Erabaru.net. Lebih dari 20.000 warga Rusia turun ke jalan-jalan di Moskow pada 29 September lalu. Mereka  menuntut pembebasan terhadap demonstran yang dipenjara. Penentang Kremlin menilai, langkah penangkapan sebagai upaya pemerintah untuk membungkam perbedaan pendapat.

Melansir dari Reuters, pemrotes ditangkap saat aksi unjuk rasa yang berkobar pada Juli lalu. Dikarenakan,  politisi oposisi dilarang mengikuti pemilihan lokal. Tuduhan kebrutalan polisi, serta banyaknya warga Moskow dikenai dengan hukuman penjara yang keras telah memicu kemarahan publik yang tidak biasa.

Beberapa warga telah dijatuhi hukuman hingga empat tahun penjara. Warga juga  dituntut atas kejahatan seperti kekerasan terhadap petugas kepolisian.Pada  29 September, kerumunan orang melambaikan bendera dari berbagai kelompok politik, meneriakkan “Biarkan mereka pergi!” Dan “Kebebasan untuk tahanan politik.”

Politisi oposisi Rusia, Lyubov Sobol kepada para pengunjuk rasa mengatakan, tidak ada yang bisa mendapatkan persidangan yang adil di pengadilan Rusia. Ia mengatakan, kini ketidakadilan dan pelanggaran hukum dapat terjadi kepada siapa pun. 

Aksi protes tidak menimbulkan ancaman bagi Presiden Vladimir Putin, yang memenangkan pemilihan kembali dengan telak pada tahun 2018. Akan tetapi, rating Putin telah menurun setelah bertahun-tahun anjloknya pendapatan riil. Termasuk, kebijakan tak populer untuk menaikkan usia pensiun.

Pihak oposisi mengharapkan lebih banyak keterlibatan publik, harapannya agar pemerintah melepaskan pemrotes yang dipenjara.  The White Counter group, yang memantau protes politik, mengatakan jumlah massa sekitar 25.200 orang pada rapat umum itu. Polisi menyebutkan jumlahnya sekitar 20.000.

Demonstrasi diperbolehkan oleh kantor walikota Moskow, tak seperti beberapa demonstrasi dalam beberapa bulan terakhir. Ketika itu,  polisi secara singkat menahan lebih dari 2.000 orang. Tidak ada penahanan polisi yang dilaporkan terjadi pada 29 September.

Kemarahan publik

Reuters melaporkan, menjelang unjuk rasa, pengadilan membebaskan seorang warga dengan jaminan. Pengadilan juga membatalkan dakwaan, sebuah langkah yang jarang terjadi setelah aksi protes publik. Tetapi oposisi khawatir keputusan itu mungkin merupakan taktik oleh pihak berwenang untuk menghindari konsesi yang lebih luas. Kritikus Kremlin Alexei Navalny mengatakan kepada para pendukungnya, ia yakin lebih banyak orang akan dibebaskan karena rapat umum itu. 

Serangkaian protes dimulai pada bulan Juli lalu. Ketika  itu, lebih dari belasan kandidat yang berpikiran oposisi dilarang ikut pemilihan  pada 8 September untuk legislatif kota Moskow. Demonstrasi adalah gerakan protes berkelanjutan terbesar di Moskow dalam hampir satu dekade, memuncak  sekitar 60.000 orang.

Polisi mengatakan warga ditahan atau dituntut, karena melanggar hukum. Polisi Rusia mengatakan beberapa protes harus dibubarkan karena mereka belum diotorisasi dan ilegal.

Setelah sekutu-sekutunya dilarang melakukan pemungutan suara, Navalny meminta para pendukung untuk memilih secara taktis lawan-lawan partai Rusia Bersatu yang berkuasa, terlepas dari garis politik mereka.

Partai Rusia Bersatu, yang mendukung Putin, kehilangan sepertiga kursinya di parelemen kota Moskow. Hasil itu  sebuah kemunduran bagi pihak berwenang yang menurut Navalny adalah kemenangan bagi lawan-lawan Kremlin. Meskipun partai yang memerintah masih mempertahankan suara mayoritasnya. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular