Erabaru.net. Seorang jurnalis asal Indonesia, Veby Mega Indah ditembak dengan peluru karet  saat meliput demonstrasi di Hong Kong, pada Minggu 29 September.  Akibat tembakan peluru karet itu, Dahi dan mata kanan Veby bengkak. Ia juga merasa kesakitan dan kepalanya sangat pusing.

Melansir dari Radio Free Asia, atas insiden penembakan itu, Veby akan mengajukan pengaduan pidana terhadap Komisaris Polisi dan petugas yang menembaknya. Ia juga mengajukan  proses perdata untuk kompensasi.

Hong Kong Journalists Association -HKJA- menyatakan “sangat prihatin” atas luka-luka yang diderita oleh Veby Indah, seorang jurnalis untuk publikasi berbahasa Indonesia. Laporan itu menyebutkan, Veby “terluka parah oleh proyektil yang ditembakkan oleh polisi. Tembakan peluru karet itu ditegaskan pengacaranya, Vidler & Co, dalam sebuah pernyataan di halaman Facebooknya. Kemungkinan veby terluka oleh tembakan peluru karet, dikarenakan  proyektil itu ditemukan di dekat lokasi dirinya lukanya,

Kronologi kejadiannya, saat itu ia sedang melakukan tugasnya untuk meliput aksi demo. Ia berada di bawah jembatan yang menghubungkan Immigration Tower dan stasiun MTR di kawasan Wan Chai. 

Ketika itu, Veby mengenakan rompi visibilitas tinggi. Ia juga mengenakan helm yang bertuliskan “Pers,” dengan kredensial persnya yang  dengan jelas terlihat. Saat itu, posisi Veby sangat jelas bersama kelompok jurnalis. Keberadaan mereka sangat mudah diidentifikasi dengan jelas. Posisi mereka berdiri secara terpisah dengan pengunjuk rasa. Pengacara Veby, yang hanya memberi nama keluarga Vidler menyatakan, proyektil itu ditembakkan pada jarak yang berpotensi mematikan. Tembakan juga berasal dari sudut yang rendah di mana dampaknya hanya bisa terjadi pada tubuh bagian atas atau kepala. 

Menurut dia, tembakan itu merupakan pelanggaran pedoman pabrik, setiap instruksi profesional yang dapat diterima dan norma internasional. Pengacara itu menyatakan, Veby dan jurnalis di sekitarnya adalah salah satu orang dalam penglihatan petugas. Mereka tidak mengancam polisi. Akan tetapi,  Veby masih hidup, kalau tidak ada kacamata melindunginya, dia pasti tak bisa melihat. Saat ini, gangguan terhadap penglihatannya  masih memungkinkan terjadi.

Tembakan dari jarak dekat

Hong Kong Journalists Association menyatakan akan melakukan investigasi terpisah. Pihaknya juga akan mengambil tindakan jika perlu untuk melindungi keselamatan anggota. Hong Kong Journalists Association menyatakan, sangat menyesalkan penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap jurnalis yang meliput peristiwa-peristiwa di Hong Kong. 

Mereka menyerukan kepada polisi dan pemrotes, agar Jurnalis dapat melakukan pekerjaan mereka melaporkan fakta tanpa risiko cedera serius atau ancaman kekerasan. Klub Koresponden Asing Hong Kong juga menyatakan keprihatinannya atas penembakan jurnalis Indonesia.

Koresponden Asing mengungkapkan, cuplikan dari insiden itu menunjukkan, dia jelas diidentifikasi sebagai seorang jurnalis. Bahkan,  petugas polisi melepaskan tembakan dari jarak beberapa meter. Menurut laporan saksi mata dari rekan jurnalis,  video dan foto yang dibagikan di media sosial dalam beberapa pekan terakhir, telah menunjukkan jurnalis diserang dengan gas air mata dan peluru karet. 

Disebutkan, polisi menargetkan jurnalis yang dapat diidentifikasi dengan jelas dengan semprotan merica. Bahkan, dengan tembakan meriam air yang berisi semprotan merica. Jurnalis juga menerima ancaman verbal.

Bahkan, kelompok jurnalis dengan sengaja disinari lampu terang  untuk menghalangi akses dan liputan mereka. Tujuannya, untuk memblokir juru foto dan kamera video wartawan terutama saat polisi melakukan penangkapan terhadap demonstran. Kelompok jurnalis  menyerukan penyelidikan independen terhadap kekerasan terhadap jurnalis. Termasuk, gangguan dengan kemampuan media untuk meliput aksi protes.

Pernyataan itu menyatakan keprihatinan atas insiden sejak awal protes pada Juni lalu. Namun demikian, kekerasan dan gangguan malah semakin meningkat. Sedangkan pihak  KJRI Hong Kong dalam status Facebooknya menulis, telah menerima laporan bahwa seorang wartawan Indonesia dari Koran Suara Hong Kong diduga terkena tembakan peluru karet saat meliput unjuk rasa di wilayah Wan Chai sore ini.

Menanggapi berita tersebut, KJRI langsung berkoordinasi dengan pihak Otoritas setempat dan rekan-rekan wartawan untuk memastikan kondisinya. Pihak KJRI menyiapkan segala bantuan dan pendampingan kepada yang bersangkutan.  Berdasarkan pemantauan KJRI, yang bersangkutan telah mendapat perawatan dari tim medis dan dilarikan ke Rumah Sakit, serta berada dalam keadaan sadar.

KJRI kembali mengimbau kepada seluruh WNI dan PMI di Hong Kong untuk menjauhi lokasi-lokasi unjuk rasa  antara lain daerah Causeway Bay, Wan Chai, Admiralty dan Central. Sementara itu, kepala pengawas polisi John Tse, malah menyalahkan kekerasan pemrotes yang meningkat selama akhir pekan. Demonstran dituding  melemparkan lebih dari 100 bom molotov, membakar api besar dan menyerang petugas polisi.

Aparat kepolisian mengakui, telah menembakkan meriam air dan 328 tabung gas air mata serta proyektil lainnya. Namun pihak kepolisan beralasan untuk “membersihkan kerumunan.” Radio Free Asia melaporkan, Polisi telah melakukan sebanyak 157 penangkapan selama bentrokan akhir pekan. Mereka yang ditangkap termasuk  yang berumur 12 tahun. Lebih dari puluhan terluka dilaporkan oleh media lokal. Di antara mereka adalah aktor Gregory Wong, yang ditangkap sehubungan dengan tuduhan penyerbuan Dewan Legislatif pada 1 Juli lalu.

Dalam pernyataan kepala pengawas polisi John Tse, mengatakan polisi telah menerima  laporan “intelijen” bahwa para pengunjuk rasa sedang merencanakan aksi kekerasan ekstrem.  Akan tetapi pengguna media sosial berhasil melacak satu anggota situs web yang terdengar ekstremis. Hasilnya menemukan, mereka menggunakan bahasa mandarin yang digunakan oleh orang-orang di daratan Tiongkok. Mereka tak menuturkan bahasa Kanton.  Sebuah bahasa asli yang dituturkan oleh sebagian besar pengunjuk rasa di Hong Kong. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular