oleh Wang Youqun – Epochtimes.com

Pada 3 September 2019, Presiden Xi Jinping berpidato pada upacara pembukaan “Kelas Pelatihan Kader Muda Pusat” di Sekolah Partai Pusat Komunis Tiongkok.  Ketika itu, ia lebih dari 50 kali menyebut 2 huruf dalam bahasa mandarin yakni “Dou Zheng” yang artinya pertarungan, perjuangan. Frekuensinya sangat intens. Hal itu sangat jarang terjadi.

 Mengamati perkataan Xi Jinping itu, bisa dilihat di dalam benaknya terpendam emosi yang sangat besar. Hampir mencapai tahap tak tertahankan, kata “pertarungan” sebanyak lebih dari 50 kali ini, bisa dipandang sebagai satu kali “luapan besar”.

Dalam 2 tahun ini semenjak Kongres Nasional ke-19 Partai Komunis Tiongkok, berbagai urusan dalam negeri, diplomatik, Hongkong, dan Taiwan, hampir tidak ada satu pun yang berjalan mulus bagi Xi Jinping. Sejak Maret 2018, Xi Jinping mengalami tantangan terbesar sepanjang karirnya, yakni: Perang dagang AS-Tiongkok.

Pada April 2017, saat bertatap muka dengan Presiden Trump untuk pertama kali Xi pernah secara jelas mengatakan: “Kami mempunyai ribuan alasan untuk membina hubungan baik Tiongkok dengan Amerika, tidak ada satu pun alasan untuk memperburuk hubungan AS-Tiongkok”.

Berdasarkan pernyataan itu, tidak seharusnya perang dagang AS-Tiongkok terjadi, namun faktanya justru yang terjadi adalah sebaliknya. Setahun lebih, Trump telah berulang kali melontarkan sinyal bersahabat, Xi juga berkali-kali mencapai kesepakatan. Akan tetapi, pada akhirnya tidak tercapai kesepakatan apapun. Hingga sekarang, hubungan AS-Tiongkok telah sampai pada tahap “perang dingin” secara menyeluruh.

Sejak Juni tahun ini, Xi Jinping kembali telah mengalami tantangan kedua terbesar dalam karirnya, yakni: Aksi unjuk rasa anti ekstradisi Hongkong. Setelah perang dagang AS-Tiongkok, membuat Xi Jinping babak belur, dipastikan Xi tidak ingin melihat terjadinya kekacauan di Hongkong.

 Merangkum informasi berbagai pihak, “RUU Ekstradisi” memang bukan instruksi dari Xi Jinping kepada pemerintah Hongkong untuk membuat amandemennya. Xi Jinping sendiri pun tidak berniat mengirim pasukan menggunakan kekuatan militer terhadap Hongkong. 

Tapi, ada pihak tertentu yang justru merasa cemas jika Hongkong tidak kacau, yang terus memperuncing konflik, kesepakatan “satu negara dua sistem” di Hongkong terkikis parah, Xi Jinping terpojok pada posisi hampir sepenuhnya berlawanan dengan arus utama aspirasi Hongkong.

 Pada 2 Januari awal tahun ini, Xi Jinping telah menyampaikan pidato “satu negara dua sistem” untuk menyatukan Taiwan. Bahkan, Walikota Taipei Ke Wenzhe yang selama ini tidak berani sembarangan menyinggung Komunis Tiongkok pun mengatakan, melihat contoh di Hongkong pada kondisi saat ini, “Bisakah dirinya tidak menentang ‘satu negara dua sistem’ itu?”

 Tantangan ketiga terbesar yang dihadapi oleh Xi Jinping adalah perlawanan lunak maupun keras dari para pejabat lokalnya. Sejak 2014 hingga 2018, hanya dalam masalah penggusuran bangunan vila Qinling yang dibangun ilegal saja, Xi Jinping berturut-turut telah mengeluarkan sebanyak 6 kali instruksi. 

Sebanyak 5 kali instruksi terdahulu ditentang secara lunak oleh Komisi Provinsi Shaanxi, diperdaya begitu saja. Sampai akhirnya instruksi ke-6, Xi mengeluarkan pernyataan keras. Ia mengirim Sekretaris Komisi Kedisplinan Pusat, Xu Lingyi ke Shaanxi untuk mengawasi secara langsung. Masalah itu baru terselesaikan.  Shaanxi adalah kampung halaman Xi Jinping. Pejabat utama di kampung halamannya saja begitu menentangnya, bisa dibayangkan di daerah lain.

Kini tantangan keempat terbesar Xi Jinping datang dari instansi politik hukum. Pertikaian terbesar itu terjadi ketika seorang hakim Pengadilan Tertinggi bernama Wang Linqing, mengadukan perkara pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Hakim Agung Pengadilan Tertinggi yakni Zhou Qiang. 

Pada 26 Desember 2018 lalu, mantan pembawa acara stasiun CNTV bernama Cui Yongyuan, mengungkap peristiwa ini di Sina Weibo.  Lalu pada 22 Februari 2019, Wang Linqing didesak untuk meminta maaf secara terbuka melalui CNTV. Berita oleh Cui Yongyuan di Sina Weibo berikut liputannya, tidak pernah dihapus. 

Zhou Qiang adalah pejabat tinggi setingkat pejabat teras! Jika bukan karena adanya dukungan Xi Jinping di belakang layar, hal itu sama sekali tidak mungkin terjadi. Xi Jinping mungkin berniat memanfaatkan peristiwa itu untuk membersihkan “oknum yang tidak disukai” di dalam sistem politik hukum. 

Akan tetapi, hasil investigasi yang dilakukan oleh Komite Politik Hukum Pusat justru sangat bertolak belakang dengan akal sehat yang paling mendasar. Baik dalam maupun luar negeri mengecam Komunis Tiongkok secara terang-terangan ibarat “menunjuk rusa sebagai kuda”, bahkan menciptakan peribahasa baru “Linqing kehilangan kitab”.

 Itu juga salah satu alasan penting warga Hongkong menentang “RUU Ekstradisi”. Komisi Politik Hukum Pusat melindungi kejahatan melanggar hukum yang dilakukan oleh seorang Hakim Agung komunis Tiongkok, siapa yang bisa mempercayai bahwa Komunis Tiongkok, akan menjalankan pemerintahan sesuai hukum yang berlaku?

 Mengabaikan masalah lainnya, hanya membicarakan beberapa masalah itu saja, tidak ada satu pun yang bisa diselesaikan oleh Xi Jinping. Karena Xi Jinping sekarang menjabat sebagai pemimpin tertinggi partai-politik-militer Komunis Tiongkok, maka semua orang yang tidak puas akan masalah itu, semua akan mengecam Xi Jinping. Xi dibuat terjerat luar dalam, terjepit di tengah-tengah orang yang bukan kepercayaannya.

 Selama 70 tahun pemerintahan Komunis Tiongkok, selalu bicara soal “pertarungan”, disebut hingga seribu kali bahkan puluhan ribu kali, selalu berkutat di seputar masalah “Quan Li yang artinya kekuasaan.  Xi Jinping menyebut kata “pertarungan” sebanyak lebih dari 50 kali, jika disimpulkan hanya ada satu hal, yaitu bertarung untuk melindungi posisi “Xi sebagai inti”.

 Dalam Kongres Nasional ke-19 Partai Komunis Tiongkok, secara permukaan sepertinya Xi telah menjadi “Xi sebagai inti.” Namun hingga saat ini, di pusat selalu ada “dua pusat”, inti selalu ada “dua inti”, ini adalah kunci yang selama ini tidak bisa diselesaikan oleh Xi dalam serangkaian masalah krusial yang terjadi.  Baru-baru ini, pada permasalahan Hongkong, sebagai wujud “dua pusat” dan “dua inti” menjadi semakin mencolok.

Siapa yang Ingin “Ditarung” Oleh Xi Jinping?

 Pada 4 September, Kepala Eksekutif Hongkong, Carrie Lam mendadak mengumumkan pencabutan “RUU Ekstradisi.”Dari Kemenlu Komunis Tiongkok sampai Kantor Urusan Hongkong & Makau di Kemendagri Tiongkok, sampai Kantor Penghubung Tiongkok di Hongkong, sampai media massa corong Komunis Tiongkok, tidak ada satu pun yang tahu menahu perihal itu sebelumnya.

 Setelah kejadian, juru bicara Kemenlu menghindari pertanyaan wartawan, Kantor Urusan Hongkong & Makau juga Kantor Penghubung Hongkong bungkam, netizen yang pro-Komunis Tiongkok pun entah harus berbuat apa.

 Menurut analisa, Carrie Lam mengumumkan pencabutan “RUU Ekstradisi”, adalah perintah yang diberikan oleh Xi Jinping langsung kepada Carrie Lam. Perintah itu melampaui Han Zheng selaku Wakil Pedana Menteri yang juga merangkap sebagai anggota Komisi Tetap Dewan Politbiro Komunis Tiongkok yang menangani masalah Hongkong dan Makau, Kantor Urusan Hongkong & Makau di Kemendagri, serta Kantor Penghubung Hongkong.

 Konflik “Xi sebagai inti” dengan “inti yang lain” serta konflik “Xi sebagai pusat” dengan “pusat yang lain” menjadi semakin terbuka. Siapakah di balik “inti yang lain” dan “pusat yang lain” tersebut? Jelas, adalah Jiang Zemin dan Zeng Qinghong.

 Disini disebutkan kedua nama Jiang dan Zeng, karena dulunya kedua tokoh ini menyatu. Sekarang, Jiang telah berusia 93 tahun, sebelumnya berkali-kali beredar berita bahwa Jiang sakit keras, kini Jiang hanya tersisa seutas nafas terakhir. Pada kubu kepentingan Jiang dan Zeng ini, yang sekarang menjadi pemimpin sesungguhnya di belakang layar, seharusnya adalah Zeng Qinghong.

Setelah reunifikasinya pada 1997 silam, Hongkong selalu menjadi basis kekuatan Jiang dan Zeng, Zeng Qinghong bersusah-payah mengendalikan Hongkong selama bertahun-tahun. 

Mulai dari pejabat Kepala Eksekutif di Hongkong sebelumnya, sampai Kantor Penghubung Hongkong dan Kantor Urusan Hongkong dan Makau, sampai anggota Komisi Tetap Dewan Politbiro Komunis Tiongkok yang menangani masalah Hongkong dan Makau, semuanya adalah orang kepercayaan Jiang dan Zeng.

 Pada 20 April 2019 lalu, mantan Komisi Tetap Dewan Politbiro sekaligus wakil kepala negara, Zeng Qinghong yang telah lebih dari 3 tahun tidak menampakkan diri, mendadak muncul secara menghebohkan di Jiangxi. Ia bahkan sengaja memilih tanggal 25 April yang merupakan “hari sensitif” bagi Komunis Tiongkok itu, untuk sekar bunga di makam Hu Yaobang di tengah guyuran hujan.

Pada 15 April 1989, adalah hari meninggalnya mantan Sekretaris Jenderal Komunis Tiongkok yakni Hu Yaobang. Peristiwa itu menjadi pemicu gerakan pelajar yang melanda seluruh negeri di bulan April 1989. 

Tahun ini adalah peringatan 30 tahun peristiwa “Pembantaian Tiananmen” 4 Juni 1989. Yang paling dikhawatirkan Xi adalah munculnya gelombang pelajar seperti peristiwa “Tiananmen”. Zeng Qinghong dengan sengaja muncul dengan memilih saat seperti itu, dianggap memberikan dukungan bagi kekuatan yang menentang Xi Jinping.

Sejak April hingga sekarang, orang-orang kepercayaan Jiang dan Zeng, terus memperuncing konflik di Hongkong.  Sekali demi sekali menuangkan minyak di atas kobaran api, menyebabkan meletusnya Gerakan anti ekstradisi berdampak terbesar di dalam negeri, dengan durasi terpanjang dan partisipan terbanyak sepanjang sejarah. Tujuannya adalah membuat Hongkong semakin rusuh semakin baik, pada akhirnya memaksa Xi Jinping mengirim pasukan untuk meredamnya, sehingga Xi Jinping bisa dijadikan kambing hitam!

Hubungan Tiongkok dengan AS, telah memburuk hingga ke tahap hampir putus hubungan, siapakah dalang paling krusial di baliknya?

Orang kepercayaan Jiang Zemin dan Zeng Qinghong, yakni: Anggota Komisi Tetap Politbiro Komunis tiongkok, Wang Huning, dan Han Zheng yang juga anggota Komisi Tetap Politbiro merangkap sebagai Wakil Perdana Menteri.

Siapakah yang menjadi penghambat terbesar masalah bangunan vila ilegal di Qinling? Juga orang kepercayaan Jiang dan Zeng, yakni: Mantan Sekretaris Komisi Propinsi Shaanxi yakni Zhao Yongzheng. Siapakah yang menutupi pelanggaran hukum oleh Hakim Agung Zhou Qiang? Juga orang kepercayaan Jiang dan Zeng, yakni: Sekretaris Komisi Politik Hukum Pusat sekaligus juga anggota Komisi Tetap Dewan Politbiro Komunis Tiongkok yakni Guo Shengkun. Semua batu sandungan yang keras dan busuk itu jika tidak disingkirkan, maka segala urusan Xi Jinping tidak akan beres.

Apa Penyebab Xi Jinping Mengalami Semua Permasalahan Internal?

 Menurut penulis ada tiga penyebab:

 Pertama, Xi telah melupakan perkataannya sendiri bahwa “tiga kaki di atas kepala ada Dewa, harus memiliki hati yang senantiasa hormat dan segan pada Dewa”. Pada akhir Oktober 2017, pasca berakhirnya Kongres Nasional ke-19 Partai Komunis tiongkok, Xi Jinping memimpin Komisi Tetap Dewan Politbiro Partai Komunis Tiongkok pergi ke lokasi lawas Kongres Nasional pertama Partai Komunis Tiongkok di Shanghai.

Di situ Xi mengangkat kepalan tangan ke udara.  Saat itu, Xi bersumpah akan berjuang seumur hidup bagi paham komunis yang dibesarkan oleh Marx yang atheis. Sejak saat itu pula, setiap langkah Xi selalu salah, begitu juga langkah-langkah berikutnya selalu salah.

Kedua, menangkap perampok harus menciduk ketua gengnya terlebih dahulu. Selama 5 tahun pertama menjabat, Xi Jinping melakukan pemberantasan korupsi, yang berhasil ditangkap dan diproses hukum sebanyak 440 orang pejabat tinggi setingkat provinsi dan 160 orang perwira militer. 

Ada pula yang bunuh diri dengan melompat dari lantai atas gedung tinggi, gantung diri, minum racun dan lain-lain. Mayoritas merupakan orang-orang yang dipromosikan oleh Jiang Zemin dan Zeng Qinghong. Mereka semua sangat membenci Xi, kebencian mereka sewaktu-waktu mengancam keselamatan Xi. Yang disayangkan adalah, menjelang Kongres Nasional ke-19 Partai Komunis Tiongkok, mungkin Xi Jinping telah berkompromi dengan Jiang Zemin dan Zeng Qinghong. 

Aksi pemberantasan korupsi Xi Jinping pun berhenti sampai mantan anggota Komisi Tetap Dewan Politbiro Partai Komunis Tiongkok yang merangkap sebagai Sekretaris Komisi Politik Hukum Pusat pada masa itu yakni Zhou Yongkang. Dalang perampok tidak diciduk, hidup Xi pun menjadi tidak tenang!

 Ketiga, Xi yang merupakan keturunan kedua Dinasti Merah, sejak kecil hidup di tengah budaya partai. Apa yang dialami ayahnya yang pernah diganyang dan dihukum, telah secara kuat membuktikan bahwa seperangkat ideologi Karl Marx itu sangat membahayakan manusia. Perilaku korup para pejabat dan perwira yang berhasil diciduk Xi pada 5 tahun pertama, semakin kuat membuktikan hal itu. 

Tetapi Xi selalu tidak bisa mengenali bahaya dan karakteristik budaya partai  yang sesungguhnya, sangat mudah dikendalikan oleh budaya partai. Selain itu, yang diwariskan oleh Xi Jinping pada dasarnya adalah sebuah pemerintahan yang bobrok. 

Hal paling penting pada 5 tahun pertama kekuasaannya adalah merebut kekuasaan nyata dari tangan Jiang Zemin. Lalu begitu dimulainya masa jabatan kedua, lantas mengalami perang dagang AS-Tiongkok. Masalah besar yang dihadapi oleh Xi Jinping sekarang adalah hasil akumulasi permasalahan dari masa kekuasaan Jiang Zemin sewaktu menjadi “raja diraja”. Ada yang mengatakan, Jiang Zemin yang menggesek kartu kreditnya, Xi Jinping yang membayar tagihannya. Jika diamati memang ada benarnya.

Di manakah Jalan Keluar Bagi Xi Jinping?

 Xi Jinping mem-blow up kata “pertarungan”, dilihat dari kondisi saat ini, Kepala Kantor Penghubung Hongkong yakni Wang Zhiming, Kepala Kantor Urusan Hongkong dan Makau di Kemendagri Tiongkok, yakni Zhang Xiaoming, anggota Komisi Tetap Dewan Politbiro merangkap Wakil Perdana Menteri yakni Han Zheng, mungkin merupakan sasaran “pertarungan”-nya.

 Kunci permasalahan terletak pada apa yang dimaksud dengan “pertarungan” oleh Xi Jinping, apakah dengan prasyarat tetap menjadi keturunan Marx dan Lenin dan melindungi partai komunis, atau sebagai generasi penerus Tiongkok yang melindungi kepentingan anak cucu bangsa Tiongkok. Jika yang pertama, maka Xi akan terus berkutat di dalam kerangka teori pertarungan antar kelas ala pemikiran Karl Marx. 

Kini, Komunis tiongkok telah menjadi partai politik yang paling korup di seluruh dunia. Xi ingin memulihkan buah apel yang telah membusuk itu dengan cara “bertarung”, itu sama sekali tidak mungkin!

Masih dengan masalah Hongkong sebagai contoh. Polisi Hongkong selama ini dalam jangka waktu lama dikuasai oleh antek-antek Jiang Zemin dan Zeng Qinghong. Pejabat tingginya langsung melapor kepada Komisi Politik Hukum Pusat.

Perlakukan brutal polisi jahat Hongkong terhadap warga Hongkong, adalah cara-cara brutal “menjaga stabilitas” dari Komisi Politik Hukum Pusat Komunis Tiongkok.

 Menurut narasumber dan beredar rumor pada 31 Agustus malam hari itu, polisi Hongkong telah menewaskan 6 orang di stasiun MTR Prince Edward, semuanya tewas dengan patah tulang leher. Setelah kejadian itu, stasiun Prince Edward ditutup selama 2 hari!

 Jika pada 29 Agustus malam hari Xi Jinping tak mengirim pasukan memasuki Hongkong, jika Xi Jinping tidak melangkahi Han Zheng, Kantor Urusan Hongkong & Makau, serta Kantor Penghubung Hongkong untuk memberikan instruksi langsung kepada Carrie Lam, maka mulai dari Jiang Zemin, Zeng Qinghong, Komisi Politik Hukum Pusat, Kantor Urusan Hongkong & Makau, Kantor Penghubung Hongkong, sampai petinggi kepolisian Hongkong, pasti akan semakin menjadi-jadi.

 Sekarang, Xi Jinping sedang berada di titik yang sangat berbahaya. Jika para antek Jiang dan Zeng pada akhirnya berhasil mengacaukan kesepakatan dagang AS-Tiongkok, berhasil mengacaukan kondisi Hongkong, maka tak lama lagi Xi Jinping akan dicabik-cabik oleh “anak macan”, “cucu macan”, dan “raja macan. Istilah macan disini adalah sebutan lain untuk koruptor di Tiongkok. Krisis, krisis, selain juga bahaya, sekaligus juga merupakan peluang. 

Untuk diketahui, dalam bahasa mandarin, kata “krisis” adalah “Wei Ji”, dimana wei yang berarti  bahaya dan ci yang artinya peluang.

Saat ini, Xi Jinping meski menghadapi krisis berlapis-lapis, juga mempunyai 3 peluang besar yakni: 

Peluang pertama, menjalin hubungan baik dengan negara adidaya: AS, menandatangani kesepakatan dagang AS-Tiongkok, mewujudkan reformasi struktural, melebur ke dalam sistem ekonomi dunia, dan memenangkan simpati internasional.

Peluang kedua, memenuhi aspirasi warga arus utama Hongkong, mendorong “pemilu sejati” di Hongkong, maka akan memenangkan simpati rakyat seluruh negeri.  Dan peluang ketiga, menangkap raja penyamun Jiang Zemin dan Zeng Qinghong.

Apakah Xi Jinping mampu meraih ketiga peluang itu? Sepenuhnya tergantung pada pilihannya sendiri! (SUD/Whs/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular