- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Lengsernya Jack Ma Cerminkan Dilema Perusahaan Swasta di Tiongkok

Li Muyang 

Pada 10 September 2019 adalah hari ulang tahun ke 55 bagi orang terkaya Tiongkok Jack Ma atau Ma Yun. Pada hari itu pula Jack Ma secara resmi mengundurkan diri dari jabatan Ketua Dewan Direksi perusahaan Alibaba.  Kali ini miliarder super ini benar-benar menyerahkan tongkat ketua platform e-commerce terbesar Tiongkok kepada CEO Zhang Yong.

Untuk merayakan ulang tahun dan pengunduran diri Jack Ma, puluhan ribu orang karyawan Alibaba berbondong-bondong ke sebuah stadion olah raga, mereka berharap bos bisa ikut memeriahkan hari pengakhiran masa jabatannya sekaligus untuk memperingati ulang tahun perusahaan yang ke-20.

Meskipun mundur dari dewan direksi, Jack Ma masih merupakan anggota dewan direksi Alibaba hingga rapat pemegang saham tahun depan. Setelah itu ia akan tampil dalam status  “mitra tetap” dalam grup. Jack Ma mengambil inisiatif mundur dari jabatannya boleh dikatakan telah membuat rekor di perusahaan internet Tiongkok yang mana pendiri perusahaan internet bersedia menyerahkan jabatannya secara inisiatif sendiri.

Namun, dunia luar lebih percaya bahwa mundurnya Jack Ma mencerminkan dilema bahwa perusahaan swasta di Tiongkok, khususnya yang besar dalam menghadapi kebijakan pemerintah Tiongkok yang lebih mengedepankan kepentingan perusahaan BUMN daripada swasta.

Pada 9 September adalah hari terakhir kerja Jack Ma. Ia kembali ke perusahaan (kantor Pusat Alibaba) di Binjiang Park, Hangzhou untuk mengunjungi rekan lamanya dan mendapat penyambutan. Ketika seseorang cukup lama tinggal di suatu lingkungan, secara alami ia akan memiliki perasaan. Terlebih lagi, di sana Jack Ma sudah selama 20 tahun “jungkil balik” dalam mengembangkan perusahaannya. Dapat dipastikan perasaan Jack Ma pasti jauh lebih tebal daripada orang kebanyakan.

Dengan kata lain, Jack Ma memiliki perasaan tak rela untuk meninggalkan Alibaba, berbeda dengan apa yang pernah ia sampaikan dalam suratnya yang ditujukan kepada pemegang saham dan karyawan tahun lalu. Dalam suratnya saat itu ia menyebutkan : Saya masih memiliki banyak mimpi indah … Saya ingin kembali ke dunia pendidikan untuk melakukan apa yang saya sukai, karena itu akan membuat saya lebih bersemangat dan bahagia.

Seperti yang diketahui semua orang, Jack Ma pernah menjadi guru bahasa Inggris di sekolah menengah, dan meninggalkan profesi tersebut pada tahun 1999. Lalu meminjam uang USD. 60.000 dari teman-temannya untuk mendirikan perusahaan Alibaba di kota Hangzhou, kampung halamannya. Setelah 20 tahun bekerja keras, perusahaan Alibaba sekarang telah menjadi perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok dengan kekayaan pribadi mencapai sekitar USD. 41 miliar (setara Rp. 574 triliun).

Setelah dari seorang guru berubah menjadi pengusaha sukses yang kaya raya, meskipun Jack Ma sendiri yang mengatakan bahwa ia akan kembali menekuni profesinya sebagai guru karena rasa cinta terhadap dunia pendidikan. Ya, bisa jadi, tetapi apa yang dilihat dunia luar cenderung karena ketidakberdayaannya. Bagaimana pun tampaknya ancaman keselamatan terhadap dirinya lebih besar daripada kecintaannya terhadap dunia pendidikan.

Duncan Clark, penulis buku ‘Alibaba : The House That Jack Ma Built’ kepada Wall Street Journal mengatakan, pemimpin bisnis tersebut gelisah, khawatir bahwa dirinya terlalu mencolok.

Mengapa khawatir dirinya menjadi terlalu mencolok ? Hanya karena ia sekarang menjadi juru bicara perusahaan perusahaan Tiongkok di dalam dan luar negeri ? Dalam komunitas bisnis Tiongkok, memang tidak mudah untuk menemukan Jack Ma kedua, bahkan tidak mungkin muncul dalam waktu pendek. Duncan Clark mengatakan bahwa kondisi untuk menciptakan seorang pribadi yang menjadi idola di Tiongkok saat ini belum matang.

Duncan Clark juga merupakan investor awal di perusahaan Alibaba. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah Tiongkok sekarang sedang beralih ke pengembangan perusahaan milik negara dan memperkuat pengawasan terhadap perusahaan swasta. Kepada New York Times ia mengatakan bahwa terlepas dari apakah ia (Jack Ma) bersedia atau tidak, ia adalah simbol dari kesehatan ekonomi perusahaan swasta Tiongkok dan kemampuannya untuk mencapai prestasi tertinggi. Tak peduli apakah ia senang atau tidak, pengunduran dirinya akan ditafsirkan orang sebagai pengungkapan tidak puas atau rasa khawatir.

Dengan kata lain bahwa kebijakan komunis Tiongkok mengedepankan kepentingan perusahaan BUMN, bisa jadi penyebab Jack Ma gelisah dan khawatir dirinya menjadi “sasaran tembak” karena terlalu mencolok. 

Ada pepatah yang berbunyi orang takut tenar babi takut gemuk. Ucapan Clark ini  tampaknya cukup membantu kita memahami keadaan pikiran Jack Ma yang sebenarnya. Jika pada saat ini Anda tidak mau buru-buru mundur, masih mau serakah, Mungkin saja suatu hari Anda dijadikan pesakitan oleh komunis Tiongkok dengan alasan yang dibuat-buat. Bahkan mungkin kehilangan nyawa.

Jack Ma mungkin sadar akan hal ini dan memutuskan untuk hengkang dari jabatannya meskipun belum mencapai usia pensiun, bahkan memilih mundur pada saat semangat perjuangannya masih menggebu.

Seperti yang kita semua tahu, untuk melakukan bisnis di bawah pemerintahan komunis Tiongkok, menjalin koneksi politik dan bisnis adalah kursus wajib yang tidak boleh ketinggalan. Apa saja yang telah dialami selama 20 tahun dalam mengembangkan bisnis, hanya Jack Ma yang tahu persis.

Zhuang Tailiang, seorang wakil dosen di Chinese University of Hong Kong mengatakan bahwa dalam mengoperasikan perusahaan besar di Tiongkok, beberapa hal lebih sulit dilakukan. Di belakang Alibaba adalah masalah politik yang dihadapi perusahaan-perusahaan Internet di Tiongkok.

Seperti yang kita semua tahu, volume bisnis Tencent sebenarnya tak jauh berbeda dengan Alibaba, dan game tersebut memiliki porsi yang cukup besar. Namun, begitu terjadi perubahan sedikit saja pada kebijakan yang dikeluarkan bagian pengawas komunis Tiongkok, Tencent akan “sakit perut”. Pada akhir bulan lalu, komunis Tiongkok mengatakan bahwa mereka berencana untuk mengendalikan jumlah game online baru. begitu kabar ini tersebar, saham Tencent langsung turun 4,53% .

Alibaba juga mengalami hal serupa. Sangat dipengaruhi oleh perubahan peraturan komunis Tiongkok. Pada tahun 2014 , Alibaba terdaftar di pasar saham AS, dan harga sahamnya langsung melejit. Namun, pada awal tahun 2015 , Administrasi Umum Industri dan Perdagangan Republik Rakyat Tiongkok mengeluarkan dokumen yang mengkritik Alibaba, karena itu nilai pasar Alibaba menyusut USD. 37 miliar dalam 4 hari.

Alipay bahkan lebih membuat komunis takut. Platform raksasa untuk pembayaran yang dimanfaatkan oleh sekitar 500 juta orang ini pemegang saham mayoritasnya adalah Softbank Jepang dan Yahoo Amerika Serikat. Hal ini kian membuat komunis Tiongkok merasa cemas.

Tahun 2011, Jack Ma memisahkan Alipay dari Alibaba dengan alasan untuk menjaga keamanan informasi keuangan nasional. Jack Ma bahkan mengatakan bahwa selama negara membutuhkan, Alipay dapat disumbangkan kepada negara. Sebenarnya, sumbang yang dimaksud bukan pengertian dedikasi. tetapi lebih cenderung pada dapat diambil kapan saja oleh pemerintah.

Apakah itu kemauan Jack Ma ? Entahlah ! Tetapi ada sumber yang mengungkapkan tahun lalu bahwa Jack Ma sempat beberapa kali membuat penguasa puncak marah. Salah satunya adalah kejadian tahun 2017 ketika ia bertemu dengan presiden AS terpilih Trump, dan mengungkapkan data pasar Tiongkok yang dianalisis Alibaba. Karena ini, Jack Ma dipanggil pihak berwenang dan memintanya untuk membuat pilihan : Apakah menarik diri dari pasar saham AS dan kembali ke saham A domestik atau Jack Ma mundur, dan pemerintah yang mengambil kepemilikan sahamnya. Jack Ma kemudian memilih yang kedua.

Dari sudut pandang ini, sulit untuk mengatakan bahwa Jack Ma tidak “membeli nyawa dengan uang”. Dari sudut pandang ini, Jack Ma dapat dianggap sebagai “orang pandai”.

Jack Ma pernah mengatakan : Ubahlah diri Anda sendiri karena toh Anda tak mampu mengubah ibu Anda. Tampaknya kebijakan ekonomi komunis Tiongkok yang lebih mengandalkan perusahaan BUMN daripada perusahaan swasta, memaksa Jack Ma untuk memilih mengubah dirinya. (Sin)