The Epochtimes

Kejutan atas serangan brutal berdarah secara bergerombol di Hong Kong terhadap seorang praktisi Falun Gong, disorot hingga ke Kota New York, Amerika Serikat. Hal demikian ketika negara-negara seluruh dunia berkumpul dalam sidang Majelis Umum PBB ke-74.

Di Plaza Perserikatan Bangsa-Bangsa pada (25/09/2019), praktisi Falun Gong mengangkat poster dan spanduk dalam bahasa Mandarin dan Inggris. Spanduk tersebut menyerukan soal rekan praktisi Falun Gong yang dihajar hingga bocor di kepalanya. Dia sehari sebelumnya dihantam dengan batang logam.

Mereka menyerukan untuk menghentikan kebrutalan terhadap praktisi Falun Gong oleh rezim Komunis Tiongkok. Spanduk tersebut juga menyerukan dukungan dari dunia internasional.

Praktisi Falun Gong yang berdomisili di New York, Chen Biying kepada The Epoch Times menuturkan, hatinya sangat sedih. Dikarenakan, dirinya benar-benar ingin menyampaikan kepada semua orang-orang di dunia. Tak lain, agar menghentikan penganiayaan tersebut. Sehingga praktisi Falun Gong, tak akan lagi mengalami insiden berdarah seperti itu.  

Falun Gong atau Falun Dafa adalah sebuah latihan spiritual  yang diperkenalkan ke publik pada tahun 1992 silam. Latihan tersebut terdiri gerakan yang lambut dan latihan meditasi. Falun Gong berlandaskan pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.

 Rezim Komunis Tiongkok yang saat itu dipimpin oleh Jiang Zemin, menilai popularitas latihan Falun Gong sebagai ancaman terhadap otoritasnya. Sehingga, Jiang meluncurkan penganiayaan secara nasional pada Juli 1999 silam yang berlangsung hingga sekarang.  Jumlah korban tewas akibat penyiksaan, kerja paksa, dan bentuk-bentuk penyiksaan lainnya masih belum diketahui secara rinci. Dikarenakan, kesulitan mendapatkan informasi sensitif seperti itu karena Great Firewall Komunis Tiongkok. 

Chen, yang awalnya berasal dari Tiongkok, dikarena penganiayaan di daratan, maka mereka memilih agar tidak punya pilihan selain melarikan diri ke luar negeri. Dia mengatakan, air matanya bercucuran ketika dia melihat rekaman saat serangkaian serangan di Hong Kong. 

Pada Selasa 24 September, seorang praktisi Falun Gong Liao Qiulan, yang mengorganisir acara terkait Falun Gong setempat, diserang oleh dua orang tak dikenal. Pada saat itu, dirinya berjalan di kawasan Lai Chi Kok di Hong Kong.

Saat itu, dirinya baru saja mengajukan izin kepada kepolisian untuk demonstrasi pada 1 Oktober mendatang. Acara tersebut menandai peringatan 70 tahun berkuasanya pemerintahan komunis di Tiongkok. Acara tahunan itu dimaksudkan untuk menjelaskan lebih luas atas penganiayaan berkelanjutan terhadap Falun Gong oleh rezim komunis Tiongkok.

Kedua penyerang, yang wajahnya bersabo hitam, memukuli Liao dengan benda logam hitam. Pada saat itu, kedua rekannya langsung bergegas menghampiri untuk membelanya dengan tas mereka. Orang-orang asing itu kemudian lari ke mobil putih yang sedang menunggu. Kedua orang itu pun langsung kabur dari tempat kejadian. Teman-teman Liao curiga bahwa serangan itu sudah direncanakan. Bahkan, penyerang sudah  menargetkan Liao.

Liao kepada NTD Television mengatakan, mereka memukuli dirinya dengan sekuat tenaga dan terus memukuli.  Selain itu, seorang pria menghajar tangannya. Sedang lainnya, menyasar kepala dan kakinya. Darah  segar langsung mengalir  ke seluruh wajah Liao. Hingga membasahi bagian dada kemejanya, sebelum darah segar itu membentuk bak kubangan kecil di jalanan.

Chen mengatakan, praktisi Falun Gong di Hong Kong sering mengalami serangan dari kelompok-kelompok terdepan komunis seperti Youth Care Association. Insiden tersebut terjadi selama acara-acara publik. Meskipun serangan kekerasan dan pertumpahan darah tersebut sebelumnya tak terlihat terjadi di Hong Kong.

Sekitar pukul 16:00 pada Rabu 24 September 2019, praktisi Falun Gong Liao Qiulan diserang di dekat Kantor Polisi Cheung Sha Wan. (Epochtimes)

Chen menuturkan, praktisi Falun Gong berani melewati banyak kesulitan dan mereka tidak melakukannya sendiri. Pernyataan tersebut merujuk kepada beberapa stan yang didirikan oleh praktisi setempat di Hong Kong. Tempat tersebut menjadi lokasi di mana mereka bermeditasi dan membagikan beberapa brosur ke turis daratan Tiongkok. Tujuannya, untuk meningkatkan kesadaran tentang apa yang menimpa terhadap rekan mereka di Tiongkok.

Chen mengatakan, bahwa kekerasan berdarah tersebut tak akan menakuti praktisi Falun Gong, dari berbicara tentang pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh rezim Komunis Tiongkok. Ia menegaskan, praktisi Falun Gong memahami bahwa keadilan akan menang atas kejahatan. 

Praktisi lainnya, Michael Yu, mengatakan bahwa serangan terhadap Liao “bukan insiden yang terpisah.”  Ia mencatat meningkatnya pola serangan kekerasan selama protes anti ekstradisi di Hong Kong baru-baru ini.

Sekitar pukul 16:00 pada Rabu 24 September 2019, praktisi Falun Gong Liao Qiulan diserang di dekat Kantor Polisi Cheung Sha Wan. (Epochtimes)

Sejumlah aktivis, jurnalis, dan anggota parlemen pro-demokrasi telah mengalami serangan massal dalam beberapa bulan terakhir. Di antara mereka adalah pencetus Front Hak Asasi Manusia Sipil Hong Kong, Jimmy Sham. Dia  telah mengorganisir beberapa aksi massa. Serta sebagai seorang wartawan Apple Daily yang dikenal karena liputannya tentang gerakan pro-demokrasi. Termasuk, anggota parlemen dari Partai Demokrat Hong Kong Roy Kwong, yang juga mendukung aksi protes.

Liao Qiulan berbicara dengan seorang petugas polisi setelah diserang oleh seorang pria dengan tongkat di Hong Kong pada 24 September 2019. (The Epoch Times)

Michael Yu mengatakan, praktisi Falun Gong dapat menjalankan keyakinan mereka di dunia internasional  termasuk di Hong Kong. Akan tetapi, ketika menyaksikan kekerasan yang menargetkan praktisi Falun Gong itu dapat terjadi di Hong Kong, maka membutuhkan perhatian lebih luas dari masyarakat internasional. Ia menegaskan, Hong Kong adalah masyarakat bebas dan sangat otonom, kekerasan tersebut seharusnya tidak pernah terjadi. 

Seorang juru bicara Falun Gong di New York mengutuk keras serangan terhadap Liao. Ia mengatakan, bahwa Komunis tiongkok telah “menginjak kebebasan warga Hong Kong dan hak asasi manusia,” menurut sebuah pernyataan yang diperoleh oleh The Epoch Times.

Dia mengatakan, bahwa rejim Komunis Tiongkok sedang berusaha untuk “menghilangkan suara-suara yang berbeda” saat bersiap menghadapi Hari Ulang Tahun ke-70 berkuasanya Komunis tiongkok pada 1 Oktober. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular