang, terpaksa mengimpor sejumlah besar babi dari Rusia yang kemudian diketahui membawa virus flu babi Afrika.

Sumber flu babi yang diceritakan oleh Mr. Deng adalah epidemi flu babi Afrika di Tiongkok itu, berasal dari wilayah Irkutsk yang terletak di Siberia timur, Rusia. Pada tahun 2018, ketika perang dagang yang mempengaruhi impor langsung daging babi dari AS, maka babi Rusia mulai masuk ke Tiongkok. Sehingga menyebabkan virus menyebar luas di daratan.

Menjaga Stabilitas Harga Babi Model “Aba-Aba Militer”

Saat ini, harga daging babi di seluruh daratan Tiongkok terus melambung ke rekor tertinggi dalam sejarah. Mengontrol harga daging babi telah menjadi tugas politik yang signifikan bagi komunis Tiongkok. 

Hu Chunhua, Wakil Perdana Menteri Tiongkok mengatakan, baru-baru ini bahwa menjamin pasokan daging babi adalah “aba-aba militer” yang dikeluarkan oleh Komite Sentral Partai. Ia juga menekankan bahwa jika harga daging babi tidak stabil, itu mungkin akan menghancurkan peringatan ke-70 hari jadi Republik Rakyat Tiongkok.

Selain itu, Dewan Negara Tiongkok membentuk komite tetap untuk merumuskan kebijakan yang relevan. Kebijakan itu, termasuk pemulihan produksi daging babi, menghapus peraturan larangan memelihara babi, mendukung petani memelihara babi dan sebagainya.

Beberapa ahli berpendapat, bahwa kekurangan dalam hal pasokan daging babi ke pasar saat ini sulit untuk dapat diatasi dalam waktu pendek. Diperkirakan harga masih dapat membumbung pada bulan ini.

Menanggapi kebijakan pemerintah yang mendorong petani memelihara babi, Mr. Xiao, seorang peternak di Provinsi Hunan kepada Epoch Times mengatakan, bahwa kejadian itu  tidak dapat mengubah situasi kekurangan daging babi yang kini melanda. Warga itu mengatakan, banyak orang kehilangan nyawa mereka karena memelihara babi. 

Menurut peternak itu, masalah penyakit flu babi tidak diatasi secara serius tetapi malah mendorong warga untuk memelihara babi. Hal demikian justru menimbulkan pertanyaan, apakah itu bukan bermaksud merugikan orang lain. Membuat semakin banyak peternak gulung tikar karena memelihara babi. 

Epidemi flu babi Afrika telah menyebabkan sejumlah besar babi mati dan dibunuh di berbagai provinsi dan kota seluruh negeri. Sekarang ini, di kabupaten-kabupaten nyaris tidak ada babi tersisa yang dapat dikonsumsi.

Reuters mengutip ungkapan yang disampaikan oleh perusahaan holding aset internasional -INTL FCStone- yang mengatakan, bahwa produksi daging babi Tiongkok telah turun dari 54 juta ton pada tahun 2018 menjadi 38 juta ton pada tahun ini. Jumlahnya akan terus menurun tahun depan. Untuk mencapai kembali ke level semula yakni 50 juta ton, membutuhkan waktu 7 tahun.

Perlu disebutkan bahwa dengan meningkatnya suhu perang dagang, tarif impor komunis Tiongkok terhadap produk daging babi AS telah dinaikkan menjadi 72% sejak 1 September lalu. 

Tidak hanya itu, media ‘Liberty Times’ melaporkan, bahwa baru-baru ini komunis Tiongkok membatalkan pesanan pembelian 147.000 ton produk daging babi AS tahun ini dan tahun berikutnya. Selain itu, setelah hubungan bilateral komunis Tiongkok dengan Kanada memburuk, Tiongkok pada Juni lalu juga  terpaksa menangguhkan impor daging babi dari Kanada. (Sin/asr)