Najwa menjelaskan apa yang disematkan kepada dirinya adalah benar-benar kabar bohong. Tujuannya semata untuk menyerang. Bahkan, sama sekali sebagai karangan belaka dengan menyebarkan desas-desus tak jelas.

“Disinformasi yang disebarkan adalah serangan personal yang jahat. Tuduhan “antek Orde Baru” sama sekali tidak berdasar karena sikap saya jelas dalam menyangkut warisan-warisan Orde Baru. Tidak terbilang produk-produk jurnalistik Mata Najwa yang berisi sikap kritis terhadap Orde Baru dan itu juga tercermin dalam episode “Siapa Rindu Soeharto?,” tulisnya.

Ia menyatakan, sangat keberatan sikap personal dirinya sebagai jurnalis dikait-kaitkan dengan keluarganya. Selain personal, disinformasi ini juga merupakan serangan terhadap kerja-kerja jurnalistik.

“Tidak terbilang cacian terhadap media yang memberitakan topik mengenai revisi UU KPK dan demonstrasi mahasiswa minggu lalu. Saya, Mata Najwa dan Narasi TV tidak sendirian dalam hal ini,” tambahnya.

Ia mengatakan, kritik kepada pers jelas diperbolehkan, bahkan penting, bagi demokrasi, juga bagi pers. Tidak ada pers yang sempurna. Tetapi jika yang dilakukan adalah serangan personal, ad hominem, apalagi hingga membawa-bawa keluarga, persoalannya menjadi sangat berbeda.

Seseorang menulis serangan kepada dirinya sebagai kill the messenger. Najwa menyatakan, menghargai pendapat tersebut, kendati sejujurnya dirinya tidak berpikir sejauh itu karena ia masih bisa bekerja dan beraktifitas seperti biasa.

Najwa menganggap hal demikian sebagai sesuatu yang kontraproduktif bagi usaha merawat ruang publik yang sehat, yang menghargai perbedaan pendapat, yang mana tidak dicemari oleh doxing, disinformasi, dan pembunuhan karakter.

Menurut Najwa, kini hari-hari  Indonesia memang sedang dilanda kompleksitas persoalan. Hal itu hendaknya disikapi dengan memperbanyak dialog: antara para elit dengan warga, antara warga dengan warga, antara sesama kita.

Dalam episode Mata Najwa terakhir, bahkan ia membuka topik tentang perlunya pemerintah berdialog dengan para mahasiswa yang saat itu ia undang. Bahwa pertemuan itu batal adalah persoalan lain.

“Saat itu saya hanya membuka kemungkinan hadirnya percakapan yang setara karena saya percaya pers punya tanggungjawab merawat ruang publik sebagai arena yang terbuka bagi perdebatan, aneka pikiran, ragam kegelisahan, hingga kekecewaan,” pungkasnya.  (asr)

 

Share

Video Popular