Secretchina

11 September 2019, adalah peringatan ke-18 serangan teroris Sebelas September di Amerika Serikat. Pada pagi 11 September 2001 kala itu, puluhan teroris membajak empat pesawat sipil dan masing-masing ditabrakan ke Menara Kembar World Trade Center New York, Pentagon dan gedung lainnya. Serangan tak terduga itu seketika menewaskan ribuan orang atau hilang, sebagian besar korban tewas adalah warga sipil dari 89 negara. Peristiwa Sebelas September  menjadi tragedi permanen dalam benak warga Amerika dan orang-orang di seluruh dunia.

Pembajak bukan seperti perampok, dia berpakaian necis dan rapi, tampak seperti kaum bangsawan yang terhormat. Namun, kali ini informasi bukan membahas tentang serangan Sebelas September, tetapi pembajakan pesawat yang berhasil untuk kali pertama di dunia. Pembajakan itu disebut sebagai kasus paling misterius dalam sejarah The Federal Bureau of Investigation – FBI atau Biro Investigasi Federal. Pasalnya, si pembajak segera melompat dari ketinggian 3000 meter dari atas pesawat dan menghilang secara misterius setelah mendapatkan tebusan US $ 200.000. 

Setelah 48 tahun berlalu, tidak ada seorang pun yang pernah melihat perampok itu, sementara uang tebusan sebesar US $ 200.000 terlebih dulu difoto sebelum diserahkan sebagai jejak untuk dilacak di kemudian hari. Tetapi uang-uang itu tidak pernah terlihat di pasar.  

Menurut catatan, perampok itu bernama D.B. Cooper, juga dikenal sebagai Dan Cooper. Kasus pembajakan Cooper penuh dengan ketegangan, dramatis dan mengesankan. Alur ceritanya seperti film action petualangan.

Pada Rabu, 24 November 1971 silam, D.B. Cooper berjalan dengan santai memasuki pesawat Boeing 727 milik maskapai Northwest Airlines no. penerbangan 305 dan duduk di kursi 18C.

Menurut pramugari, pria itu sedikit pun tidak tampak seperti perampok bertampang kasar dan sangar seperti yang sering disaksikan dalam film. Pria itu berperawakan kurus berambut gelap dengan jas berwarna gelap. Dasi yang dijepit, kaca mata hitam dan penampilan yang sopan, tampak seperti seorang pria yang berpendidikan. Sekitar jam 3 sore, pria itu meminta segelas anggur pada pramugari. Ketika pramugari Florence Schaffner datang ke tempat duduknya, D.B. Cooper memasukkan catatan yang sudah disiapkan sebelumnya untuknya.

Ms Schaffner mengira Cooper hanya pria iseng lainnya yang berusaha memberikan nomor teleponnya. Jadi ia menerima catatan tersebut dan langsung menyimpannya ke saku tanpa melihat isinya.

Nona, sebaiknya engkau membaca isi catatan itu. Aku membawa bom,” Bisik Cooper kepada Ms Schaffner.

Ms Schaffner tidak mempercayai Cooper begitu saja. Tapi ia segera membuka catatan itu dan membaca tulisan yang tertera disitu. “Aku membawa bom di dalam koperku. Aku akan menggunakannya jika dibutuhkan. Pesawat ini telah dibajak.” 

Dia berkata kepada pramugari: “Saya perlu uang sebanyak $200.000 dalam pecahan $20 dan masukkan dalam tas. Selain itu pria itu juga meminta dua parasut utama beserta dua parasut cadangannya dikirim ke pesawat ketika mendarat di bandara Seattle-Tacoma, Washington, Amerika Serikat.  “Saya harap penuhi apa yang saya katakan, atau kalau tidak saya akan meledakkan bomnya,” kata pria itu.

Pilot William Scott yang menerima catatan itu dari Ms Schaffner kemudian segera menghubungi pusat pengendali udara di Seattle yang kemudian segera meneruskan pesan itu ke polisi dan FBI. FBI lalu meminta para kru pesawat menuruti keinginan sang pembajak hingga apa yang diinginkannya tersedia.

Sebelum pesawat mendarat, FBI menggunakan waktu terakhir untuk mengambil 10.000 lembar pecahan 20 dolar, kemudian memotret lembaran uang tersebut untuk memudahkan petugas melacaknya nanti.  

Share

Video Popular