Reporter Epoch Times, Lin Chuzhou & Ye Yifan, melaporkan dari Hong Kong

Unjuk rasa anti ekstradisi Hongkong telah menjadi sorotan dunia. Yang diperlihatkan kepada seluruh dunia adalah, bagaimana Komunis Tiongkok menggunakan kekerasan menghancurkan keadilan dan ketertiban masyarakat. Membuat hukum yang dibanggakan Hongkong selama ini dirusak sampai hampir tak berbekas dalam dua bulan terakhir.

Komunis Tiongkok tidak bisa dipercaya. Perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok membuat internal kongres Amerika semakin kompak. Dan aksi unjuk rasa anti ekstradisi ini bisa dikatakan telah memberikan suatu “pelajaran praktik taktik sesat ala Komunis Tiongkok” bagi warga Hongkong dan para tokoh internasional.

Benarkah pengunjuk rasa telah membacok polisi yang pulang usai piket? Memukuli penumpang di dalam stasiun kereta api bawah tanah secara brutal? Lalu yang melempar bom Molotov apakah para pengunjuk rasa atau polisi?

Polisi Diserang Pada 30 Agustus Malam, Berita Dipublikasikan “Super Kilat” Dalam Tempo 20 Menit, Picu Kecurigaan

Pada 30 Agustus tengah malam, seorang polisi yang bertugas di gudang senjata pulang kerja. Saat berada di dekat daerah Kwai Chung diserang oleh 3 orang yang tak dikenal, lalu segera dilarikan ke rumah sakit untuk diselamatkan.

 Komisaris Polisi bernama Stephen Lo Wai Chong tak lama kemudian tiba di rumah sakit untuk menengok kondisinya. Lo Wai Chong dengan berang mengecam aksi pelaku yang hina itu. Dia menyatakan polisi yang dilukai itu “tidak memiliki musuh”.

Saat situasi anti ekstradisi meruncing, kasus serangan terhadap polisi menjadi sorotan. Akan tetapi surat kabar “Oriental Daily” dengan “super kilat” hanya dalam tempo 20 menit sudah mempublikasikan berita itu. Akibatnya memicu kecurigaan masyarakat.

Ada warganet menulis artikel mengemukakan kecurigaannya terhadap berita “super kilat” yang keluar hanya dalam tempo 20 menit atas kasus penyerangan polisi itu.

Waktu penerbitan berita pertama “Oriental News” adalah pada 30 Agustus 2019 pukul 11:41 malam. Kalimat pertama berita itu secara tepat menyebutkan peristiwa itu terjadi pada 30 Agustus 2019 pukul 11:21 malam hari.

Namun konten berita menunjukkan, saat kejadian reporter belum berada di lokasi kejadian. Namun berita itu tidak menjelaskan secara tegas bagaimana memastikan bahwa tragedi itu terjadi tepat pada pukul 11:21. Pada saat yang sama 20 menit setelah kejadian, berhasil tiba di lokasi kejadian lalu selesai mengambil foto rumah sakit, menulis artikel berikut proses liputannya kemudian mempublikasikannya. Warga mengejek dengan mengatakan “wartawan paling cepat tahun ini”.

Sekarang kasus itu dilimpahkan ke bagian investigasi kriminal   Kepolisian Wilayah Selatan New Territories. Belum ada berita yang membuktikan latar belakang pelaku kejahatan.

Menurut berita, 3 penyerang membawa pisau sepanjang 30 cm. Polisi yang menjadi korban mengalami luka di bagian tangan, kaki, lengan dan punggung. Luka akibat bacokan. Kasus penyerangan terhadap polisi yang mendadak itu dinilai terdapat banyak keraguan yang tak bisa dipecahkan.

Selain kecurigaan di atas dari warga akan “betapa cepatnya” berita dipublikasikan, juga terdapat pula beberapa kecurigaan lain, seperti sebagai berikut:

Kecurigaan pertama: Pada saat konflik di tengah gerakan anti ekstradisi memuncak, diserangnya polisi adalah suatu kasus kekerasan yang sensitif dan sangat besar. Sementara itu satu-satunya media yakni Oriental News pada saat pertama memberitakan peristiwa itu, sedangkan media massa besar lainnya belum mendapatkan berita apa pun dari pihak kepolisian maupun rumah sakit.

Saat ini hanya Oriental News yang memberitakan kondisi cedera pada korban. Itu sangat berbeda jauh dengan sikap pihak kepolisian dan pemerintah Hongkong terhadap peristiwa anarkis di tengah gerakan anti ekstradisi selama ini.

Kecurigaan kedua: Setelah berita pertama oleh Oriental News diterbitkan, dengan cepat segera ditambahkan lagi pemberitaan susulan. Namun pada berita susulan berikutnya terdapat tidak sedikit penalaran yang bertentangan dengan berita normal. Pasalnya berita susulan sesungguhnya telah menutupi konten pada berita pertama, menghapus banyak sekali detil pada berita pertama, sehingga yang tersisa hanya 149 kata saja.

Peristiwa Serupa 20-30 Tahun Silam Kembali Terulang?

Menengok kembali soal penindasan berdarah oleh Komunis Tiongkok. Beberapa kali sebelumnya terhadap perlawanan massa, Komunis Tiongkok terungkap pernah mengutus militer dan polisi atau mata-mata untuk menyamar menjadi massa pengunjuk rasa. Mereka menciptakan “peristiwa kerusuhan” yang dilakukan oleh “para perusuh” yakni membakar, membunuh dan merampok, sebagai dalih bagi pihak penguasa untuk kemudian melakukan penindasan terhadap protes massa tersebut.

Dalam 20-30 tahun terakhir, dalam menindas Islam-Uighur Xinjiang, Buddha Tibet, tragedi pro demokrasi Tiananmen “4 Juni” dan penganiayaan Falun Gong, secara berulang kali Komunis Tiongkok terus menciptakan peristiwa serupa.

Kejadian “membakar kendaraan militer” dan “perusuh membakar tentara” sebelum dimulainya “Pembantaian Tiananmen.” Pasca kejadian satu persatu terungkap ternyata merupakan hasil rekayasa militer Komunis Tiongkok dengan mengirim mata-mata yang menyamar sebagai pengunjuk rasa.

Saat menganiaya Falun Gong, pada 23 Januari 2001, di Lapangan Tiananmen Komunis Tiongkok merekayasa “kasus fiktif bakar diri Tiananmen” untuk memfitnah Falun Gong. Setelah kejadian itu mulailah berkobar aksi penganiayaan berskala besar ala Revolusi Kebudayaan di seluruh negeri.

Pada 14 Agustus 2001, UNESCO menyampaikan pernyataan atas peristiwa bakar diri tersebut.

“Kami melihat sebuah hasil analisa rekaman pada kasus bakar diri itu. Ini merupakan peristiwa fitnah yang dilakukan Komunis Tiongkok secara sepihak pada Falun Gong.”

Siapa pun yang tertarik akan diijinkan mendapatkan duplikat hasil analisa rekaman tersebut.

Rekaman video yang dimaksud oleh UNESCO itu adalah film dokumenter berjudul “False Fire” yang dibuat dan ditayangkan oleh stasiun TV New Tang Dynasty di salah satu acaranya “Focus Report” setelah melalui analisa forensik. Film itu mengungkap banyaknya cacat dalam rekayasa Komunis Tiongkok tersebut, bahkan juga berhasil meraih penghargaan kehormatan pada Festival Film & Video Columbus ke-51.

Di tengah semakin tegangnya situasi di Hongkong saat ini, mendadak terjadi peristiwa penyerangan terhadap polisi, sungguh membuat khawatir masyarakat akan arah perkembangan situasi di Hongkong kedepannya.

Video Rekaman Pulihkan Fakta Pemukulan “Tanpa Pandang Bulu” Oleh Polisi Hongkong di Stasiun Prince Edward 31 Agustus

Pihak kepolisian Hong Kong mengeluarkan surat pemberitahuan menentang pawai yang akan diadakan oleh Civil Human Rights Front  – CHRF atau Front Hak-hak Asasi Manusia Sipil pada 31 Agustus 2019. Warga kota dan massa pengunjuk rasa dalam jumlah besar tiba di Pulau Hongkong untuk melakukan “pawai bebas”., Setelah polisi membersihkan lokasi, terjadilah bentrok sengit di berbagai wilayah, berkobar dari Pulau Hongkong menyebar hingga ke wilayah Kowloon, dan juga pertumpahan darah di MTR Hongkong.

Ada rekaman video menunjukkan, tim STC – Special Tactical Contingent kepolisian menyerbu masuk ke dalam stasiun Prince Edward lalu menerjang ke dalam gerbong dan memukuli warga kota dengan pentungan polisi.  Bahkan ada orang yang telah dijatuhkan, polisi masih terus menyemprotkan bubuk merica.

Akan tetapi, juru bicara kepolisian Hong Kong pada konferensi pers pada 1 September 2019 lalu menyangkal pihaknya telah “memukul tanpa pandang bulu.” Saat ditanya oleh wartawan, polisi  menjawab “telah menggunakan kekuatan yang semestinya untuk menundukkan mereka”.

Pada 31 Agustus 2019 malam, demonstran dari Admiralty dan Wan Chai mundur ke arah Causeway Bay, karena terus menerus ditekan oleh polisi yang mensterilkan lokasi. Melalui stasiun Mass Transit Railway – MTR mereka bergeser ke Tsim Sha Tsui, setelah satu putaran bentrok, mereka mundur ke stasiun Tsim Sha Tsui dan meninggalkan tempat itu.

Ada warganet bernama Pakkin Leung yang merekam kejadian di lokasi. Di stasiun Prince Edward kepolisian dengan cepat mengutus tim STC menyerbu ke dalam gerbong kereta yang bergerak dari Tsuen Wan menuju ke arah Central. Setelah mencari-cari, lalu mulai memukuli warga kota dengan membabi buta. Sebagian korban tidak mengenakan baju hitam.

Di dalam video itu terlihat ada yang kepalanya bocor dan darah mengalir, bahkan ada juga yang shock. Pihak polisi berdalih berusaha melerai perselisihan antar demonstran, tapi yang terjadi sesungguhnya mengepung dan menangkap para demonstran.

Juru bicara kepolisian Hong Kong pada 1 September 2019 memberikan tanggapan atas peristiwa “polisi memukul warga tanpa pandang bulu di stasiun Prince Edward”   dengan mengatakan, kelompok orang-orang yang berbeda pandangan politik terlibat konflik di dalam gerbong MTR di stasiun Prince Edward.

Demonstran yang  berbaju hitam setelah berganti pakaian menyamar sebagai warga kota, lalu menyerang polisi, dan polisi hanya menggunakan kekuatan yang sewajarnya untuk mengatasinya.

Akan tetapi di dalam rekaman tersebut tidak ada orang yang terlibat konflik, melainkan polisi menerobos masuk ke platform stasiun untuk menggeledah, sembari memukuli para penumpang tanpa pandang bulu.

Video itu menunjukkan, demonstran membela diri dengan paying. Sementara polisi menggunakan pentungan polisi sambil membawa senapan gas air mata dan semprotan merica dan menyemprotkannya pada warga kota, setiap melihat orang yang dicurigai akan dijatuhkan dan dipukuli.

Pemutaran Rekaman Kejadian

Saat kejadian, stasiun MTR membuat siaran darurat, “Karena terjadi peristiwa gawat, stasiun ini akan ditutup, penumpang harus segera meninggalkan stasiun.”

Waktu itu, anggota tim STC yang mengenakan baju militer hitam dan hijau membawa pentungan polisi dan tameng menyerbu masuk ke dalam platform mencari sasaran. Saat melihatnya para penumpang di dalam gerbong menghindar ke sudut. Begitu melihat seorang pria berkaos putih dan celana hitam, langsung menjatuhkannya, serta berteriak “tiarap, tiarap”, dan terus memukulinya dengan pentungan. Darah pun langsung berceceran di lantai. Di sisi lain juga terlihat seorang pria sedang digeledah lalu dipukuli kemudian dibawa pergi oleh polisi.

Tiga orang polisi lainnya menggeledah satu per satu gerbong. Ada yang memegang pentungan polisi, senapan gas air mata dan semprotan merica menghadap warga di dalam gerbong. Ada warga yang berteriak padanya, salah satu polisi lainnya balas berteriak padanya “ayo kesini… kesini…” maksudnya beranikah kau? Lalu dicegah oleh polisi lain.

Polisi pun terus memeriksa, melihat seorang pria langsung menjatuhkannya. Selama itu, stasiun MTR terus menyiarkan siaran darurat, beberapa orang polisi lain memasuki gerbong. Pintu gerbong menutup, lalu polisi melihat 4 orang anak muda, dan segera mengayunkan pentungan memukuli kepala muda mudi yang tidak bersenjata itu. Mereka terduduk di lantai sambil berkata “maaf… maaf…”

Mereka telah ditundukkan, tapi polisi tidak berhenti, terus menyemprotkan bubuk merica ke arah mereka. Orang di sekitar mereka terus meneriaki para polisi, “mafia… mafia…”

Menyamar Demonstran, Memecah Belah Warga

Sementara itu Komandan Regional Hongkong Guo Bocong menyatakan, polisi melarang berkumpulnya CHRF pada 31 Agustus 2019, adalah keputusan yang bertanggung jawab. Hal itu diklaim untuk menjamin keselamatan jiwa dan harta benda warga kota.

Guo Bocong mengatakan, dalam unjuk rasa terdahulu, ada demonstran menggunakan senjata berbahaya termasuk bom Molotov, cairan korosif, lempengan asap, airsoft gun dan lain-lain untuk menyerang polisi. Kubu CHRF Hongkong mengobarkan pertemuan pawai akbar 31 Agustus 2019 karena mendapat surat pemberitahuan pelarangan dari polisi. Naik banding CHRF ditolak, dipaksa membatalkan pawainya sehari sebelumnya.

Pada 31 Agustus 2019, warga Hongkong berinisiatif melakukan berbagai kegiatan berbeda, terus melakukan protes. Namun dalam kegiatan itu, banyak demonstran berpakaian hitam yang terus melemparkan bom molotov di jalanan. Para “demonstran” yang memegang molotov itu, di punggungnya terdapat lampu LED yang menyala berkelap kelip. Sosok pria dengan lampu LED yang berkelap kelip itu sempat tertangkap kamera bergabung dengan polisi.

Siaran berita TV Hongkong dan video di internet menunjukkan, setelah para penyaru demonstran itu ketahuan, demonstran mulai mengejar mereka. Awalnya karena di lokasi demonstran tidak banyak, para demonstran palsu masih terus melawan, tapi ketika para demonstran terus bertambah banyak, para demonstran palsu itu pun terpaksa mundur dan melarikan diri. Banyak demonstran lain mengejar dan memukuli mereka.

Pada saat yang sama, sejumlah polisi menyamar sebagai demonstran, menyelinap di antara kerumunan pengunjuk rasa dan menangkap orang.

Menurut berita oleh “The Stand News”, di sekitar Taman Victoria dan IKEA, ada demonstran diciduk oleh polisi yang menyamar sebagai demonstran.

Dalam beberapa kali gerakan anti ekstradisi sebelumnya, polisi Hongkong berulang kali terungkap menyamar sebagai pengunjuk rasa, dan membaur di dalam kerumunan demonstran.

Penyamaran polisi itu seperti terjadi dalam aksi anti ekstradisi 11 Agustus 2019 lalu, saat polisi menggunakan kekerasan membersihkan lokasi, media massa Hongkong memotret seorang polisi yang menyamar sebagai demonstran. Ada pula warga Hongkong menyaksikan 3 orang berpakaian hitam memprovokasi perkelahian di antara para demonstran. Ketika polisi menerobos ke dalam kerumunan untuk menangkap orang, mereka cepat-cepat mengeluarkan batang lampu neon untuk membuktikan statusnya, sambil berteriak “orang sendiri”.

Pada 18 Agustus 2019 setelah pertemuan di Taman Victoria berakhir, wartawan Asia Freedom berhasil memotret sekumpulan “demonstran” pria berpakaian garis zebra, berjalan menuju kantor pusat kepolisian. Orang-orang itu mayoritas berpakaian hitam, juga pakaian lain, ada yang membawa tas ransel, ada yang membawa payung, ada juga yang mengenakan masker.

Mengenai polisi Hongkong yang menyamar sebagai demonstran, Deputi Komisaris Polisi Hongkong Tang Ping Keung setelah dicecar pertanyaan oleh wartawan pada 12 Agustus 2019 lalu akhirnya mengakui, di lokasi unjuk rasa memang terdapat anggota kepolisian yang “menyamar” sebagai tokoh yang berbeda. Tokoh seperti apa yang cocok dengan lokasi maka mereka akan menyamar sebagai tokoh tersebut. Tapi warga Hongkong meragukan tindakan polisi itu.

Mantan anggota legislatif Hongkong yang juga seorang pengacara yakni Alan Leong Kah-Kit mengatakan, dalam kegiatan terbuka seperti itu, polisi menyamar sebagai demonstran, bahkan melakukan tindakan anarkis, sebenarnya merupakan konsepsi dalih absurd untuk menyangkal penyusupan intel polisi yang menyamar.

Intel polisi menyamar sebagai demonstran, selain dapat melimpahkan aksi anarkis kepada para demonstran sendiri, juga dapat menimbulkan fungsi memecah belah para demonstran. Itu adalah cara-cara yang digunakan partai komunis Tiongkok untuk menyulut konflik di tengah masyarakat. Hal itu juga merefleksikan bahwa pemerintah Hongkong tidak berniat menyelesaikan tuntutan warga, dan hanya berusaha menggunakan kekerasan untuk menekan suara oposisi. (SUD/whs) 

Share

Video Popular