- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Senator AS Patrick Leahy Menyerukan Rezim Komunis Tiongkok untuk Mengakhiri Kebrutalan Terhadap Praktisi Falun Gong

Cathy He – The Epochtimes

Senator Amerika Serikat, Patrick Leahy (D-Vt) menyerukan kepada rezim Komunis Tiongkok untuk mengakhiri penahanan dan “kebrutalan” terhadap pengikut yang berlatih disiplin spiritual Falun Gong, pada Kamis (12/09/2019).

Selama dua puluh tahun setelah rezim Komunis Tiongkok meluncurkan kampanye secara besar-besaran untuk memberangus latihan spiritual itu, hingga kini penganiayaan tersebut masih terus berlanjut. “Pemerintah Tiongkok harus segera menghentikan penahanan sewenang-wenang dan kebrutalan terhadap para praktisi Falun Gong dan minoritas agama dan etnis lainnya,” kata Leahy dalam sebuah pernyataan. [1]

“Harus membebaskan tahanan politik dari pusat pendidikan ulang, mendekriminalisasi praktik keagamaan dan spiritual, dan memungkinkan kelompok hak asasi manusia internasional dan jurnalis untuk mewawancarai korban yang selamat. Ini harus berkomitmen untuk mengakhiri penggunaan penyiksaan, pengambilan organ narapidana, dan propaganda melawan kaum minoritas,” tambahnya.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah latihan meditasi tradisional yang berasal dari Tiongkok dengan ajaran moral berdasarkan Sejati-Baik-Sabar. Latihan tersebut dilarang oleh Komunis Tiongkok pada tahun 1999. Pelarangan tersebut setelah peningkatan popularitas Falun Gong pada awal dekade.

Perkiraan pemerintah pada saat itu menemukan bahwa sebanyak 70 juta hingga 100 juta orang berlatih Falun Gong. “Dikarenakan Komunis Tiongkok takut dengan agama atau asosiasi terorganisir yang tidak dapat mereka kendalikan, ia memandang kebangkitan agama tradisional Tiongkok sebagai ancaman bagi kelangsungan hidupnya,” kata Leahy.

Pada Juli tahun ini, menandai peringatan 20 tahun berlangsungnya penganiayaan brutal terhadap Falun Gong. “Pada 20 Juli 1999, ratusan praktisi Falun Gong ditangkap di rumah mereka di tengah malam. Selama minggu berikutnya, sebanyak 50.000 Falun Gong dilaporkan ditahan, ”katanya.

Pada tahun-tahun sejak itu, penindasan rezim terhadap pengikut Falun Gong telah berlangsung “tanpa henti,” demikian bunyi pernyataan itu. “Praktisi Falun Gong telah ditangkap, dikuburkan di kamp pendidikan ulang, dipukuli, kurang tidur, kelaparan, diserang secara seksual, disetrum, dicekok secara paksa, dibelenggu, dan anggota badannya perlahan-lahan patah, sampai mereka melepaskan keyakinan dan latihan mereka,” kata Leahy.

Rincian-rincian penindasan telah didokumentasikan oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia internasional. Bahkan, didokumentasikan para pengikut Falun Gong yang berhasil selamat dari penahanan dan menceritakan kembali pengalaman mereka.

[2]
Praktisi Falun Gong melakukan latihan disiplin di halaman Gedung Capitol AS pada tanggal 20 Juni 2018. (Samira Bouaou / The Epoch Times)

Menurut perkiraan dari investigator independen, Ethan Gutmann, antara setengah juta dan satu juta praktisi ditahan di berbagai fasilitas penahanan di seluruh negeri Tiongkok pada waktu tertentu.

Menurut Minghui.org, situs website yang berfungsi sebagai clearinghouse untuk penganiayaan Falun Gong, menyebutkan hingga saat ini sebanyak 4.136 pengikut Falun Gong telah diverifikasi telah meninggal dunia saat berada dalam tahanan polisi atau di Tiongkok.

Namun demikian, jumlah sebenarnya kemungkinan akan jauh lebih tinggi karena kesulitan memperoleh dan memverifikasi informasi tersebut di Tiongkok. “Mereka telah mengambil organ di luar kehendak mereka (pratkisi Falun Gong). Mereka (praktisi Falun Gong) telah dibunuh,” tambah Leahy. Pernyataan tersebut merujuk kepada praktik yang disetujui negara untuk memanen organ tubuh dari tahanan nurani untuk melakukan operasi transplantasi bertujuan nirlaba.

Pada bulan Juni lalu, tribunal independen di London menyimpulkan bahwa ada bukti yang jelas, tentang pengambilan organ secara paksa telah terjadi di Tiongkok selama bertahun-tahun “dalam skala yang signifikan,” dengan pengikut Falun Gong dijadikan sebagai sumber utama organ.

[3]
Praktisi Falun Dafa meningkatkan kesadaran tentang kekejaman pengambilan organ secara paksa di Tiongkok, saat mereka berbaris melalui Manhattan selama Hari Falun Dafa Sedunia, pada 16 Mei 2019. (Edward Dye / The Epoch Times)

“Kita mungkin tidak akan pernah mengetahui berapa banyak orang tak bersalah yang menjadi korban kekejaman ini, karena pemerintah Tiongkok menyangkal dunia luar bahwa itu sedang terjadi, sambil membenarkannya kepada warga mereka sendiri,” demikian bunyi pernyataan itu.

Pejabat dan parlemen AS telah semakin menarik perhatian terhadap pelanggaran mengerikan terhadap kebebasan beragama rezim Komunis Tiongkok. Menteri Luar Negeri, Mike Pompeo, berbicara dalam rilis laporan tahunan departemen luar negeri tentang kebebasan beragama global pada bulan Juni, mengatakan Komunis Tiongkok melakukan “permusuhan ekstrem terhadap semua agama sejak berdiri.” Menurut Pompeo, Komunis Tiongkok meminta dirinya disebut sebagai Tuhan.

Leahy adalah anggota Senat AS yang paling senior. Ia telah mendukuki kursi di Parlemen AS selama 44 tahun. Ia mengatakan, bahwa kisah-kisah yang telah dia dengar dari para penyintas penganiayaan agama yang dilakukan oleh rezim Komunis Tiongkok, serta anggota keluarga korban sangat mengejutkan dirinya. “Falun Gong layak untuk diingat, dan mereka layak bagi tindakan kolektif dari komunitas internasional,” katanya. (asr)

Follow Cathy di Twitter: @CathyHe_ET