Eva Pu – The Epochtimes

Aktivis Hong Kong menangguhkan aksi protes pada Rabu 11 September 2019. Penangguhan itu dalam rangka memperingati serangan teror 18 Tahun silam di WTC pada 11 September 2001. 

Aktivis Hong Kong juga mengecam media pemerintahan Komunis Tiongkok, karena menyebarkan berita hoaks. Media-media itu menyebut bahwa pengunjuk rasa berencana melakukan “serangan teror” di Hong Kong pada hari yang sama.

Surat terbuka pada 11 September yang beredar di Telegram, berbunyi : warga Hong Kong telah mengambil keputusan itu karena serangan pada 11 September dapat terkait dengan apa yang dihadapi Hong Kong pada saat ini.

Koran China Daily edisi Hong Kong milik pemerintahan Komunis Tiongkok dalam sebuah postingan di Facebook pada 9 September mengatakan, bahwa beberapa “fanatik anti-pemerintah” sedang merencanakan “serangan teror” di Hong Kong pada 11 September. 

Hoaks yang disebarkan berupa, rencana termasuk “meledakkan pipa gas,” “Serangan sembarangan terhadap penutur non-pribumi Caton, dan memulai kebakaran gedung.” Postingan itu melampirkan gambar World Trade Center diserang. Unggahan itu mengatakan “informasi yang bocor” datang dari ruang obrolan online.

Mengulangi tulisan China Daily, Wen Wei Po, surat kabar pro-Komunis TIongkok di Hong Kong, memuat artikel pada 10 September yang mengatakan bahwa “radikal” berencana untuk membuat “pembantaian seluruh kota.”

“Mereka sama dengan teroris yang merencanakan serangan bunuh diri,” tulis surat kabar itu. Para pengunjuk rasa mengecam tuduhan itu. Mereka mengatakan  adalah bagian dari “agenda jahat mesin propaganda Partai Komunis Komunis yang bertujuan merusak gerakan protes.

Penyelenggara Konferensi Pers Warga Hong Kong, tempat para pengunjuk rasa menyuarakan pendapat mereka, mengatakan dalam pernyataan 10 September,  upaya-upaya tidak tahu malu itu, putus asa dan sama sekali tidak peka terhadap kekacauan dan kesedihan yang dialami oleh warga Amerika, sebagai akibat dari insiden teroris yang sebenarnya. 

Kelompok itu menambahkan, bahwa media pemerintahan Komunis Tiongkok, secara konsisten menggunakan “taktik licik”  serupa “untuk menjelek-jelekkan para demonstran sejak aksi protes dimulai lebih dari tiga bulan lalu.

Hong Kong Adalah Kota bekas koloni Inggris yang kembali ke kekuasaan pemerintahan Komunis Tiongkok pada tahun 1997 silam. Kota itu telah terlibat dalam krisis terburuk, sejak protes massa pecah atas RUU ekstradisi yang kontroversial pada awal Juni lalu.  Aksi protes berkembang menjadi seruan yang lebih luas untuk demokrasi. Meskipun pemimpin kota Hong Kong, Carrie Lam mengumumkan pekan lalu bahwa RUU itu akan dicabut, banyak pemrotes mengecam langkah itu sebagai “terlalu sedikit, terlalu terlambat.”

Warga Hong Kong menyampaikan, Jika China Daily dan Wen Wei Po begitu serius mencari serangan teroris untuk dilaporkan, tempat apa yang lebih baik daripada beberapa stasiun metro yang dibombardir dan diteror oleh polisi dan orang-orang pro-Komunis Tiongkok pada 21 Juli dan 31 Agustus?” 

Insiden pada 21 Juli lalu, ketika segerombolan preman berpakaian putih yang dicurigai sebagai triad, menyerang penumpang.  Banyak dari mereka yang diserang adalah demonstran yang kembali dari demonstrasi, di stasiun kereta bawah tanah Yuen Long, yang menyebabkan puluhan luka-luka. 

Polisi tiba sekitar 40 menit kemudian, meskipun ada kantor polisi di dekatnya.Dalam insiden pada 31 Agustus lalu, polisi menyerbu ke beberapa stasiun metro dan kereta. Polisi saat itu mengerahkan gas air mata, semprotan merica, dan pentungan kepada penumpang. Cuplikan dari insiden malam itu, menunjukkan penumpang dibiarkan gemetar dan berdarah di dalam kereta.

Sejak itu para pemrotes menuntut polisi dan otoritas metro, mengungkap lebih detail, termasuk mengungkap rekaman pengawasan. 

Pihak berwenang belum merilis rekaman lengkap dari malam itu.  Banyak pengunjuk rasa telah mengungkapkan kekhawatiran, bahwa korban dari insiden tersebut mungkin telah tewas. Tetapi,  telah ditolak oleh pihak berwenang.

Meskipun aksi protes ditangguhkan di seluruh kota pada 11 September, warga sipil terus menghormati para korban insiden stasiun kereta api 31 Agustus dengan meletakkan bunga dan doa di pintu masuk stasiun Pangeran Edward.

Sementara itu, ribuan orang berkumpul di berbagai mal di seluruh Hong Kong pada 11 September. Mereka menyanyikan serentak lagu protes yang baru-baru ini ditulis berjudul “Glory to Hong Kong.”

Aktivis setempat Joshua Wong pada konferensi pers di Berlin pada 11 September mengatakan, dengan semangat dan tekad warga Hong Kong, mereka hanya berharap agar dunia sadar bahwa orang-orang Hong Kong pantas mendapatkan demokrasi.  Ia berharap suatu hari, tidak hanya Hong Kong tetapi juga orang-orang di Tiongkok daratan dapat menikmati hak asasi manusia dan kebebasan.  (asr)

Share

Video Popular