oleh Cheng Xiaonong

Perseteruan bolak-balik antara Amerika Serikat dan Komunis Tiongkok dalam perang dagang telah memasuki babak baru. Kini, serangan mendadak Beijing ditujukan kepada ekonomi Amerika Serikat. Maksudnya agar berdampak terhadap kegagalan politik bagi Trump dalam pilpres AS Tahun 2020.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kekuatan ekonomi dunia telah mengerahkan metode untuk menyerang ekonomi kekuatan dunia lain. Tujuannya, untuk mengubah prospek politik domestik jangka pendek negara itu. Tak diragukan lagi, bahwa Komunis Tiongkok dan Amerika Serikat tak terlibat dalam perang dagang. Akan tetapi, sudah terlibat dalam perang ekonomi. Tujuannya berada di luar lingkup ekonomi. Yakni menohok secara langsung kepada posisi di kantor Oval Kepresidenan.

Menargetkan Ekonomi Amerika

Menurut Duowei News, media berbahasa Mandarin di luar negeri yang memiliki hubungan dengan Komunis Tiongkok, Kementerian Keuangan Tiongkok mengumumkan pada 23 Agustus lalu, bahwa mereka akan mengenakan tarif impor senilai 75 miliar dolar AS. Tarif itu yang akan diterapkan masing-masing mulai 1 September dan 15 Desember. Nantinya, melanjutkan tarif impor suku cadang mobil AS yang sebelumnya telah ditangguhkan pada Desember lalu.

Selanjutnya, mulai bulan September 2019, tarif tambahan untuk kedelai AS akan mencapai 30 persen. Tarif makanan laut, buah-buahan, dan daging akan naik menjadi 35 persen; mulai pertengahan Desember, biji-bijian dan kendaraan AS juga akan dikenakan tarif tambahan 35 persen, yang mana merupakan pertama kalinya Beijing mengejar minyak mentah Amerika.

Beberapa jam kemudian, Trump mengumumkan dalam cuitannya pada 1 Oktober.  Amerika Serikat akan menaikkan tarif yang ada berjumlah 250 miliar dolar AS, terhadap sisa barang Tiongkok dari 25 hingga 30 persen.

Pada saat yang sama, mulai 1 September, tarif impor Tiongkok sebesar 300 miliar dolar AS lainnya akan naik dari 10 menjadi 15 persen. Dari laporan di atas berdasarkan corong media Komunis Tiongkok, jelas sekali bahwa kali ini Beijing yang mengambil inisiatif. Tak lain, dalam menambahkan tarif terhadap produk AS. Sedangkan Trump-lah yang membela diri.

Media luar negeri Komunis Tiongkok juga mengakui urutan itu. Trump melakukan serangan balik. Dengan kata lain, Beijing adalah agresornya. Namun demikian, beberapa media luar negeri membalikkan urutan kronologis itu. Sehingga menyesatkan publik agar mempercayai bahwa Amerika Serikat yang pertama kali menambahkan tarif. Sedangkan, Komunis Tiongkok hanya bereaksi karena kebutuhan.

Oleh karena itu, adalah penting bahwa fakta-fakta diklarifikasi. Akan tetapi yang lebih penting, karena Komunis Tiongkok-lah yang membuat langkah pertama. Karena itu, perlu untuk menganalisis motif dan tujuannya secara mendalam. Selain itu, langkah Komunis Tiongkok telah menyebabkan pembalikan hubungan Sino – AS dalam beberapa dekade terakhir. Sehingga membuat analisis lebih mendalam tentang asal-usul dan latar belakang agenda tersebut lebih relevan.

Dalam memerangi Amerika Serikat, Komunis Tiongkok telah go public dengan strategi “menciptakan musuh untuk dirinya sendiri”; di balik panggung strategis, telah meningkatkan dalam konfrontasi ekonomi.

Serangan Balik Amerika Serikat Tepatnya Apa yang Dinginkan oleh Beijing

Inisiatif Beijing untuk menaikkan tarif, tampaknya merupakan hanya respons taktis. Akan tetapi tujuannya sangat jelas. Dikarenakan, Komunis Tiongkok menanggalkan keseriusan dalam negosiasi perang dagang Sino-AS. Taktik seperti itu, menyampaikan konotasi tantangan yang jelas. Ekonomi Amerika Serikat sekarang menjadi target utama.

Setelah pihak Komunis Tiongkok secara tiba-tiba, membatalkan hasil di meja perundingan pada awal Mei lalu, bahkan membuang perjanjian yang dibuat untuk 90 persen dari permintaan Washington, Amerika Serikat meningkatkan tarif ekspor Komunis Tiongkok ke Amerika Serikat. Langkah itu untuk memberikan tekanan, sambil terus menyatakan keinginannya untuk melanjutkan negosiasi.

Jika pihak Komunis Tiongkok mau bermain bersama dan melakukan langkah-langkah sambil mengulur-ulur waktu, hubungannya dengan Washington tidak akan bagus. Akan tetapi, tak akan berada dalam kondisi lebih buruk dalam waktu cepat seperti yang terjadi saat ini.

Namun, Beijing tak lagi memiliki kesabaran seperti itu. Sekarang telah mengambil sikap ofensif. Bahkan, secara tiba-tiba mengambil inisiatif untuk mengenakan tarif terhadap produk-produk Amerika.

Menanggapi “serangan” secara tiba-tiba oleh Komunis Tiongkok, kenaikan tarif Trump menyeluruh merupakan langkah yang sepenuhnya dapat diprediksi. Setelah Beijing membatalkan hasil di meja negosiasi pada bulan Mei, Amerika Serikat kehilangan ruang untuk berkonsultasi dengan cara yang ramah dan penyelesaian permasalahan.

Meskipun Trump masih mengatur komunikasi antara kedua pihak, itu direduksi lebih dari formalitas belaka. Sekarang, Beijing telah mengambil inisiatif untuk menekan Amerika Serikat. Hingga sepenuhnya mencegah ekspor barang-barang AS ke Tiongkok. Harapannya, agar menghalangi segala kemungkinan Amerika Serikat mempersempit defisit perdagangan jangka panjangnya, yang mana bernilai ratusan miliar dolar dengan Tiongkok.

Negeri Paman Sam itu tak bisa lagi mengharapkan niat kerja sama dari Tiongkok. Apalagi, dalam menyelesaikan defisit perdagangan antara kedua pihak atau persoalan pencurian kekayaan intelektual. Satu-satunya pilihan tersisa Trump  untuk mengurangi defisit perdagangan Amerika Serikat dengan Tiongkok, adalah meningkatkan tarif barang-barang Tiongkok secara komprehensif dan substansial.

Sejak saat itu, kemunduran total hubungan ekonomi dan perdagangan AS – Tiongkok telah menjadi kesimpulan tak dapat dielakkan. Bahkan, sudah menjadi bagian dari rencana Beijing. Global Times yang dikelola Komunis Tiongkok telah menyatakan, bahwa perlu untuk berperang dengan Amerika Serikat.

Duowei melaporkan: “Setelah pertukaran pukulan pertama berakhir, pasar ternoda darah. Selain meroketnya harga emas, indeks saham AS, nilai tukar offshire Renminbi, harga minyak mentah, dan imbal hasil keuangan AS semuanya turun tajam. Meskipun kerugian dari perang dagang untuk kedua pihak telah mencapai puncak baru …kemungkinan resesi untuk Amerika Serikat secara bertahap telah muncul. ”  Itu adalah kalkulasi dasar Komunis Tiongkok dalam perang ekonomi saat ini dengan Amerika Serikat.

Mengapa Beijing Mengadopsi Strategi ‘Lose-lose’ atau ‘Kalah-Kalah’?

Lebih dari setahun, sikap Beijing dalam negosiasi perdagangan dan kekayaan intelektual Tiongkok-AS telah berubah 180 derajat. Itu telah berubah dari negosiasi kooperatif menjadi diskusi torpedo. Kemudian dari secara pasif menanggapi tekanan kenaikan tarif bertahap Amerika Serikat menjadi kenaikan tarif secara aktif. Di mana Amerika Serikat telah membalas dengan tajam atas kenaikan tarif.

Apakah motif Beijing untuk “menekan kemenangan” berasal dari kesadarannya akan “kemunduran” penurunan Amerika? Atau apakah Komunis Tiongkok malah mencoba membuat yang terbaik dari situasi buruk dengan menanggung rasa sakit jangka pendek? 

Hanya demi keuntungan jangka panjang, seperti memaksa Trump keluar dari jabatannya. Yang mana diharapkan untuk menuai dengan mendaratkan pukulan keras terhadap ekonomi Amerika Serikat. Artinya, komunis Tiongkok telah memilih skenario yang tak bisa dimenangkan oleh kedua belah pihak.

Mengapa? Sekarang sudah jelas bahwa ekonomi Amerika Serikat tetap makmur. Sementara itu, ekonomi Tiongkok berada dalam kondisi spiral ke bawah yang berkelanjutan dalam hubungan normal Sino – AS. Hubungan yang tak bisa menyeret ekonomi AS ke dalam jurang maut. Sedangkan Tiongkok hampir tak memiliki sarana untuk “menekan balik kemenangan.”

Apakah Beijing berniat untuk berhenti sebelum segalanya berlangsung terlalu jauh? 

Jika rezim Komunis Tiongkok ingin menyelamatkan ekonomi Tiongkok, langkah yang paling masuk akal adalah memasang wajah bekerjasama dengan Amerika Serikat, daripada mengambil sikap konfrontatif yakni  strategi lose-lose solution atau strategi kalah-kalah.

Namun demikian, Komunis Tiongkok tak melakukannya. Sebaliknya, telah memulai jalur konfrontasi strategis dengan Amerika Serikat. Rencananya untuk perang ekonomi memiliki tujuan politik yang jelas untuk mengganggu pemilu Amerika Serikat. Sekarang strategi seperti itu telah mengemuka. Beijing telah mengakhiri era hubungan Sino – AS yang ramah.

Siapa yang Paling menderita dalam strategi Lose-lose solution itu?

Dikarenakan Beijing telah mengadopsi strategi itu, lalu apa sebenarnya yang ingin dicapai? Tindakan Komunis Tiongkok tak diragukan lagi akan merugikan ekonomi Tiongkok dalam jangka pendek. Misalnya, produk pertanian murah dari Amerika Serikat tidak dapat diimpor. Sehingga Tiongkok harus mencari cara lain untuk mendapatkan impor kedelai dan jagung yang diperlukan.

Namun demikian, harga kedelai yang diekspor dari Brasil ke Tiongkok baru-baru ini melonjak mahal hingga 70 persen. Sebenarnya kedelai itu termasuk yang diimpor ke Brasil dari Amerika Serikat.

Walhasil, tak hanya memungkinkan Brasil untuk mengambil keuntungan dan menghasilkan uang dengan mudah, tetapi juga sangat meningkatkan harga minyak sayur dan pakan ternak Tiongkok. Akhirnya, memperburuk melonjaknya harga daging dan makanan dengan cepat di Tiongkok.

Banyak orang baik di Tiongkok maupun di luar negeri sebelumnya berpikir, bahwa demi mata pencaharian rakyat, pihak berwenang Tiongkok tidak akan mengambil pendekatan “Lose-lose” solution. Kini kekhawatiran rakyat Tiongkok tentang memburuknya hubungan Tiongkok-AS menjadi kenyataan, tak sama sekali mengguncang tekad pihak berwenang untuk melakukannya.

Alasannya sama seperti yang saya tulis dalam artikel yang diterbitkan di The Epoch Times pada tanggal 20 Juli berjudul “Membedakan Benar dan Salah dalam Menang dan Kalahnya Perundingan Amerika Serikat-Tiongkok”: “Rakyat yang secara diam-diam menanggung tekanan ekonomi tidak dapat mengubah kebijakan pemerintah. Ini adalah sumber ‘ketahanan Komunis Tiongkok terhadap tekanan ekonomi’.”
Bagaimana orang-orang Amerika akan bereaksi terhadap kenaikan harga yang disebabkan oleh Amerika Serikat, yang mana mengenakan tarif pada impor Tiongkok? serta volatilitas pasar saham AS dan kepanikan korporasi AS? dampaknya masih harus dilihat lebih jauh. Amerika Serikat pasti akan menderita beberapa bentuk rasa sakit jangka pendek, tentunya dari restrukturisasi dramatis hubungan dagang Sino-AS.

Secara umum, orang-orang di negara demokrasi biasanya memiliki lebih sedikit dari apa yang Tiongkok sebut dalam konsep “gambaran besar, keseluruhan.” Seperti ketika hidup mereka terpengaruh, mereka dapat mengekspresikan diri mereka melalui pemilihan presiden berikutnya.

Komunis Tiongkok berani mempertaruhkan dirinya sendiri. Sedangkan, Amerika Serikat melalui periode penderitaan jangka pendek justru karena “perlawanan terhadap tekanan ekonomi.” Yang mana, dapat dikerahkan bagi para pemimpin AS yang lebih lemah daripada pemimpin otoriter Komunis Tiongkok

Sebenarnya, harapan Komunis Tiongkok adalah menggunakan perang ekonomi. Hanya semata-semata demi mengguncang hati rakyat Amerika dan membawa perubahan di Gedung Putih.

Rasa sakit jangka panjang yang dihadapi Tiongkok dan Amerika Serikat, melibatkan sejumlah besar masalah. Untuk  diketahui, bahwa politikus AS memiliki toleransi yang relatif rendah terhadap rasa sakit “jangka pendek.” Sementara itu, sistem totaliter Komunis Tiongkok dapat mengabaikannya.  Beijing telah mengubah strateginya dari “menunda dan menunggu perubahan” menjadi “menciptakan perubahan dengan melakukan serangan.

Meskipun mampu mengabaikan rasa sakit jangka pendek, dilema utama Komunis tiongkok adalah bagaimana menghadapi rasa sakit jangka panjang.  Yang mana, disebabkan oleh perusahaan asing dan investor yang hengkang dari Tiongkok.

Karena itu, Komunis tiongkok memiliki beberapa opsi dan tidak ada solusi yang jelas. Pastinya, jika Komunis Tiongkok melanjutkan jalur kenaikan tarif marginal Trump, rencana awalnya “menyeret masalah” hanya akan menjadi “rasa sakit jangka panjang.” Tentunya sangat menjengkelkan,  tidak hanya sedikit merusak Trump, tetapi mungkin bahkan mengkonsolidasikan peluangnya untuk terpilih kembali.

Tetapi dengan “menciptakan perubahan dengan melakukan serangan ofensif,” Komunis Tiongkok dapat menimbulkan lonjakan rasa sakit jangka pendek.  Yang mana, dapat berdampak kepada ekonomi Amerika Serikat.  Sejauh hal tersebut merupakan pukulan terhadap prestasi ekonomi Trump dan meluasnya sentimen pemilih yang bergeser demi keuntungan komunis Tiongkok.

Namun, dengan memilih rute “Lose-Lose” strategi, Komunis tiongkok telah sepenuhnya mengungkapkan permusuhannya terhadap Amerika Serikat. Adapun pembicaraan persahabatan hampa “Tiongkok – AS” tidak lagi berfungsi, bahkan hanya menjadi sebagai formalitas belaka.

Trump sendiri sudah mulai bertanya-tanya di Twitter. Apakah Tiongkok adalah musuh atau tidak? sebuah status yang bertanggung jawab untuk diciptakan oleh Komunis Tiongkok.  Dalam keadaan seperti itu, masih harus dilihat bagaimana pemilih Amerika akan bereaksi terhadap serangkaian insiden terkini.  Akankah kebencian mereka terhadap Trump menjadi besar, atau akankah presiden mendapatkan malah lebih banyak dukungan terhadap kebijakan menghadapi Tiongkok?

Cheng Xiaonong adalah seorang sarjana politik dan ekonomi Tiongkok yang berbasis di New Jersey. Dia adalah lulusan Universitas Renmin, tempat dia memperoleh gelar master di bidang ekonomi, dan Universitas Princeton, tempat dia memperoleh gelar doktor dalam bidang sosiologi. Di Tiongkok, Cheng adalah seorang peneliti kebijakan dan staff mantan pemimpin Partai Komunis Tiongkok Zhao Ziyang, ketika Zhao menjadi Perdana Menteri. Cheng telah menjadi sarjana tamu di Universitas Gottingen dan Princeton, dan ia menjabat sebagai pemimpin redaksi jurnal Modern China Studies. Komentar dan kolomnya secara teratur terbit di media bahasa mandarin di luar negeri.

Share

Video Popular